Artikel · Potret Online

Budaya Kenduri Sebelum Berangkat Haji di Aceh

8 menit baca 16
Disunting Oleh

Oleh: Dr. (Cand) Kaipal Wahyudi, S.j., S.Hum., M.Ag.

Beberapa waktu lalu, kami menghadiri sebuah acara walimah safar di kediaman Kaprodi S3 Studi Islam. Suasananya terasa hangat sejak awal. Tidak ada jarak di antara para tamu. Pimpinan kampus, dosen, tokoh masyarakat, hingga undangan dari berbagai latar belakang duduk dalam satu ruang yang sama.

Percakapan mengalir santai, penuh canda dan keakraban. Namun di balik suasana yang cair itu, tersimpan makna yang jauh lebih dalam. Acara tersebut bukan sekadar syukuran biasa, melainkan bagian dari tradisi panjang masyarakat Aceh dalam mengiringi keberangkatan jamaah haji menuju Tanah Suci.

Di Aceh, budaya kenduri sebelum berangkat haji bukanlah tradisi baru. Ia telah hidup sejak masa Kesultanan Aceh, bahkan sejak era Sultan Iskandar Muda hingga hari ini. Tradisi tersebut terus bertahan hampir di seluruh wilayah Aceh, mulai dari Barat Selatan, Timur Utara, Aceh Tengah, hingga Tanah Alas. Meskipun setiap daerah memiliki sedikit perbedaan dalam tata pelaksanaannya, substansinya tetap sama: mengiringi perjalanan ibadah haji dengan doa, kebersamaan, penghormatan sosial, dan penguatan hubungan antarmasyarakat.

Biasanya, rangkaian itu dimulai dari gampong tempat calon jamaah tinggal. Keluarga yang akan berangkat haji memasak berbagai makanan di rumah. Sanak saudara, tetangga, rekan, hingga masyarakat gampong diundang hadir. Suasananya penuh kekeluargaan. Orang-orang datang bukan sekadar untuk makan bersama, melainkan memberikan dukungan moral, doa, serta semangat kepada calon jamaah yang akan menunaikan rukun Islam kelima.

Di gampong-gampong Aceh, suasana seperti ini masih sangat terasa. Kaum ibu sibuk memasak sejak pagi. Ada yang membantu memotong daging, memasak kuah beulangong, menggiling bumbu, hingga menyiapkan hidangan untuk para tamu. Sementara kaum laki-laki membantu mempersiapkan tempat, menyusun kursi, dan menyambut masyarakat yang datang. Semua dilakukan secara gotong royong. Kenduri menjadi ruang perjumpaan sosial yang mempererat hubungan antarsesama warga.

Pada malam harinya, biasanya dilaksanakan samadiah dan tahlil bersama. Doa-doa dipanjatkan untuk keselamatan dan kelancaran ibadah haji calon jamaah, sekaligus mengirimkan doa kepada orang tua dan keluarga yang telah berpulang. Dalam tradisi masyarakat Aceh, momen ini memiliki makna yang sangat mendalam. Keberangkatan haji tidak hanya dipahami sebagai perjalanan pribadi, tetapi juga perjalanan batin yang menghubungkan seseorang dengan keluarga, leluhur, dan sejarah hidupnya sendiri.

Tidak jarang pula, sebelum keberangkatan, calon jamaah menyempatkan diri pergi ke makam orang tua atau keluarga dekat. Mereka berziarah, membaca doa, dan seolah berpamitan secara batin. Tradisi ini sederhana, tetapi sarat makna emosional dan spiritual. Ada kesadaran bahwa perjalanan haji bukan hanya hubungan manusia dengan Tuhan, tetapi juga hubungan dengan asal-usulnya, dengan orang tua yang membesarkannya, dan dengan nilai-nilai kehidupan yang diwariskan kepadanya.

Setelah rangkaian samadiah selesai, calon jamaah biasanya dipeusijuek oleh teungku gampong atau tokoh agama setempat. Prosesi peusijuek menjadi simbol kesejukan, keselamatan, dan harapan agar perjalanan ibadah yang ditempuh diberi keberkahan oleh Allah SWT. Doa-doa dilantunkan dengan khusyuk, sementara percikan air dan daun-daunan menjadi simbol ketenangan serta harapan baik bagi jamaah.

Tradisi peusijuek ini sering kali tidak berhenti di tingkat gampong. Di banyak daerah di Aceh, jamaah kembali dipeusijuek di masjid kecamatan sebelum berangkat menuju Banda Aceh. Biasanya prosesi dipimpin oleh Abu, Abi, atau Abon pimpinan dayah. Bahkan tidak jarang turut dihadiri unsur Forkopimcam sebagai bentuk penghormatan dan dukungan kepada jamaah haji.

Setelah seluruh rangkaian selesai, jamaah diberangkatkan menggunakan mobil bus menuju Banda Aceh untuk masuk ke asrama haji. Momen keberangkatan itu sering kali dipenuhi suasana haru. Keluarga melepas dengan doa dan tangis bahagia. Sebelum naik kendaraan, jamaah biasanya telah dibekali nasihat, semangat, dan pesan-pesan moral agar mampu menjalankan seluruh rangkaian ibadah haji dengan khusyuk, lancar, dan sempurna.

Di wilayah perkotaan seperti Banda Aceh, suasana kenduri sebenarnya tidak jauh berbeda. Hanya saja, sebagian masyarakat kota kini lebih banyak menggunakan jasa katering atau memesan makanan untuk menjamu tamu. Meski bentuknya mengalami penyesuaian dengan perkembangan zaman, nilai yang dijaga tetap sama, yakni kebersamaan, doa, dan silaturahmi.

Bagi masyarakat Aceh, perjalanan haji sesungguhnya tidak dimulai saat jamaah masuk asrama haji atau menaiki pesawat menuju Arab Saudi. Jauh sebelum itu, proses persiapan sudah dilakukan, bahkan setahun sebelum keberangkatan. Biasanya, calon jamaah mulai mengikuti manasik haji secara rutin untuk memperdalam pemahaman tentang seluruh rangkaian ibadah haji, mulai dari rukun, wajib, hingga tata cara pelaksanaannya di Tanah Suci.

Di sejumlah dayah, masjid, dan majelis taklim, pembahasan tentang haji juga menjadi kajian khusus. Bab-bab haji dalam kitab fikih dan berbagai referensi kajian Islam dipelajari secara mendalam. Ini menunjukkan bahwa masyarakat Aceh memandang ibadah haji bukan sekadar perjalanan fisik, tetapi juga perjalanan ilmu, spiritual, dan penyempurnaan ibadah.

Tradisi sosial tersebut terus berlanjut hingga jamaah kembali ke tanah air. Ketika jamaah pulang dari Tanah Suci, suasana penyambutan hampir sama hangatnya seperti saat pelepasan keberangkatan. Keluarga, tetangga, dan masyarakat kembali menggelar kenduri sebagai bentuk rasa syukur atas kepulangan jamaah dengan selamat.

Rumah-rumah dipenuhi tamu yang datang untuk bersilaturahmi, mendengar cerita perjalanan haji, sekaligus mengambil berkah melalui doa bersama. Air zam-zam dan oleh-oleh dibagikan kepada tamu yang hadir. Namun sesungguhnya, yang dibagikan bukan sekadar benda, melainkan rasa syukur, pengalaman spiritual, dan kebahagiaan yang ingin dirasakan bersama-sama.

Inilah Aceh. Sebuah daerah yang menjadikan perjalanan haji bukan hanya sebagai ibadah individual, tetapi juga perjalanan sosial dan spiritual yang diiringi dengan budaya saling mendoakan, saling menguatkan, dan menjaga hubungan antarsesama.

Jika ditarik lebih jauh ke belakang, kuatnya tradisi haji di Aceh memang tidak bisa dilepaskan dari sejarah panjang daerah ini. Sejak masa kesultanan, Aceh dikenal sebagai pintu gerbang utama jamaah haji Nusantara menuju Mekkah. Pelabuhan-pelabuhan di Aceh menjadi titik penting keberangkatan jamaah menuju Tanah Suci. Bahkan dalam sejumlah catatan sejarah, kapal-kapal pernah diberangkatkan langsung dari Aceh menuju Mekkah.

Pada masa kolonial, peran itu memang mengalami perubahan, tetapi tidak pernah benar-benar hilang. Pulau Rubiah di Sabang pernah dijadikan tempat karantina jamaah haji sebelum mereka kembali ke daerah asal. Ini menunjukkan bahwa Aceh memiliki posisi penting dalam sejarah perjalanan haji di Nusantara.

Dari sejarah panjang itulah lahir identitas Aceh sebagai Serambi Mekkah. Sebuah julukan yang bukan hanya simbolik, tetapi mencerminkan kedekatan spiritual, budaya, dan historis masyarakat Aceh dengan dunia Islam.

Di tengah modernisasi, sistem perjalanan haji memang terus berubah. Transportasi laut telah digantikan pesawat udara, administrasi semakin tertata, dan fasilitas jamaah semakin lengkap. Namun menariknya, perubahan itu tidak menghilangkan tradisi yang sudah mengakar dalam masyarakat. Kenduri, samadiah, peusijuek, hingga ziarah makam tetap bertahan sebagai bagian penting dalam rangkaian keberangkatan haji masyarakat Aceh.

Bahkan inovasi juga hadir dalam bentuk manasik modern, seperti simulasi perjalanan menggunakan replika pesawat di asrama haji Banda Aceh. Ini membantu jamaah, terutama yang lanjut usia, agar lebih siap menghadapi perjalanan panjang menuju Tanah Suci. Modernisasi berjalan, tetapi nilai-nilai budaya tetap dipertahankan.

Di sisi lain, masyarakat Aceh juga memiliki warisan penting yang berkaitan dengan perjalanan haji, yaitu wakaf Baitul Asyi. Wakaf ini didirikan oleh Habib Bugak Al-Asyi pada awal abad ke-19. Ia membeli tanah di Mekkah dan mewakafkannya khusus untuk jamaah haji Aceh.

Ketika kawasan tersebut terkena perluasan Masjidil Haram, nilai wakaf itu tidak hilang. Dana kompensasi kemudian dikelola untuk membeli aset baru dan hasilnya masih terus dirasakan hingga hari ini oleh jamaah Aceh dalam bentuk bantuan dana wakaf. Ini menjadi bukti bahwa warisan keagamaan masyarakat Aceh tidak hanya hidup dalam bentuk tradisi budaya, tetapi juga dalam bentuk kepedulian sosial yang berjangka panjang sampai sekarang.

Meski demikian, budaya kenduri sebelum haji juga menghadapi tantangan di tengah perkembangan zaman. Dalam beberapa kasus, kenduri mulai bergeser menjadi ajang prestise sosial. Ada kecenderungan membuat acara besar demi gengsi dan status sosial. Jika tidak disikapi dengan bijak, hal ini tentu dapat mengaburkan makna utama dari tradisi tersebut.

Padahal substansi utama kenduri bukanlah kemewahan, melainkan kebersamaan, doa, dan silaturahmi. Mayoritas ulama di Aceh juga memandang tradisi ini sebagai bagian dari kebiasaan yang dibolehkan selama tidak bertentangan dengan syariat. Selama diisi dengan doa, sedekah, dan nilai-nilai kebaikan, kenduri justru menjadi praktik sosial-keagamaan yang positif.

Pada akhirnya, seluruh rangkaian itu bermuara pada satu harapan yang sama, yakni melahirkan haji yang mabrur. Dalam pandangan masyarakat Aceh, haji tidak diukur hanya dari perjalanan ke Tanah Suci semata, tetapi dari perubahan setelahnya. Seseorang yang berhaji diharapkan menjadi lebih rendah hati, lebih peduli terhadap sesama, lebih ikhlas, dan mampu menjadi teladan di lingkungannya.

Karena itu, haji di Aceh bukan sekadar perjalanan ibadah. Ia adalah perjalanan sosial, budaya, dan spiritual yang dimulai dari rumah, dari kenduri, dari samadiah, dari doa keluarga, dari ziarah makam orang tua, dan dari restu masyarakat.

Aceh memperlihatkan bahwa agama dan budaya tidak harus dipertentangkan. Keduanya dapat berjalan beriringan, saling menguatkan, dan menciptakan harmoni dalam kehidupan sosial masyarakat.

Selama nilai kebersamaan, doa, dan silaturahmi tetap dijaga, budaya kenduri sebelum berangkat haji akan terus hidup di Aceh. Bukan semata karena bentuk tradisinya, tetapi karena makna yang terkandung di dalamnya tetap relevan bagi kehidupan masyarakat Aceh hingga hari ini.

Mahasiswa Program Doktor (S3) Studi Islam, Pascasarjana UIN Ar-Raniry, Banda Aceh. Penulis dan pengkaji sosial keagamaan dengan lebih dari 80 artikel opini di berbagai media daring serta 10 publikasi ilmiah pada jurnal bereputasi (Sinta 1, Sinta 3, dan Sinta 5). Fokus kajian meliputi antropologi Islam, dinamika sosial keagamaan, serta analisis isu-isu global, nasional, dan lokal. Aktif sebagai anggota Majelis Surah Buku Aceh dan presenter dalam berbagai forum seminar nasional maupun internasional.

✦ ✦ ✦
Apakah tulisan ini bermanfaat?
Tulisan ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Redaksi tidak selalu sejalan dengan isi tulisan.
Tentang Penulis
Mahasiswa Program Doktor (S3) Studi Islam, Pascasarjana, UIN Ar-Raniry Banda Aceh.
Diskusi
Upload foto profil (opsional)
Memuat komentar...