Oleh Hisyam Aufa Rais
Siswa SMK Negeri 1 Kluet Selatan, Aceh Selatan
Di teras rumah yang terlihat kumuh, di bawah hembusan angin sejuk, aku duduk sambil merakit sebuah kerajinan dari kayu dan kawat. Sambil bergumam pelan, aku berucap. “Sepertinya memang takdirku yang buruk.” Aku menghela napas panjang sebelum berangkat ke sekolah dengan berjalan kaki.
Di sana, aku selalu dipandang sebelah mata karena kondisi keluargaku dan sering diabaikan dalam berbagai kegiatan. Alhasil, aku hanya bisa berdiam diri di bangku pojok ruangan. Namun, bukan berarti aku pasrah, aku memiliki tujuan yang ingin kucapai.
Aku selalu pergi ke suatu tempat yang hanya diriku yang tahu. Di atas bukit, aku selalu menikmati pemandangan desa yang cukup indah. “Aku tidak mungkin begini terus. Aku ingin berubah,” tekadku dalam hati.
Langit mulai jingga saat aku melangkah pulang menuju rumah kecilku yang sederhana. Saat aku membuka pintu, terlihat makanan yang tersaji di meja makan, dan setelah itu aku mendengar suara, “Dek, itu makanan di meja dimakan ya! Sebelum dingin,” ucap Bundaku dengan nada lembut.
Aku yang memang kebetulan sedang lapar langsung menyantap masakan Bunda dengan lahap. Sembari aku makan, Bunda mengusap rambutku dengan telapak tangannya yang kasar karena bekerja keras, namun terasa hangat. Setelah makan, aku segera mencuci piring yang kupakai tadi.
Aku masuk ke kamar untuk menaruh tas dan berganti baju. Aku melanjutkan kerajinan yang sempat tertunda pagi tadi.Setelah menyelesaikannya, aku menaruhnya di lemari kayu tempat aku menyimpan sebagian kerajinanku yang lain. Lalu, aku membuka jendela kamar dan melihat langit yang penuh dengan bintang. Di tengah hembusan angin yang sedikit dingin, terdengar suara, “Mau sampai kapan begini terus?”
Suara itu tiba-tiba terdengar olehku. Aku mencari dari mana asalnya, lalu tanpa sadar aku menjawab, “Aku juga nggak mau begini terus,” gumamku. Secara mendadak aku merasa sangat mengantuk. Aku langsung menutup jendela kamar dan pergi ke tempat tidur. Aku pun tertidur lelap.
Saat membuka mata, aku menyadari kalau ini bukan di kamarku. Aku berpikir kalau ini hanya mimpi, namun rasanya seperti nyata. Aku berada di lorong panjang sekolahku. Aku berjalan menjelajahi lorong tersebut hingga menemukan sebuah ruangan. Dengan penasaran, aku memasukinya. “Wow, tempat ini besar sekali. Aku tidak pernah menyadari kalau ruangan ini ada di sekolah,” ucapku kagum.
Di ruangan itu, aku melihat banyak bingkai foto yang tertempel di dinding. Aku mendekat dan melihat bahwa itu adalah foto-fotoku dari kecil sampai sekarang. “Aku tidak tahu kalau aku saat kecil sangat bahagia.” Dadaku terasa terjepit oleh rasa rindu dan penyesalan yang bercampur aduk. Tubuhku bergetar, perasaanku mulai berantakan. “Mengapa diriku saat masih kecil begitu bahagia?” tanyaku dengan nada bergetar. “Kenapa aku meneteskan air mata?” gumamku seraya menangis. Hatiku hancur melihat betapa bahagianya diriku dahulu. Aku mengambil foto itu dan berjalan ke sudut ruangan, menangis sambil memeluk fotoku yang sedang tersenyum bahagia.
Di saat yang bersamaan, ruangan itu sedikit demi sedikit luntur menjadi ruang hampa yang gelap. Kakiku gemetar, badanku berkeringat. “Kenapa… kenapa ruangan ini menjadi gelap?” ucapku marah. Dari kejauhan, aku melihat cahaya kecil dari suatu ruangan.
Aku mencoba bangkit dan tetap kuat. Aku mengusap air mataku lalu berlari sekencang-kencangnya menuju ruangan itu. “Haa… haa…” dengan napas tergesa-gesa, aku sampai. “Si… siapa kau?” tanyaku pada seseorang di sana.“Aku adalah dirimu…” suara itu terdengar. “Haa! Diriku!” jawabku. Dia membalikkan badannya. “Ya, aku adalah kau dan kau adalah aku.” “Lalu apa maumu?” tanyaku bingung. “Aku hanya ingin membantumu. Tanpa kau sadari, kau memiliki suatu hal yang dapat mengubahmu saat ini dan ke depannya.” “Apa? Hal apa yang bisa merubahku? Aku selalu menjadi seorang pecundang dan tidak memiliki apa-apa!” jawabku kesal. “Kau punya… kau punya hati yang tulus dan sabar.
Di saat semua orang memandangmu buruk dan suaramu tidak didengarkan, kau tetap tegar. Kau tidak membalas satu pun ucapan mereka,” ujarnya. Aku terdiam. “Jadi jangan selalu menganggap dirimu pecundang. Gunakan hati tulusmu untuk mencapai tujuanmu,” ucapnya dengan suara yang lama-kelamaan menghilang.
Sekelilingku menjadi gelap gulita dan sesaat kemudian aku terbangun. Tubuhku penuh keringat. “Ternyata hanya mimpi, tapi rasanya sangat nyata,” gumamku. Aku menghela napas panjang sebelum bersiap ke sekolah. Di perjalanan, aku selalu memikirkan mimpi tadi malam.
Seharian disekolah aku terus memikirkan pesan dari diriku sendiri dalam mimpi itu, malamnya aku membuka lemari dan melihat ratusan kerajinan yang tersimpan rapi. Di situ lah aku memutuskan, sudah waktunya aku menampakan hasil karyaku.
Besok saat sesampainya di sekolah, aku melihat mading yang tertempel poster perlombaan. Aku memberanikan diri untuk mendaftar. Tanganku sedikit gemetar saat mengambil formulir, tapi aku mencengkeram pulpenku kuat-kuat. Ini saatnya. Aku mengikuti lomba Kriya. Sebenarnya dari dulu aku senang membuat hiasan, bahkan rumahku penuh dengan hasil karyaku, namun karena aku penyendiri, aku tidak pernah menunjukkannya di sekolah.
Sekarang aku mencoba memberanikan diri untuk menunjukkan bahwa aku pantas dilihat dunia. Seringkali aku harus berlatih hingga larut malam, hanya dengan cahaya lampu kamar yang sedikit redup, ada kalanya aku merasa ragu lagi, tapi ingatan akan pesan dalam mimpi itu selalu menguatkanku. Saat hari perlombaan tiba, banyak peserta lain sudah di sana. Hatiku berdebar, bukan karena takut, melainkan karena tekad kuat untuk menunjukkan siapa aku sebenarnya.
Perlombaan dimulai. Aku dengan percaya diri membuat hiasan dinding besar dari bahan yang kubawa. Seiring waktu, peserta lain mulai menyelesaikan karya mereka. Badankuberkeringat, waktu hampir habis. Aku mempercepat kerjaku. Teman-teman sekelasku yang melihat seolah sudah kehilangan harapan dan satu per satu pergi. Namun, sepuluh menit sebelum berakhir, aku berhasil menyelesaikannya.
Saat juri mulai menilai, aku duduk di bawah pohon dengan rasa khawatir. “Tenang saja, aku percaya kok kalau kau pasti menang,” ucap seseorang. Aku menoleh dan melihat salah satu teman sekelasku yang ternyata selama ini memperhatikanku. “Hehe… semoga saja ya,” jawabku.
Akhirnya aku merasa ada yang memperhatikanku. Kami menunggu sambil mengobrol. “Aku baru tahu kamu jago membuat kerajinan tangan,dan aku pernah melihatmu membuat kerajinan dikelas saat jam istirahat,” ucapnya penasaran. “Iya, aku memang suka dari kecil. Tapi karena masa laluku buruk, aku takut tidak akan pernah dilihat.” “Tenang saja, latar belakangmu bukan penghalang untukorang lain melihat karyamu,” ucapnya. “Haha…
aman kok, sekarang aku sudah memiliki tekad kuat,” jawabku tersenyum. “Baguslah. Teruskan perjalananmu, aku akan membantumu dari belakang.”
Tak lama, pengumuman dimulai. Aku terkejut karenamenjadi juara satu dan berlanjut ke fase selanjutnya. Seiring berjalannya waktu, aku lolos ke tingkat nasional dan berhasil memenangkannya. Sekarang semua orang mengenalku sebagai pembuat kerajinan berbakat. Aku mendapat banyak tawaran, namun aku menolaknya karena ingin kembali ke tujuan utamaku.
Setelah lulus, aku melanjutkan kuliah dengan beasiswa sekolah. Empat tahun berlalu, aku lulus dengan nilai baik lalu bekerja di toko kerajinan untuk belajar lebih banyak tentang bisnis. Setelah beberapa tahun, aku memutuskan keluar.
Aku kembali ke rumah. Karena prestasiku, aku dan Bunda bisa pindah ke rumah yang lebih baik. Saat membuka pintu, suasananya masih sama seperti dulu. “Dek… itu makanan di meja jangan lupa dimakan ya,” ucap Bunda. “Iya Bun,” jawabku. Sembari aku makan, Bunda mengelus rambutku dengan lembut. Rasa yang hangat.
Aku berada di kamar, menatap tabungan yang kukumpulkan. “Baiklah, mari kita mencapai tujuanku,” gumamku. Beberapa bulan kemudian, aku mendirikan toko kerajinan tangan yang besar. Tidak butuh waktu yang lama untuk tokoku cepat terkenal. Beberapa kerajinan yang kubuat saat kecil kujual dengan harga tinggi bukan karena fisiknya, melainkan karena kenangan di dalamnya.
Saat aku sedang merapikan lemari di toko, aku menemukan sebuah kotak tua berisi foto masa kecil yang dulu kupeluk di dalam mimpi. Di balik foto itu, terdapat tulisan tangan yang memudar. ‘Untuk diriku di masa depan, jangan pernah menyerah pada hati tulusmu.’ Aku tersenyum. Suara yang kudengar dalam mimpi bukanlah suatu keajaiban, melainkan harapan masa kecilku yang terkunci rapat dan akhirnya berhasil kupulangkan. Sekarang, aku bukan lagi pengejar tujuan, aku adalah tujuan itu sendiri.
Pada sore itu, seorang anak kecil berpakaian lusuh berdiri di depan tokoku, matanya menatap kagum pada salah satu kerajinan kayu di etalase. Aku melihat diriku yang dulu dalam sorot matanya yang redup. Aku melangkah keluar, berjongkok di hadapannya, dan memberikan sebuah kawat kecil yang sudah kubentuk menjadi bintang.
“Takdirmu tidak ditentukan oleh tempatmu berdiri sekarang, Nak,” bisikku sambil tersenyum. Saat anak itu pergi dengan harapan baru di matanya, aku menatap langit. Angin sore berhembus, kali ini bukan membawa keluhan, tapi membawa bisikan terima kasih kepada masa laluku yang pahit.
Kini aku berdiri di teras rumah baru, menatap langit yang sama dengan rumah kumuh dulu. Angin tetap sejuk, namun tak ada lagi keluhan tentang takdir. Suara yang dulu tidak didengarkan, kini menjadi karya yang berbicara kepada dunia. Ternyata, hati yang tulus bukan hanya cara untuk bertahan, tapi adalah kompas yang menuntunku pulang menuju diriku yang sebenarnya.















© 2026 potretonline.com








Diskusi