Sabtu, Mei 2, 2026

Aroma yang Tidak Lagi Kukenal

Sebuah cerpen tentang perjalanan pulang yang ternyata lebih jauh dari sekadar jarak.

29 April 2026
5 menit baca
Editor: Tabrani Yunis
1001453109_11zon
Aroma yang Tidak Lagi Kukenal

Oleh Hanief Arsyad

Rania tidak menangis ketika pesawat itu mendarat. Ia bahkan tidak tahu apa yang ia rasakan bukan gembira, bukan lega, bukan rindu yang tiba-tiba lunas terbayar. Yang ada hanya suara ban menyentuh aspal, lalu angin dari ventilasi kabin yang bau plastik panas, dan seorang ibu di kursi belakangnya yang berbisik, “Alhamdulillah, sudah sampai.”

Dua belas tahun. Rania menghitung bukan dalam bulan atau minggu, tapi dalam musim panas di Utrecht yang panjang dan musim dingin yang membuat tulang terasa seperti besi berkarat. Dua belas tahun belajar tata kota, lalu setahun bekerja di sebuah perusahan konsultan kecil di Amsterdam yang jendelanya menghadap kanal. Cukup lama untuk lupa bagaimana rasa panas yang menempel di kulit sejak pagi, tapi tidak cukup lama untuk benar-benar melupakan suara adzan subuh yang bocor dari corong masjid kampung.

Ibunya sudah menunggu di luar area kedatangan, memegang selembar karton bertuliskan nama dengan huruf besar dan tanda seru tiga buah. Di sebelahnya berdiri Abuwa Marzuki, supir keluarga yang rambutnya kini sudah separuh putih, senyumnya tetap lebar seperti dulu,  hangat dan bersahaja.

“Kurus sekali, Nak. Di sana tidak makan nasi?” suara lirih ibunya yang sudah sepuh.

Itulah kalimat pertama ibunya. Bukan selamat datang, bukan kami kangen. Tapi Rania tahu  itu juga cinta, hanya disajikan dalam bahasa yang berbeda.

Rumah masih berbau kapur barus dan minyak kayu putih. Familiar, tapi aneh  seperti membaca buku lama yang ingat plotnya tapi lupa rasanya. Rania meletakkan koper di kamarnya, duduk di tepi ranjang yang sprenya masih berderit dengan nada yang sama, dan menatap langit-langit.

Lima belas menit kemudian, Po Minah datang. Lalu kakNabon dari seberang gang. Lalu sepupu-sepupu yang tumbuh setengah kepala lebih tinggi dari terakhir ia lihat. Mereka duduk melingkar, teh manis diedarkan, dan pertanyaan-pertanyaan itu pun datang seperti hujan di musim yang tidak bisa diprediksi.

“Sudah ada calon di sana? Bule, mungkin?”

“Gajinya pasti besar ya, kerja di luar negeri?”

“Kapan nikah? Umurmu sudah berapa sekarang?”

Rania tersenyum. Terus tersenyum. Senyum yang ia latih tanpa sadar selama bertahun-tahun, senyum yang bisa dipakai untuk segala situasi seperti jas hujan lipat dalam tas. Di dalam dadanya, ada sesuatu yang terasa seperti dinding kaca — tembus pandang, tapi nyata. Di Utrecht, orang-orang tidak bertanya hal-hal itu. Bukan karena mereka tidak peduli. Tapi karena mereka paham ada batas yang tidak perlu dijelaskan, hanya perlu dihormati.

Di sini, batas itu tidak ada — karena cinta di sini tidak mengenal dinding. Dan Rania, yang sudah terbiasa dengan dinding, kini tidak tahu harus berdiri di mana.

Hari kedua, ia meminjam motor Pak Marzuki untuk berkeliling kota. Ingin merasakan sendiri, tanpa buffer kaca mobil.

Di persimpangan pertama, sebuah angkot berhenti di tengah jalan tanpa lampu sein, menurunkan penumpang sambil kenek-nya bergelantungan di pintu. Tiga motor menyalip dari kiri sekaligus. Seorang bapak dengan helm yang ikat talinya dibiarkan teruntai menerobos lampu kuning yang nyaris merah. Rania mengerem mendadak, jantungnya berdegup, lalu  anehnya tertawa kecil sendiri.

Ini bukan kacau, pikirnya. Ini hanya punya logikanya sendiri yang tidak pernah sempat kupelajari lagi.

Tapi di belokan berikutnya, ia melewati selokan yang warnanya hitam pekat, dan angin membawa bau yang membuatnya menahan napas. Di trotoar, sampah plastik menumpuk rapi dalam tumpukan yang tidak rapi. Seorang ibu muda membuang bungkus snack langsung ke parit tanpa rasa bersalah, sementara anaknya yang kecil berlari di sampingnya dengan sandal jepit merah.

Rania tidak marah. Ia hanya sedih dengan cara yang sulit dijelaskan dengan kata kata, sedih yang bukan milik siapa-siapa tapi terasa miliknya juga, inilah kampung ku lirihnya dalam hati.

Pada hari keenam, ada arisan keluarga. Undangan tertulis pukul 13.00. Rania datang pukul 13.05, merasa sedikit terlambat. Ia mendapati tuan rumah masih menanak nasi.

Acara baru benar-benar dimulai pukul 14.30. Tak seorang pun tampak terganggu. Percakapan mengalir, tawa berhamburan, nasi goreng akhirnya tersaji panas mengepul — dan Rania harus mengakui, selama empat tahun di Eropa, ia tidak pernah memakan nasi goreng yang seenak ini.

Tapi ketika pamannya berkata, “Acaranya mundur sedikit, biasa lah, namanya juga Indonesia,” dengan tawa yang lepas dan bangga — ada bagian kecil dari Rania yang ingin bertanya: kenapa kita menerima ini begitu saja? Kenapa kita membuat ketidak tepatan menjadi identitas? Dan ini menjadi normal normal saja. Ia tidak berkata apa-apa. Ia mengambil nasi goreng porsi kedua.

Malam terakhir sebelum ia kembali ke Jakarta untuk mulai bekerja, ibunya membuatkan kopi susu. Kental manis, panas, manis hingga ke dasar cangkir — persis seperti yang selalu disiapkan ibunya sejak Rania masih duduk di bangku SMP.

Rania sudah bertahun-tahun minum kopi hitam tanpa gula. Tapi malam itu ia tidak mengatakan apa-apa. Ia menerima cangkir itu, duduk di kursi rotan di teras, dan meminumnya pelan-pelan sementara ibunya bercerita tentang tanaman di halaman yang mati karena kemarau panjang, tentang tetangga yang anaknya baru saja wisuda, tentang hal-hal kecil yang terus bergerak meski Rania tidak ada.

Dan di situlah, untuk pertama kalinya sejak mendarat, Rania merasa sesuatu mencair di dalam dadanya.

Bukan karena kopinya. Bukan karena ia akhirnya menyesuaikan diri. Tapi karena ia sadar: selama ini ia mencari rasa familiar yang sama persis seperti yang ia tinggalkan — dan itu tidak mungkin. Waktu tidak pernah menunggu. Bukan hanya dirinya yang berubah. Rumah ini pun berubah, hanya dengan caranya yang lebih senyap.

Yang bisa ia lakukan hanya satu: belajar mengenal rumah ini dari awal lagi, seperti pertama kali mengenal kota asing — dengan sabar, dengan rasa ingin tahu, dan dengan keberanian untuk merasa tidak nyaman sebelum akhirnya merasa pulang.

Esok paginya, Rania berangkat ke Jakarta. Dari jendela hiance, ia melihat seorang bocah laki-laki berlari di pinggir jalan sambil memegang layang-layang yang benangnya sudah putus. Anak itu tertawa riang dan gembira sekali

Rania tidak tahu mengapa, tapi ia ikut tersenyum, mengobati hati yang rindu kapung halamannya.

Mungkin begitulah warna warna kehidupan, bukan seperti pintu yang dibuka dan langsung terang, tapi seperti mata yang perlahan-lahan terbiasa dengan cahaya baru.

Ia memasukkan earphone, memutar lagu lama, dan membiarkan kota itu berlalu di luar kaca dengan deru mesin hiance dengan kecepatan tinggi.

Cerpen ini ditulis berdasar pengalaman pribadi penulis dan beberapa perantau lainya sebagai reverse culture shock.

Hanif Arsyad adalah lulusan Magister Pendidikan Bahasa Inggris USK, berpengalaman sebagai dosen, penulis akademik, dan pengembang konten literasi. Saya aktif menulis di bidang pendidikan karakter, pengembangan SDM, serta kajian kebahasaan dan sosial. Saat ini, saya mengajar di Universitas Malikussaleh dan Hanna English School sebagai owner yang berlokasi di Aceh Utara. Saya juga menjabat sebagai Koordinator Yayasan Askar Ramadhan di Aceh yang bergerak di bidang sosial, serta dipercaya sebagai Kepala Sekolah Akademi Berbagi untuk klaster Aceh Utara dan Lhokseumawe. Keahlian saya mencakup penulisan ilmiah, editing, dan pendampingan riset.

Diskusi

Upload foto profil kecil (opsional)
Preview avatar
Memuat komentar...

Populer

Artikel yang banyak dibaca

Populer Mingguan

Berdasarkan jumlah pembaca 7 hari terakhir

Baca juga

F X W

Welcome Back!

Login to your account below

Create New Account!

Fill the forms below to register

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Add New Playlist