Selasa, April 28, 2026

Kita Sibuk Mengejar Bahagia, tapi Lupa Bahagia

Manusia mengejar kebahagiaan, namun sering lupa menikmatinya saat sudah ada
kopi hitam di malam hari suasana tenang refleksi tentang kebahagiaan
Ilustrasi: Kita Sibuk Mengejar Bahagia, tapi Lupa Bahagia

Malam ini, sembari menikmati kopi tanpa gula dengan aroma yang selalu menggoda, mari kita ngobrol yang ringan. Bukan sesuatu yang jauh dari kita, melainkan sesuatu yang selama ini sedang dan akan selalu kita kejar. Ya, bahagia.

Demi kata itu, manusia bersedia melakukan apa pun, meski tanpa disadari harus mengorbankan kata itu sendiri.

Bingung, kan? Tapi itulah fakta yang terjadi. Misalnya, seseorang ingin main game online. Tujuannya agar bahagia, minimal untuk merasa senang. Namun, di tengah jalan, justru mengorbankan kebahagiaan itu sendiri.

Memang tujuannya untuk menang, karena dengan menang akan hadir rasa bahagia. Namun, mengapa pula harus marah dan tidak bahagia ketika permainan tidak sesuai harapan?

Ada juga di antara kita yang ingin menjadi bos di sebuah institusi. Harapannya tentu bisa bahagia dengan materi yang didapat. Itu tidak salah. Namun, menjadi salah ketika demi posisi itu harus mengorbankan kebahagiaan sebelum hal tersebut tercapai, misalnya dengan menyuap. Tidak ada yang mengatakan bahwa menyuap akan membuat manusia bahagia—malah sebaliknya.

Masih banyak contoh lain. Dan yang menarik, katakanlah tujuan tercapai. Misalnya, menjadi bos akan menghadirkan rasa bahagia. Namun, perlahan tapi pasti, ada momen yang dahulu terasa membahagiakan, kemudian malah hilang. Misalnya, melihat si bocil dan menggendongnya. Bukan karena ia sudah besar, melainkan karena waktu telah berkurang.

Saat pulang dari kantor maupun rapat, si bocil sudah tidur. Pada saat itu terjadi, justru muncul rindu pada waktu yang dulu terasa lebih luang. Begitulah manusia, dari dahulu sampai kiamat. Menganggap sesuatu yang belum terjadi adalah kebahagiaan, namun lupa untuk bahagia pada apa yang sedang dijalani.

Menganggap sesuatu yang belum terjadi adalah kebahagiaan, namun lupa untuk bahagia pada apa yang sedang dijalani.

Schopenhauer kemudian menyimpulkan bahwa bahagia adalah jeda dari penderitaan dan kebosanan. Kesimpulan itu barangkali relevan bagi sebagian dari kita. Ya, tidak semua memang.

Ada di antara kita—meski tidak banyak—yang seolah tidak mengenal kata bahagia. Karena semua momen dianggap sama, entah sama menderitanya maupun sama membahagiakannya. Tipikal pertama barangkali sering kita jumpai.

Ia selalu mengeluh, betapapun banyak harta dan tingginya jabatan. Sementara tipikal kedua sangat jarang kita jumpai, apalagi di era digital ini. Tipe kedua ini tidak meminta sembuh ketika sakit, tidak meminta kaya ketika miskin. Baginya, semua kondisi memiliki hikmah dan nikmat masing-masing.

Di media sosial kita kerap membaca dan menonton konten yang akan direspons pikiran kita. Respons itu akan menentukan rasa, apakah bahagia, biasa saja, atau malah menderita, terutama ketika yang lewat di beranda pencapaian teman atau sanak family. Dan aksesoris kehidupan itu terkadang melupakan substansi kita hidup.

Kita mengira dan bersangka jika demikian dan seharusnya demikian, maka kita akan bahagia. Memang manusia diciptakan demikian. Hanya saja kita harus menghidupkan mesin kontrol, mesin yang tahu kapan berdamai ketika keinginan dan harapan tidak sesuai.

Persimpangan dua variabel ini penting kita miliki jika ingin tetap menjadi manusia. Jika tidak, kita dapat berubah menjadi hewan. Tidak peduli bangkai, tidak peduli rumput beracun. Asal lapar, gas!

Kemampuan mengontrol ingin (will) butuh latihan. Tidak pula mengenal pensiun, tidak kenal tempat dan waktu. Bahkan saat salat sekalipun. Beragam keinginan muncul sehingga salat hanya jadi gerakan bibir dan tubuh. Kapan kita tahu? Ketika salat tidak mencegah kita dari perbuatan keji dan munkar.

Demikian halnya dengan ibadah-ibadah lainnya. Padahal, bila ibadah dilaksanakan dengan benar, akan memberi rasa bahagia. Sebagaimana diutarakan sebelumnya, suap meski nominal lebih kecil dari sedekah, yang memberi rasa bahagia tetaplah sedekah.

Anda boleh mencobanya, 1 juta menyuap bos dengan 5 juta sedekah ke saudara, teman, atau siapa pun, kita akan bahagia saat sedekah meski nominalnya lebih besar. Jangan pula terbalik, 200 ribu sedekah, sementara suap 2 juta.

Mari, teman, kita merenung sejenak, apa substansi kita lahir dan dibesarkan di negeri ini? Silakan komentar.

Tulisan ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Redaksi tidak selalu sejalan dengan isi tulisan.
Penikmat kopi tanpa gula

Diskusi

Upload foto profil kecil (opsional)
Preview avatar
Memuat komentar...

Terbaru

Artikel terbaru untuk dibaca

Populer

Artikel yang banyak dibaca

Populer Mingguan

Berdasarkan jumlah pembaca 7 hari terakhir

Welcome Back!

Login to your account below

Create New Account!

Fill the forms below to register

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Add New Playlist