Oleh Fileski W Tanjung
Madiun, 19 April 2026. Pasar Pundensari, Jl. Golek, Pelempayung, Gunungsari, Kabupaten Madiun, suasana tidak sekadar ramai oleh transaksi ekonomi, melainkan oleh denyut kebudayaan yang terasa hidup. Sejak pukul 08.00 hingga menjelang siang, ruang pasar yang biasanya identik dengan tawar-menawar harga, berubah menjadi panggung perayaan makna. Tujuh tahun usia Pasar Pundensari dirayakan bukan dengan seremoni yang kaku, tetapi melalui sebuah peristiwa kolektif: roadshow pemecahan rekor MURI bertema budaya. Pada momen itu, saya tidak melihat sekadar sebuah acara, melainkan sebuah eksperimen sosial—bagaimana kebudayaan, ketika dikelola dengan kesadaran, mampu menjadi energi yang menghidupkan ruang publik.
Pasar seringkali direduksi sebagai ruang ekonomi, padahal ia menyimpan lapisan-lapisan simbolik yang jauh lebih dalam. Di Pundensari, pasar menjelma sebagai ruang “wilujengan” dan “nguri-nguri”—dua istilah yang mengandung makna spiritual sekaligus kultural. Wilujengan bukan sekadar ritual keselamatan, melainkan bentuk kesadaran kolektif bahwa kehidupan membutuhkan keseimbangan antara manusia, alam, dan nilai. Sementara nguri-nguri adalah tindakan merawat, menjaga, dan menghidupkan kembali warisan budaya agar tidak tergerus oleh modernitas yang serba instan. Dalam konteks ini, pasar tidak lagi berdiri sebagai entitas ekonomi semata, tetapi sebagai ekosistem kebudayaan.
Inisiatif yang digagas oleh pengelola Pasar Pundensari bersama tim kerja pemecahan rekor MURI yang dipimpin oleh Titus Tri Wibowo dari Jaringan Kebudayaan Madiun menunjukkan bahwa kebudayaan bukan sesuatu yang statis. Ia bukan benda museum yang hanya dipajang dan dikenang, tetapi sesuatu yang harus terus dipraktikkan, dinegosiasikan, dan bahkan dipertontonkan agar tetap relevan. Bernardi S. Dangin menyebut Pasar Pundensari sebagai role model gerakan kemasyarakatan berbasis budaya di Madiun. Pernyataan ini menarik, karena menggeser paradigma pembangunan dari yang semula berbasis infrastruktur fisik menuju pembangunan berbasis nilai dan partisipasi.
Di tengah kegiatan melukis telur sebagai bagian dari pemecahan rekor MURI, saya melihat sesuatu yang tampak sederhana tetapi sarat makna. Telur, dalam banyak tradisi, adalah simbol kehidupan, potensi, dan kelahiran kembali. Ketika ratusan bahkan ribuan telur dilukis bersama, ada sebuah narasi yang sedang dibangun: bahwa kehidupan sosial juga membutuhkan sentuhan kreativitas agar tidak membeku. Aktivitas ini bukan sekadar pencapaian rekor, melainkan sebuah metafora—bahwa masyarakat yang sehat adalah masyarakat yang mampu mencipta bersama.
Dwi Kartika mengungkapkan bahwa suasana yang sarat kearifan lokal dan kreativitas menciptakan kebahagiaan dan kedamaian mental. Pernyataan ini membuka ruang refleksi yang lebih luas. Di era kontemporer yang ditandai oleh percepatan teknologi dan tekanan psikologis, kebudayaan sering kali menjadi obat yang terlupakan. Kita terlalu sibuk mengejar efisiensi dan produktivitas, hingga lupa bahwa manusia juga membutuhkan ruang untuk merasa, merayakan, dan terhubung. Dalam hal ini, Pasar Pundensari menawarkan alternatif: bahwa kebahagiaan tidak selalu lahir dari kemajuan material, tetapi dari keterlibatan dalam pengalaman kolektif yang bermakna.
Pemikiran ini mengingatkan saya pada pernyataan Friedrich Nietzsche yang mengatakan, “Kita memiliki seni agar tidak mati karena kebenaran.” Dalam konteks Pundensari, seni dan budaya menjadi cara masyarakat untuk bertahan dari kerasnya realitas hidup. Ia bukan pelarian, tetapi justru bentuk keberanian untuk menciptakan makna di tengah ketidakpastian. Ketika masyarakat melukis telur bersama, mereka sedang menciptakan narasi bahwa hidup tidak harus selalu serius dan berat—ia juga bisa dirayakan.
Namun, di balik euforia ini, ada pertanyaan yang perlu diajukan secara kritis. Apakah gerakan berbasis budaya seperti ini mampu bertahan dalam jangka panjang, ataukah ia hanya menjadi peristiwa sesaat yang meriah tetapi cepat dilupakan? Di sinilah tantangan terbesar dari setiap inisiatif kebudayaan: keberlanjutan. Kebudayaan tidak cukup hanya dipentaskan, ia harus diinternalisasi. Jika tidak, ia akan menjadi sekadar komoditas, kehilangan ruhnya, dan akhirnya tunduk pada logika pasar yang justru ingin ia lawan.
Di sisi lain, kita juga perlu waspada terhadap romantisasi kebudayaan. Tidak semua yang tradisional otomatis baik, dan tidak semua yang modern otomatis buruk. Yang dibutuhkan adalah dialog yang sehat antara keduanya. Pasar Pundensari, dalam hal ini, menunjukkan sebuah kemungkinan: bahwa tradisi dan modernitas dapat bersinergi tanpa saling meniadakan. Rekor MURI, sebagai simbol modernitas, dipadukan dengan praktik budaya lokal, menciptakan sebuah hibriditas yang menarik.
Pemikiran ini sejalan dengan gagasan Clifford Geertz yang menyatakan, “Manusia adalah makhluk yang terjerat dalam jaring makna yang ia tenun sendiri.” Apa yang terjadi di Pundensari adalah proses menenun makna itu secara kolektif. Masyarakat tidak hanya menjadi penonton, tetapi juga penulis dari narasi kebudayaan mereka sendiri. Mereka tidak menunggu identitas diberikan, tetapi menciptakannya melalui tindakan.
Pada akhirnya, peristiwa di Pasar Pundensari bukan sekadar tentang ulang tahun pasar atau pemecahan rekor. Ia adalah tentang bagaimana sebuah komunitas memilih untuk memaknai dirinya. Di tengah dunia yang semakin terfragmentasi, di mana individu sering merasa terasing, kegiatan seperti ini menawarkan kemungkinan lain: kebersamaan yang otentik. Harmonisasi, kreativitas, dan kebersamaan yang guyub dan mutual, seperti yang diharapkan oleh para penggagasnya, bukanlah utopia, tetapi sesuatu yang bisa diwujudkan—meski dalam skala kecil.
Namun, pertanyaan yang tersisa adalah: apakah kita hanya akan berhenti pada kekaguman sesaat, ataukah kita berani membawa semangat ini ke dalam kehidupan sehari-hari? Apakah kebudayaan hanya akan kita rayakan pada momen-momen tertentu, ataukah kita jadikan sebagai cara hidup? Dan lebih jauh lagi, di tengah arus globalisasi yang sering menyeragamkan, apakah kita masih memiliki keberanian untuk merawat keunikan lokal kita?
Barangkali, jawaban atas pertanyaan-pertanyaan itu tidak perlu dicari jauh-jauh. Ia sudah ada di Pundensari, dalam tawa masyarakat yang melukis telur, dalam kebersamaan yang tercipta tanpa paksaan, dan dalam kesadaran sederhana bahwa menjadi manusia berarti terus mencipta makna. Pertanyaannya kini beralih kepada kita: apakah kita siap untuk ikut menenun jaring makna itu, atau justru memilih menjadi penonton dalam kehidupan kita sendiri. (*)
Fileski W Tanjung adalah penulis yang aktif menulis esai, puisi, dan prosa di berbagai media nasional.























Diskusi