Oleh: Tgk. H. Erli Safriza Al Yusufiy, Lc.
Dalam hiruk-pikuk dunia yang menuntut kemandirian mutlak manusia, kita sering kali lupa akan hakikat diri kita yang sebenarnya. Kita merasa menjadi tuan atas nasib kita sendiri, hingga akhirnya terjebak dalam kecemasan dan kelelahan batin. Baru-baru ini, dalam kajian kitab Syarah Umm al-Barahin karya Imam al-Sanusi di SPM Babussaadah, terungkap sebuah rahasia besar tentang “Anatomi Eksistensi” manusia: bahwa sejatinya kita adalah ketiadaan yang dihidupkan oleh Dzat Yang Maha Ada.
Kitab ini, yang secara luas dikenal sebagai Aqidah al-Sughra, bukan sekadar teks kering tentang sifat-sifat Tuhan. Ia adalah manual dekonstruksi ego dan penyucian jiwa (tazkiyatun nafs) yang mampu meringkas kompleksitas iman ke dalam dua kalimat syahadat.
Metafisika Kefakiran Semesta.
Pilar pertama yang diletakkan oleh Imam al-Sanusi adalah kesadaran ontologis tentang Iftiqar—ketergantungan total. Secara esensial, alam semesta ini adalah nihil. Tidak ada satu pun benda di bumi maupun di langit yang memiliki daya untuk eksis sendirian. Segala sesuatu bersaksi atas keagungan Tuhan melalui “ketidakberdayaan” mereka.
Iman yang kokoh justru bermula dari titik ini: menyadari bahwa Allah adalah Wajibul Wujud (Satu-satunya Wujud yang Wajib), sementara kita adalah makhluk yang “fakir” secara hakiki. Kesadaran ini bukan untuk mengecilkan martabat manusia, melainkan untuk membebaskan kita dari beban perasaan “memiliki” yang sering kali menjadi akar penderitaan.
Karunia Murni Tanpa Pamrih.
Sering kali kita terjebak dalam mentalitas “pedagang” saat beribadah—menyembah Tuhan karena menginginkan imbalan atau takut akan hukuman. Namun, Imam al-Sanusi melalui sifat Al-Ghani (Maha Kaya) mengajak kita memahami konsep Mahdhu Fadhlih (Karunia Murni).
Sebagaimana dipertegas oleh Imam al-Dasuqi, pemberian Allah adalah sesuatu yang bersih dari motif kepentingan, imbalan, apalagi paksaan. Allah memberi karena Dia adalah Sang Pemberi, bukan karena kita layak mendapatkannya. Kesadaran ini mengubah kualitas ibadah kita; kita tidak lagi beramal untuk “membeli” surga, melainkan sebagai bentuk cinta dan pengakuan atas hadiah-hadiah murni dari-Nya.
Sifat Ar-Ra’uf: Penawar Depresi Spiritual.
Puncak dari filsafat eksistensi al-Sanusi terletak pada pengenalan sifat Allah Ar-Ra’uf. Sifat ini didefinisikan sebagai cinta Tuhan yang meluap kepada hamba-Nya, tanpa memandang status hamba tersebut—apakah ia sedang dalam puncak ketaatan atau sedang terpuruk dalam dosa.
Dalam perjalanan spiritual, manusia sering mengalami fase inqibadh—sebuah kondisi sesak hati, depresi spiritual, di mana lisan terasa kelu untuk berzikir dan tubuh terasa berat untuk melangkah dalam pengabdian. Al-Sanusi menawarkan katalisnya: zikir melalui “pujian yang indah” (Jamil al-Thana).
Dengan memuji keindahan-Nya, mendung duka dan kekeruhan batin akan lenyap. Hati yang semula sempit akan mengalami basth (kelapangan). Rasa malas kemudian terkonversi menjadi energi ibadah yang dahsyat bukan karena paksaan hukum, melainkan karena getaran cinta.
Penutup.
Mempelajari tauhid melalui kacamata Imam al-Sanusi adalah upaya untuk memposisikan kembali martabat kita di hadapan Tuhan. Kita bertransformasi menjadi pribadi yang sadar akan keterbatasan diri, namun pada saat yang sama merasa kaya karena memiliki Tuhan yang Maha Pengasih.
Dengan mengenal Allah yang Maha Kaya namun Maha Lembut, kita akan memiliki hati yang lapang, lisan yang basah dengan zikir, dan raga yang ringan dalam pengabdian. Inilah kemerdekaan sejati: menjadi hamba dari Dzat yang tidak pernah meminta, namun selalu memberi.
Penulis adalah Pimpinan Dayah Madinatuddiyah Babussa’adah dan Ketua HUDA Aceh Selatan.






















Diskusi