HABA Mangat

Kabar Redaksi

Kabar Redaksi

Februari 2, 2025
Kabar Redaksi

Tema Lomba Menulis Bulan Februari

Februari 2, 2025

Popular

  • Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    882 shares
    Share 353 Tweet 221
  • Inilah Situs Menulis Artikel dibayar

    868 shares
    Share 347 Tweet 217
  • Peran Coaching Kepala Sekolah dalam Meningkatkan Kualitas Pendidikan

    840 shares
    Share 336 Tweet 210
  • Korupsi Sebagai Jalur Karier di Konoha?

    680 shares
    Share 272 Tweet 170
  • Lomba Menulis Agustus 2025

    670 shares
    Share 268 Tweet 168

HABA Mangat

Kabar Redaksi

Kabar Redaksi

Februari 2, 2025
Kabar Redaksi

Tema Lomba Menulis Bulan Februari

Februari 2, 2025

Popular

  • Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    882 shares
    Share 353 Tweet 221
  • Inilah Situs Menulis Artikel dibayar

    868 shares
    Share 347 Tweet 217
  • Peran Coaching Kepala Sekolah dalam Meningkatkan Kualitas Pendidikan

    840 shares
    Share 336 Tweet 210
  • Korupsi Sebagai Jalur Karier di Konoha?

    680 shares
    Share 272 Tweet 170
  • Lomba Menulis Agustus 2025

    670 shares
    Share 268 Tweet 168
  • Home
  • Artikel
  • POTRET Budaya
  • Literasi
  • Edukasi
  • Pendidikan
  • Puisi
  • Esai
  • Opini
No Result
View All Result
SAVED POSTS
AI News
  • Home
  • Artikel
  • POTRET Budaya
  • Literasi
  • Edukasi
  • Pendidikan
  • Puisi
  • Esai
  • Opini
No Result
View All Result
POTRET
No Result
View All Result

Dua Roda yang Merdeka di Tengah Kemacetan

Redaksi by Redaksi
Juli 24, 2025
in Artikel
Reading Time: 3 mins read
0
Dua Roda yang Merdeka di Tengah Kemacetan
589
SHARES
3.3k
VIEWS
Summarize with ChatGPTShare to Facebook
🔊

Dengarkan Artikel

Oleh Rosadi Jamani

Kemarin, saya melihat dari dalam mobil, tiga pelajar pulang sekolah dengan sepeda biasa, bukan sepeda listrik, bukan sepeda gunung canggih, apalagi sepeda lipat seharga satu motor bekas. Mereka beriringan sejajar, seperti pembalap Tour de Kampung yang tidak tahu apa itu marka jalan, atau mungkin tahu tapi memilih tidak peduli. Ketiganya sangat enjoy, tak peduli berjejer bisa mengganggu pengendara mobil atau sepeda motor.

Baca Juga

Presiden Pedofil?

Presiden Pedofil?

Maret 14, 2026
Pendidikan Hukum Pemilu dan Penataan Ulang Demokrasi Menuju Pemilu 2029

Antara Sajadah dan Layar: Menjaga Makna Ramadan di Era Digital

Maret 13, 2026
Tersisa Roy Suryo dan dr Tifa, Apakah akan Ikut Rismon Juga?

Tersisa Roy Suryo dan dr Tifa, Apakah akan Ikut Rismon Juga?

Maret 13, 2026

Perlu diketahui, jalan itu milik mobil dan motor. Trotoar? Itu milik pedagang kaki lima dan tiang reklame. Sepeda? Ah, sepeda hanyalah anak tiri dari peradaban transportasi. Tidak diakui, tidak diberi ruang, tapi selalu disuruh patuh. Ibarat anak kost yang disuruh bayar listrik tapi tak boleh masak. Kasihan ya, wak!

Indonesia, negara yang sempat mengalami lonjakan pengguna sepeda saat pandemi, naik hingga 1.000% di Jakarta. Semua orang tiba-tiba merasa sepeda adalah solusi masa depan. Tapi begitu PSBB usai, sepeda kembali ke habitat aslinya, gudang. Sepeda menjadi fosil kenangan, tertumpuk bersama treadmill dan alat gym yang dibeli pakai semangat tapi dipakai pakai alasan.

Coba bandingkan dengan Belanda. Negara yang penduduknya hanya 17 juta jiwa tapi punya 23 juta sepeda. Artinya, di Belanda, setiap bayi lahir sudah langsung punya warisan satu sepeda, satu harapan, satu jalur khusus. Anak-anak diajari naik sepeda sebelum bisa mengeja “demokrasi.” Sementara di sini, anak-anak diajari naik motor sebelum tahu rambu lalu lintas. Sebelum bisa baca, sudah bisa ngebut.

Di Amsterdam, sepeda adalah raja. Kebetulan pernah juga menginjakkan kaki di kota ini. Di sini ada 35.000 km jalur sepeda, terpisah, aman, dan elegan. Di Indonesia, jalur sepeda lebih mirip ilusi optik. Ada garis hijau di pinggir jalan, tapi mobil boleh parkir di atasnya, pedagang boleh buka lapak, dan pengendara motor boleh anggap itu jalur tikus.

Sepeda di sini nasibnya seperti filsuf di zaman digital, tidak dianggap, tapi tetap eksis demi idealisme. Ia berjalan pelan di antara klakson dan debu, tidak ingin menang, hanya ingin sampai.

Padahal, sepeda adalah revolusi sunyi. Ia tidak butuh bensin, tidak bikin bising, tidak mencemari udara. Tapi justru karena itulah, ia tidak seksi di mata kebijakan. Karena ia tidak bisa dikomersilkan seperti jalan tol. Tidak bisa dijadikan proyek mercusuar seperti LRT yang sepi. Sepeda terlalu jujur untuk dunia yang terlalu penuh tipu-tipu.

Tapi jangan salah. Di tengah gelombang knalpot dan ego manusia modern, sepeda adalah bentuk perlawanan yang elegan. Ia mengajarkan bahwa menuju tujuan tidak harus cepat, yang penting sampai. Ia mengingatkan bahwa tubuh masih bisa jadi mesin, bukan cuma boneka yang dibonceng teknologi. Ia hadir tanpa polusi, tanpa drama, tanpa cicilan.

Kalau ente masih punya sepeda di rumah, bersihkan. Pompa rodanya. Kayuh lagi. Jadikan ia simbol bahwa tak semua perubahan harus dimulai dari rapat. Kadang, perubahan bisa dimulai dari dua roda, satu sadel, dan keberanian untuk melawan arus.

Karena pada akhirnya, sepeda bukan sekadar alat transportasi. Ia adalah manifesto hidup sederhana yang radikal. Ia adalah doa sunyi manusia yang ingin bebas tapi tetap berpijak di bumi.

Dari tadi berbuih-buih ngomongkan sepeda, tapi saya tak punya sepeda di rumah. Duh, munafiknya hidup. Tapi saya jujur tak punya sepeda.

camanewak

Rosadi Jamani
Ketua Satupena Kalbar

🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini

Aceh Hijau atau Aceh Gundul?
Aceh Hijau atau Aceh Gundul?
12 Mar 2026 • 198x dibaca (7 hari)
Genosida Palestina: Membongkar Kolonialisme Modern Israel
Genosida Palestina: Membongkar Kolonialisme Modern Israel
12 Mar 2026 • 185x dibaca (7 hari)
Antara Sajadah dan Layar: Menjaga Makna Ramadan di Era Digital
Antara Sajadah dan Layar: Menjaga Makna Ramadan di Era Digital
13 Mar 2026 • 120x dibaca (7 hari)
Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng
Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng
18 Jun 2025 • 103x dibaca (7 hari)
Tersisa Roy Suryo dan dr Tifa, Apakah akan Ikut Rismon Juga?
Tersisa Roy Suryo dan dr Tifa, Apakah akan Ikut Rismon Juga?
13 Mar 2026 • 88x dibaca (7 hari)
📝
Tanggung Jawab Konten
Seluruh isi dan opini dalam artikel ini merupakan tanggung jawab penulis. Redaksi bertugas menyunting tulisan tanpa mengubah subtansi dan maksud yang ingin disampaikan.
SummarizeShare236
Redaksi

Redaksi

Majalah Perempuan Aceh

Baca Juga

Kala Kemampuan Kognisi Siswa Semakin Menurun
Dinas Pendidikan Aceh

Mengelola Pendidikan Ala Keledai?

Maret 15, 2026
POTRET Budaya

Di Bawah Langit yang Sama: Takjil Ramadan, Paskah, dan Taut Persaudaraan

Maret 14, 2026
Air Mata Kemanusiaan di Tanah Rencong
#Korban Bencana

Air Mata Kemanusiaan di Tanah Rencong

Maret 14, 2026
Presiden Pedofil?
Artikel

Presiden Pedofil?

Maret 14, 2026
Next Post
Mengupas Kurikulum SMK 2025: Makin Banyak dan Padat

Mengupas Kurikulum SMK 2025: Makin Banyak dan Padat

POTRET Online

© 2026 potretonline.com

  • Kirim Tulisan
  • Program 1000 Sepeda dan Kursi roda
  • Disclaimer
  • Al-Qur’an
  • Tentang Kami
  • Redaksi

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms below to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Home
  • Kirim Tulisan
  • Artikel
  • Pendidikan
  • Opini
  • Essay
  • Politik
  • PODCAST

© 2026 potretonline.com