Menghalau Petaka Intelektual: Refleksi Sains dan Iman ala Al-Ghazali.

dc7b6933-d445-40b2-9886-71a08edbedd9
Ilustrasi: Menghalau Petaka Intelektual: Refleksi Sains dan Iman ala Al-Ghazali.

Oleh: Tgk. H. Erli Safriza Al Yusufiy, Lc.

Peradaban manusia (Al-Umran) tidak pernah tegak di atas ruang hampa. Ia senantiasa berpijak pada fondasi ilmu pengetahuan yang kokoh. Namun, dalam sejarahnya, persilangan antara nalar sains dan keyakinan agama sering kali menjadi medan tempur yang melelahkan.

Melalui mahakarya Al-Munqidh min al-Dalal, Imam Al-Ghazali memberikan navigasi cerdas untuk kita yang hidup di era banjir informasi ini. Beliau membedah bagaimana madu pengetahuan bisa berubah menjadi racun jika disikapi dengan nalar yang cacat.

Sains itu Netral, Nalar yang Sering Kali Binal.

Dalam memetakan pengetahuan, Ibnu Khaldun dalam Muqaddimah-nya membagi ilmu menjadi dua: ilmu yang bersumber dari akal (Aqliyah) dan yang bersumber dari wahyu (Naqliyah). Senada dengan itu, Al-Ghazali menegaskan bahwa sains seperti matematika, geometri, dan astronomi adalah ilmu yang bersifat netral dan demonstratif (burhani).

Al-Ghazali secara tegas menyatakan bahwa kebenaran sains, seperti hitungan gerhana, adalah fakta yang tidak mungkin diingkari oleh siapa pun yang berakal. Namun, masalah muncul bukan pada sainsnya, melainkan pada “disorientasi nalar” para penuntutnya. Dari sinilah lahir dua malapetaka intelektual yang merusak individu maupun institusi agama.

Malapetaka Pertama: Silau Intelektual dan Taklid Buta.

Malapetaka pertama menyerang mereka yang terlalu kagum pada presisi sains. Al-Ghazali menggambarkan kondisi mental seseorang yang begitu terpesona dengan ketelitian matematika para filsuf, sehingga ia terjatuh pada prasangka baik yang kebablasan (Tahsinuz Zhan).

Logika mereka tergelincir: “Jika matematika mereka sedemikian presisi, maka pemikiran mereka tentang Tuhan pun pasti benar.” Akibatnya, mereka menelan mentah-mentah ideologi ateistik para filsuf hanya karena kagum pada rumus-rumus fisika mereka.

Al-Ghazali mengingatkan kita tentang pentingnya memahami spesialisasi keahlian. Ketajaman seseorang dalam mengolah data statistik tidak otomatis menjadikannya ahli dalam urusan ketuhanan. Ketidakmampuan membedakan wilayah kepastian sains (burhani) dengan wilayah spekulasi metafisika (takhmini) inilah yang memicu kekufuran berbasis taklid.

Malapetaka Kedua: Pembela Agama yang Jahil.

Jika petaka pertama merusak individu, malapetaka kedua jauh lebih destruktif karena merusak citra agama di mata publik. Al-Ghazali menyebutnya sebagai perilaku Shadiiq Jahil (Sahabat Islam yang Bodoh).

Tipe ini merasa bahwa membela Islam harus dilakukan dengan cara menabrak semua temuan akal dan sains. Mereka membantah fakta ilmiah—seperti penyebab terjadinya gerhana—hanya karena dianggap berasal dari kaum filsuf, lalu mengklaim bahwa bantahan mereka adalah suara syariat.

Tindakan ini dikecam keras oleh Al-Ghazali sebagai sebuah “kriminalitas agama” (Jinayah). Mengapa? Karena ketika seorang pembela agama membantah realitas nyata dengan dalih iman, ia justru memberikan amunisi bagi para penentang agama untuk mencibir bahwa Islam dibangun di atas kebodohan. Islam tidak butuh dibela dengan ketidaktahuan.

Penutup: Menjadi Sahabat Agama yang Berilmu
Melalui perspektif Al-Ghazali, kita diajak untuk menjadi pembela agama yang berilmu. Sains bukanlah lawan dari iman; ia adalah instrumen untuk menyingkap tabir keagungan Sang Pencipta di alam semesta.

Kejahatan intelektual terbesar bukanlah sains yang sekuler, melainkan dakwah yang anti-nalar. Islam tidak perlu dibela dengan cara memusuhi akal sehat. Sebaliknya, Islam hanya perlu dipahami dan disampaikan dengan kejujuran intelektual yang menempatkan wahyu sebagai pemandu nalar, bukan pembunuh nalar. Di persimpangan jalan peradaban ini, kejernihan berpikir adalah kunci agar kita tidak tersesat dalam delusi intelektual maupun fanatisme buta.

Penulis adalah Pimpinan Dayah Madinatuddiyah Babussa’adah dan Ketua HUDA Aceh Selatan.

Tulisan ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Redaksi tidak selalu sejalan dengan isi tulisan.
Ketua HUDA Aceh Selatan Periode 2024-2029 dan Pimpinan Dayah Madinatud Diniyah Babussaadah

Diskusi

Upload foto profil kecil (opsional)
Preview avatar
Memuat komentar...

Terbaru

Artikel terbaru untuk dibaca

Populer

Artikel yang banyak dibaca

Populer Mingguan

Berdasarkan jumlah pembaca 7 hari terakhir

Welcome Back!

Login to your account below

Create New Account!

Fill the forms below to register

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.