Di zaman sekarang, media sosial sudah menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari. Hampir semua orang menggunakan media sosial untuk berkomunikasi, mencari hiburan, atau berbagi cerita. Namun di balik itu, media sosial juga sering menjadi tempat munculnya berbagai masalah, salah satunya pelecehan seksual.
Bentuknya bisa bermacam-macam, mulai dari komentar yang tidak pantas, pesan pribadi yang mengganggu, sampai penyebaran konten tanpa izin. Hal inilah yang membawa dampak buruk, terutama bagi korban, baik secara mental maupun emosional.
Fenomena ini bukan sekadar opini. Berdasarkan Catatan Tahunan (CATAHU) Komnas Perempuan 2023, terdapat lebih dari 457.895 kasus kekerasan terhadap perempuan yang dilaporkan, dengan tren peningkatan signifikan pada kekerasan berbasis gender online (KBGO). Selain itu, laporan UN Women (2021) menunjukkan bahwa sekitar 58% perempuan di dunia pernah mengalami kekerasan berbasis gender di ruang digital.
Data tersebut menunjukkan bahwa ruang digital masih belum sepenuhnya aman. Bahkan, survei global juga mencatat bahwa sekitar 1 dari 3 perempuan pernah menjadi korban pelecehan di internet. Kondisi ini diperparah oleh kenyataan bahwa banyak korban memilih untuk tidak melaporkan kejadian yang dialaminya karena takut disalahkan atau tidak dipercaya oleh publik.
Yang menjadi masalah, setelah kejadian terjadi, korban justru sering tidak mendapatkan dukungan yang seharusnya. Di media sosial, banyak komentar yang malah menyudutkan korban. Ada yang meragukan ceritanya, ada yang menyalahkan, bahkan ada yang menganggap kejadian tersebut sebagai hal yang biasa.
Hal ini termasuk bentuk diskriminasi, karena korban diperlakukan tidak adil hanya karena posisinya sebagai korban. Mereka seolah harus membuktikan bahwa mereka benar-benar korban, sementara pelaku sering kali tidak mendapatkan sorotan yang sama.
Bahkan, tidak sedikit korban yang akhirnya mendapat serangan dari banyak orang sekaligus di media sosial. Situasi ini tentu membuat kondisi korban semakin berat, karena tekanan yang diterima tidak hanya datang dari pelaku, tetapi juga dari lingkungan digital itu sendiri.
Dampak dari kondisi tersebut tidak bisa dianggap sepele. Selain harus menghadapi trauma dari kejadian yang dialami, korban juga harus menghadapi tekanan sosial yang berkelanjutan. Penelitian menunjukkan bahwa korban kekerasan digital memiliki risiko lebih tinggi mengalami gangguan mental seperti kecemasan (anxiety) dan depresi hingga 2 kali lipat dibandingkan mereka yang tidak mengalaminya.
Tekanan dari komentar negatif dan serangan publik di media sosial sering kali memperparah kondisi mental korban. Hal ini membuat korban merasa takut, malu, dan akhirnya memilih untuk diam.
Padahal, ketika korban tidak berani berbicara, kasus-kasus seperti ini menjadi sulit terungkap dan pelaku berpotensi mengulangi perbuatannya.
Kondisi ini menunjukkan bahwa masih banyak masyarakat yang belum benar-benar memahami pentingnya empati terhadap korban. Media sosial yang seharusnya menjadi ruang berbagi justru sering berubah menjadi ruang yang memperparah luka korban.
Oleh karena itu, kita sebagai pengguna media sosial perlu lebih bijak dalam berkomentar dan tidak langsung menghakimi. Sikap empati dan kehati-hatian dalam merespons suatu kasus sangat penting untuk menciptakan lingkungan digital yang lebih sehat.
Selain itu, edukasi mengenai pelecehan seksual dan dampaknya juga perlu diperluas. Dengan pemahaman yang lebih baik, masyarakat diharapkan mampu menghargai korban dan tidak lagi memberikan perlakuan diskriminatif.
Jika lingkungan sosial menjadi lebih suportif, korban akan merasa lebih aman untuk berbicara dan mencari keadilan.
Kesimpulan
Pada akhirnya, mengurangi diskriminasi terhadap korban bukan hanya tanggung jawab satu pihak, tetapi seluruh masyarakat. Dengan membangun empati, meningkatkan literasi digital, dan menggunakan media sosial secara bijak, kita dapat menciptakan ruang digital yang lebih adil dan manusiawi.
Sumber: CATAHU Komnas Perempuan 2023, UN Women 2021, serta berbagai studi tentang kekerasan berbasis gender online.



























Diskusi