Oleh Tabrani Yunis
Ketika musim penerimaan siswa baru, banyak orang tua yang kalang kabut memikirkan sekolah bagi anak-anak mereka. Ada yang bingung karena kesulitan biaya sekolah yang meliputi biaya masuk, biaya pakaian seragam dan lain-lain.
Tidak sedikit orang tua yang pusing karena ingin bisa menyekolahkan anak-anak mereka ke sekolah-sekolah favorit. Semua ini demi mempersiapkan masa depan gemilang bagi anak-anak.
Lembaga pendidikan formal masih dipercayai sebagai lembaga yang dapat mempersiapkan masa depan anak-anak. Sekolah diyakini dapat melakukan transfer ilmu dan center of excellence. Singkatnya sekolah formal masih menjadi harapan untuk mengubah kehidupan. Walaupun dalam realitasnya sekolah tidak menjamin masa depan, karena baik buruknya masa depan bukan bergantung pada lembaga pendidikan formal tersebut.
Perhatian orang tua ini seharusnya disikapi oleh anak secara bijak. Sayangnya tidak banyak orang tua yang memperoleh penghargaan itu. Banyak siswa yang mengingkari amanah orang tuanya. Selama ini banyak siswa yang bersekolah di café-café. Setiap pagi, gerombolan siswa yang berpakaian seragam, ramai-ramai bersekolah di café. Bukan hanya siswa, tetapi juga tidak sedikit para siswi. Banyak siswa/siswi yang menjadikan café sebagai sekolah baru mereka. Aksi sekolah di café ini seperti tidak terlacak oleh pihak sekolah. Apalagi para orang tua, mereka mungkin tidak pernah tahu, kalau anak-anak yang mereka antar ke sekolah di musim penerimaan siswa baru, kini bersekolah di café.
Ini wajar saja terjadi, karena hampir umumnya orang tua birfikir dan bersikap bahwa kalau anak-anak mereka sudah diantarkan ke sekolah, sudah membayar uang sekolah, tanggung jawab terhadap anak sudah selesai. Padahal, anak-anak mereka, bisa saja tidak ke sekolah.
Apalagi kalau sekolah tempat mereka belajar bukan menjadi sekolah pilihan anak. Karena banyak anak yang bersekolah, justru karena mengikuti selera orang tua. Inilah kelemahan orang tua yang tidak pernah mau diakui oleh orang tua.
Mengapa di Café?
Barangkali sebagian orang tua akan sangat marah kalau mengetahui anak-anak mereka ternyata tidak di sekolah, melainkan di café. Namun hal ini harus dilihat secara komprehensif. Tidak bisa menyalahkan pengusaha. Perlu dilakukan identifikasi masalah yang ada, terutama kondisi di sekolah mereka.
Banyak penyebab kenapa para siswa lebih betah bersekolah di café. Di antara beberapa alasan yang bisa kita catat di sini, pertama, karena ingin mendapatkan kebebasan yang tidak mereka dapatkan di sekolah, seperti merokok. Mereka tidak memiliki kebebasan merokok di sekolah, maka alternatifnya agar bisa menikmati rokok adalah café. Di café para siswa dan siswi bisa ngobrol dan ketawa terbahak-bahak dan bisa menanggalkan pakaian sekolah. Tidak ada yang marah atau mengernyitkan kening terhadap mereka. Di samping mereka bisa memesan makanan yang mereka sukai. Bisa merokok dengan bebas, tanpa ada yang bisa dan mau melarang.
Kedua, karena adanya kelemahan sekolah yang tidak memberikan suasana nyaman. Hal ini berkaitan dengan kualitas pelayanan sekolah. Mereka berani keluar sekolah dan meninggalkan jam pelajaran disebabkan oleh faktor guru yang tidak membuat mereka mencintai pelajarannya. Misalnya metode belajar yang tidak menarik dan membosankan.
Ketiga, karena kurangnya kontrol sekolah terhadap kehadiran peserta didik setiap harinya. Artinya tidak adanya sistem pengawasan di sekolah. Boleh jadi tidak pernah dilakukan absensi atau tidak adanya teguran, sehingga membuat mereka merasa bebas pada saat-saat jam pelajaran berlangsung. Hampir setiap pagi lonceng masuk dibunyikan, para guru tidak memberikan aba-aba apapun agar para siswa segera masuk sehingga mereka tetap berada diluar dan tidak masuk ke ruangan untuk memulai proses pembelajaran.
Keempat, karena kurangnya control dari orang tua. Orang tua hanya melepaskan tanggung jawab pendidikan anak pada sekolah. Sekali lagi karena merasa sudah membayar sejumlah biaya, para orang tua merasa telah menyerahkan tanggung jawab sepenuhnya pada guru. Padahal, orang tua yang arif, seharusnya juga harus mengontrol, apakah sang anak ada bersekolah atau tidak. Apakah anak mereka membolos dan sebagainya.
Banyak fakta yang memilukan, misalnya pada jam pelajaran, banyak siswa yang merokok di kios-kios saat jam pelajaran pertama dan juga saat pulang sekolah. Tidak ada seorang pun yang mau dan berani menegur mereka.
Kelima, semakin ramainya para siswa memilih café sebagai tempat belajar, menjadi indikator betapa konsep pusat pendidikan seperti yang diajarkan oleh Ki Hajar Dewantara, sudah dilupakan sama sekali. Karena ramainya siswa/siswi belajar di café justru karena hilangnya kontrol masyarakat terhadap anak didik di sekolah. Masyarakat pun seakan merasa bahwa hal tersebut merupakan urusan sekolah, bukan urusan masyarakat. Jadi banyak masyarakat yang masa bodoh.
Fenomena sekolah café atau sekolah mall adalah fenomena kota besar seperti Jakarta, Bandung, Surabaya dan kota-kota lainnya. Fenomena ini bukanlah sebuah contoh yang baik untuk dipertahankan. Apalagi untuk Aceh yang kondisi pendidikannya masih memprihatinkan.
Hal ini juga merugikan orang tua yang selama ini kesulitan dalam mencari pendidikan yang terbaik bagi anak-anak mereka. Juga tidak baik bagi anak didik, karena mereka akan terus tertinggal dengan penguasaan pelajaran setiap harinya. Karena itu harus ada upaya untuk mengembalikan para siswa dan siswi yang menghabiskan waktu di café-café ke sekolah.
Lalu bagaimana caranya mengembalikan mereka ke sekolah dan memaksimalkan pemanfaatan waktu belajar di sekolah? Banyak cara yang bisa dilakukan, misalnya dengan melakukan revitalisasi konsep tri-pusat pendidikan yang mendorong peran ketiga lembaga pendidikan, yakni keluarga, sekolah dan masyarakat dalam melakukan fungsi kontrolnya.
Hal yang paling penting adalah mendorong sekolah untuk mampu menciptakan suasana pembelajaran yang menarik dan menyenangkan di sekolah. Artinya para guru harus mampu menghadirkan cinta di ruang kelas. Kalau mereka merasa cinta dengan sebuah pelajaran, maka para siswa akan secara suka dan tekun belajar di sekolah. Mereka tidak akan menghabiskan lagi waktu belajar di café-café. Orang tua dan guru tidak harus mengejar-ngejar mereka untuk belajar.
Karena itu diharapkan sekolah mampu menciptakan suasana belajar yang bisa menumbuhkan rasa cinta anak didik. Bukan membuat mereka bosan dengan metode pembelajaran yang monoton. Jangankan anak didik, guru saja tidak mau berada di dalam ruangan penataran misalnya, kalau sang instruktur atau penatarnya tampil sangat monotn. Apalagi anak-anak.
Nah, kini saatnya para guru di sekolah mau melakukan pembejaran yang kreatif, menarik dan menyenangkan. Juga dibutuhkan kerja sama yang erat dari pihak keluarga dengan sekolah dan sebaliknya. Begitu juga kerja sama dengan masyarakat. Bila dua hal ini bisa dilakukan. Insya Allah, anak-anak sekolah kita tidak akan menghabiskan waktu belajar mereka di café-café lagi. Mari kita fikirkan dan lakukan bersama.
























Komentar