• Latest
Ilustrasi Ngopi Bersama Ali Shariati dan Nietsche

Aceh Meniru Jakarta

Maret 31, 2026
Aceh Meniru Jakarta - 0e417695 171f 4238 b08b 77387e695a57 | Artikel | Potret Online

Dari Geopolitik ke Dapur Rakyat: Krisis Global dan Rapuhnya Ekonomi Indonesia

Maret 31, 2026
ba05a86a-c490-46bf-9ae8-c75ef1da62eb

Nasrallah dan Jugendliteratur

Maret 31, 2026
cd371ba6-715d-447b-b94a-30123cf2d952

Pendidikan Hadapi Ancaman Nyata

Maret 31, 2026
Aceh Meniru Jakarta - 09ff0262 2fb8 4c93 9f84 06e6009c9293 | Artikel | Potret Online

Menanti Dinas Pendidikan Provinsi Aceh Bersinergi Membangun Literasi Anak Negeri

Maret 31, 2026
Ilustrasi ketidakadilan hukum terhadap rakyat kecil

Hukum yang “Sakit” Hati : Rakyat Kecil Hanya Bisa Mengeluh

Maret 31, 2026
0bbaafe3-989c-40ac-89fc-d0335c56d343

Dubai Kota Impian Pelan-pelan Menuju Kota Hantu

Maret 31, 2026
8a775060-2ffc-40bc-a7c8-7d5eeda6427a

Mengenal Ayu Zhafira, Finalis Miss Norway Berdarah Sumatera Barat

Maret 30, 2026
IMG_0551

Jalan yang Kita Pilih

Maret 30, 2026
  • Home
  • Artikel
  • POTRET Budaya
  • Literasi
  • Edukasi
  • Pendidikan
  • Puisi
  • Esai
  • Opini
  • Penulis
  • Kirim Naskah
No Result
View All Result
SAVED POSTS
AI News
  • Home
  • Artikel
  • POTRET Budaya
  • Literasi
  • Edukasi
  • Pendidikan
  • Puisi
  • Esai
  • Opini
  • Penulis
  • Kirim Naskah
No Result
View All Result
POTRET
No Result
View All Result
Ilustrasi Ngopi Bersama Ali Shariati dan Nietsche

Aceh Meniru Jakarta

Di Antara Moral dan Kekuasaan

Don Zakiyamani by Don Zakiyamani
Maret 31, 2026
in Artikel, Aceh, Politik, Politik Dinasti
Reading Time: 4 mins read
0
596
SHARES
3.3k
VIEWS
Summarize with ChatGPTShare to Facebook

Salah satu fakta bahwa Aceh kini telah berintegrasi dengan Indonesia sebenarnya bukan sekadar karena penandatanganan perdamaian dalam MoU Helsinki. Integrasi itu justru tampak dari kesamaan karakter dalam cara memerintah rakyat. Dua pemerintahan dengan skala berbeda, tetapi memperlihatkan ciri yang semakin serupa.

Keduanya cenderung mengadopsi pola pemerintahan yang menghalalkan berbagai cara demi mempertahankan kekuasaan. Tidak peduli rakyat berteriak tentang ketidakadilan—selama tidak viral, semuanya dianggap baik-baik saja.

Baca Juga

Aceh Meniru Jakarta - 0e417695 171f 4238 b08b 77387e695a57 | Artikel | Potret Online

Dari Geopolitik ke Dapur Rakyat: Krisis Global dan Rapuhnya Ekonomi Indonesia

Maret 31, 2026
ba05a86a-c490-46bf-9ae8-c75ef1da62eb

Nasrallah dan Jugendliteratur

Maret 31, 2026
cd371ba6-715d-447b-b94a-30123cf2d952

Pendidikan Hadapi Ancaman Nyata

Maret 31, 2026

Pola nepotisme, kolusi, dan korupsi yang dipraktikkan bahkan terasa lebih terang-terangan dibandingkan masa Orde Baru di bawah Soeharto. Dahulu, praktik seperti itu setidaknya dilakukan dengan rasa sungkan atau ditutupi. Sekarang, baik di Aceh maupun di tingkat pusat, berbagai keputusan politik seolah dipertontonkan tanpa rasa malu.

Pengangkatan pejabat di pemerintahan sering kali didasarkan pada kedekatan, bukan kemampuan. Mulai dari kepala dinas, direksi, hingga komisaris BUMD seperti Bank Aceh Syariah, PT Pembangunan Aceh (Perseroda), hingga PT Pema Global Energi. Pola ini terlihat serupa dengan praktik di tingkat pusat. Seolah-olah birokrasi Aceh kini meniru sepenuhnya model kekuasaan di Jakarta.

Sebagai contoh, kepala Dinas Pendidikan Aceh dinilai hanya banyak janji tanpa terobosan nyata, sebagaimana pernah disorot oleh pengamat pendidikan Aceh, Tabrani Yunis.

Di sisi lain, Direktur Utama Bank Aceh Syariah, Fadhil Ilyas, dan Direktur Utama PT Pembangunan Aceh (Perseroda), Mawardi Nur, juga dinilai sebagai produk kedekatan dengan penguasa daerah.

Hingga kini, belum terlihat inovasi maupun visi yang jelas. Kedua BUMD tersebut tampak stagnan.

Fenomena terbaru adalah pengangkatan anak biologis Gubernur Aceh sebagai Komisaris Utama PT Pema Global Energi. Jika ditelusuri lebih jauh, jajaran komisaris PT Pembangunan Aceh (Perseroda) juga diisi oleh orang-orang dekat Muzakir Manaf.

Pemandangan ini terasa mirip dengan yang terjadi di tingkat nasional. Pemerintahan di bawah Prabowo Subianto juga dinilai melakukan langkah serupa.

Salah satu contohnya adalah pengangkatan Pandu Patria Sjahrir—yang sebelumnya menjadi Wakil Bendahara Tim Kampanye Nasional Prabowo–Gibran pada Pilpres 2024—sebagai Chief Investment Officer di lembaga investasi negara, Danantara.

Sebelumnya, Joko Widodo juga melakukan hal yang sama selalam 10 tahun. Bahkan melalui kekuasaan yang dimilikinya, Joko Widodo menjadi king-maker bagi anak dan menantunya.

Padahal dalam tradisi Islam sendiri, kepemimpinan justru diperingatkan agar tidak diserahkan kepada orang yang tidak layak. Nabi Muhammad SAW bersabda:

“Apabila suatu urusan diserahkan kepada yang bukan ahlinya, maka tunggulah kehancurannya.”
(HR. Bukhari)

Hadis ini bukan sekadar nasihat moral, tetapi juga peringatan sosial yang sangat kuat. Ia menegaskan bahwa kerusakan dalam suatu masyarakat sering kali dimulai dari cara kekuasaan memilih orang-orang yang menjalankan pemerintahan.

Fenomena ini seolah mengonfirmasi bahwa pemerintah Aceh dan pemerintah Indonesia telah menyatu, bukan hanya secara administratif, tetapi juga secara budaya politik. Mereka kini melakukan hal-hal yang dahulu mereka kritik dan tolak.

Saya menyeruput kopi sore itu, menatap cangkir yang mulai mendingin, dan menyadari bahwa sore itu ngopi bersama dua teman—Ali Shariati dan Friedrich Nietzsche. Lalu saya bertanya pada pada mereka: Apa yang sebenarnya sedang terjadi dengan pola kekuasaan ini?

Ali Shariati menatap tajam, lalu berkata pelan:

“Kondisi seperti ini tidak boleh hanya disaksikan sebagai keluhan sosial. Masyarakat harus memiliki kesadaran kritis terhadap kekuasaan. Ketika kekuasaan menjauh dari keadilan dan berpihak pada lingkaran sempit elite, tugas kita—terutama kaum intelektual, ulama, dan generasi muda—adalah membangunkan kesadaran publik, mengkritik secara terbuka, dan mengingatkan kembali tujuan moral dari kekuasaan itu sendiri.”

Nietzsche, dengan senyum sinis khasnya, menambahkan:

“Perhatikan. Kekuasaan jarang bergerak demi kebenaran. Ia bergerak demi mempertahankan dirinya sendiri. Moralitas bisa dibuat mengikuti kepentingan penguasa: apa yang menguntungkan dianggap wajar, kritik diposisikan sebagai ancaman.”

Shariati mengangguk, melanjutkan:

“Perubahan tidak selalu dimulai dari perebutan kekuasaan. Ia lahir dari perubahan cara berpikir masyarakat. Rakyat tidak boleh terbiasa dengan ketidakadilan. Jika diam, nepotisme dan kekuasaan tertutup perlahan dianggap normal. Karena itu, penting membangun budaya kritik yang sehat, memperkuat integritas lembaga pendidikan dan keagamaan, serta menuntut transparansi setiap keputusan politik.”

Kata-kata mereka sepahit kopi sore itu namun terasa nikmat, Masyarakat tidak boleh hanya menjadi penonton dalam sejarahnya sendiri. Mereka harus menjadi kekuatan moral yang mengingatkan bahwa kekuasaan ada untuk melayani rakyat, bukan diwariskan pada lingkaran keluarga atau kelompok tertentu.

Aceh dulu dikenal sebagai daerah yang keras mengkritik kekuasaan pusat. Namun hari ini muncul ironi yang sulit diabaikan: sebagian dari mereka yang dahulu melawan kini terlihat mengulang pola yang dulu mereka tentang.

ADVERTISEMENT

Jika keadaan ini dibiarkan, yang berubah bukan hanya wajah kekuasaan—tetapi juga ingatan sejarah kita sendiri. Dan ketika sejarah mulai dilupakan, kekuasaan akan merasa bebas mengulang kesalahan yang sama—lagi dan lagi.

Sore itu, kopi tanpa gula menjadi saksi. Di luar, hujan turun deras. Bagi mereka yang rumahnya baru terendam banjir, suara hujan terasa lebih nyata daripada pidato panjang yang terus diputar dari mimbar politik.

🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini

Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng
Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng
18 Jun 2025 • 353x dibaca (7 hari)
Batu Gajah Hilang di Bate Iliek
Batu Gajah Hilang di Bate Iliek
23 Mar 2026 • 318x dibaca (7 hari)
Membuka Tabir Sejarah Kenegerian Manggeng dan Para Raja yang  Pernah Berkuasa
Membuka Tabir Sejarah Kenegerian Manggeng dan Para Raja yang  Pernah Berkuasa
27 Mar 2026 • 310x dibaca (7 hari)
Aceh Hijau atau Aceh Gundul?
Aceh Hijau atau Aceh Gundul?
12 Mar 2026 • 274x dibaca (7 hari)
Memutus Rantai Kemiskinan, Melawan Kufur Etika
Memutus Rantai Kemiskinan, Melawan Kufur Etika
20 Mar 2026 • 201x dibaca (7 hari)
📝
Tanggung Jawab Konten
Seluruh isi dan opini dalam artikel ini merupakan tanggung jawab penulis. Redaksi bertugas menyunting tulisan tanpa mengubah subtansi dan maksud yang ingin disampaikan.
Tags: #JakartaAcehPolitik
SummarizeShare238Tweet149
Don Zakiyamani

Don Zakiyamani

Penikmat kopi tanpa gula

Baca Juga

IMG_0518
Artikel

Mencari Akar Sejarah Nama Manggeng

Maret 29, 2026
Aceh Meniru Jakarta - 1001099128 1 | Artikel | Potret Online
Artikel

Ketika Solidaritas Retak di Tengah Bencana

Desember 11, 2025
Aceh Meniru Jakarta - 1001082624_11zon | Artikel | Potret Online
Artikel

Krisis Ekologi Merambat Menjadi Krisis Ekonomi dan Krisis Sosial

Desember 9, 2025
Aceh Meniru Jakarta - 1001080822_11zon | Artikel | Potret Online
Haba Mangat

Tema Lomba Menulis Edisi Desember 2025

Desember 5, 2025
Next Post
cd371ba6-715d-447b-b94a-30123cf2d952

Pendidikan Hadapi Ancaman Nyata

Discussion about this post

POTRET Online

© 2026 potretonline.com

  • Program 1000 Sepeda dan Kursi roda
  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Al-Qur’an
  • Kirim Naskah
  • Penulis

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms below to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Pendidikan
  • Logout
  • Opini
  • Essay
  • Politik
  • PODCAST
  • Penulis
  • Kirim Naskah

© 2026 potretonline.com