Dengarkan Artikel
Oleh: Novita Sari Yahya
Saudara-saudara sebangsa dan setanah air,
Hari ini saya tidak datang hanya untuk berbicara. Saya datang untuk menyampaikan sikap, menyatakan arah, dan mengajak kita semua untuk kembali pada satu pertanyaan mendasar: Indonesia ini mau dibawa ke mana?
Kita adalah bangsa besar. Kita lahir dari perjuangan, dari gagasan, dari keberanian para pendiri bangsa. Tetapi hari ini, kita harus jujur: kebesaran itu belum sepenuhnya menjadi kenyataan.
Kita kaya, tetapi belum berdaulat.
Kita merdeka, tetapi belum sepenuhnya mandiri.
Kita bekerja keras, tetapi sering tidak menentukan arah.
Saudara-saudara,
Selama ini kita diajarkan bahwa kerja keras adalah segalanya. Bahwa siapa yang rajin, dia akan berhasil. Tetapi kita jarang diajak bertanya: kerja keras untuk siapa?
Dalam sistem Kapitalisme hari ini, banyak dari kita bekerja tanpa benar-benar memiliki kendali atas hasilnya. Kita bergerak, tetapi arah ditentukan oleh yang lain. Kita bekerja, tetapi bukan kita yang menentukan nilai dari kerja itu.
Dan keadaan seperti ini sering dianggap wajar.
Padahal, jika kita terus berada dalam posisi itu, kita tidak lebih dari sekadar pelaksana. Kita bukan pencipta.
Saudara-saudara,
Inilah yang harus kita ubah.
Kita harus berani mengatakan bahwa Indonesia tidak boleh hanya menjadi bangsa pekerja. Indonesia harus menjadi bangsa pencipta.
Kita harus mengembalikan martabat bangsa ini.
Sebagaimana pernah diingatkan oleh Soekarno, bangsa ini tidak boleh menjadi bangsa kuli. Bukan kuli di negeri sendiri, dan bukan pula kuli di antara bangsa-bangsa.
Hari ini, peringatan itu terasa semakin relevan.
Ketika pendidikan hanya mencetak tenaga kerja,
ketika ekonomi hanya memberi ruang pada yang kuat,
ketika kekayaan alam belum sepenuhnya kita kelola untuk kepentingan rakyat,
maka yang terjadi bukan kemajuan, melainkan ketergantungan.
Saudara-saudara,
Manifesto Indonesia Terhormat berdiri di atas satu keyakinan:
bahwa martabat manusia harus menjadi dasar dari segala kebijakan.
Kita ingin Indonesia yang:
rakyatnya bebas berpikir
ekonominya mandiri
dan berani menentukan masa depannya sendiri
Kita ingin mengubah cara pandang tentang kerja.
Kerja bukan sekadar mencari makan. Kerja adalah proses mencipta, membangun, dan memberi makna.
Karena itu, kita ingin:
karya dihargai, bukan hanya tenaga
kreativitas didorong, bukan dibatasi
kesejahteraan diukur dari kualitas hidup, bukan sekadar angka
Saudara-saudara,
Pendidikan juga harus kita ubah. Pendidikan tidak boleh hanya melahirkan kepatuhan. Pendidikan harus melahirkan keberanian berpikir.
Bangsa yang tidak berpikir akan mudah diarahkan.
Bangsa yang tidak berani akan mudah dikendalikan.
Kita tidak ingin itu.
Kita ingin generasi yang mampu berdiri di atas pikirannya sendiri.
Saudara-saudara,
Kita juga harus berani membangun kedaulatan ekonomi. Kekayaan alam kita bukan untuk diserahkan, tetapi untuk dikelola. Energi kita bukan untuk bergantung, tetapi untuk memperkuat kemandirian.
Tanpa kedaulatan ekonomi, kita tidak akan pernah benar-benar merdeka.
Saudara-saudara,
Kita harus menghentikan satu hal yang selama ini tidak kita sadari: mentalitas kuli.
Mentalitas yang membuat kita merasa cukup hanya dengan bekerja tanpa arah. Mentalitas yang membuat kita menerima ketergantungan sebagai sesuatu yang wajar.
Itu harus kita akhiri.
Karena kita bukan bangsa yang dilahirkan untuk menjadi alat. Kita adalah bangsa yang dilahirkan untuk berdiri tegak.
Saudara-saudara,
Perubahan tidak selalu dimulai dari kekuasaan. Perubahan dimulai dari kesadaran.
Dari keberanian untuk berkata: cukup.
Cukup kita kehilangan arah.
Cukup kita hidup tanpa makna.
Cukup kita menjadi bangsa yang hanya mengikuti.
Hari ini, kita memilih jalan yang berbeda.
Kita memilih untuk berpikir merdeka.
Kita memilih untuk bekerja dengan kesadaran.
Kita memilih untuk mencipta masa depan kita sendiri.
Karena Indonesia terhormat bukan sekadar cita-cita.
Indonesia terhormat adalah keputusan.
Terima kasih.
Merdeka!
🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini











