Sajak Indah Putri Nanda Roswati

Sesercah Catatan Sibungsu
aku bungsu
mana yang katanya bungsu selalu dimanja
mana yang katanya bungsu selalu dapat masa jaya
nama yang katanya bungsu selalu dibangga
aku bungsu
yang dikata terlalu kecil tuk berseru
yang dikata terlalu kecil tuk paham masalah ibu
yang dianggap tak bisa jadi bulan purnama biru
kata mereka bungsu itu terlalu dikasih
nyatanya bungsu menjadi harapan terakhir
tanggapan yang dianggap kecil
padahal si pembawa harapan paling diingin
tak kuanggap diri paling sakit
namun apa beda pertama tengah dan terakhir
impian bahagiakan ibu siapa yang tak jadikan wishlist
jangan banggakan diri paling bangkit
bungsu juga bisa berbakti
bukan hanya untuk dipilih kasih
Putri Nanda Roswati
Hari akhir
tiga tahun lamanya
belajar di ruang sederhana bersama
berteman dengan semua orang yang dulu tak kenal
hingga kini berpisah layaknya keluarga kita semua
guru, tiga tahun engkau didik kami yang seperti daun rapuh
usaha engkau keluarkan dengan begitu tulus
upayakan kami jadi bunga merah muda yang sejuk
hari ini, kami merenung bayangkan dosa dan salah
di hati guru yang tergores bahkan terluka
suara dan nada yang kami keluarkan
terkadang semua itu tak pantas kami ucapkan
guru, maaf untuk setiap untaian kata yang terlontar
yang membekas dalam hati dan pikiran
buat hati guru sedih, bahkan sampai kecewa
hari ini, kami ucapkan sampai jumpa
semoga nama kami terus terselip dalam do’a yang guru baca
mendo’akan kami jaya
namun tak seperti kacang lupa kulit saat dikupas
hari ini, kami ucapkan selamat tinggal
selamat tinggal untuk kenangan 3 tahun yang kita papah
disini, ada tawa, tangis, dan semangat yang sudah kita cipta
hari ini, hari akhir dari kebersamaan tiap hari kita
yang terpisah bukan hati, namun raga
tak saling ucapkan hai, sampai dadah
sampai jumpa, kawan
semoga kita berjumpa dengan seragam impian kita
sampai jumpa, guru
semoga kami terus terlindung dalam do’amu













