Esai · Potret Online

Antropologi Fiksi Maryam dan Ancika

Penulis Reiner Emyot Ointoe
Mei 13, 2026
5 menit baca 18
IMG_1147
Foto / IlustrasiAntropologi Fiksi Maryam dan Ancika
Disunting Oleh

Oleh Reiner Emyot Ointoe

“Setiap istri di pinggiran kota bergumul dengan semua ini sendirian. Saat ia merapikan tempat tidur, berbelanja bahan makanan, mencocokkan bahan sarung sofa, makan roti lapis selai kacang bersama anak-anaknya, mengantar Pramuka dan Pandu Putri, berbaring di samping suaminya di malam hari—ia takut untuk bertanya bahkan pada dirinya sendiri pertanyaan yang terpendam: Apakah hanya ini saja?” — Betty Friedan(1921-2006), The Feminine Mystique(1963).

Rocky Gerung, filsuf publik, pernah berujar dalam sebuah talk show daring: “Perempuan itu indah sebagai fiksi, namun berbahaya sebagai fakta.” 

Kutipan ini menjadi pintu masuk untuk membaca antropologi fiksi perempuan dalam dua novel berbeda konteks, Maryam karya Okky Madasari(2010) dan Ancika: Dia yang Bersamaku Tahun 1995 karya Pidi Baiq(2020).

Sebelum jauh, sedikit diurai kata fiksi  asal Latin,  fictio(akar kata kerja: fingere), yang berarti membentuk, mengarang, atau menciptakan sesuatu yang tidak nyata. 

Sejak abad pertengahan di Inggris, istilah fiction mulai digunakan untuk menyebut karya naratif yang bersifat imajinatif. 

Kelak, Indonesia  menyerapnya menjadi “fiksi,” yang dipakai dalam konteks sastra untuk menyebut cerita rekaan seperti novel, roman, atau cerpen.

Makna fiksi tidak berhenti pada pengertian sebagai khayalan kosong. 

Ia adalah hasil imajinasi kreatif yang memiliki fungsi penting dalam kehidupan manusia. 

Fiksi memberi pengalaman estetis dan emosional yang menghibur, sekaligus merefleksikan realitas sosial, politik, dan budaya. 

Meski berupa rekaan, fiksi sering memuat kritik terhadap struktur masyarakat dan membuka ruang kontemplasi atas kehidupan nyata. 

Selain itu, tokoh dan narasi fiksi dapat menjadi simbol kolektif yang membangun identitas bersama, sehingga fiksi berperan sebagai penitian  antara imajinasi dan kenyataan.

Dengan demikian, fiksi adalah narasi imajinatif yang melampaui batas fakta, tetapi tetap memiliki relevansi mendalam dalam membentuk cara manusia memahami diri, masyarakat, dan kebudayaannya sendiri.

Lanjut, mengacu kajian Laura Ashe dalam The Medieval Invention of Fiction(History Today, 2018), sekitar tahun 1150 di Inggris, dengan masuknya pengaruh Eleanor dari Aquitaine dan tradisi troubadour dari Prancis Selatan, lahirlah bentuk narasi baru yang berfokus pada kehidupan batin tokoh dan kisah cinta imajinatif. 

Inilah yang dianggap sebagai awal mula “fiksi” dalam pengertian modern: sebuah mode penulisan di mana penulis dan pembaca sama-sama sadar bahwa peristiwa yang digambarkan tidak benar-benar terjadi, tetapi tetap memiliki makna simbolik dan mengikat secara emosional.

Dalam fiksi Maryam, Okky Madasari, doktor sosiologi penekun fiksi, menghadirkan sosok perempuan yang hidup di tengah diskriminasi sosial dan politik sebagai anggota Ahmadiyah. 

Maryam digambarkan sebagai figur yang hanya ingin hidup tenang, tetapi “dunia di sekitarnya menolak memberi ruang.” 

Ujaran pendek  ini menyingkap makna fiksi perempuan sebagai suara yang mengartikulasikan luka kolektif, sekaligus menampilkan keberanian perempuan dalam mempertahankan martabatnya. 

Dengan demikian, fiksi perempuan di sini menjadi dokumen sosial yang menyoroti bagaimana identitas dan kebangsaan sering kali menyingkirkan kelompok tertentu, dan perempuan menjadi wajah paling nyata dari marginalisasi itu.

Sebaliknya, fiksi Ancika: Dia yang Bersamaku Tahun 1995, Pidi Baiq, sastrawan alumni desain ITB,  menampilkan perempuan dalam ruang relasi intim, cinta, dan kebebasan personal. 

Ancika digambarkan dengan suara yang tegas, penuh ironi, dan menolak dominasi laki-laki. 

Meski sosok personalnya, di masa SMA berpenampilan tomboy dengan rambut twiggie.

Dikutip dari fiksi ini: “Ancika tidak pernah mau menjadi bayangan siapa pun, bahkan dalam cinta.” 

Dengan kata lain, makna fiksi perempuan dalam novel ini adalah penegasan kemandirian.

Atau, dapat ditafsirkan bahwa  perempuan sejak remaja bukan sekadar objek romantis, melainkan subjek yang bisa memilih dan menentukan jalan hidupnya sendiri. 

Ringkasnya, jika  Maryam menyoroti politik identitas dan diskriminasi, Ancika malah menegaskan otonomi personalnya dan kebebasan perempuan dalam relasi sehari-hari.

Kedua novel ini, meski berbeda latar, sama-sama memperlihatkan bagaimana fiksi perempuan menjadi ruang artikulasi pengalaman yang melampaui batas domestik. 

Untuk itu, sastra sebagai karya fiksi  berfungsi sebagai arena simbolik untuk menafsirkan mentifak kebudayaan sekaligus mengkritisi struktur sosial(sosiofak) yang mengekang perempuan. 

Mengacu perspektif antropologi sastra dari Nyoman Kutha Ratna dalam Antropologi Sastra: Peranan Unsur-Unsur Kebudayaan dalam Proses Kreatif(2011), bisa memperkuat pembacaan ini. 

Ratna menulis bahwa “karya sastra(fiksi) merupakan dokumen kehidupan manusia, dalam banyak hal menjelma dalam  bentuk-bentuk dokumen fiksional yang bisa melampaui kapasitas ilmu pengetahuan pada umumnya.” 

Kutipan ini, sedikit banyak hendak  menegaskan bahwa sastra memiliki daya jelajah melampaui batas akademik formal.

Karena itu,  ia ikut menyimpan kearifan, pengalaman, dan simbol-simbol kebudayaan yang hidup dalam masyarakat.

Selain itu, Ratna juga menekankan bahwa “antropologi sastra adalah analisis karya sastra dalam kaitannya dengan unsur-unsur kebudayaan, sehingga karya sastra tetap memiliki posisi dominan.” 

Dengan demikian, baik Maryam maupun Ancika dapat dibaca sebagai dokumen kebudayaan yang menafsirkan simbol-simbol kebersamaan, luka sekaligus keretakan relasi di tengah tuntutan kebebasan perempuan. 

Relevansi pendekatan ini dalam kerangka Cultural Studies tampak pada penekanan terhadap simbol, ritus, dan narasi yang dapat  membentuk identitas kolektif. 

Akan tetapi, di lain hal karya fiksi apapun mengandung “berbagai kearifan devokasi yang  tetap dirasakan kehadirannya.”

Walhasil, hal ini menunjukkan bahwa antropologi fiksi perempuan bukan hanya tentang representasi, melainkan  bagaimana fiksi apapun menjadi fondasi dan perekat  antara pesatnya sains  dan kehidupan sehari-hari. 

Maryam dan Ancika memperlihatkan bahwa perempuan dalam fiksi adalah subjek yang menafsirkan kebudayaan, mengartikulasikan luka, sekaligus menegaskan kebebasan. 

Dengan demikian, “ruang fiksi   menjadi medan  interpretasi budaya yang terus berubah, di mana perempuan hadir sebagai simbol sekaligus fakta yang menantang keluasan dan pelapisan  tafsir struktur sosial.

#coverlagu;

Ariel NOAH secara resmi merilis lagu “Ancika” sebagai soundtrack asli untuk film Dilan ITB 1997 pada tanggal 6 Mei 2026. 

Lagu ini ditulis oleh Ghea Indrawari dan merupakan bagian penting dari semesta Dilan,menggambarkan fase kematangan cinta antara Dilan dan Ancika.

#credit foto fiksiwati, Okky Madasari pada iven Writing Retreat Satupena di Bogor 2024, unggahan Youtube Review Novel Maryam Okky Madasari

#Collabooks dan Ancika – Ariel Noah | Female Version Kreasi Musik Mesin.

✦ ✦ ✦
Apakah tulisan ini bermanfaat?
Tulisan esai ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Redaksi memberikan ruang ekspresi tanpa intervensi isi.
Tentang Penulis
Reiner Emyot Ointoe
Penulis
Diskusi
Upload foto profil (opsional)
Memuat komentar...