HABA Mangat

Tema Lomba Menulis Edisi Februari 2026

Februari 17, 2026

Tema Lomba Menulis Edisi Mei

Mei 10, 2025

Popular

  • Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    883 shares
    Share 353 Tweet 221
  • Inilah Situs Menulis Artikel dibayar

    870 shares
    Share 348 Tweet 218
  • Peran Coaching Kepala Sekolah dalam Meningkatkan Kualitas Pendidikan

    840 shares
    Share 336 Tweet 210
  • Korupsi Sebagai Jalur Karier di Konoha?

    680 shares
    Share 272 Tweet 170
  • Lomba Menulis Agustus 2025

    670 shares
    Share 268 Tweet 168

HABA Mangat

Tema Lomba Menulis Edisi Februari 2026

Februari 17, 2026

Tema Lomba Menulis Edisi Mei

Mei 10, 2025

Popular

  • Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    883 shares
    Share 353 Tweet 221
  • Inilah Situs Menulis Artikel dibayar

    870 shares
    Share 348 Tweet 218
  • Peran Coaching Kepala Sekolah dalam Meningkatkan Kualitas Pendidikan

    840 shares
    Share 336 Tweet 210
  • Korupsi Sebagai Jalur Karier di Konoha?

    680 shares
    Share 272 Tweet 170
  • Lomba Menulis Agustus 2025

    670 shares
    Share 268 Tweet 168
  • Home
  • Artikel
  • POTRET Budaya
  • Literasi
  • Edukasi
  • Pendidikan
  • Puisi
  • Esai
  • Opini
No Result
View All Result
SAVED POSTS
AI News
  • Home
  • Artikel
  • POTRET Budaya
  • Literasi
  • Edukasi
  • Pendidikan
  • Puisi
  • Esai
  • Opini
No Result
View All Result
POTRET
No Result
View All Result

Membaca Bahasa Alam dalam Nalar Ekologis 

Azharsyah Ibrahim by Azharsyah Ibrahim
Maret 21, 2026
in #Korban Bencana, Aceh, Artikel, Bencana, Kebencanaan, Mitigasi bencana
Reading Time: 4 mins read
0
Sekolah Korban Bencana Ekologis
587
SHARES
3.3k
VIEWS
Summarize with ChatGPTShare to Facebook
🔊

Dengarkan Artikel

Oleh: Azharsyah Ibrahim

Alam semesta, dalam kesunyiannya, sesungguhnya adalah komunikator yang paling jujur. Ia tidak mengenal retorika politik, tidak pula piawai menyusun eufemisme untuk menutupi kegagalan. Sebagaimana disinggung dalam sebuah pesan religius yang mendalam, alam senantiasa “berbicara tanpa dusta”. Ia mengabarkan kondisi dirinya apa adanya, ketika dirawat secara bermartabat, ia memberi manfaat; namun ketika dikuras dan dikhianati, ia mengirimkan balasan berupa bencana.

Baca Juga

Budaya Kekerasan dalam Masyarakat Modern.

Budaya Kekerasan dalam Masyarakat Modern.

Maret 20, 2026
Memaknai Kibaran Bendera Putih di Aceh

Memutus Rantai Kemiskinan, Melawan Kufur Etika

Maret 20, 2026
Cerita di Balik OTT: Mengapa Korupsi Kepala Daerah Terus Terjadi?

Cerita di Balik OTT: Mengapa Korupsi Kepala Daerah Terus Terjadi?

Maret 20, 2026

Di Aceh, bahasa semesta ini belakangan terasa semakin nyaring dan menyakitkan. Fenomena banjir bandang yang terus berulang di berbagai wilayah, mulai dari Aceh Tengah, Aceh Tamiang, Pidie Jaya hingga kawasan pesisir lainnya tidak dapat lagi dilabelkan sebagai sekadar “takdir” yang turun dari langit. Ini adalah jawaban atas cara kita memperlakukan bentang alam. Ketika hutan digunduli dan habitat satwa dijarah, alam sedang mengirimkan nota protesnya.

Paradox Kelimpahan dan Kerusakan

Secara teologis, manusia ditempatkan sebagai khalifatullah atau pemakmur bumi. Mandatnya jelas: memberdayakan, bukan mengeksploitasi tanpa batas. Namun, realitas di lapangan menunjukkan diskoneksi yang tajam antara kesadaran spiritual dan praktik ekologis.

Data menunjukkan bahwa kerusakan di darat dan laut adalah buah tangan manusia sendiri—sebuah kebenaran yang bahkan telah ditekankan dalam teks suci jauh sebelum sains modern memetakan krisis iklim. Di Aceh, kita menyaksikan betapa hutan yang seharusnya menjadi penyangga dan penyimpan air alami kini kehilangan fungsinya akibat perambahan. Dampaknya linear: musim hujan berubah menjadi teror banjir bandang, sementara musim kemarau menjelma menjadi penderitaan kekeringan yang mencekam.

Mitigasi: Antara Proyek dan Substansi

Pertanyaan krusialnya adalah di mana peran pemerintah, terutama pemerintah daerah, dalam menerjemahkan “bahasa semesta” ini ke dalam kebijakan mitigasi yang konkret?

ADVERTISEMENT

Selama ini, pola penanganan bencana kita cenderung bersifat reaktif—sibuk menyalurkan bantuan masa panik, namun gagap dalam strategi preventif jangka panjang. Mitigasi bencana tidak boleh hanya berhenti pada pembangunan tanggul beton atau normalisasi sungai yang sering kali bersifat “proyek musiman”. Kita perlu mempertanyakan sejauh mana pemerintah daerah serius dalam menegakkan tata ruang dan menghentikan laju deforestasi di hulu.

Ketika musim hujan tiba, solusi yang ditawarkan sering kali hanya bersifat kuratif. Padahal, solusi jangka panjang terletak pada restorasi ekosistem. Tanpa pohon-pohon besar di hulu, air hujan akan langsung meluncur ke hilir membawa material lumpur dan kayu, menciptakan kehancuran yang kita sebut banjir bandang. Pemerintah harus berani mengambil langkah tidak populer: menutup celah-celah illegal logging dan memastikan kawasan hutan lindung benar-benar terlindungi, bukan justru dilegalkan melalui perubahan status kawasan demi kepentingan investasi sesaat.

Dari Air Bah ke Debu ISPA

Ketidakmampuan kita mengelola alam juga menciptakan siklus penderitaan yang tak berujung. Jika di musim hujan kita tenggelam, maka di musim kemarau kita terpanggang. Hilangnya tutupan hutan membuat cadangan air tanah merosot tajam, menyebabkan kekeringan di area pertanian yang mengancam ketahanan pangan.

Tak hanya itu, lahan-lahan yang gundul dan kering di musim panas menjadi sumber polusi debu yang masif. Penyakit Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) menjadi “langganan” masyarakat, terutama anak-anak. Alam kembali berbicara melalui sesak napas yang kita rasakan. Ini adalah bukti nyata bahwa kegagalan kita menjaga kelestarian lingkungan berdampak langsung pada biaya kesehatan dan ekonomi publik yang sangat mahal.

Menuju Kesadaran “Alam Saghir“

Dalam kearifan lokal, terdapat konsep alam saghir (alam kecil) yang ada pada diri manusia. Jika alam besar (alam kabir) sudah menunjukkan ketidakseimbangannya, maka manusia sebagai subjek harus melakukan muhasabah atau refleksi mendalam.

Mitigasi bencana yang efektif harus dimulai dari perubahan paradigma. Kita dituntut untuk bersahabat dengan alam: mengurus bukan menguras, menyayangi bukan mencemari. Bagi masyarakat, ini berarti berhenti membuang limbah ke sungai yang akhirnya hanya akan mengirimkan kembali virus dan bakteri ke pintu rumah kita. Bagi pemerintah, ini berarti kebijakan yang berpihak pada keberlanjutan lingkungan, bukan sekadar pertumbuhan angka ekonomi di atas kertas yang mengabaikan daya dukung lingkungan.

Khulasah

Mensyukuri nikmat alam tidak cukup hanya dengan lisan melalui ucapan tahmid. Syukur yang sejati harus mewujud dalam perbuatan nyata (bil arkan). Di Aceh, wujud syukur itu adalah dengan membiarkan hutan tetap berdiri tegak, menjaga sungai tetap jernih, dan memastikan setiap kebijakan pembangunan memiliki nurani ekologis.

Jangan sampai kita menunggu alam bicara lebih keras lagi melalui bencana yang lebih besar. Sekarang adalah waktunya bagi pemerintah dan seluruh elemen masyarakat untuk belajar kembali “membaca” fenomena alam di sekitar kita. Hanya dengan bersikap bijaksana dan ramah terhadap lingkungan, kita dapat memastikan bahwa bumi yang kita tempati ini tetap layak bagi generasi mendatang. Sudah saatnya kita berhenti mendustai alam, karena alam tidak pernah mendustai kita. Wallahu a’lam bishawab.

🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini

Aceh Hijau atau Aceh Gundul?
Aceh Hijau atau Aceh Gundul?
12 Mar 2026 • 207x dibaca (7 hari)
Antara Sajadah dan Layar: Menjaga Makna Ramadan di Era Digital
Antara Sajadah dan Layar: Menjaga Makna Ramadan di Era Digital
13 Mar 2026 • 192x dibaca (7 hari)
Tersisa Roy Suryo dan dr Tifa, Apakah akan Ikut Rismon Juga?
Tersisa Roy Suryo dan dr Tifa, Apakah akan Ikut Rismon Juga?
13 Mar 2026 • 172x dibaca (7 hari)
Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng
Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng
18 Jun 2025 • 166x dibaca (7 hari)
Genosida Palestina: Membongkar Kolonialisme Modern Israel
Genosida Palestina: Membongkar Kolonialisme Modern Israel
12 Mar 2026 • 165x dibaca (7 hari)
📝
Tanggung Jawab Konten
Seluruh isi dan opini dalam artikel ini merupakan tanggung jawab penulis. Redaksi bertugas menyunting tulisan tanpa mengubah subtansi dan maksud yang ingin disampaikan.
SummarizeShare235
Azharsyah Ibrahim

Azharsyah Ibrahim

Short Biography Prof. Dr. Azharsyah Ibrahim, SE., Ak., M.S.O.M. adalah Guru Besar Manajemen Syariah di Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam, UIN Ar-Raniry, Banda Aceh. Meraih S-1 di Ekonomi/Akuntansi dari Universitas Syiah Kuala (2001), S-2 Operations Management dengan beasiswa Fulbright di Amerika Serikat (2008), dan menyelesaikan program doktoral Manajemen Syariah di University of Malaya pada 2015. Memiliki sejumlah publikasi akademik yang dapat diakses online. Di kampus, menjabat sebagai Kepala Satuan Pengawasan Internal (SPI) dan Editor in Chief dua jurnal ilmiah terakreditasi. Selain itu, aktif sebagai editor dan reviewer di jurnal nasional dan internasional bereputasi, termasuk yang terindeks Scopus dan Web of Science, serta menjadi narasumber di berbagai pertemuan ilmiah. Prof. Azharsyah berdomisili di Limpok, Aceh Besar, dan dapat dihubungi melalui email: azharsyah@gmail.com.  

Baca Juga

Nestapa Lebaran, Antrean yang Tak Mau Usai
# Ironi

Nestapa Lebaran, Antrean yang Tak Mau Usai

Maret 21, 2026
Budaya Kekerasan dalam Masyarakat Modern.
Artikel

Budaya Kekerasan dalam Masyarakat Modern.

Maret 20, 2026
Memaknai Kibaran Bendera Putih di Aceh
Analisis

Memutus Rantai Kemiskinan, Melawan Kufur Etika

Maret 20, 2026
Cerita di Balik OTT: Mengapa Korupsi Kepala Daerah Terus Terjadi?
# Koruptor

Cerita di Balik OTT: Mengapa Korupsi Kepala Daerah Terus Terjadi?

Maret 20, 2026
Please login to join discussion
POTRET Online

© 2026 potretonline.com

  • Kirim Tulisan
  • Program 1000 Sepeda dan Kursi roda
  • Disclaimer
  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Al-Qur’an

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms below to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
REDAKSI
POTRET
Media Perempuan Kritis & Cerdas
Selamat Hari Raya Idul Fitri 1447 H
Mohon Maaf Lahir dan Batin
No Result
View All Result
  • Home
  • Kirim Tulisan
  • Artikel
  • Pendidikan
  • Opini
  • Essay
  • Politik
  • PODCAST

© 2026 potretonline.com