Dengarkan Artikel
Oleh Dayan Abdurrahman
Lebaran yang Datang, Perubahan yang Tertunda
Setiap Lebaran, suasananya seperti selalu kita kenal. Takbir berkumandang, jalanan mulai ramai, orang-orang pulang kampung dengan wajah yang sedikit lebih ringan. Di sudut-sudut warung kopi—Ulee Kareng, Lampriet, hingga pinggir kota—orang duduk lama, berbicara tentang apa saja: harga kebutuhan, politik, bahkan konflik dunia. Tapi ada satu hal yang sering luput dari percakapan jujur: kenapa hidup kita terasa berjalan di tempat? Lebaran datang membawa maaf, iya. Tapi apakah ia juga membawa perubahan? Atau kita hanya mengganti kalender, tanpa pernah benar-benar mengganti cara berpikir?
Dunia Bergerak, Aceh Menonton
Di luar sana, dunia tidak pernah diam. Kawasan Timur Tengah terus bergejolak, membentuk ulang arah politik dan ekonomi global. Nama seperti Ali Khamenei atau Benjamin Netanyahu muncul bukan sekadar sebagai tokoh, tetapi sebagai simbol bagaimana negara bertahan di tengah tekanan. Kita boleh setuju atau tidak, tapi mereka bergerak—mereka merespons, menyusun strategi, dan bertahan. Sementara di Aceh, kita sering kali hanya menjadi penonton. Diskusi panjang, tapi langkah pendek. Banyak analisis, tapi sedikit perubahan nyata.
Alam yang Terluka, Tapi Dianggap Biasa
Kalau kita jujur, tanda-tanda itu sudah lama ada. Banjir di Aceh Timur, genangan di Aceh Utara, kerusakan lahan di Nagan Raya—semuanya seperti berita yang berulang. Tapi kita sering menyebutnya “musibah”, seolah-olah tidak ada peran manusia di dalamnya. Padahal hutan berkurang, aliran sungai berubah, dan keseimbangan alam terganggu. Alam sebenarnya sudah memberi peringatan. Hanya saja, kita terlalu terbiasa untuk menganggapnya sebagai hal biasa. Yang paling merasakan bukan kita yang duduk nyaman di kota, tapi mereka yang rumahnya terendam, yang sawahnya gagal panen, yang harus memulai dari nol lagi dan lagi.
Pengungsi: Mereka yang Tidak Pernah Benar-Benar Pulang
Lebaran selalu identik dengan pulang. Tapi tidak semua orang punya tempat untuk benar-benar kembali. Masih ada mereka yang hidup dalam kondisi tidak pasti—entah karena bencana baru atau dampak lama yang tidak pernah selesai. Rumah mereka rusak, tanah mereka tidak lagi produktif, dan kehidupan mereka seperti berhenti di satu titik. Yang menyedihkan, mereka jarang masuk dalam percakapan besar. Tidak viral, tidak jadi headline, tidak cukup “menarik” untuk dibahas terus-menerus. Padahal mereka adalah wajah paling nyata dari luka Aceh yang belum sembuh.
Kemiskinan yang Kita Diamkan
Aceh masih termasuk daerah dengan tingkat kemiskinan yang tinggi di Indonesia. Tapi masalahnya bukanlah hanya angka. Masalahnya adalah bagaimana kita mulai terbiasa melihatnya. Orang berjualan kecil di pinggir jalan, anak muda yang tidak punya pekerjaan tetap, keluarga yang hidup pas-pasan—semua itu perlahan dianggap normal. Padahal tidak seharusnya demikian. Ketika kemiskinan tidak lagi membuat kita gelisah, di situlah masalah yang lebih besar mulai tumbuh: hilangnya sensitivitas.
Dari Ibadah ke Kekuasaan
Aceh punya kekuatan spiritual yang tidak bisa dipungkiri. Ramadan hidup, masjid penuh, pengajian berjalan. Tapi pertanyaan yang jarang kita ajukan adalah: kenapa semua itu tidak bertransformasi menjadi perubahan sosial yang nyata? Kenapa setelah Ramadan dan Lebaran, yang berubah hanya suasana, bukan sistem? Di saat yang sama, kita melihat bagaimana kekuasaan dimainkan. Perdamaian yang dulu diperjuangkan dengan mahal kini sering kali terasa seperti ruang untuk berebut posisi. Banyak yang ingin memimpin, tapi sedikit yang benar-benar ingin menyelesaikan persoalan mendasar—ekologi, kemiskinan, dan masa depan generasi muda.
Refleksi: Kita Mau Dibawa ke Mana?
Aceh bukan wilayah tanpa sejarah. Kita pernah besar, pernah kuat, pernah menjadi rujukan. Tapi hari ini, kita perlu jujur pada diri sendiri. Apakah kita benar-benar bergerak ke depan, atau hanya mengulang pola lama dengan wajah baru? Lebaran seharusnya bukan hanya tentang kembali ke nol secara pribadi, tapi juga keberanian untuk berubah secara kolektif. Bukan sekadar bertanya siapa yang salah, tapi apa yang harus diperbaiki.
Penutup: Lebaran Bukan Sekadar Maaf
Lebaran mengajarkan kita untuk saling memaafkan. Tapi mungkin itu belum cukup. Kita juga perlu keberanian untuk mengakui bahwa alam kita sedang terluka, bahwa masih ada yang belum benar-benar pulang, bahwa kemiskinan bukan sesuatu yang wajar untuk dibiarkan. Dunia, termasuk di Timur Tengah, terus bergerak—kadang dalam konflik, kadang dalam tekanan. Tapi mereka belajar dan beradaptasi. Aceh juga pernah jatuh, bahkan berkali-kali. Namun jika kita tidak belajar, maka yang akan terus berulang bukan hanya sejarah, tetapi juga kegagalan.
Lebaran akan terus datang setiap tahun.
Tapi perubahan tidak akan pernah datang, jika kita tidak benar-benar menginginkannya.
🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini









