Dengarkan Artikel
Oleh Fileski Walidha Tanjung
Saya selalu percaya bahwa seni bukan sekadar peristiwa estetika, melainkan peristiwa batin. Ia tidak berhenti pada apa yang tampak di permukaan, tetapi mengalir seperti arus bawah tanah yang diam-diam membentuk lanskap kesadaran manusia. Malam ini, Selasa 17 Maret 2026, di Joglo Taman Obor Kota Madiun, keyakinan itu menemukan bentuknya. Festival Merayakan Karya yang pertama di kota ini menghadirkan ruang perjumpaan yang jarang terjadi: seni rupa, sastra, dan performance art berkelindan dalam suasana Ramadan, seakan-akan kebudayaan tidak hanya dirayakan sebagai ekspresi, tetapi juga sebagai ibadah batin.
Acara yang diproduseri oleh Titus Tri Wibowo dari jaringan kebudayaan Madiun ini dimulai selepas tarawih, sekitar pukul 20.00 WIB. Namun, energi yang terbangun terasa melampaui batas waktu. Para pelukis dewasa dan pelukis cilik menampilkan karya dalam tajuk tadarus lukisan. Ada Anis Marhayu, Syarillah Asfari, Parashayu Gangga, Ferensia Dewi, Garies Putri K, Kirana Khalila Nuha, Rafa Alvaro Nizam, Aysha Radin Kinanti, Al Barra Maharaja, hingga Fileski junior alias Huiga Tanjung Ramadan. Lukisan-lukisan mereka tidak hanya menjadi objek visual, tetapi seperti ayat-ayat sunyi yang menunggu dibaca dengan kepekaan jiwa. Saya melihat bagaimana warna-warna itu seolah berbicara dalam bahasa yang lebih tua daripada kata-kata.
Sesi bedah karya pertama mengangkat tajuk Semesta–Neuro Graphic Art, sebuah pendekatan yang menggabungkan psikologi dan seni sebagai teknik meditasi melalui garis. Lukisan karya Anis Marhayu Sudarsono menjadi titik berangkat diskusi. Rengga A.P. sebagai pembahas menyoroti bahwa garis-garis yang menyerupai sel saraf dalam lukisan tersebut bukan hanya simbol visual, tetapi juga metafora tentang cara manusia menata ulang trauma dan harapan di dalam dirinya. Ia menyampaikan pandangan yang menenangkan bahwa seni seperti ini membuka ruang terapi kultural, di mana masyarakat belajar mengolah emosi melalui kreativitas, bukan melalui pelarian destruktif. Anis Marhayu sendiri menegaskan dengan penuh kerendahan hati bahwa setiap goresan yang ia ciptakan adalah upaya berdialog dengan batin, sebuah cara sederhana untuk menghubungkan kesadaran dengan wilayah terdalam manusia yang sering diabaikan oleh hiruk-pikuk dunia modern.
Diskursus kemudian bergerak ke wilayah tubuh melalui bedah karya performance art oleh Nugroho Budi Wibowo, dengan kurasi dari Dwi Kartika Rahayu. Dalam sesi ini, tubuh diperlakukan sebagai bahasa yang hidup, sebagai medium yang mampu merespons lukisan dengan gerak yang penuh makna. Nugroho Budi Wibowo menyampaikan pandangan optimis bahwa seni pertunjukan memiliki kekuatan untuk meruntuhkan sekat antara penonton dan pelaku, antara estetika dan pengalaman eksistensial. Dwi Kartika Rahayu menambahkan bahwa acara ini menjadi contoh penting bagaimana kolaborasi lintas medium mampu menghadirkan pengalaman artistik yang utuh, sekaligus membuka ruang dialog sosial yang lebih inklusif. Saya melihat bagaimana gerak tubuh dalam performance art itu seolah menjadi tafsir yang bergerak, sebuah puisi yang tidak diucapkan, tetapi dirasakan.
Pada sesi ketiga, diskusi beralih ke karya sastra, yakni cerpen saya yang berjudul Nadir. Cerpen ini mengangkat fenomena bullying dengan pertanyaan kritis: candaan, tradisi, atau kekerasan yang dinormalisasi? Karya ini pernah dimuat di Surat Kabar Utusan Borneo di Malaysia, namun malam itu ia menemukan resonansi baru dalam ruang budaya Madiun. Saya menyampaikan bahwa sastra bagi saya adalah ruang perlawanan yang sunyi, tempat suara-suara terpendam mendapatkan bentuk. Bullying bukan hanya masalah individu, melainkan cermin dari budaya yang gagal mengajarkan empati. Shal Shalihah sebagai pembahas memberikan apresiasi yang hangat, menyatakan bahwa cerpen Nadir memiliki kekuatan psikologis yang selaras dengan tema neuro graphic art dan performance art. Menurutnya, karya ini berhasil mengajak pembaca menembus lapisan-lapisan kesadaran sosial yang sering kali menutup mata terhadap kekerasan simbolik.
Dalam konteks yang lebih luas, saya melihat festival ini sebagai upaya kecil namun penting untuk membangun kesadaran kolektif. Di tengah dunia yang semakin digital dan serba instan, seni menawarkan jeda. Ia mengajarkan bahwa manusia tidak hanya hidup dari kecepatan, tetapi juga dari kedalaman. Filsuf Friedrich Nietzsche pernah mengatakan, “Kita memiliki seni agar kita tidak mati karena kebenaran.” Kutipan ini terasa relevan ketika kita menyadari bahwa kebenaran sosial sering kali pahit, dan seni hadir sebagai medium untuk mengolahnya menjadi harapan. Sementara itu, Hannah Arendt pernah menulis, “Memahami tidak berarti memaafkan, tetapi berarti belajar menghadapi kenyataan.” Dalam konteks isu bullying, memahami menjadi langkah awal untuk mengubah budaya yang menormalisasi kekerasan.
Malam itu juga dihadiri berbagai tokoh budaya seperti Pak Jarot, Mas Irgan, Dian Widyawati, Haris Saputra, Ustad Yusuf, serta para pegiat budaya yang berdiskusi hingga menjelang sahur. Kehadiran mereka mengingatkan saya bahwa kebudayaan bukan hanya milik seniman, tetapi milik komunitas yang bersedia merawatnya. Diskusi yang berlangsung hangat menunjukkan bahwa seni masih memiliki daya hidup di tengah masyarakat, selama ada ruang untuk merayakannya bersama.
Saya pulang dengan perasaan yang sulit dijelaskan. Ada semacam keyakinan baru bahwa seni bukan sekadar produk kreatif, tetapi juga proses spiritual yang mampu menyatukan manusia dengan dirinya sendiri dan dengan sesamanya. Festival ini tidak hanya menampilkan karya, tetapi juga menampilkan keberanian untuk berpikir alternatif, untuk mempertanyakan norma, dan untuk merumuskan kembali arti kemanusiaan di tengah zaman yang berubah.
Pertanyaannya kemudian menjadi semakin personal sekaligus universal. Jika garis dapat menjadi doa, jika tubuh dapat menjadi bahasa, dan jika kata dapat menjadi perlawanan, sejauh mana kita bersedia menjadikan seni sebagai jalan pulang ke kemanusiaan kita sendiri? Apakah kita akan terus membiarkan candaan menyamar sebagai luka, ataukah kita akan belajar membaca tanda-tanda batin yang ditawarkan oleh karya-karya itu? Barangkali, di situlah hakikat merayakan karya: bukan sekadar menikmati hasilnya, tetapi berani mengubah cara kita hidup setelah berjumpa dengannya.
🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini











