HABA Mangat

Tema Lomba Menulis Bulan Oktober 2025

Oktober 7, 2025

Tema Lomba Menulis Edisi Mei

Mei 10, 2025

Popular

  • Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    883 shares
    Share 353 Tweet 221
  • Inilah Situs Menulis Artikel dibayar

    869 shares
    Share 348 Tweet 217
  • Peran Coaching Kepala Sekolah dalam Meningkatkan Kualitas Pendidikan

    840 shares
    Share 336 Tweet 210
  • Korupsi Sebagai Jalur Karier di Konoha?

    680 shares
    Share 272 Tweet 170
  • Lomba Menulis Agustus 2025

    670 shares
    Share 268 Tweet 168

HABA Mangat

Tema Lomba Menulis Bulan Oktober 2025

Oktober 7, 2025

Tema Lomba Menulis Edisi Mei

Mei 10, 2025

Popular

  • Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    883 shares
    Share 353 Tweet 221
  • Inilah Situs Menulis Artikel dibayar

    869 shares
    Share 348 Tweet 217
  • Peran Coaching Kepala Sekolah dalam Meningkatkan Kualitas Pendidikan

    840 shares
    Share 336 Tweet 210
  • Korupsi Sebagai Jalur Karier di Konoha?

    680 shares
    Share 272 Tweet 170
  • Lomba Menulis Agustus 2025

    670 shares
    Share 268 Tweet 168
  • Home
  • Artikel
  • POTRET Budaya
  • Literasi
  • Edukasi
  • Pendidikan
  • Puisi
  • Esai
  • Opini
No Result
View All Result
SAVED POSTS
AI News
  • Home
  • Artikel
  • POTRET Budaya
  • Literasi
  • Edukasi
  • Pendidikan
  • Puisi
  • Esai
  • Opini
No Result
View All Result
POTRET
No Result
View All Result

Tadarus Warna, Tubuh, Dan Kata: Merayakan Karya Sebagai Jalan Pulang Kemanusiaan

Fileski Walidha Tanjung by Fileski Walidha Tanjung
Maret 18, 2026
in Esai
Reading Time: 4 mins read
0
Tadarus Warna, Tubuh, Dan Kata: Merayakan Karya Sebagai Jalan Pulang Kemanusiaan
586
SHARES
3.3k
VIEWS
Summarize with ChatGPTShare to Facebook
🔊

Dengarkan Artikel

Oleh Fileski Walidha Tanjung 

Saya selalu percaya bahwa seni bukan sekadar peristiwa estetika, melainkan peristiwa batin. Ia tidak berhenti pada apa yang tampak di permukaan, tetapi mengalir seperti arus bawah tanah yang diam-diam membentuk lanskap kesadaran manusia. Malam ini, Selasa 17 Maret 2026, di Joglo Taman Obor Kota Madiun, keyakinan itu menemukan bentuknya. Festival Merayakan Karya yang pertama di kota ini menghadirkan ruang perjumpaan yang jarang terjadi: seni rupa, sastra, dan performance art berkelindan dalam suasana Ramadan, seakan-akan kebudayaan tidak hanya dirayakan sebagai ekspresi, tetapi juga sebagai ibadah batin.

Baca Juga

Separuh Nafas Untuk Paruh Waktu

Maret 17, 2026
Madiun Dialog Budaya: Menafsir Cahaya yang Tak Pernah Berdiri Sendiri 

Madiun Dialog Budaya: Menafsir Cahaya yang Tak Pernah Berdiri Sendiri 

Maret 14, 2026
Pelukan Bangga Seorang Ibu

Pelukan Bangga Seorang Ibu

Maret 13, 2026

Acara yang diproduseri oleh Titus Tri Wibowo dari jaringan kebudayaan Madiun ini dimulai selepas tarawih, sekitar pukul 20.00 WIB. Namun, energi yang terbangun terasa melampaui batas waktu. Para pelukis dewasa dan pelukis cilik menampilkan karya dalam tajuk tadarus lukisan. Ada Anis Marhayu, Syarillah Asfari, Parashayu Gangga, Ferensia Dewi, Garies Putri K, Kirana Khalila Nuha, Rafa Alvaro Nizam, Aysha Radin Kinanti, Al Barra Maharaja, hingga Fileski junior alias Huiga Tanjung Ramadan. Lukisan-lukisan mereka tidak hanya menjadi objek visual, tetapi seperti ayat-ayat sunyi yang menunggu dibaca dengan kepekaan jiwa. Saya melihat bagaimana warna-warna itu seolah berbicara dalam bahasa yang lebih tua daripada kata-kata.

Sesi bedah karya pertama mengangkat tajuk Semesta–Neuro Graphic Art, sebuah pendekatan yang menggabungkan psikologi dan seni sebagai teknik meditasi melalui garis. Lukisan karya Anis Marhayu Sudarsono menjadi titik berangkat diskusi. Rengga A.P. sebagai pembahas menyoroti bahwa garis-garis yang menyerupai sel saraf dalam lukisan tersebut bukan hanya simbol visual, tetapi juga metafora tentang cara manusia menata ulang trauma dan harapan di dalam dirinya. Ia menyampaikan pandangan yang menenangkan bahwa seni seperti ini membuka ruang terapi kultural, di mana masyarakat belajar mengolah emosi melalui kreativitas, bukan melalui pelarian destruktif. Anis Marhayu sendiri menegaskan dengan penuh kerendahan hati bahwa setiap goresan yang ia ciptakan adalah upaya berdialog dengan batin, sebuah cara sederhana untuk menghubungkan kesadaran dengan wilayah terdalam manusia yang sering diabaikan oleh hiruk-pikuk dunia modern.

Diskursus kemudian bergerak ke wilayah tubuh melalui bedah karya performance art oleh Nugroho Budi Wibowo, dengan kurasi dari Dwi Kartika Rahayu. Dalam sesi ini, tubuh diperlakukan sebagai bahasa yang hidup, sebagai medium yang mampu merespons lukisan dengan gerak yang penuh makna. Nugroho Budi Wibowo menyampaikan pandangan optimis bahwa seni pertunjukan memiliki kekuatan untuk meruntuhkan sekat antara penonton dan pelaku, antara estetika dan pengalaman eksistensial. Dwi Kartika Rahayu menambahkan bahwa acara ini menjadi contoh penting bagaimana kolaborasi lintas medium mampu menghadirkan pengalaman artistik yang utuh, sekaligus membuka ruang dialog sosial yang lebih inklusif. Saya melihat bagaimana gerak tubuh dalam performance art itu seolah menjadi tafsir yang bergerak, sebuah puisi yang tidak diucapkan, tetapi dirasakan.

Pada sesi ketiga, diskusi beralih ke karya sastra, yakni cerpen saya yang berjudul Nadir. Cerpen ini mengangkat fenomena bullying dengan pertanyaan kritis: candaan, tradisi, atau kekerasan yang dinormalisasi? Karya ini pernah dimuat di Surat Kabar Utusan Borneo di Malaysia, namun malam itu ia menemukan resonansi baru dalam ruang budaya Madiun. Saya menyampaikan bahwa sastra bagi saya adalah ruang perlawanan yang sunyi, tempat suara-suara terpendam mendapatkan bentuk. Bullying bukan hanya masalah individu, melainkan cermin dari budaya yang gagal mengajarkan empati. Shal Shalihah sebagai pembahas memberikan apresiasi yang hangat, menyatakan bahwa cerpen Nadir memiliki kekuatan psikologis yang selaras dengan tema neuro graphic art dan performance art. Menurutnya, karya ini berhasil mengajak pembaca menembus lapisan-lapisan kesadaran sosial yang sering kali menutup mata terhadap kekerasan simbolik.

Dalam konteks yang lebih luas, saya melihat festival ini sebagai upaya kecil namun penting untuk membangun kesadaran kolektif. Di tengah dunia yang semakin digital dan serba instan, seni menawarkan jeda. Ia mengajarkan bahwa manusia tidak hanya hidup dari kecepatan, tetapi juga dari kedalaman. Filsuf Friedrich Nietzsche pernah mengatakan, “Kita memiliki seni agar kita tidak mati karena kebenaran.” Kutipan ini terasa relevan ketika kita menyadari bahwa kebenaran sosial sering kali pahit, dan seni hadir sebagai medium untuk mengolahnya menjadi harapan. Sementara itu, Hannah Arendt pernah menulis, “Memahami tidak berarti memaafkan, tetapi berarti belajar menghadapi kenyataan.” Dalam konteks isu bullying, memahami menjadi langkah awal untuk mengubah budaya yang menormalisasi kekerasan.

Malam itu juga dihadiri berbagai tokoh budaya seperti Pak Jarot, Mas Irgan, Dian Widyawati, Haris Saputra, Ustad Yusuf,  serta para pegiat budaya yang berdiskusi hingga menjelang sahur. Kehadiran mereka mengingatkan saya bahwa kebudayaan bukan hanya milik seniman, tetapi milik komunitas yang bersedia merawatnya. Diskusi yang berlangsung hangat menunjukkan bahwa seni masih memiliki daya hidup di tengah masyarakat, selama ada ruang untuk merayakannya bersama.

Saya pulang dengan perasaan yang sulit dijelaskan. Ada semacam keyakinan baru bahwa seni bukan sekadar produk kreatif, tetapi juga proses spiritual yang mampu menyatukan manusia dengan dirinya sendiri dan dengan sesamanya. Festival ini tidak hanya menampilkan karya, tetapi juga menampilkan keberanian untuk berpikir alternatif, untuk mempertanyakan norma, dan untuk merumuskan kembali arti kemanusiaan di tengah zaman yang berubah.

Pertanyaannya kemudian menjadi semakin personal sekaligus universal. Jika garis dapat menjadi doa, jika tubuh dapat menjadi bahasa, dan jika kata dapat menjadi perlawanan, sejauh mana kita bersedia menjadikan seni sebagai jalan pulang ke kemanusiaan kita sendiri? Apakah kita akan terus membiarkan candaan menyamar sebagai luka, ataukah kita akan belajar membaca tanda-tanda batin yang ditawarkan oleh karya-karya itu? Barangkali, di situlah hakikat merayakan karya: bukan sekadar menikmati hasilnya, tetapi berani mengubah cara kita hidup setelah berjumpa dengannya.

🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini

Aceh Hijau atau Aceh Gundul?
Aceh Hijau atau Aceh Gundul?
12 Mar 2026 • 331x dibaca (7 hari)
Genosida Palestina: Membongkar Kolonialisme Modern Israel
Genosida Palestina: Membongkar Kolonialisme Modern Israel
12 Mar 2026 • 293x dibaca (7 hari)
Antara Sajadah dan Layar: Menjaga Makna Ramadan di Era Digital
Antara Sajadah dan Layar: Menjaga Makna Ramadan di Era Digital
13 Mar 2026 • 253x dibaca (7 hari)
Tersisa Roy Suryo dan dr Tifa, Apakah akan Ikut Rismon Juga?
Tersisa Roy Suryo dan dr Tifa, Apakah akan Ikut Rismon Juga?
13 Mar 2026 • 212x dibaca (7 hari)
Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng
Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng
18 Jun 2025 • 168x dibaca (7 hari)
ADVERTISEMENT
📝
Tanggung Jawab Konten
Seluruh isi dan opini dalam artikel ini merupakan tanggung jawab penulis. Redaksi bertugas menyunting tulisan tanpa mengubah subtansi dan maksud yang ingin disampaikan.
SummarizeShare234
Fileski Walidha Tanjung

Fileski Walidha Tanjung

Fileski Walidha Tanjung adalah penulis kelahiran Madiun 1988. Aktif menulis puisi, cerpen, esai di berbagai media nasional. Beberapa buku karya terbaru; Melukis Peristiwa, Luka yang Dijahit Doa, Interludium kapibara.

Baca Juga

Menyusun Buku Antologi Relawan Bencana Banjir dan Longsor Di Tengah Bencana Hidrometeorologi Aceh
Aceh

Pak Bisa Minta Tolong Mendorong Helikopter?

Maret 18, 2026
Artikel

Pergeseran Pusat Gravitasi Dunia: Membaca Konflik Iran–Israel dan Implikasinya bagi Strategi Geopolitik Indonesia serta Masa Depan Aceh

Maret 17, 2026
Lailatul Qadar Dalam Fenomenologi Cahaya
#Korban Bencana

Lailatul Qadar Dalam Fenomenologi Cahaya

Maret 17, 2026
Negara yang Mendidik dan atau Negara yang Menghukum
#Hari Buruh

Koeli Kontrak (Contractarbeider)

Maret 17, 2026
Next Post
Menyusun Buku Antologi Relawan Bencana Banjir dan Longsor Di Tengah Bencana Hidrometeorologi Aceh

Pak Bisa Minta Tolong Mendorong Helikopter?

Please login to join discussion
POTRET Online

© 2026 potretonline.com

  • Kirim Tulisan
  • Program 1000 Sepeda dan Kursi roda
  • Disclaimer
  • Al-Qur’an
  • Tentang Kami
  • Redaksi

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms below to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Home
  • Kirim Tulisan
  • Artikel
  • Pendidikan
  • Opini
  • Essay
  • Politik
  • PODCAST

© 2026 potretonline.com