• Latest
Pelukan Bangga Seorang Ibu

Pelukan Bangga Seorang Ibu

March 13, 2026
Pendidikan Hukum Pemilu dan Penataan Ulang Demokrasi Menuju Pemilu 2029

Antara Sajadah dan Layar: Menjaga Makna Ramadan di Era Digital

March 13, 2026
Tersisa Roy Suryo dan dr Tifa, Apakah akan Ikut Rismon Juga?

Tersisa Roy Suryo dan dr Tifa, Apakah akan Ikut Rismon Juga?

March 13, 2026

Apa Kata Dunia?

March 13, 2026
Antara Gold, Glory, dan Suara Rakyat: Merenungkan Keadaban Dunia dari Pengalaman Sehari-hari

Antara Gold, Glory, dan Suara Rakyat: Merenungkan Keadaban Dunia dari Pengalaman Sehari-hari

March 13, 2026

Kisah Perempuan – Lubna dari Córdoba

March 13, 2026
Lomba Menulis Cerita Anak Cerdas 2026

Lomba Menulis Cerita Anak Cerdas 2026

March 13, 2026
Kecanggihan Teknologi pada Zaman Nabi Daud dan Nabi Sulaiman

Kecanggihan Teknologi pada Zaman Nabi Daud dan Nabi Sulaiman

March 12, 2026

Tatanan Global Bergeser: Apakah Timur Tengah Siap Memasuki Era Post-American Security Order?

March 12, 2026
  • Home
  • Artikel
  • POTRET Budaya
  • Literasi
  • Edukasi
  • Pendidikan
  • Puisi
  • Esai
  • Opini
No Result
View All Result
SAVED POSTS
AI News
  • Home
  • Artikel
  • POTRET Budaya
  • Literasi
  • Edukasi
  • Pendidikan
  • Puisi
  • Esai
  • Opini
No Result
View All Result
POTRET
No Result
View All Result

Pelukan Bangga Seorang Ibu

Redaksi by Redaksi
March 13, 2026
in Esai, Kisah Hidup, Kisah Nyata
0
Pelukan Bangga Seorang Ibu
587
SHARES
3.3k
VIEWS
Summarize with ChatGPTShare to Facebook
🔊

Dengarkan Artikel

Oleh Mawaddah

Hari itu adalah hari yang tidak akan pernah aku lupakan. Setelah penantian panjang, akhirnya pengumuman kelulusan PNS keluar. Saat aku menyampaikan kabar itu kepada ibu, beliau langsung memelukku erat.

Baca Juga

Lurah Jepang di Meulaboh

Lurah Jepang di Meulaboh

March 10, 2026
Negara yang Mendidik dan atau Negara yang Menghukum

Berbuka Puasa Bersama

March 9, 2026
Dokter Komunitas, Jalan Menuju Desa Sehat

Dokter Komunitas, Jalan Menuju Desa Sehat

March 8, 2026

Air mata jatuh di pipinya.

Dengan suara bergetar penuh haru ibu berkata,
“Alhamdulillah… aneuk lon kajeut ke PNS.”

Itu adalah air mata kebanggaan seorang ibu yang selama ini hanya bisa mendoakan anaknya dalam setiap sujudnya.

Ibu bahkan pernah bernazar, jika aku lulus PNS, beliau ingin mengadakan kenduri untuk seluruh arwah yang telah meninggal sebagai bentuk syukur kepada Allah. Dan sebelum kepergiannya, ibu sempat menunaikan nazar itu. Kami berkumpul, berdoa bersama dan ibu terlihat sangat bahagia.

Namun ternyata kebahagiaan itu tidak berlangsung lama.

Beberapa minggu kemudian, memasuki bulan kelahiran Nabi Muhammad SAW pada bulan Februari 2019, ibu tiba-tiba jatuh sakit. Tidak ada tanda sakit sebelumnya. Hanya dalam waktu tiga hari kondisi beliau menurun.

Saat itu bahkan kami masih sempat mengadakan kenduri Maulid Nabi di rumah dan mengundang kerabat. Rumah dipenuhi orang-orang yang datang bersilaturahmi.

Namun di hari yang sama, ibu terlihat semakin lemas. Kami semua panik dan segera membawanya ke rumah sakit. Dua hari kami menunggu dengan penuh harap.

Sampai akhirnya Allah memanggil beliau kembali.

Kepergian ibu begitu mendadak dan sangat menyayat hati bagi kami sekeluarga.

Yang membuat hati ini semakin pilu adalah satu kenyataan:
ibu belum sempat menikmati hasil kerja anaknya.

Beliau hanya sempat mendengar kabar kelulusanku, memelukku dengan bangga, lalu pergi meninggalkan dunia ini.

Dulu ketika aku merantau jauh dari rumah, setiap langkah yang aku jalani selalu aku kabarkan kepada ibu. Hampir setiap hari aku menelponnya dan meminta beliau mendoakan agar semua urusanku dilancarkan oleh Allah.

Doa ibu selalu menjadi kekuatanku.

Aku masih ingat ketika mengikuti ujian PPG. Saat itu aku meminta ibu untuk berdoa dari rumah dan membaca Al-Qur’an ketika aku sedang mengikuti ujian.

Dari jauh beliau berkata, “Iya Nak, ibu doakan.”

Dan sesuatu yang sampai hari ini masih aku ingat dengan jelas, saat ujian itu berlangsung aku sama sekali tidak mendapatkan pertanyaan apa pun dari dosen penguji. Seolah Allah memudahkan semuanya.

Saat itu aku tahu, itu bukan karena kehebatanku.

Itu karena doa seorang ibu.

Kini doa itu tidak lagi bisa kudengar secara langsung.

Kadang ketika rasa rindu itu datang, aku hanya bisa berdoa kepada Allah agar dipertemukan dengan ibu di dalam mimpi. Dan beberapa kali Allah mengizinkan itu terjadi. Ibu datang dalam mimpiku, seolah mengobati rindu yang selama ini tersimpan di hati.

Memang sedekat itu hubunganku dengan ibu.
Apalagi ketika aku berada di Bandung, beliau sering sekali menelponku. Kami bercerita panjang, tertawa, dan saling menguatkan meskipun dipisahkan oleh jarak.

Sekarang semua itu hanya tinggal kenangan.

Aku rindu, Bu.

Rindu suara ibu.
Rindu pelukan ibu.
Rindu belaian tangan ibu.

Aku masih ingat ketika aku sakit dulu. Ibu selalu tidur di sampingku, membelai badanku dengan penuh kasih sampai aku tertidur dan akhirnya sembuh.

Kini tangan yang dulu selalu menenangkan itu sudah tidak ada lagi.

Yang tersisa hanyalah doa, sedekah, kenangan, dan rindu yang tidak pernah selesai.

Kini setiap langkah yang aku jalani, setiap rezeki yang aku terima, selalu aku niatkan sebagai sedekah dan doa untuk ibu. Semoga setiap kebaikan itu menjadi amal jariyah untuk ibu di sana.

Bu…
kadang aku ingin bercerita banyak hal seperti dulu.

Karena jujur saja…

duniaku sedang tidak baik-baik saja, Bu.

Ada banyak hal yang ingin aku ceritakan, seperti dulu ketika aku masih bisa menelponmu dan mendengar suaramu yang menenangkan. Dulu setiap kali aku merasa lelah, cukup mendengar suaramu saja rasanya hati ini kembali kuat.

Sekarang semuanya terasa berbeda.

Aku masih menjalani hidup seperti biasa. Bekerja, tersenyum di depan orang lain, dan berusaha terlihat kuat.

Tetapi di dalam hati, ada satu ruang yang selalu kosong sejak ibu pergi.
Kadang aku hanya ingin pulang…
bukan ke rumah,

tetapi ke pelukan ibu.

Ya Allah, ampunilah dosa ibuku, lapangkanlah kuburnya dan terangilah alam kuburnya dengan cahaya dari-Mu.

Ya Allah, tempatkanlah ia di tempat terbaik di sisi-Mu, bersama orang-orang yang Engkau muliakan di surga-Mu.

Ya Allah, jadikanlah setiap doa, sedekah, dan amal kebaikan yang aku lakukan sebagai amal jariyah yang terus mengalir untuk ibuku.

Balaslah semua kasih sayang, pengorbanan, dan doa yang telah ia berikan kepadaku dengan rahmat dan kemuliaan-Mu.

Dan jika Engkau mempertemukan kami kembali suatu hari nanti, pertemukanlah kami di surga-Mu yang penuh kebahagiaan.

Aamiin ya Rabbal ‘Alamiin.

Kadang aku masih teringat pelukan terakhir itu. Pelukan seorang ibu yang penuh kebanggaan ketika melihat anaknya akhirnya sampai di titik yang selama ini ia doakan.

Bu…
jika doa-doaku sampai kepadamu di sana, ketahuilah bahwa anakmu di sini masih sangat merindukanmu.

Dan jika suatu hari nanti Allah mempertemukan kita kembali, aku hanya ingin satu hal…

memeluk ibu sekali lagi, lebih lama dari pelukan terakhir kita dulu. 🤍

🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini

Genosida Palestina: Membongkar Kolonialisme Modern Israel
Genosida Palestina: Membongkar Kolonialisme Modern Israel
12 Mar 2026 • 114x dibaca (7 hari)
Aceh Hijau atau Aceh Gundul?
Aceh Hijau atau Aceh Gundul?
12 Mar 2026 • 106x dibaca (7 hari)
Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng
Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng
18 Jun 2025 • 95x dibaca (7 hari)
Bahasa Indonesia yang Bergema di Australia
Bahasa Indonesia yang Bergema di Australia
23 Feb 2026 • 82x dibaca (7 hari)
Tema Lomba Menulis Edisi Februari 2026
Tema Lomba Menulis Edisi Februari 2026
17 Feb 2026 • 80x dibaca (7 hari)
📝
Tanggung Jawab Konten
Seluruh isi dan opini dalam artikel ini merupakan tanggung jawab penulis. Redaksi bertugas menyunting tulisan tanpa mengubah subtansi dan maksud yang ingin disampaikan.
SummarizeShare235
Redaksi

Redaksi

Majalah Perempuan Aceh

Baca Juga

Pendidikan Hukum Pemilu dan Penataan Ulang Demokrasi Menuju Pemilu 2029
#Doa di Bulan Ramadan

Antara Sajadah dan Layar: Menjaga Makna Ramadan di Era Digital

March 13, 2026
Tersisa Roy Suryo dan dr Tifa, Apakah akan Ikut Rismon Juga?
#Ijazah

Tersisa Roy Suryo dan dr Tifa, Apakah akan Ikut Rismon Juga?

March 13, 2026
# Ironi

Apa Kata Dunia?

March 13, 2026
Antara Gold, Glory, dan Suara Rakyat: Merenungkan Keadaban Dunia dari Pengalaman Sehari-hari
# kolonial

Antara Gold, Glory, dan Suara Rakyat: Merenungkan Keadaban Dunia dari Pengalaman Sehari-hari

March 13, 2026
Next Post
Tersisa Roy Suryo dan dr Tifa, Apakah akan Ikut Rismon Juga?

Tersisa Roy Suryo dan dr Tifa, Apakah akan Ikut Rismon Juga?

Please login to join discussion
POTRET Online

© 2026 potretonline.com

  • Kirim Tulisan
  • Program 1000 Sepeda dan Kursi roda
  • Disclaimer
  • Al-Qur’an
  • Tentang Kami
  • Redaksi

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms below to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Home
  • Kirim Tulisan
  • Artikel
  • Pendidikan
  • Opini
  • Essay
  • Politik
  • PODCAST

© 2026 potretonline.com