POTRET Online
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan
No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan
No Result
View All Result
POTRET Online
No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan

SEANDAINYA AKU TAK MENJADI GURU

Catatan Harian Seorang Guru

RedaksiOleh Redaksi
June 29, 2022
MALAM-MALAM  SEBELUM LEBARAN
🔊

Dengarkan Artikel

Oleh Bussairi D. Nyak Diwa

 Bagian 1

 Dulu, puluhan tahun lalu, ketika aku baru menyelesaikan sekolah dasar di kampung halaman, aku diwanti-wanti oleh guruku.

“Bussairi, kamu harus melanjutkan sekolah. Apa pun halangan yang kau alami.”

 Aku diam, tidak mengatakan ya, dan tidak juga mengatakan tidak. Aku hanya berpikir, untuk apa aku sekolah, kalau ayahku tidak mengizinkannya. Ayahku hanya mengingikan kami -anak-anaknya- untuk menjadi teungku yang kelak mempunyai ilmu agama yang mampuni.

 Ternyata guruku itu paham kenapa aku tidak memberikan jawaban. Sang guru tahu betul karakter ayahku, orang yang memiliki sikap tegas dan sangat patuh terhadap ajaran agama. Beliau tak menginginkan anak-anaknya menjadi kerani negara (Pegawai Negeri) yang menurut Beliau nantinya akan diperbudak oleh dunia. Beliau sendiri sesungguhnya berhenti dari Wedana (istilah abdi negara setingkat camat kala itu), karena tidak mau hidupnya dikotori oleh hal-hal yang syubhat. Lalu kemudian Beliau bertani dan berdagang hingga sukses menjadi pedagang nilam saat itu.

 Tapi sang guru tak putus asa. Pada suatu kesempatan bertemu ayahku, Beliau langsung menyampaikan keinginannya agar aku melanjutkan sekolah. Mungkin karena menghormati dan menghargai guruku yang berkedudukan sebagai kepala sekolah, akhirnya ayahku mengiyakan keinginan guruku itu.

 Besoknya sang guru memanggilku dan mengatakan kepadaku, bahwa aku mesti sekolah karena ayahku juga merestuinya.

 “Bussairi, kamu harus melanjutkan sekolah karena ayahmu mengizinkanmu untuk melanjutkan sekolah. Bapak sudah bicara dengan ayahmu.”

📚 Artikel Terkait

Hikayat Perang Sabil

Air yang Mengambil Jalan

Tukin Dosen, Sebuah Saga Nomenklatur

Membuka Gerbang Masa Depan Melalui BK

 Aku merasa lega, namun hati kecilku masih keberatan karena aku tidak berani menyampaikan langsung kepada ayahku. Tapi beberapa hari kemudian ayah memanggilku. Tanpa banyak bicara Beliau hanya bertanya kepadaku.

 “Bus, jawab pertanyaan ayah dengan jujur, kamu apa ingin sekolah atau mengaji?”

 Entah karena takut dengan nada kata-kata ayah yang tinggi dan keras atau entah karena takut dimarahi, yang jelas aku diam saja. Tak berani menjawab sepatah kata pun.

 Akhirnya ayah berkata, “Baiklah, ayah beri kesempatan kepadamu selama sebulan untuk berpikir sebelum memberi jawaban.”

 Aku mengiyakan, tapi hanya dalam hati. Sementara aku mematung dan diam, tak mampu menggerakkan bibirku karena begitu segannya aku berkata-kata dengan ayahku. Memang begitulah ayah membiasakan kami berhadapan dengan Beliau dan Ibu, tidak boleh menyahut setiap kali ayah atau ibu berbicara. Diam berarti menjunjung tinggi adab dan kesopanan di hadapan kedua orang tua.

 (bersambung)

 

Tentang Penulis

Penulis lahir di Bakongan lima puluh enam tahun silam dari ayah H. Datok Nyak Diwa dan Ibu Hj. Siti Ardat. Sejak SMA gemar membaca dan menulis. Menggeluti dunia sastra dimulai sejak di bangku kuliah yakni di Jurusan Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia FKIP Unsyiah. Pernah beberapa kali memenangi lomba menulis tingkat nasional diantaranya Lomba Menulis Cerita Pendek bagi guru-guru SMA/SMK/MA Tingkat Nasional Tahun 2009. Cerpen dengan judul ‘Bulohseuma’ terpilih sebagai Cerpen Terbaik Tingkat Nasional Tahun 2009 sehingga memperoleh Tropi dari Depdinas kala itu. Di samping itu Buku Kumpulan Puisi penulis dengan judul ‘Ziarah Hati’ memperoleh Juara 3 dalam Lomba Menulis Buku Pengayaan Tingkat Nasional Tahun 2010. Buku Kumpulan Puisi penulis ‘Rumah Masa Depan’ juga mendapat penghargaan dari Kemendiknas Tahun 2011. Untuk itu penulis diundang ke Jakarta menerima penghargaan dari Kementerian Pendidikan Nasional.

Hingga saat ini penulis baru menghasilkan 4 buku; Kumpulan Puisi ‘Ziarah Hati’ 2010, Kumpulan Puisi ‘Rumah Masa Depan’ 2011, Kumpulan Cerpen ‘Senyum Terakhir Siti Sara’ 2016, dan Kumpulan Puisi ‘Doa Sajadah’ 2018. Sementara itu ada juga beberapa Kumpulan Cerpen dan Buku Kumpulan Puisi Bersama yang telah terbit baik regional, maupun nasional.

Mengajar Bahasa dan Sastra Indonesia di SMP/SMA/SMK/MA sejak 1992 dan pernah menjadi Tutor pada Universitas Terbuka (UT) 2002-2008. Dalam berkarya penulis acap menggunakan nama pena Bussairi Ende, B.S. Ende, atau Bussairi D. Nyak Diwa. Saat ini tinggal di Jalan Syaikhuna No. 12 Kompleks Pesantren Darurrahmah, Kotafajar, Kluet Utara Aceh Selatan.  

 

🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini

Sajadah yang Tertinggal di Seberang Lautan
Sajadah yang Tertinggal di Seberang Lautan
21 Jan 2026 • 84x dibaca (7 hari)
Lomba Menulis Ulang Tahun Potret
Lomba Menulis Ulang Tahun Potret
16 Jan 2026 • 72x dibaca (7 hari)
Perjamuan Kaum (Tidak) Kebagian
Perjamuan Kaum (Tidak) Kebagian
17 Feb 2026 • 72x dibaca (7 hari)
Bencana dan Perubahan Persepsi Masyarakat Pascabencana
Bencana dan Perubahan Persepsi Masyarakat Pascabencana
12 Jan 2026 • 67x dibaca (7 hari)
Muridnya Kenyang, Air Mata Gurunya Berlinang
Muridnya Kenyang, Air Mata Gurunya Berlinang
26 Jan 2026 • 64x dibaca (7 hari)
📝
Tanggung Jawab Konten
Seluruh isi dan opini dalam artikel ini merupakan tanggung jawab penulis. Redaksi bertugas menyunting tulisan tanpa mengubah subtansi dan maksud yang ingin disampaikan.
Share2SendShareScanShare
Redaksi

Redaksi

Majalah Perempuan Aceh

Please login to join discussion
#Kriminal

Dunia Penuh Tipu: Menyikapi Realitas Penipuan Digital

Oleh Tabrani YunisFebruary 16, 2026
Esai

Melukis Kata itu Seperti Apa?

Oleh Tabrani YunisFebruary 15, 2026
Literasi

Melukis Kata, Mengangkat Fakta

Oleh Tabrani YunisFebruary 15, 2026
Artikel

Mengungkap Fakta, Melukis Kata Lewat Story Telling

Oleh Tabrani YunisFebruary 14, 2026
Puisi

Gamang

Oleh Tabrani YunisFebruary 12, 2026

Populer

  • Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    168 shares
    Share 67 Tweet 42
  • Inilah Situs Menulis Artikel dibayar

    161 shares
    Share 64 Tweet 40
  • Peran Coaching Kepala Sekolah dalam Meningkatkan Kualitas Pendidikan

    147 shares
    Share 59 Tweet 37
  • Korupsi Sebagai Jalur Karier di Konoha?

    58 shares
    Share 23 Tweet 15
  • Lomba Menulis Agustus 2025

    52 shares
    Share 21 Tweet 13

HABA MANGAT

Haba Mangat

Tema Lomba Menulis Edisi Februari 2026

Oleh Redaksi
February 17, 2026
57
Haba Mangat

Lomba Menulis Ulang Tahun Potret

Oleh Redaksi
January 16, 2026
199
Haba Mangat

Tema Lomba Menulis Edisi Desember 2025

Oleh Redaksi
December 5, 2025
93
Postingan Selanjutnya

Alam Lebih Dekat Dengan Kita

  • Kirim Tulisan
  • Program 1000 Sepeda dan Kursi roda
  • Redaksi
  • Disclaimer
  • Tentang Kami

© 2025 potretonline.com

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms bellow to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan

© 2025 potretonline.com

-
00:00
00:00

Queue

Update Required Flash plugin
-
00:00
00:00