• Latest

Kader

Juli 25, 2021
48d7d57b-a685-47a6-bf7f-8bf53ffac0d0

Membaca Konsep Dinas Pendidikan Provinsi Aceh Membangun Budaya Literasi  di Aceh

April 19, 2026
332cedb5-e6db-41bf-947d-3c3b781b4b41

Benteng Tauhid dan Sauh Keselamatan: Menjangkar Makrifat di Dermaga Eskatologi.

April 19, 2026
file_00000000e608720b92fed92bd3c55b54

Bahaya Rekayasa Narasi Sesat yang Menimbulkan Permusuhan

April 19, 2026
file_000000007ff0720bbf683bd905ac60ed

Surat Untuk Anak Muda (2)

April 19, 2026
54306927-8436-4237-801f-5fda46d9c8c8

Dari Aceh ke Panggung Dunia: Muslim Amin, Ilmuwan Global Alumni USK

April 19, 2026
3a73ee9a-87d0-4bf2-aa52-0c77db8a9144

Pengaruh Self-Efficacy Terhadap Prestasi Akademik: Tinjauan Psikologi dan Bukti Empiris

April 19, 2026
IMG_0839

Demokrasi Di Ujung Tanduk?

April 19, 2026
d6285489-5291-4630-bb73-f4e571585b61

‎Ghost in the Cell: Bukan Sekadar Horor Fiksi, Melainkan Realitas Pahit Ketidakadilan Sistem

April 19, 2026
Senin, April 20, 2026
POTRET Online
  • Home
  • Artikel
  • POTRET Budaya
  • Pendidikan
  • Puisi
  • Esai
  • Opini
  • Sastra
  • Cerpen
No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • POTRET Budaya
  • Pendidikan
  • Puisi
  • Esai
  • Opini
  • Sastra
  • Cerpen
No Result
View All Result
POTRET Online
No Result
View All Result

Kader

Redaksi by Redaksi
Juli 25, 2021
in Essay, Organisasasi
Reading Time: 4 mins read
0
585
SHARES
3.2k
VIEWS

 

Oleh Ahmad Rizali 

Berdomisili di Depok

Jangan alergi dengan kader, karena sesungguhnya menjadi guru adalah pekerjaan mendidik kader anak bangsa. Dalam organisasi, kaderisasi adalah sebuah kewajiban, apalagi organisasi Negara. Gajah Mada lupa (atau tak menemukan kader yang tepat) mendidik kader dan Majapahit pelan, namun pasti runtuh.

Organisasi hebat akan memiliki banyak kader hebat. Contohnya Partai Golkar yang tak kekurangan Kader, karena sejak usia muda Partai ini sudah mendidik kadernya melalui organisasi masa usia muda. Beberapa partai mulai mengikuti jejak Golkar dengan menyiapkan kader sejak muda. 

Seringkali seorang tokoh karena kuatir organisasi yang mereka pimpin, apalagi ikut mendirikan, runtuh. Mereka tak tega melepaskan cengkeraman kekuasaannya kepada lapis di bawahnya. Sehingga pelan namun pasti, kader kader potensial mulai “mufaraqah” pindah kendaraan. 

Ketika alm. Presiden Soeharto sedemikian kuatnya ketokohannya, mayoritas rakyat Indonesia merasa tak ada yang pantas menggantikan beliau. Hal ini mirip ketika alm Soekarno jaya dan bahkan wakil Rakyat mentabalkan beliau menjadi Presiden Seumur Hidup dan Soekarno yang oleh sahabat-sahabat terdekatnya dianggap mabuk kekusaan, menerima pengangkatan itu. 

“Last minute” alm Soeharto menyadari bahwa dirinya sudah harus “Lengser Keprabon” dan mengikuti ucapannya bahwa dirinya wudah TOP (Tua Ompong Peot) dan sebelum desakan membesar, menyatakan “Berhenti”. Jika kita lihat situasi 1998 itu, jika Soeharto masih ingin bertahan, saya yakin bisa memberi perintah melibas pendemo. 

Ciri bahwa kader sudah jadi adalah, ketika sang tokoh sudah tidak lagi dilibatkan dan terlibat dlm keputusan strategis dan tatanilai organisasi tetap dipatuhi meski djalankan dengan style berbeda. Konteks menjadi penting meski substansi yang subtil tetap dijaga. Ciri kaderisasi gagal adalah ketika sang tokoh masih saja ikut ditarik tarik ikut dalam membuat keputusan besar dan lebih parah lagi, meski ikut namun tatanilai justru berubah dan sang tokoh ikut menjadi stempel pengesah.

Kaderisasi itu mirip bertanam pohon, sesuai jenis pohonnya, maka adakalanya wajib dilindungi dari gangguan cuaca, gulma dan predator. Kader gagal adalah mereka yang sudah saatnya ditinggal dari gangguan namun masih dilindungi. Pengader gagal adalah mereka yang masih nongkrong melindungi kader yang sudah saatnya dilepas untuk “fight” dan merecoki dengan style yang sudah usang. 

Selalu muncul menjadi tokoh pengader memang nikmat, namun bukankah lebih nikmat menikmati kesuksesan kader dari jauh sambil menikmati hari hari “me time” dan sesekali menerima undangan kader minum kopi mengudap jajanan ringan, sembari saling berkisah tentang heroisme dan patriotisme ?

Share234SendTweet146Share
Redaksi

Redaksi

Majalah Perempuan Aceh

Next Post

Meningkatkan Pemahaman Masyarakat Terhadap Prodi Bimbingan dan Konseling

POTRET Online

© 2026 potretonline.com

  • Home
  • Tentang Kami
  • Kirim Naskah
  • Disclaimer
  • Kebijakan Privasi
  • ToS
  • Penulis
  • Al-Qur’an
  • Redaksi

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms below to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Pendidikan
  • Opini
  • Essay
  • Politik
  • PODCAST
  • Penulis
  • Kirim Naskah

© 2026 potretonline.com