POTRET Online POTRET
  • Home
  • Artikel
  • Potret Budaya ⌄
    • Puisi
    • Cerpen
    • Esai
  • Pendidikan
  • Video
  • Esai
  • Opini
  • Aceh
  • Home
  • Artikel
  • Pendidikan
  • Puisi
  • Esai
  • Opini
  • Cerpen
  • Perempuan
  • Podcast
  • ✍ Kirim Tulisan
Home Aceh Selatan

SEANDAINYA AKU TAK MENJADI GURU

Catatan Harian Seorang Guru

Redaksi by Redaksi
Juni 29, 2022
in Aceh Selatan, Biografi, Diafragma, Essay
0
SEANDAINYA AKU TAK MENJADI GURU - A7EC2EC8 57F2 4B85 9621 80933C0CFFBA | Aceh Selatan | Potret Online

Oleh Bussairi D. Nyak Diwa

 Bagian 1

Baca Juga
  • 01
    Aceh Selatan
    SEANDAINYA AKU TAK MENJADI GURU
    31 Mei 2024
  • 02
    Bingkai Utama
    Memimpin Bangsa: MLCS
    06 Apr 2021

 Dulu, puluhan tahun lalu, ketika aku baru menyelesaikan sekolah dasar di kampung halaman, aku diwanti-wanti oleh guruku.

“Bussairi, kamu harus melanjutkan sekolah. Apa pun halangan yang kau alami.”

Baca Juga
  • SEANDAINYA AKU TAK MENJADI GURU - e4c66412 aa1c 4af5 8d2b bfcb8453f20f | Aceh Selatan | Potret Online
    Aceh
    Dari Alumni SMANSA Bima, NTB, untuk Saudara Kami di Aceh: Ketika Empati Menemukan Jalannya
    24 Des 2025
  • SEANDAINYA AKU TAK MENJADI GURU - 6e73045e d769 49a1 ba41 98022ac5b9dd | Aceh Selatan | Potret Online
    Belanda
    OCCRP, Jokowi, dan Konspirasi Tingkat Dewa
    02 Jan 2025

 Aku diam, tidak mengatakan ya, dan tidak juga mengatakan tidak. Aku hanya berpikir, untuk apa aku sekolah, kalau ayahku tidak mengizinkannya. Ayahku hanya mengingikan kami -anak-anaknya- untuk menjadi teungku yang kelak mempunyai ilmu agama yang mampuni.

 Ternyata guruku itu paham kenapa aku tidak memberikan jawaban. Sang guru tahu betul karakter ayahku, orang yang memiliki sikap tegas dan sangat patuh terhadap ajaran agama. Beliau tak menginginkan anak-anaknya menjadi kerani negara (Pegawai Negeri) yang menurut Beliau nantinya akan diperbudak oleh dunia. Beliau sendiri sesungguhnya berhenti dari Wedana (istilah abdi negara setingkat camat kala itu), karena tidak mau hidupnya dikotori oleh hal-hal yang syubhat. Lalu kemudian Beliau bertani dan berdagang hingga sukses menjadi pedagang nilam saat itu.

Baca Juga
  • SEANDAINYA AKU TAK MENJADI GURU - 99840128 d4ca 41aa a17a 4104b004adac | Aceh Selatan | Potret Online
    Aceh
    Ngopi dan Logos: Catatan Santai dari Pinggir Meja Kayu
    19 Mei 2025
  • SEANDAINYA AKU TAK MENJADI GURU - 94d776fc b881 417e 9aca c66a6725773d | Aceh Selatan | Potret Online
    Essay
    KaburAjaDulu “Bila Perlu Tak Usah Pulang”
    19 Feb 2025

 Tapi sang guru tak putus asa. Pada suatu kesempatan bertemu ayahku, Beliau langsung menyampaikan keinginannya agar aku melanjutkan sekolah. Mungkin karena menghormati dan menghargai guruku yang berkedudukan sebagai kepala sekolah, akhirnya ayahku mengiyakan keinginan guruku itu.

 Besoknya sang guru memanggilku dan mengatakan kepadaku, bahwa aku mesti sekolah karena ayahku juga merestuinya.

 “Bussairi, kamu harus melanjutkan sekolah karena ayahmu mengizinkanmu untuk melanjutkan sekolah. Bapak sudah bicara dengan ayahmu.”

 Aku merasa lega, namun hati kecilku masih keberatan karena aku tidak berani menyampaikan langsung kepada ayahku. Tapi beberapa hari kemudian ayah memanggilku. Tanpa banyak bicara Beliau hanya bertanya kepadaku.

 “Bus, jawab pertanyaan ayah dengan jujur, kamu apa ingin sekolah atau mengaji?”

 Entah karena takut dengan nada kata-kata ayah yang tinggi dan keras atau entah karena takut dimarahi, yang jelas aku diam saja. Tak berani menjawab sepatah kata pun.

 Akhirnya ayah berkata, “Baiklah, ayah beri kesempatan kepadamu selama sebulan untuk berpikir sebelum memberi jawaban.”

 Aku mengiyakan, tapi hanya dalam hati. Sementara aku mematung dan diam, tak mampu menggerakkan bibirku karena begitu segannya aku berkata-kata dengan ayahku. Memang begitulah ayah membiasakan kami berhadapan dengan Beliau dan Ibu, tidak boleh menyahut setiap kali ayah atau ibu berbicara. Diam berarti menjunjung tinggi adab dan kesopanan di hadapan kedua orang tua.

 (bersambung)

 

Tentang Penulis

Penulis lahir di Bakongan lima puluh enam tahun silam dari ayah H. Datok Nyak Diwa dan Ibu Hj. Siti Ardat. Sejak SMA gemar membaca dan menulis. Menggeluti dunia sastra dimulai sejak di bangku kuliah yakni di Jurusan Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia FKIP Unsyiah. Pernah beberapa kali memenangi lomba menulis tingkat nasional diantaranya Lomba Menulis Cerita Pendek bagi guru-guru SMA/SMK/MA Tingkat Nasional Tahun 2009. Cerpen dengan judul ‘Bulohseuma’ terpilih sebagai Cerpen Terbaik Tingkat Nasional Tahun 2009 sehingga memperoleh Tropi dari Depdinas kala itu. Di samping itu Buku Kumpulan Puisi penulis dengan judul ‘Ziarah Hati’ memperoleh Juara 3 dalam Lomba Menulis Buku Pengayaan Tingkat Nasional Tahun 2010. Buku Kumpulan Puisi penulis ‘Rumah Masa Depan’ juga mendapat penghargaan dari Kemendiknas Tahun 2011. Untuk itu penulis diundang ke Jakarta menerima penghargaan dari Kementerian Pendidikan Nasional.

Hingga saat ini penulis baru menghasilkan 4 buku; Kumpulan Puisi ‘Ziarah Hati’ 2010, Kumpulan Puisi ‘Rumah Masa Depan’ 2011, Kumpulan Cerpen ‘Senyum Terakhir Siti Sara’ 2016, dan Kumpulan Puisi ‘Doa Sajadah’ 2018. Sementara itu ada juga beberapa Kumpulan Cerpen dan Buku Kumpulan Puisi Bersama yang telah terbit baik regional, maupun nasional.

Mengajar Bahasa dan Sastra Indonesia di SMP/SMA/SMK/MA sejak 1992 dan pernah menjadi Tutor pada Universitas Terbuka (UT) 2002-2008. Dalam berkarya penulis acap menggunakan nama pena Bussairi Ende, B.S. Ende, atau Bussairi D. Nyak Diwa. Saat ini tinggal di Jalan Syaikhuna No. 12 Kompleks Pesantren Darurrahmah, Kotafajar, Kluet Utara Aceh Selatan.  

 

Previous Post

Berbagi Ilmu Di Masa Pensiun

Next Post

Alam Lebih Dekat Dengan Kita

Next Post

Alam Lebih Dekat Dengan Kita

POTRET Online POTRETOnline
Kontributor Tentang Kami Redaksi 1000 Sepeda

© 2026 POTRET Online. Seluruh hak cipta dilindungi.

No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Pendidikan
  • Opini
  • Essay
  • Politik
  • PODCAST
  • Penulis
  • Kirim Naskah