Oleh Tabrani Yunis
Langit di atas kota Banda Aceh, sore ini Senin, 20 April 2026, tampak gelap karena ditutup gumpalan awan. Gumpalan awan yang mengisyaratkan hujan akan segera turun ke bumi, membasahi bumi yang sejak pagi hingga siang hari teras panas. Walau sebelumnya, cuaca lebih stabil, tidak seperti sekarang saat matahari bersinar terang, tiba-tiba pula langit mendung dan hujan turun. Mungkin inilah yang disebut banyak orang sekarang dengan sebutan anomali cuaca. Sejalan beriringan dengan perubahan iklim atau climate change.
Sambil menatap langit yang terus gelap ditutup awan, pikiran seperti terbawa hembusan angin, hingga jauh ke masa silam. Masa-masa kecil, ketika masih tinggal di tanah kelahiran di kampung Kedai, Manggeng, Aceh Barat Daya ( Abdya).
Di ingatan bergelayut kenangan masa kecil. Ingatan dibawa bernostalgia ke masa usia masih sangat belia, belum tahu seperti apa dunia luar. Namun, ini adalah kenangan yang layak diceritakan kembali, karena banyak sisi positif dan tak terlupakan. Apalagi yang namanya kenangan yang membanggakan tentang kampung halaman.
Ada banyak kenangan masa kecil yang ingin diceritakan dalam tulisan ini, tetapi tidak mungkin semua akan terangkum. Apalagi sudah sangat lama meninggalkan kampung halaman, sehingga banyak hal di masa kecil yang menarik untuk diceritakan. Namun, dalam tulisan ini penulis ingin mengulas tentang sebuah ingatan sebuah aktivitas seni orang muda kala itu, di tahun 1970 an.
Anak-anak muda bersemangat muda dan punya karya hebat di tahun-tahun 1970 an itu. Generasi sekarang bisa jadi tidak pernah tahu seperti apa kondisi pasar Manggeng di era tahun 70 an itu. Pasti tak masuk akal sehat bila kita ceritakan tentang Manggeng pada masa itu. Perjalanan dari Manggeng ke Banda Aceh harus ditempuh berhari-hari. Apalagi di musim hujan, Manggeng yang kini bisa ditempuh dari Banda Aceh hanya dalam waktu 5 atau 6 jam perjalanan, saat itu ditempuh hingga lebih 5 hari. Bayangkan saja, ada 7 rakit yang harus mengarungi sungai. Ya, itulah romantika kehidupan masa lalu.
Terlalu panjang untuk diceritakan tentang kondisi itu, karena dalam tulisan ini niatnya menceritakan tentang kreativitas orang muda Manggeng dalam dunia seni, khususnya seni musik di negeri Teungku Peukan ini pada masa puluhan tahun lalu, tentang sebuah orkes.
Sebelum kita bicarakan soal orkes, ada baiknya kita segarkan ingatan dengan kata orkes. Apa yang terbayang di dalam pikiran kala ada yang berkata atau menyebutkan kata “orkes”
Selayaknya kita pahami dulu apa itu orkes. Bisa jadi, di era digital ini, era generasi Z atau Genzi, sudah tidak pernah mendengar lagi kata orkes. Walau mungkin kenal dengan kata orchestra. Ya, orkes, kata yang berasal dari kata Yunani, orchestra atau dalam bahasa Belanda Orkest, dimakmanai sebagai kelompok musisi yang memainkan alat musik bersama-sama.
Kalau dalam pengertian klasik, ini merujuk pada ansambel besar dengan instrumen gesek, tiup, dan perkusi. Namun, di Indonesia, istilah ini sering merujuk pada orkes dangdut yang merupakan bentuk musik populer khas tanah air.
Nah, itulah orkes yang kita maksud dan yang ada dalam ingatan penulis ketika menatap langit gelap yang berangsur terang lagi. Dulu, ketika masih kecil, masih duduk belajar di sekolah SD Negeri 2 Manggeng hingga menyelesaikan pendidikan di SMP Negeri 1 Manggeng, penulis sering menonton pertunjukan musik yang digelar oleh kelompok musisi muda kala itu di lapangan atau saat ada pementasan sandiwara Aceh pada tahun-tahun 1970 an.
Bukan hanya di saat ada pementasan, tetapi juga saat ada acara pesta atau perhelatan pernikahan. Sebuah orkes yang bernama Orkes Mekar Melati. Sebuah grup musik atau sering disebut band, bernama orkes Mekar Melati yang didirikan dan dipimpin oleh seorang guru seni yang mengajar di sekolah dasar di Manggeng saat itu. Sang guru seni musik itu dikenal dengan nama Fahmi Ayus.
Ya, Fahmi Ayus merupakan sosok yang telah lama berkiprah di dunia musik yang menjadikannya dikenal sebagai pimpinan Orkes Mekar Melati, salah satu grup musik senior yang paling disegani pada masanya. Dahsyatnya lai saat itu, Orkes Mekar Melati bahkan menjadi satu-satunya grup yang secara rutin diundang tampil di berbagai acara pesta perkawinan hingga ke daerah Tapaktuan dan Alur Bilie. Tak pelak lagi bila kehadiran orkes tersebut menjadi hiburan utama masyarakat pada masa itu dan meninggalkan jejak yang mendalam dalam sejarah kesenian Aceh Barat Daya.
Fahmi Ayus, adalah lelaki kelahiran kampung Padang, Manggeng. Dirinya bukan saja sebagai seorang guru seni, tetapi sekaligus sebagai pencipta lagu asal Manggeng, Aceh Barat Daya, yang dikenal luas sebagai musisi lokal dengan karya-karya berpengaruh. Ada banyak lagu-lagu berbahasa Aceh yang digubahnya dan diputar di sejumlah stasiun radio serta juga sering terdengar di stasiun televisi daerah.
Orang-orang generasi baby boomers, generasi X dan Y, mungkin masih sering mendengar dan menikmati alunan lagu Krueng Baru, yang dirilis dalam album “Utang” kala itu, juga ada lagu Aneuk Muntui, lagu Poma, Di antara dua pilehan, dan lain-lain yang sangat menghibur dan banyak dinyanyikan oleh penyanyi-penyanyi lain di pesta-pesta atau kala ada pertunjukan.
Penulis pun kemudian tidak dapat menonton lagi pertunjukan Orkes Mekar Melati pada tahun-tahun 1980 an, karena penulis sendiri hijrah ke kota Banda Aceh pada Juni 1979. Namun, kemudian dikabarkan bahwa orkes Mekar Melati mengalami pasang surut dan dibubarkan pada taun 1980 an.
Menurut T.Darwis, salah satu personel muda orkes Mekar Melati menceritakan bahwa memasuki era 1980-an, Orkes Mekar Melati resmi bubar seiring perubahan zaman dan dinamika perkembangan musik. Sebagai kelanjutannya, para seniman lokal kemudian membentuk grup band baru untuk meneruskan semangat bermusik yang telah dirintis sebelumnya. Grup band ini diharapkan dapat menyesuaikan diri dengan selera musik generasi baru tanpa meninggalkan identitas Aceh. Maka, pascapembubaran orkes Mekar Melati, orang-orang atau musisi muda kala itu membentuk pula sebuah kelompok band yang baru yang mereka beri nama band The Melda Grup yang dipimpin oleh Zulkifli, S.Pd yang menggantikan posisi eksistensi orkes Mekar Melati saat itu.
Kiranya masih segar dalam ingatan, sejumlah nama personel orkes Mekar Melati dan The Melda Grup di antara mereka ada yang telah kembali kepada Allah dengan meninggalkan pelajaran dan kenangan. Fahmi Ayus telah meninggal pada 24 Agustus 2018, juga ada nama penyanyi yah yang sangat tenar kala itu, almarhum Rumainur, dan beberapa nama yang kini masih menjadi narasumber, tempat kita bisa menggali informasi tentang orkes Mekar Melati, seperti Zulkifli dan Teuku Ahmad Darwis.
Kiranya, sebagai penikmat lagu dan seni mereka, penulis layak mengirimkan doa dan Al fatihah kepada Fahmi Ayus dan Rumainur, teman seangkatan di SMP Negeri 1 Manggeng saat itu. Juga terima kasih atas kontribusi Zulkifli dan T.Darwis serta lainnya yang telah memberikan catatan ini bisa berguna. Fahmi Ayus misalnya hingga kini memberikan kontribusi besar denga karyanya “Mars Abdya,” yang sering menggema di ruang-ruang acara resmi kabupaten Aceh Barat Daya ( Abdya)
Terakhir, sebagai ingatan bahwa peran dan warisan Fahmi Ayus adalah guru seni yah berperan penting dalam mendidik generasi muda Aceh melalui seni dan musik. Juga sebagai pencipta lagu yang karya-karyanya tidak hanya menghibur, tetapi juga memperkuat identitas budaya lokal. Bukan hanya itu, ia telah memberi pengaruh budaya dengan Lagu Mars Abdya menjadi simbol semangat masyarakat Abdya, terutama setelah pemekaran dari Kabupaten Aceh Selatan.









Diskusi