• Latest
Menggali Informasi dan Literatur Tokoh dan Perwira Asal Manggeng di Masa Lalu - de887664 5703 4ea3 b536 ece938504d8e | Aceh Barat Daya | Potret Online

Menggali Informasi dan Literatur Tokoh dan Perwira Asal Manggeng di Masa Lalu

Maret 7, 2026

Pendekatan Hermeneutik Dalam Menganalisis Buku Puisi “Hanya Melihat, Hanya Mengagumi” karya Din Saja

April 18, 2026
IMG_0811

Krisis Moral dan Tantangan Martabat Perempuan di Indonesia

April 17, 2026
1644037c-9c07-459e-8bd0-1005ddefbd88

Euforia Otsus dan Kejelasan Dana TKD 824 Milyar Rupiah

April 17, 2026
beb4ab3b-53fa-4329-93c9-4af1acd5127d

Digitalisasi Wakaf Melalui e-AIW

April 17, 2026
a16e068a-f693-4165-8ec4-fa77c8ac85af

Madiun Mendunia: Para Perupa Cilik dari Kota Pecel Unjuk Gigi di Kancah Global

April 17, 2026
file_00000000ed1871fa885008c1f509199b

Puisi Esai April: Perjuangan Perempuan‎ Marwah Perempuan Yang Menolak Dijarah

April 17, 2026
ae101973-036d-4e7c-b508-990e61a5c5af

Kosong

April 17, 2026
IMG_0778

OTT Kepala Daerah dan Rapuhnya Demokrasi Lokal

April 17, 2026
Sabtu, April 18, 2026
POTRET Online
  • Home
  • Artikel
  • POTRET Budaya
  • Pendidikan
  • Puisi
  • Esai
  • Opini
  • Sastra
  • Cerpen
No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • POTRET Budaya
  • Pendidikan
  • Puisi
  • Esai
  • Opini
  • Sastra
  • Cerpen
No Result
View All Result
POTRET Online
No Result
View All Result

Menggali Informasi dan Literatur Tokoh dan Perwira Asal Manggeng di Masa Lalu

Redaksi by Redaksi
Maret 7, 2026
in Aceh Barat Daya, Manggeng, Sejarah, Tokoh
Reading Time: 7 mins read
0
Menggali Informasi dan Literatur Tokoh dan Perwira Asal Manggeng di Masa Lalu - de887664 5703 4ea3 b536 ece938504d8e | Aceh Barat Daya | Potret Online
585
SHARES
3.2k
VIEWS

(Dari sebuah Catatan yang Terserak)

Oleh Tabrani Yunis

Ketika sedang duduk di sebuah bangku yang ditempatkan di depan POTRET Gallery, Pango Raya, Banda Aceh, seperti biasa tangan bermain di layar HP membuka email yang selama ini jarang dibuka. Tiba-tiba ditemukan sebuah  catatan yang terserak, belum sempat dikembangkan, tetapi tersimpan di email. Ya, email yang menyimpan sejumlah nama besar yang kini telah dilupakan, terutama para generasi muda yang berasal dari tanah kelahiran penulis, di Manggeng.

Manggeng, adalah tanah kelahiran penulis. Manggeng itu sebuah kecamatan yang  dahulu masuk ke dalam wilayah Aceh Selatan, dan kemudian menjadi bagian dari kabupaten Aceh Barat Daya atau sejarah sering disebut dengan Abdya.  Kabupaten Abdya berpisah dari kabupaten induknya Aceh Selatan secara resmi pada tanggal 10 April 2002, sebelum bencana dahsyat gempa dan tsunami 2004.

Kabupaten yang mencakup 5 kecamatan, mulai dari Kecamatan Manggeng yang menjadi perbatasan antara Aceh Barat Daya dengan Aceh Selatan hingga ke Kecamatan Babahrot yang menjadi perbatasan antara Abdya dengan Nagan Raya.

Mengikuti perkembangan kemajuan sistem pemerintah, Kecamatan Manggeng pun kemudian dibelah menjadi dua kecamatan, yakni Kecamatan Induknya Manggeng dan berbagi dengan Kecamatan baru yang bernama Kecamatan Lembah Sabil yang resmi ditetapkan pada akhir Desember 2009. 

Kendati Kecamatan Manggeng telah dimekarkan, sejarah yah yang telah ditulis pada masa lalu, tentu sulit dipisahkan saat ini. Banyak yang menyebutnya dengan Manggeng Raya. Ya sudahlah.

Hanya saja, ketika berbicara tentang nama seorang pahlawan dari Manggeng,  seperti Teuku Peukan, maka daerah asalnya tetap disebut Manggeng, walau sekarang berada dalam wilayah Kecamatan Lembah Sabil. Sebab dalam catatan sejarah beliau kelahiran Manggeng.

Nah, tulisan ini bukan ingin membahas mengenai pemekaran  kecamatan Manggeng, bukan pula untuk bernostalgia karena penulis lahir dan dibesarkan hingga tamat SMP di Manggeng, menjalankan hidup dalam belenggu kemiskinan,  hingga merantau melanjutkan pendidikan ke Banda Aceh sekaligus diniatkan mengubah nasib di tahun 1979 hingga kini.

Dalam tulisan ini penulis ingin menggali informasi dan menyampaikan rasa bahagia serta bangga, dalam sebuah catatan kecil yang pernah terserak. Juga bisa dikatakan sebuah catatan kecil yang  selayaknya bukan hanya menjadi kepedulian dan kemauan penulis untuk menggali informasi berharga tentang tokoh-tokoh dari Manggeng yang pernah berjaya dan menjadi inspirasi bagi kita. Seharusnya juga

bisa dikembangkan oleh para pembaca berasal dan tahu tentang hal ini. 

Sayangnya, penulis hanya mendapatkan informasi yang sangat terbatas.

Pertama, beberapa tahun lau, penulis dapat  cerita menarik dalam sebuah percakapan kecil  seorang sejarawan Aceh,  yang juga berasal dari Manggeng.  Barangkali para pembaca pernah kenal dengan almarhum Drs. Thamren Z, yang pernah lama menjadi kepala Perpustakaan Wilayah Aceh.  Beliau tercatat sebagai tokoh Manggeng, walau sekarang tanah kelahiran beliau adalah di Kecamatan Lembah Sabil. 

Ketika beliau masih hidup, penulis sering berdiskusi dan menggali pengetahuan sejarah dari beliau. Karena beliau memiliki kemampuan literasi sejarah yang sangat tinggi. Salah satu catatan penulis dari diskusi yang sebenarnya jarang diketahui oleh banyak orang adalah tentang tokoh-tokoh yang berasal dari Manggeng. Tokoh-tokoh itu adalah para perwira kelahiran Manggeng yang berada di wilayah Kabupaten Aceh Selatan. Ada sejumlah perwira Maggeng  saat itu.  Mereka adalah sebagai berikut:

1. H.M Syarif. Beliau  menikah dengan wa Paneuk, anaknya  dari Razali, yang menurut info terakhir  tinggal di Jakarta.  Hasil penelusuran penulis di beberapa literatur menjelaskan bahwa H.M. Syarif dari Manggeng dikenal sebagai salah satu perwira yang memiliki peran penting dalam sejarah militer dan kolonial di Aceh. Ia tercatat sebagai tokoh yang terhubung dengan pembentukan pasukan Marsose pada masa Hindia Belanda, sekaligus sosok yang menimbulkan kontroversi karena kedekatannya dengan pemerintahan kolonial. 

H.M. Syaiful merupakan  tokoh pribumi yang berkarier dalam struktur kolonial Belanda, dengan jejak kuat di Aceh, termasuk wilayah Manggeng. Ia pernah menduduki jabatan penting sebagai jaksa Kepala di Kutaraja (sekarang Banda Aceh), posisi strategis dalam pemerintahan kolonial.

Peran utamanya terlibat dalam pembentukan pasukan Marsose, unit militer bayaran Belanda yang terkenal dalam operasi kontra-gerilya di Aceh. Hal yang kontroversial adalah beliau  dianggap sebagai tokoh yang berkontribusi pada strategi kolonial, sehingga menimbulkan perdebatan antara sisi kolaborasi dan sisi pengkhianatan terhadap perjuangan rakyat Aceh dan Minangkabau. Sebagai pejabat pribumi, ia memiliki akses dan pengaruh besar dalam kebijakan kolonial, terutama di wilayah Aceh yang saat itu bergolak.

2. Abdullah Usman, kelahiran Ujung Tanah Manggeng berkedukan/ memimpin di Singkil tahun 1943. Atasan Nurdin Sufi, mantan Bupati  Aceh  Tengah.  Sangat terbatas informasi yang penulis dapatkan tentang Abdullah Usman yang diceritakan oleh Almarhum Drs. Thamrin Z dan juga sulit didapat dari sumber lain. Namun, tempat kelahiran beliau di Ujong Tanoh yang pada masa pra kemerdekaan dikenal banyak putra daerah ini yang bergabung dalam laskar rakyat dan kemudian menjadi perwira  militer setelah Indonesia merdeka.

3. Abullah Sani bin Teuku Peukan. Beliau adalah Komandan kompi pertama  di Tapak Tuan. Lalu digantikan  oleh mayor Nazir. Pindah ke Meulaboh sebagai komandan kompi I masa resimen Tengku Manyak.  Saat itu Said Idrus,  Zaid Aid, dan Idrus SH tinggal bersamanya saat mereka bersekolah di SMP 1 Meulaboh. Pada saat itu,  SMP 1 Meulaboh menjajdi sekolah satu- satunya di Aceh Barat, mulai dari Calang hingga Melaboh. Beliau ikut perang di Medan Area bersama kapten Alamsyah dan Nyak Adam Kamil, mantan Gubernur Aceh. Beliau gugur di Tiga Lingga, Sidikalang pada agresi Belanda kedua. Di awal kemerdekaan beliau menjadi keucik di Geulanggang Bate.

Hasil penelusuran penulis tentang tokoh ini tercatat bahwa Abdullah Sani bin Teuku Peukan adalah tokoh yang terkait dengan garis keturunan pejuang Aceh dari Manggeng, Aceh Barat Daya. Ia merupakan putra dari Teuku Peukan, seorang ulama sekaligus pejuang yang memimpin perlawanan terhadap Belanda pada peristiwa 11 September 1926 di Aceh Barat Daya. 

Nah, ayahnya Teuku Peukan  sendiri dikenal sebagai tokoh perjuangan dari Manggeng yang memimpin rakyat dalam perlawanan terhadap kolonial Belanda pada Peristiwa 11 September 1926, yang menjadi salah satu tonggak sejarah perlawanan di Aceh Barat Daya. Namanya diabadikan dalam Tugu Tgk. Peukan Manggeng, yang kini menjadi situs budaya resmi di Kabupaten Aceh Barat Daya.

4. Abduh  Rahman guru, di Suak Berambang,  Manggeng. Beliau adalah menantu bupati A Gafur Akhir, wedana di Tapak tuan, semasa bupatinya  Zaim Hasyimi.  Kapten Pesindo.

Nama Abduh Rahman Guru, sesuai dengan sebutan di akhir namanya lebih dikenal sebagai guru agama. Jadi beliau dihormati sebagai tokoh moral yang mengajarkan nilai disiplin, solidaritas dan semangat perjuangan. Sebagaimana kita ketahui bahwa guru di zaman pra kemerdekaan, guru di Aceh seringkali menjadi bagian dari jaringan perlawanan terhadap kolonial, baik secara langsung, maupun lewat proses pendidikan yang menumbuhkan kesadaran kebangsaan. Hampir tidak ada dokumentasi yah yang menyatakan beliau adalah perwira.

5. Nukum Sanany, satu-satunya putera  Manggeng, Aceh yang dilantik di Singapore sebagai perwira. Awal keerdekaan beliau menjadi komandan kavaleri di Aceh. Berperan penting di Medan Area dan berperan dalam peralihan kekuasaan di Sabang dari Belanda kepada pemerintahan Indonesia. Teman akrabnya Nyak Neh Rika, kepala staff Pesindo di bawah Hasyimi. Kedua Pawang Leman Leupung. Aceh Besar.

Menurut penelusuran penulis di Google, penulis mendapatkan penjelasan mengenai tokoh ini sebagai berikut. Nukum Sanany adalah tokoh pejuang kemerdekaan asal Manggeng, Aceh Selatan, yang terkenal sebagai komandan Pasukan Meriam pada masa revolusi fisik di Medan Area. Sebagai mantan sersan KNIL yang membelot ke pihak Republik. Ia ahli dalam taktik artileri dan berhasil memperbaiki meriam rusak untuk melawan tentara NICA/Inggris. Nukum Sanany sering disebut sebagai “Sang Maestro Taktik” dalam sejarah perjuangan Aceh.  Hebat bukan?

Jadi wajar kalau penulis tertarik untuk menggali dan mencari informasi mengenai tokoh-tokoh dari Manggeng ini agar generasi muda di Manggeng mengenal dan belajar dari kehidupan mereka pada masa lalu yang merupakan masa-masa sulit.

Nah, kehebatan Nukum Sanany juga menjadi pelajaran penting bagi kita, karena ia dikenal memiliki strategi hebat. ia dikenal cerdik dalam menyembunyikan posisi meriam dari pesawat pengintai musuh.buka hanya itu ia juga sangat lihai membangun koneksi dan mampu bekerja sama dengan tokoh lain seperti Achmad Tahir (infanteri) dan Rusli Higuchi (bekas tentara Jepang). Oleh sebab itu dalam konteks sejarah, pasukannya berperan penting dalam meruntuhkan pertahanan lawan dengan taktik pertempuran jarak dekat. 

6. Letnan Kolonel Syamsuddin, bin Teuku Batak. berperan menghancurkan perang Cumbok di Tripa yang dipimpin oleh raja Ubiet. Dalam perang itu ikut juga Makam Isa. Itulah sekilas informasi yang penulis temukan. Sangat sedikit dan tidak bisa kita temukan referensi mengenai beliau dalam beberapa literatur. Jadi, penulis tidak bisa menceritakan lebih jauh. Termasuk tiga nama di bawah ini, seperti Mayor Tokoh, anak Opas Bintang ( pendamping raja), tinggal di kampung Tengah. Aktif di Sumatera utara. Ke delapan, Zaini Dahlan, ujung Tanah, kuta paya, menikah dengan orang Susoh, bagian keuangan bataliyon di Meulaboh pada masa pimpinan BB Jalal. Ke 9 adalah Hanafiah Sanani, abangnya Nukom Sanani, sebagai PM dan kemudian bekerja di Pertamina dan kemudian di Koperasi dan ke 10, MA Syafruddin dan Ali Vander Wij. MA Syafruddin pernah menjadi tentara DI 

Jadi tulisan ini berusaha menggali informasi mengenai tokoh -tokoh kelahiran Manggeng pada masa lalu, namun tidak semua dapat digali, karena keterbatasan informasi dan dokumentasi yang beredar di berbagai sumber.  Untuk bisa melengkapi semua informasi ini diperlukan upaya pengumpulan informasi dengan mewawancara tokoh-tokoh lokal yang masih punya kenangan ata informasi. Semoga bisa menjadi trigger bagi para penulis atau historian untuk menambah narasi tentang semua tokoh ini. Semoga 

Share234SendTweet146Share
Redaksi

Redaksi

Majalah Perempuan Aceh

Next Post
Menggali Informasi dan Literatur Tokoh dan Perwira Asal Manggeng di Masa Lalu - 1001329642_11zon | Aceh Barat Daya | Potret Online

Bedah Buku - Justice of God

POTRET Online

© 2026 potretonline.com

  • Home
  • Tentang Kami
  • Kirim Naskah
  • Disclaimer
  • Kebijakan Privasi
  • ToS
  • Penulis
  • Al-Qur’an
  • Redaksi

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms below to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Pendidikan
  • Opini
  • Essay
  • Politik
  • PODCAST
  • Penulis
  • Kirim Naskah

© 2026 potretonline.com