• Latest
Hujan Tertahan di Teras Januari

Hujan Tertahan di Teras Januari

January 5, 2026
Presiden Pedofil?

Presiden Pedofil?

March 14, 2026

Pergi dan Kembali

March 14, 2026

Fatimah al-Fihri, Pendiri Universitas Tertua

March 14, 2026
Air Keras di Tengah Malam Jakarta

Air Keras di Tengah Malam Jakarta

March 14, 2026
Siapa  yang Tega Membunuh 180 Anak-Anak Sekolah

Siapa yang Tega Membunuh 180 Anak-Anak Sekolah

March 14, 2026
Melihat Perang Iran – Israel/AS Melalui Teori James C. Scott

Belajar dari Geopolitik Timur Tengah: Apa Pelajaran bagi Negara Berkembang?

March 14, 2026
Madiun Dialog Budaya: Menafsir Cahaya yang Tak Pernah Berdiri Sendiri 

Madiun Dialog Budaya: Menafsir Cahaya yang Tak Pernah Berdiri Sendiri 

March 14, 2026

Tadarus – Surah Yunus Ayat 57

March 13, 2026
  • Home
  • Artikel
  • POTRET Budaya
  • Literasi
  • Edukasi
  • Pendidikan
  • Puisi
  • Esai
  • Opini
No Result
View All Result
SAVED POSTS
AI News
  • Home
  • Artikel
  • POTRET Budaya
  • Literasi
  • Edukasi
  • Pendidikan
  • Puisi
  • Esai
  • Opini
No Result
View All Result
POTRET
No Result
View All Result

Hujan Tertahan di Teras Januari

Redaksi by Redaksi
January 5, 2026
in #Sumatera Utara, Bencana, Esai, Sumatera Barat
0
Hujan Tertahan di Teras Januari
586
SHARES
3.3k
VIEWS
Summarize with ChatGPTShare to Facebook
🔊

Dengarkan Artikel

Oleh Agung Marsudi

SUDAH dua jam duduk sendiri di kursi teras bawah, menghadap ke grumbul bambu, di pinggir sungai Ngipik, lereng Gunung Lawu. Sisa gerimis belum juga tuntas. Masih ada rintik yang menghalangi angin, mengibarkan bendera putih, cerita dari ujung negeri.

Baca Juga

Madiun Dialog Budaya: Menafsir Cahaya yang Tak Pernah Berdiri Sendiri 

Madiun Dialog Budaya: Menafsir Cahaya yang Tak Pernah Berdiri Sendiri 

March 14, 2026
Pelukan Bangga Seorang Ibu

Pelukan Bangga Seorang Ibu

March 13, 2026
Lurah Jepang di Meulaboh

Lurah Jepang di Meulaboh

March 10, 2026

Suara kran air tersumbat di kolam kecil samping Malawu Omah Kopi, memanggil tiga capung Jawa mendekat. Empat ekor ayam kampung mbah Slamet berbaris muka belakang, seekor kucing bangun tidur di pojok jendela. Dan pohon pepaya berdiri kokoh, dengan 18 buahnya yang sudah mengkal.

Langit mulai gelap, padahal jam baru menunjukkan pukul 16.20 WIB. Suara kran air tersumbat itu terus mengganggu. Tapi hanya suara itu teman menerkam waktu.

Mendadak ada sinar matahari, yang muncul sesaat di antara celah mendung yang berarak ke arah utara, melewati desa-desa menuju kota. Hanya hitungan menit, setelah itu awan kembali menutupi langit. Matahari tak kuasa menembusnya.

Meski sudah gelap, ayam-ayam mbah Slamet belum juga pulang, masih mengais makanan di bawah dapur Malika, pemilik Malawu Omah Kopi. Sepertinya ada sisa nasi Padang yang sengaja dibuang ke luar jendela.

Memang di bawah, sebelah kursi kayu jati, tempat aku duduk, ada satu meja bulat besar, dan meja-meja bekas ditumpuk, dulu digunakan untuk jualan nasi Padang. Malika dulu masih mahasiswa, ia bunga desa yang lagi mekar ketika kakaknya berjualan nasi Padang di Solo.

Hujan seperti tertahan airmata bencana banjir bandang Sumatera. Suara kran air tersumbat itu tak mau diam. Dua jam resah. Sudahlah.

(Terlintas cerita kenangan, ada yang jatuh dari jendela, tapi tertinggal di Surabaya).

Mio kecil warna biru di depanku, tak mungkin membawaku terbang. Aku laki-laki bingung mencari sesuatu. Belajar kesadaran, dihimpit kemelekatan. Cinta, dan harapan seperti bayang-bayang yang ikut berjalan. Tak berselisih siapa yang harus duluan.

Aku laki-laki bingung yang berprasangka, tentang semesta, katanya cinta sejati bisa tumbuh tanpa memiliki.

Hujan tertahan prasangkaku tentang tuhan. Aku ketinggalan, mengikuti diskusi tentang tuhan, yang dihantukan.

Tuhan yang diperdebatkan. Tuhan yang selalu dikeluarkan dari ruang kelas para pengambil keputusan dan kekuasaan. Tapi ketika musibah datang, mereka dengan instan menyebut nama tuhan.

Tuhannya, daun-daun mahoni, yang tak lupa pada janji, untuk bersemi esok hari, bersolek di Januari.

Solo, 4 Januari 2026

🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini

Aceh Hijau atau Aceh Gundul?
Aceh Hijau atau Aceh Gundul?
12 Mar 2026 • 181x dibaca (7 hari)
Genosida Palestina: Membongkar Kolonialisme Modern Israel
Genosida Palestina: Membongkar Kolonialisme Modern Israel
12 Mar 2026 • 174x dibaca (7 hari)
Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng
Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng
18 Jun 2025 • 115x dibaca (7 hari)
Antara Sajadah dan Layar: Menjaga Makna Ramadan di Era Digital
Antara Sajadah dan Layar: Menjaga Makna Ramadan di Era Digital
13 Mar 2026 • 106x dibaca (7 hari)
Bahasa Indonesia yang Bergema di Australia
Bahasa Indonesia yang Bergema di Australia
23 Feb 2026 • 86x dibaca (7 hari)
📝
Tanggung Jawab Konten
Seluruh isi dan opini dalam artikel ini merupakan tanggung jawab penulis. Redaksi bertugas menyunting tulisan tanpa mengubah subtansi dan maksud yang ingin disampaikan.
SummarizeShare234
Redaksi

Redaksi

Majalah Perempuan Aceh

Baca Juga

Presiden Pedofil?
Artikel

Presiden Pedofil?

March 14, 2026
#Cerpen

Pergi dan Kembali

March 14, 2026
Islam

Fatimah al-Fihri, Pendiri Universitas Tertua

March 14, 2026
Air Keras di Tengah Malam Jakarta
#Cerpen

Air Keras di Tengah Malam Jakarta

March 14, 2026
Next Post

Aceh dan Luka Panjang Hak Asasi Manusia

POTRET Online

© 2026 potretonline.com

  • Kirim Tulisan
  • Program 1000 Sepeda dan Kursi roda
  • Disclaimer
  • Al-Qur’an
  • Tentang Kami
  • Redaksi

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms below to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Home
  • Kirim Tulisan
  • Artikel
  • Pendidikan
  • Opini
  • Essay
  • Politik
  • PODCAST

© 2026 potretonline.com