POTRET Online
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan
No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan
No Result
View All Result
POTRET Online
No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan

Hujan Tertahan di Teras Januari

RedaksiOleh Redaksi
January 5, 2026
Hujan Tertahan di Teras Januari
🔊

Dengarkan Artikel

Oleh Agung Marsudi

SUDAH dua jam duduk sendiri di kursi teras bawah, menghadap ke grumbul bambu, di pinggir sungai Ngipik, lereng Gunung Lawu. Sisa gerimis belum juga tuntas. Masih ada rintik yang menghalangi angin, mengibarkan bendera putih, cerita dari ujung negeri.

Suara kran air tersumbat di kolam kecil samping Malawu Omah Kopi, memanggil tiga capung Jawa mendekat. Empat ekor ayam kampung mbah Slamet berbaris muka belakang, seekor kucing bangun tidur di pojok jendela. Dan pohon pepaya berdiri kokoh, dengan 18 buahnya yang sudah mengkal.

Langit mulai gelap, padahal jam baru menunjukkan pukul 16.20 WIB. Suara kran air tersumbat itu terus mengganggu. Tapi hanya suara itu teman menerkam waktu.

Mendadak ada sinar matahari, yang muncul sesaat di antara celah mendung yang berarak ke arah utara, melewati desa-desa menuju kota. Hanya hitungan menit, setelah itu awan kembali menutupi langit. Matahari tak kuasa menembusnya.

Meski sudah gelap, ayam-ayam mbah Slamet belum juga pulang, masih mengais makanan di bawah dapur Malika, pemilik Malawu Omah Kopi. Sepertinya ada sisa nasi Padang yang sengaja dibuang ke luar jendela.

Memang di bawah, sebelah kursi kayu jati, tempat aku duduk, ada satu meja bulat besar, dan meja-meja bekas ditumpuk, dulu digunakan untuk jualan nasi Padang. Malika dulu masih mahasiswa, ia bunga desa yang lagi mekar ketika kakaknya berjualan nasi Padang di Solo.

📚 Artikel Terkait

Dua Kuntum Puisi Ahmad Noh

🚩SELAMAT PAGI MERAH PUTIH

Jurang Kenistaan – Bedah Cerpen

Abadi

Hujan seperti tertahan airmata bencana banjir bandang Sumatera. Suara kran air tersumbat itu tak mau diam. Dua jam resah. Sudahlah.

(Terlintas cerita kenangan, ada yang jatuh dari jendela, tapi tertinggal di Surabaya).

Mio kecil warna biru di depanku, tak mungkin membawaku terbang. Aku laki-laki bingung mencari sesuatu. Belajar kesadaran, dihimpit kemelekatan. Cinta, dan harapan seperti bayang-bayang yang ikut berjalan. Tak berselisih siapa yang harus duluan.

Aku laki-laki bingung yang berprasangka, tentang semesta, katanya cinta sejati bisa tumbuh tanpa memiliki.

Hujan tertahan prasangkaku tentang tuhan. Aku ketinggalan, mengikuti diskusi tentang tuhan, yang dihantukan.

Tuhan yang diperdebatkan. Tuhan yang selalu dikeluarkan dari ruang kelas para pengambil keputusan dan kekuasaan. Tapi ketika musibah datang, mereka dengan instan menyebut nama tuhan.

Tuhannya, daun-daun mahoni, yang tak lupa pada janji, untuk bersemi esok hari, bersolek di Januari.

Solo, 4 Januari 2026

🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini

Bencana dan Perubahan Persepsi Masyarakat Pascabencana
Bencana dan Perubahan Persepsi Masyarakat Pascabencana
12 Jan 2026 • 155x dibaca (7 hari)
Sajadah yang Tertinggal di Seberang Lautan
Sajadah yang Tertinggal di Seberang Lautan
21 Jan 2026 • 137x dibaca (7 hari)
Lomba Menulis Ulang Tahun Potret
Lomba Menulis Ulang Tahun Potret
16 Jan 2026 • 125x dibaca (7 hari)
Belajar di Saat Dunia Berguncang
Belajar di Saat Dunia Berguncang
9 Jan 2026 • 97x dibaca (7 hari)
Pengaruh Internet dan Gadgets Bagi Masyarakat Kita
Pengaruh Internet dan Gadgets Bagi Masyarakat Kita
12 Mar 2018 • 91x dibaca (7 hari)
📝
Tanggung Jawab Konten
Seluruh isi dan opini dalam artikel ini merupakan tanggung jawab penulis. Redaksi bertugas menyunting tulisan tanpa mengubah subtansi dan maksud yang ingin disampaikan.
Share2SendShareScanShare
Redaksi

Redaksi

Majalah Perempuan Aceh

Please login to join discussion
#Gerakan Menulis

Ulang Tahun POTRET dalam Sepi dan Senyap: 23 Tahun Menyalakan Api Literasi dari Pinggiran

Oleh Tabrani YunisJanuary 18, 2026
#Sumatera Utara

Kala Belantara Bicara

Oleh Tabrani YunisDecember 23, 2025
Puisi Bencana

Kampung- Kampung Menelan Maut

Oleh Tabrani YunisNovember 28, 2025
Artikel

Menulis Dengan Jujur

Oleh Tabrani YunisSeptember 9, 2025
#Gerakan Menulis

Tak Sempat Menulis

Oleh Tabrani YunisJuly 12, 2025

Populer

  • Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    167 shares
    Share 67 Tweet 42
  • Inilah Situs Menulis Artikel dibayar

    159 shares
    Share 64 Tweet 40
  • Peran Coaching Kepala Sekolah dalam Meningkatkan Kualitas Pendidikan

    146 shares
    Share 58 Tweet 37
  • Korupsi Sebagai Jalur Karier di Konoha?

    58 shares
    Share 23 Tweet 15
  • Lomba Menulis Agustus 2025

    52 shares
    Share 21 Tweet 13

HABA MANGAT

Haba Mangat

Lomba Menulis Ulang Tahun Potret

Oleh Redaksi
January 16, 2026
164
Haba Mangat

Tema Lomba Menulis Edisi Desember 2025

Oleh Redaksi
December 5, 2025
90
Haba Mangat

Tema Lomba Menulis November 2025

Oleh Redaksi
November 10, 2025
95
Postingan Selanjutnya

Aceh dan Luka Panjang Hak Asasi Manusia

  • Kirim Tulisan
  • Program 1000 Sepeda dan Kursi roda
  • Redaksi
  • Disclaimer
  • Tentang Kami

© 2025 potretonline.com

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms bellow to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan

© 2025 potretonline.com

-
00:00
00:00

Queue

Update Required Flash plugin
-
00:00
00:00