HABA Mangat

Lomba Menulis Ulang Tahun Potret

Januari 16, 2026

Responden Terpilih

Maret 14, 2025

Popular

  • Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    882 shares
    Share 353 Tweet 221
  • Inilah Situs Menulis Artikel dibayar

    869 shares
    Share 348 Tweet 217
  • Peran Coaching Kepala Sekolah dalam Meningkatkan Kualitas Pendidikan

    840 shares
    Share 336 Tweet 210
  • Korupsi Sebagai Jalur Karier di Konoha?

    680 shares
    Share 272 Tweet 170
  • Lomba Menulis Agustus 2025

    670 shares
    Share 268 Tweet 168

HABA Mangat

Lomba Menulis Ulang Tahun Potret

Januari 16, 2026

Responden Terpilih

Maret 14, 2025

Popular

  • Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    882 shares
    Share 353 Tweet 221
  • Inilah Situs Menulis Artikel dibayar

    869 shares
    Share 348 Tweet 217
  • Peran Coaching Kepala Sekolah dalam Meningkatkan Kualitas Pendidikan

    840 shares
    Share 336 Tweet 210
  • Korupsi Sebagai Jalur Karier di Konoha?

    680 shares
    Share 272 Tweet 170
  • Lomba Menulis Agustus 2025

    670 shares
    Share 268 Tweet 168
  • Home
  • Artikel
  • POTRET Budaya
  • Literasi
  • Edukasi
  • Pendidikan
  • Puisi
  • Esai
  • Opini
No Result
View All Result
SAVED POSTS
AI News
  • Home
  • Artikel
  • POTRET Budaya
  • Literasi
  • Edukasi
  • Pendidikan
  • Puisi
  • Esai
  • Opini
No Result
View All Result
POTRET
No Result
View All Result

Aceh Kembali Menangis: Pengkhianatan Ekologis di Tanah Rencong

Redaksi by Redaksi
Desember 30, 2025
in Aceh, Artikel, Banjir, Banjir bandang, Hutan, Hutan Nanggroe, kerusakan hutan, Lingkungan, Musibah, Penebangan hutan
Reading Time: 3 mins read
0
Banjir Lumpur, Karena Tidak Bersyukur?
598
SHARES
3.3k
VIEWS
Summarize with ChatGPTShare to Facebook
🔊

Dengarkan Artikel

Oleh Muhammad Abrar

Aceh kembali menangis. Kali ini bukan karena desing peluru yang pernah mengoyak malam-malam sunyi, bukan pula karena derap sepatu lars tentara yang meninggalkan trauma panjang, dan bukan juga karena amukan tsunami yang datang sebagai bencana alam terbesar dalam sejarahnya. Aceh hari ini menangis karena bencana ekologis yang lahir dari keserakahan manusia keserakahan yang bekerja perlahan, sistematis, dan dilegalkan.

Baca Juga

Presiden Pedofil?

Presiden Pedofil?

Maret 14, 2026
Pendidikan Hukum Pemilu dan Penataan Ulang Demokrasi Menuju Pemilu 2029

Antara Sajadah dan Layar: Menjaga Makna Ramadan di Era Digital

Maret 13, 2026
Tersisa Roy Suryo dan dr Tifa, Apakah akan Ikut Rismon Juga?

Tersisa Roy Suryo dan dr Tifa, Apakah akan Ikut Rismon Juga?

Maret 13, 2026

Air bah datang menyapu rumah-rumah rakyat, ladang penghidupan, serta harapan yang selama ini dirajut dengan kesabaran. Banjir bukan lagi sekadar peristiwa alam, melainkan cermin dari rusaknya relasi manusia dengan lingkungan. Sungai meluap bukan karena hujan semata, tetapi karena hutan telah kehilangan fungsinya sebagai penjaga kehidupan. Bukit-bukit yang dahulu menjadi benteng alam kini telanjang, tak lagi mampu menahan amarah air.

Di balik bencana ini, berdiri para cukong kayu, pengusaha sawit ilegal, dan korporasi yang rakus, yang membabat hutan tanpa nurani. Mereka menebang pohon-pohon tua yang selama ratusan tahun menjaga keseimbangan tanah rencong, menjadikan alam sebagai objek eksploitasi, bukan amanah yang harus dijaga. 

Lebih menyakitkan lagi, praktik ini kerap berlangsung dengan perlindungan kekuasaan ketika korporasi dan pejabat saling “bermain mata”, hukum kehilangan wibawanya, dan rakyat kehilangan perlindungan.

Hutan Aceh yang dahulu hijau dan kokoh kini terkoyak oleh kepentingan ekonomi jangka pendek. Bukit-bukit dijarah, tanah dibelah, dan ekosistem dihancurkan atas nama investasi dan pertumbuhan. Yang menikmati keuntungan adalah segelintir elit, sementara yang menanggung akibatnya adalah rakyat kecil mereka yang rumahnya terendam, sawahnya rusak, dan masa depannya semakin tak pasti.

Bencana ekologis ini adalah bentuk pengkhianatan baru terhadap Aceh. Jika dahulu Aceh dikhianati dalam janji politik dan keadilan sejarah, hari ini Aceh dikhianati melalui pembiaran perusakan lingkungan. Negara yang seharusnya menjadi penjaga terakhir justru kerap hadir terlambat, atau lebih buruk lagi, absen dalam pencegahan. Penegakan hukum tumpul ke atas dan tajam ke bawah, sementara perusak alam terus bergerak tanpa rasa takut.

Tangisan Aceh hari ini bukan hanya ratapan korban banjir, tetapi jeritan bumi yang telah lama dipaksa diam. Ia adalah peringatan keras bahwa pembangunan tanpa etika akan selalu berakhir pada bencana. Bahwa keadilan ekologis bukan pilihan, melainkan syarat mutlak bagi keadilan sosial.

Namun, di tengah puing-puing dan lumpur, rakyat Aceh kembali menunjukkan keteguhannya. Mereka saling membantu, saling menguatkan, dan bertahan dengan martabat. Meski harapan berkali-kali disapu air bah, Aceh belum menyerah. Yang dituntut Aceh bukan belas kasihan, melainkan keadilan, keadilan yang menindak perusak alam, menghentikan kolusi kekuasaan dan korporasi, serta memulihkan kembali hubungan manusia dengan alamnya.

Aceh menangis hari ini agar esok tidak terus-menerus berkabung. Tangisan ini adalah seruan moral: hentikan keserakahan, tegakkan hukum, dan kembalikan alam Aceh sebagai rumah yang aman bagi generasi yang akan datang.

Muhammad Abrar lahir di Seuneubok Pidie, Aceh, pada 2 Desember 1999. Saat ini penulis berstatus sebagai Dosen Luar Biasa (DLB) pada Program Studi Perbankan Syariah, FEBI, UIN Ar-Raniry Banda Aceh, serta mahasiswa Program Doktor (S3) Ekonomi Syariah di Pascasarjana UIN Ar-Raniry. Penulis aktif mengembangkan kompetensi akademik melalui berbagai sertifikasi dan kegiatan kepenulisan ilmiah. Berlandaskan motto “With hardship, there is ease” (QS. Al-Insyirah: 6), penulis berkomitmen untuk berkontribusi dalam pengembangan ilmu pengetahuan, pendidikan, dan pemberdayaan masyarakat. Saat ini penulis berdomisili di Kota Banda Aceh, simak aktivitas kesehariannya di Instagram @muhammadabrar0212 dan dapat dihubungi melalui email: abrarmhmmd271@gmail.com

🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini

Aceh Hijau atau Aceh Gundul?
Aceh Hijau atau Aceh Gundul?
12 Mar 2026 • 213x dibaca (7 hari)
Genosida Palestina: Membongkar Kolonialisme Modern Israel
Genosida Palestina: Membongkar Kolonialisme Modern Israel
12 Mar 2026 • 206x dibaca (7 hari)
Antara Sajadah dan Layar: Menjaga Makna Ramadan di Era Digital
Antara Sajadah dan Layar: Menjaga Makna Ramadan di Era Digital
13 Mar 2026 • 143x dibaca (7 hari)
Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng
Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng
18 Jun 2025 • 118x dibaca (7 hari)
Tersisa Roy Suryo dan dr Tifa, Apakah akan Ikut Rismon Juga?
Tersisa Roy Suryo dan dr Tifa, Apakah akan Ikut Rismon Juga?
13 Mar 2026 • 105x dibaca (7 hari)
📝
Tanggung Jawab Konten
Seluruh isi dan opini dalam artikel ini merupakan tanggung jawab penulis. Redaksi bertugas menyunting tulisan tanpa mengubah subtansi dan maksud yang ingin disampaikan.
SummarizeShare239
Redaksi

Redaksi

Majalah Perempuan Aceh

Baca Juga

Kala Kemampuan Kognisi Siswa Semakin Menurun
Kualitas pendidikan

Mengelola Pendidikan Ala Keledai?

Maret 15, 2026
POTRET Budaya

Di Bawah Langit yang Sama: Takjil Ramadan, Paskah, dan Taut Persaudaraan

Maret 14, 2026
Air Mata Kemanusiaan di Tanah Rencong
#Korban Bencana

Air Mata Kemanusiaan di Tanah Rencong

Maret 14, 2026
Presiden Pedofil?
Artikel

Presiden Pedofil?

Maret 14, 2026
Next Post

Kenangan yang Tak Pernah Pergi

POTRET Online

© 2026 potretonline.com

  • Kirim Tulisan
  • Program 1000 Sepeda dan Kursi roda
  • Disclaimer
  • Al-Qur’an
  • Tentang Kami
  • Redaksi

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms below to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Home
  • Kirim Tulisan
  • Artikel
  • Pendidikan
  • Opini
  • Essay
  • Politik
  • PODCAST

© 2026 potretonline.com