POTRET Online
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan
No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan
No Result
View All Result
POTRET Online
No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan

Air Mata di Tanah Rencong

RedaksiOleh Redaksi
December 8, 2025
🔊

Dengarkan Artikel

Cerpen

Karya Naila Syifa
Siswa SMAN 1 Lhokseumawe

Hujan turun sejak subuh, deras tanpa jeda. Awan hitam menggantung rendah di atas lereng Gunung Seulawah. Sungai Krueng Aceh yang biasanya tenang, hari itu bergemuruh seperti sedang menyimpan amarah. Rahma, seorang ibu di sebuah desa kecil Aceh Besar, duduk gelisah di beranda rumahnya.

“Mak, air di sungai cepat naik!” teriak Hasan, putranya yang berusia sepuluh tahun.

Rahma bangkit. Beberapa hari terakhir, berita lokal sudah menyinggung tingginya curah hujan dan potensi banjir bandang. Namun tak ada yang menyangka hari ini adalah harinya bencana itu benar-benar datang.


Menjelang sore, suara gemuruh besar terdengar dari arah pegunungan. Suara itu bukan petir—lebih dalam, lebih panjang, seperti tanah yang pecah. Warga berlarian ke luar rumah.

“Air! Dari gunung turun! Banjir bandang!” teriak seseorang.

Rahma segera menggenggam tangan Hasan dan berlari. Dari kejauhan, mereka melihat dinding air bercampur lumpur dan puing-puing pohon menghantam desa. Arusnya ganas, seolah ingin menelan apa pun yang dilaluinya.

Air naik drastis. Dalam hitungan detik, kedalaman sepinggang berubah menjadi setinggi dada. Rahma dan Hasan berpegangan pada pagar masjid desa.

“Mak… aku takut…” Hasan terisak.

“Pegang Mak kuat-kuat, Nak…”

📚 Artikel Terkait

Dari Kesulitan untuk Menyongsong Masa Depan dan Cita-cita

SMAN 1 Ingin Jaya, Aceh Beşar Gelar Pameran dan Apresiasi Seni P5

TRANSFORMASI PENGAWASAN

Di Balik Senyum Murung

Namun sebuah batang pohon besar terseret arus menghantam pagar dengan keras. Pegangan Rahma terlepas. Air menyeret tubuhnya beberapa meter. Ia mengulurkan tangan, mencoba meraih Hasan yang terbawa arus.

“Hasaaaan!!”

Jeritannya pecah, tertelan suara gemuruh air yang mengamuk.


Fajar datang membawa kesunyian yang mengerikan. Desa itu porak-poranda. Lumpu­­r menutup jalanan, rumah-rumah roboh, dan sungai masih membawa sisa-sisa kehancuran. Tim SAR datang terbatas karena jalan utama menuju desa terputus total. Truk bantuan tidak bisa masuk. Beberapa jembatan ambruk dihantam arus.

Tidak ada listrik. Tidak ada internet. Pesan ke keluarga di luar desa tak dapat dikirim. Semua orang terputus dari dunia luar.

Persediaan makanan hampir habis. Warung-warung terseret banjir, ladang rusak, dan warga hanya punya mi instan basah yang tersisa dari dapur-dapur yang masih berdiri. Anak-anak menangis kelaparan, sementara orang dewasa mencoba tetap kuat.

Rahma duduk di samping puing rumahnya, tubuhnya gemetar. Di tangannya, ia menggenggam sandal kecil Hasan yang ditemukan tim SAR tidak jauh dari sungai.

“Bu… mohon sabar. Kami masih mencari di sekitar tebing sungai. Banyak korban banjir Aceh yang ditemukan beberapa hari setelah kejadian,” kata seorang relawan lembut.

Tak ada internet untuk memberi kabar. Tak ada jalan untuk mencari bantuan lebih besar. Hanya harapan tipis yang tersisa.

Rahma mengusap sandal itu, seolah membelai kaki kecil Hasan.

“Hasan… pulanglah, Nak… meski hanya sekali lagi…” bisiknya sambil menangis.


Malam-malam berikutnya, desa hanya diterangi cahaya lilin dan lampu minyak. Hujan masih turun kecil-kecil, menambah resah. Perut warga perih karena lapar. Anak-anak meringkuk dalam kedinginan. Dunia seolah lupa bahwa di sudut Aceh, ada desa yang sekarat menunggu pertolongan.

Di tengah kesedihan itu, Rahma tetap duduk setiap pagi di dekat sungai, menunggu kabar. Entah kabar tentang anaknya… atau tentang bantuan yang bisa menembus jalur terputus itu.

Aceh kembali menangis hari itu. Dan Rahma, seperti banyak ibu Aceh lainnya, hanya berharap air yang merenggut segalanya suatu hari membawa pulang apa yang hilang darinya.

Lhokseumawe, 3 Desember 2025

🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini

Bencana dan Perubahan Persepsi Masyarakat Pascabencana
Bencana dan Perubahan Persepsi Masyarakat Pascabencana
12 Jan 2026 • 155x dibaca (7 hari)
Sajadah yang Tertinggal di Seberang Lautan
Sajadah yang Tertinggal di Seberang Lautan
21 Jan 2026 • 137x dibaca (7 hari)
Lomba Menulis Ulang Tahun Potret
Lomba Menulis Ulang Tahun Potret
16 Jan 2026 • 125x dibaca (7 hari)
Belajar di Saat Dunia Berguncang
Belajar di Saat Dunia Berguncang
9 Jan 2026 • 97x dibaca (7 hari)
Pengaruh Internet dan Gadgets Bagi Masyarakat Kita
Pengaruh Internet dan Gadgets Bagi Masyarakat Kita
12 Mar 2018 • 91x dibaca (7 hari)
📝
Tanggung Jawab Konten
Seluruh isi dan opini dalam artikel ini merupakan tanggung jawab penulis. Redaksi bertugas menyunting tulisan tanpa mengubah subtansi dan maksud yang ingin disampaikan.
Share4SendShareScanShare
Redaksi

Redaksi

Majalah Perempuan Aceh

Please login to join discussion
#Gerakan Menulis

Ulang Tahun POTRET dalam Sepi dan Senyap: 23 Tahun Menyalakan Api Literasi dari Pinggiran

Oleh Tabrani YunisJanuary 18, 2026
#Sumatera Utara

Kala Belantara Bicara

Oleh Tabrani YunisDecember 23, 2025
Puisi Bencana

Kampung- Kampung Menelan Maut

Oleh Tabrani YunisNovember 28, 2025
Artikel

Menulis Dengan Jujur

Oleh Tabrani YunisSeptember 9, 2025
#Gerakan Menulis

Tak Sempat Menulis

Oleh Tabrani YunisJuly 12, 2025

Populer

  • Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    167 shares
    Share 67 Tweet 42
  • Inilah Situs Menulis Artikel dibayar

    159 shares
    Share 64 Tweet 40
  • Peran Coaching Kepala Sekolah dalam Meningkatkan Kualitas Pendidikan

    146 shares
    Share 58 Tweet 37
  • Korupsi Sebagai Jalur Karier di Konoha?

    58 shares
    Share 23 Tweet 15
  • Lomba Menulis Agustus 2025

    52 shares
    Share 21 Tweet 13

HABA MANGAT

Haba Mangat

Lomba Menulis Ulang Tahun Potret

Oleh Redaksi
January 16, 2026
164
Haba Mangat

Tema Lomba Menulis Edisi Desember 2025

Oleh Redaksi
December 5, 2025
90
Haba Mangat

Tema Lomba Menulis November 2025

Oleh Redaksi
November 10, 2025
95
Postingan Selanjutnya
Harmony with Nature: A Global and Islamic Perspective

Seruan Internasional Masuk Untuk Kemanusiaan

  • Kirim Tulisan
  • Program 1000 Sepeda dan Kursi roda
  • Redaksi
  • Disclaimer
  • Tentang Kami

© 2025 potretonline.com

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms bellow to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan

© 2025 potretonline.com

-
00:00
00:00

Queue

Update Required Flash plugin
-
00:00
00:00