POTRET Online
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan
No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan
No Result
View All Result
POTRET Online
No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan

AKU TABUR BUNGA DI PUSARA BERNAMA ACEH

RedaksiOleh Redaksi
November 14, 2021
🔊

Dengarkan Artikel

 

Sulaiman Juned

luka membatu

hati berlagu

luka membiru

senyum membeku

kita bersulang menimang mimpi. 

Pagi yang bening jadi kelam. 

Luka–duka menari di samudera pikiran. 

Aku tatap kota melesat dalam waktu berkalang maut orang-orang menanggalkan hati satu demi satu. Ini tubuh siapa punya memanggil-manggil Tuhan di setiap aliran nadi. Kami ini jiwa-hati mencatat lara, tak bisa lari tak  bisa sembunyi. Orang-orang berkelahi bersama ombak di kelap-kelip waktu. Orang-

orang lalu lalang diantara aroma manyat-meski teramat pahit. Nafas pesakitan tersirat di wajah penderitaan. Aku tabur bunga di pusara bernama Aceh

(Kapan usai hikayat bertopeng ini, duhai)

luka membatu

📚 Artikel Terkait

OLIGARKI DAN KESETARAAN BAGI PEREMPUAN

PERIHAL SEBUAH LAGU

Rayyanisme Melayu, Ketika Dunia Bersujud di Ujung Perahu

Definisi Partai

hati berlagu

luka membiru

senyum membeku

kita bersulang menimang mimpi. 

Pagi yang bening jadi kelam. Gundah gelisah-sakit-pilu menyatu dalam bingkai cita lara. Telah aku kecup getir di kamar rahasia menghabiskan malam dalam senyum beku–waktu.  Mengirim setangkai kembang meraih bulan-gerimis masih berkelahi di halaman.  Siapa diantara kita terluka–padamu

pahatkan resah. Kabut–angin–api–air mempersiang diri dalam sepi. Secangkir kesedihan terceruk belati menggali terusan air mata di kedalaman air mata kami. Seperti Tuhan pada waktu subuh menabur gelombang

sembunyikan getir-cinta terbunuh udara kelabu aroma kematian terhidang di perjamuan menyekap pikiran erat berpangut.

(Aku beli keluh kesah itu selipkan dikain kafanmu)

luka membatu

hati berlagu

luka membiru

senyum membisu

kita bersulang menimang mimipi. 

Sudah waktunya kita pulang. 

Entah bagaimana menerjemahkan kesucian

terhidang lewat nikmatnya sakit. 

Sesekali aku pulang menyaksikan bungong jeumpa patah tunasnya hanya pada bayang bercerita; Maskirbi baru saja kita poh cakra di keude kuphi tentang Aceh agar menyelesaikan konflik dengan cinta-seni biar tak ada yang mati sia-sia. Memahami luka dengan kasih sayang bukan dendam. Nurgani Asyik terakhir kali kita keliling Darussalam–Ulee Kareng serta minum kopi di Pantai Ulee Lhee sambil menikmati shanset turun memeluk malam tempat kita berkelahi pikiran. Virsevenny dimana kau simpan kanvasmu-melukiskan isi kalbu terbelah. Selamat malam cinta aku hanya mampu mengirimkan doa jadikan tembang menemani perjalanan malammu. Di pusara seluas samudera, tujuh bidadari menabur wangi mawar antar ke pintu surga.

(Hari ini kita berkabung, ditegur Tuhan untuk kenali diri, Ah!)

-Banda Aceh–Padangpanjang, 2004-2018-

🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini

Bencana dan Perubahan Persepsi Masyarakat Pascabencana
Bencana dan Perubahan Persepsi Masyarakat Pascabencana
12 Jan 2026 • 155x dibaca (7 hari)
Sajadah yang Tertinggal di Seberang Lautan
Sajadah yang Tertinggal di Seberang Lautan
21 Jan 2026 • 137x dibaca (7 hari)
Lomba Menulis Ulang Tahun Potret
Lomba Menulis Ulang Tahun Potret
16 Jan 2026 • 125x dibaca (7 hari)
Belajar di Saat Dunia Berguncang
Belajar di Saat Dunia Berguncang
9 Jan 2026 • 97x dibaca (7 hari)
Pengaruh Internet dan Gadgets Bagi Masyarakat Kita
Pengaruh Internet dan Gadgets Bagi Masyarakat Kita
12 Mar 2018 • 91x dibaca (7 hari)
📝
Tanggung Jawab Konten
Seluruh isi dan opini dalam artikel ini merupakan tanggung jawab penulis. Redaksi bertugas menyunting tulisan tanpa mengubah subtansi dan maksud yang ingin disampaikan.
Share2SendShareScanShare
Redaksi

Redaksi

Majalah Perempuan Aceh

Please login to join discussion
#Gerakan Menulis

Ulang Tahun POTRET dalam Sepi dan Senyap: 23 Tahun Menyalakan Api Literasi dari Pinggiran

Oleh Tabrani YunisJanuary 18, 2026
#Sumatera Utara

Kala Belantara Bicara

Oleh Tabrani YunisDecember 23, 2025
Puisi Bencana

Kampung- Kampung Menelan Maut

Oleh Tabrani YunisNovember 28, 2025
Artikel

Menulis Dengan Jujur

Oleh Tabrani YunisSeptember 9, 2025
#Gerakan Menulis

Tak Sempat Menulis

Oleh Tabrani YunisJuly 12, 2025

Populer

  • Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    167 shares
    Share 67 Tweet 42
  • Inilah Situs Menulis Artikel dibayar

    159 shares
    Share 64 Tweet 40
  • Peran Coaching Kepala Sekolah dalam Meningkatkan Kualitas Pendidikan

    146 shares
    Share 58 Tweet 37
  • Korupsi Sebagai Jalur Karier di Konoha?

    58 shares
    Share 23 Tweet 15
  • Lomba Menulis Agustus 2025

    52 shares
    Share 21 Tweet 13

HABA MANGAT

Haba Mangat

Lomba Menulis Ulang Tahun Potret

Oleh Redaksi
January 16, 2026
164
Haba Mangat

Tema Lomba Menulis Edisi Desember 2025

Oleh Redaksi
December 5, 2025
90
Haba Mangat

Tema Lomba Menulis November 2025

Oleh Redaksi
November 10, 2025
95
Postingan Selanjutnya

SESAT PIKIR

  • Kirim Tulisan
  • Program 1000 Sepeda dan Kursi roda
  • Redaksi
  • Disclaimer
  • Tentang Kami

© 2025 potretonline.com

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms bellow to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan

© 2025 potretonline.com

-
00:00
00:00

Queue

Update Required Flash plugin
-
00:00
00:00