POTRET Online
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan
No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan
No Result
View All Result
POTRET Online
No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan

Rayyanisme Melayu, Ketika Dunia Bersujud di Ujung Perahu

RedaksiOleh Redaksi
July 7, 2025
Rayyanisme Melayu, Ketika Dunia Bersujud di Ujung Perahu
🔊

Dengarkan Artikel

Oleh Rosadi Jamani

Mungkin inilah cara Tuhan membuat seseorang terkenal. Dalam hitungan detik terkenal ke seluruh dunia. Dialah bocil asal Riau. Kalau orang Pontianak menyebutnya, “budak kecik” yang mengguncang jagat raya. Dunia pun meniru gayanya. Siapkan kopi tanpa gulanya, kita ungkap siapa bocil Melayu tersebut.

Desa Pintu Lobang Kari, Kuantan Singingi, Riau. Sebuah tempat yang kalau ente cari di Google Maps, mungkin sinyalnya menyerah duluan. Tapi dari sanalah datang bocah 11 tahun bernama Rayyan Arkhan Dhika. Ia bukan bocil biasa, tapi entitas budaya, pahlawan lokal, dan ikon global dalam satu goyang kepala.

Mari kita hening sejenak. Karena kita sedang membahas Togak Luan, bukan profesi sembarangan. Ini bukan TikTokers yang joget-joget di dapur. Ini adalah penari spiritual, penjaga ritme kosmis, dan pengatur semangat kolektif di perahu Pacu Jalur yang melaju seperti kilat di Sungai Kuantan. Bayangkan, wak! Saat dunia ribut soal AI dan metaverse, Rayyan justru membangun metaverse tradisional dari kayu, semangat, dan gerakan pinggul yang penuh kharisma.

Dalam dunia filsafat budaya, Togak Luan adalah Nietzsche yang menari di atas air, Sartre dengan tanjak, dan Derrida yang menolak dekonstruksi tradisi. Togak Luan bukan cuma berdiri. Ia eksis. Ia menjadi. Ia menyala seperti meteor Melayu yang tidak bisa dihentikan algoritma mana pun.

Lalu muncul istilah Aura Farming? Adalah kegiatan membajak aura dari alam semesta lalu menyebarkannya ke seantero dunia, tanpa usaha, tanpa endorse, tanpa kamera 4K. Hanya dengan teluk belanga hitam, tanjak Melayu, dan kacamata hitam yang tampaknya menyimpan seluruh rahasia galaksi, Rayyan menari di ujung perahu seperti dewa kecil yang mabuk semangat kolektif. Spontan. Mistis. Kontan TikTok internasional meledak, Instagram mengalami krisis kepercayaan diri, dan YouTube mulai merasa seperti aplikasi tua tak relevan.

Kata netizen Prancis: “Le swag de Kuantan est supérieur.”
Kata netizen Brazil: “Esse garoto é magia do rio!”
Kata netizen Indonesia? “Bocah mana nih woy, swag pol!”

📚 Artikel Terkait

Prabowo Tetap Bersikukuh Tak Mau Status Bencana Nasional

Muda, Namun Tua

Jadwal Pelayanan di Disdukcapil Kota Banda Aceh Selama Bulan Ramadan

Cerita dari Sebuah Cerita

PSG dan AC Milan yang biasanya sibuk dengan gol dan glamor, kini justru mencari pencerahan spiritual dari perahu kayu. Selebrasi gol mereka sudah bukan Cristiano Ronaldo-style. Sekarang, tangan ke atas, kepala goyang, mata menatap takdir, gaya Rayyan.

Travis Kelce? Pria kekar NFL itu mengunggah video touchdown-nya dengan gerakan Rayyan yang disisipkan di tengah, seolah-olah berkata, “Aku besar di NFL, tapi aura-ku dari Sungai Kuantan.”

KSI, rapper dengan jutaan fans, joget dengan gaya Rayyan di TikTok. Dunia tenggelam dalam euforia Rayyanisme. TikTok berubah jadi madrasah aura, Instagram jadi musala ekspresi diri, dan Facebook… ya, tetap Facebook, tapi sekarang lebih Melayu.

Rayyan bukan konten kreator karbitan. Ia anak sungai. Sejak kecil hidup dengan air, kayu, dan semangat komunitas. Ayahnya, mantan jago Pacu Jalur. Kakaknya, juga Togak Luan. Ini bukan tren, ini takdir berdarah. Mungkin, kalau DNA-nya diteliti, akan ditemukan gen “Aura Nusantara”.

Tarian itu bukan latihan. Itu adalah perwujudan memori leluhur. Goyangan itu bukan koreografi, tapi doa yang bergerak.

Helmy Yahya sampai speechless. Pengamat budaya bingung, “Kenapa yang viral bukan influencer Jakarta, tapi bocah sungai?” Jawabannya, karena Rayyan tidak mencoba menjadi siapa-siapa. Ia hanya menjadi Rayyan. Dunia yang sedang lapar akan keaslian, langsung jatuh cinta.

Kapolda Riau sampai bilang ini edukasi. Universitas menyarankan diplomasi budaya. Tapi rakyat? Mereka menyimpulkan satu hal, “Rayyan bikin kita bangga jadi orang Indonesia, tanpa harus aneka gimmick di Eropa.”

Fenomena Rayyan Arkhan Dhika adalah revolusi sunyi. Ia mengubah definisi keren. Ia menampar wajah promosi pariwisata yang selama ini dijejali drone dan hotel mahal. Ia hanya butuh sehelai tanjak, sepotong teluk belanga, dan gerakan penuh keikhlasan untuk menaklukkan dunia.

camanewak

Rosadi Jamani
Ketua Satupena Kalbar

🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini

Sajadah yang Tertinggal di Seberang Lautan
Sajadah yang Tertinggal di Seberang Lautan
21 Jan 2026 • 144x dibaca (7 hari)
Muridnya Kenyang, Air Mata Gurunya Berlinang
Muridnya Kenyang, Air Mata Gurunya Berlinang
26 Jan 2026 • 124x dibaca (7 hari)
Bencana dan Perubahan Persepsi Masyarakat Pascabencana
Bencana dan Perubahan Persepsi Masyarakat Pascabencana
12 Jan 2026 • 98x dibaca (7 hari)
Lomba Menulis Ulang Tahun Potret
Lomba Menulis Ulang Tahun Potret
16 Jan 2026 • 95x dibaca (7 hari)
Dunia di Ambang Krisis dan Perang Dunia Ketiga
Dunia di Ambang Krisis dan Perang Dunia Ketiga
25 Jan 2026 • 82x dibaca (7 hari)
📝
Tanggung Jawab Konten
Seluruh isi dan opini dalam artikel ini merupakan tanggung jawab penulis. Redaksi bertugas menyunting tulisan tanpa mengubah subtansi dan maksud yang ingin disampaikan.
Share4SendShareScanShare
Redaksi

Redaksi

Majalah Perempuan Aceh

Please login to join discussion
Puisi

Gamang

Oleh Tabrani YunisFebruary 12, 2026
POTRET Budaya

Memerangi Sampah, Membangun Gerakan Indonesia ASRI

Oleh Tabrani YunisFebruary 6, 2026
digital

Doom Scrolling: Perilaku Baru di Era Digital

Oleh Tabrani YunisJanuary 31, 2026
#Gerakan Menulis

Ulang Tahun POTRET dalam Sepi dan Senyap: 23 Tahun Menyalakan Api Literasi dari Pinggiran

Oleh Tabrani YunisJanuary 18, 2026
#Sumatera Utara

Kala Belantara Bicara

Oleh Tabrani YunisDecember 23, 2025

Populer

  • Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    167 shares
    Share 67 Tweet 42
  • Inilah Situs Menulis Artikel dibayar

    160 shares
    Share 64 Tweet 40
  • Peran Coaching Kepala Sekolah dalam Meningkatkan Kualitas Pendidikan

    147 shares
    Share 59 Tweet 37
  • Korupsi Sebagai Jalur Karier di Konoha?

    58 shares
    Share 23 Tweet 15
  • Lomba Menulis Agustus 2025

    52 shares
    Share 21 Tweet 13

HABA MANGAT

Haba Mangat

Lomba Menulis Ulang Tahun Potret

Oleh Redaksi
January 16, 2026
196
Haba Mangat

Tema Lomba Menulis Edisi Desember 2025

Oleh Redaksi
December 5, 2025
92
Haba Mangat

Tema Lomba Menulis November 2025

Oleh Redaksi
November 10, 2025
97
Postingan Selanjutnya
Kuliah Tanpa Beban: Kritik Terhadap Klaim Kuliah yang Terlalu Mudah

Bayang-Bayang Perang Dunia Ketiga dan Tanggung Jawab Kemanusiaan Kita

  • Kirim Tulisan
  • Program 1000 Sepeda dan Kursi roda
  • Redaksi
  • Disclaimer
  • Tentang Kami

© 2025 potretonline.com

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms bellow to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan

© 2025 potretonline.com

-
00:00
00:00

Queue

Update Required Flash plugin
-
00:00
00:00