Selasa, April 21, 2026

AKU TABUR BUNGA DI PUSARA BERNAMA ACEH

November 2021
Oleh: Redaksi

 

Sulaiman Juned

luka membatu

hati berlagu

luka membiru

senyum membeku

kita bersulang menimang mimpi. 

Pagi yang bening jadi kelam. 

Luka–duka menari di samudera pikiran. 

Aku tatap kota melesat dalam waktu berkalang maut orang-orang menanggalkan hati satu demi satu. Ini tubuh siapa punya memanggil-manggil Tuhan di setiap aliran nadi. Kami ini jiwa-hati mencatat lara, tak bisa lari tak  bisa sembunyi. Orang-orang berkelahi bersama ombak di kelap-kelip waktu. Orang-

orang lalu lalang diantara aroma manyat-meski teramat pahit. Nafas pesakitan tersirat di wajah penderitaan. Aku tabur bunga di pusara bernama Aceh

(Kapan usai hikayat bertopeng ini, duhai)

luka membatu

hati berlagu

luka membiru

senyum membeku

kita bersulang menimang mimpi. 

Pagi yang bening jadi kelam. Gundah gelisah-sakit-pilu menyatu dalam bingkai cita lara. Telah aku kecup getir di kamar rahasia menghabiskan malam dalam senyum beku–waktu.  Mengirim setangkai kembang meraih bulan-gerimis masih berkelahi di halaman.  Siapa diantara kita terluka–padamu

pahatkan resah. Kabut–angin–api–air mempersiang diri dalam sepi. Secangkir kesedihan terceruk belati menggali terusan air mata di kedalaman air mata kami. Seperti Tuhan pada waktu subuh menabur gelombang

sembunyikan getir-cinta terbunuh udara kelabu aroma kematian terhidang di perjamuan menyekap pikiran erat berpangut.

(Aku beli keluh kesah itu selipkan dikain kafanmu)

luka membatu

hati berlagu

luka membiru

senyum membisu

kita bersulang menimang mimipi. 

Sudah waktunya kita pulang. 

Entah bagaimana menerjemahkan kesucian

terhidang lewat nikmatnya sakit. 

Sesekali aku pulang menyaksikan bungong jeumpa patah tunasnya hanya pada bayang bercerita; Maskirbi baru saja kita poh cakra di keude kuphi tentang Aceh agar menyelesaikan konflik dengan cinta-seni biar tak ada yang mati sia-sia. Memahami luka dengan kasih sayang bukan dendam. Nurgani Asyik terakhir kali kita keliling Darussalam–Ulee Kareng serta minum kopi di Pantai Ulee Lhee sambil menikmati shanset turun memeluk malam tempat kita berkelahi pikiran. Virsevenny dimana kau simpan kanvasmu-melukiskan isi kalbu terbelah. Selamat malam cinta aku hanya mampu mengirimkan doa jadikan tembang menemani perjalanan malammu. Di pusara seluas samudera, tujuh bidadari menabur wangi mawar antar ke pintu surga.

(Hari ini kita berkabung, ditegur Tuhan untuk kenali diri, Ah!)

-Banda Aceh–Padangpanjang, 2004-2018-

Tentang Penulis
Majalah Perempuan Aceh

Diskusi

Upload foto profil kecil (opsional)
Preview avatar
Memuat komentar...

Terbaru

Puisi terbaru untuk dibaca

Populer

Puisi yang banyak dibaca

Populer Mingguan

Berdasarkan jumlah pembaca 7 hari terakhir

Welcome Back!

Login to your account below

Create New Account!

Fill the forms below to register

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Add New Playlist