POTRET Online POTRET
  • Home
  • Artikel
  • Potret Budaya ⌄
    • Puisi
    • Cerpen
    • Esai
  • Pendidikan
  • Puisi
  • Esai
  • Opini
  • Cerpen
  • Home
  • Artikel
  • Pendidikan
  • Puisi
  • Esai
  • Opini
  • Cerpen
  • Perempuan
  • Podcast
  • ✍ Kirim Tulisan
Home Musik

PERIHAL SEBUAH LAGU

Redaksi by Redaksi
April 19, 2025
in Musik
0
PERIHAL SEBUAH LAGU - 1000516156_11zon | Musik | Potret Online
585
SHARES
3.2k
VIEWS

Oleh ReO Laguwan

“Every song is like a painting.” — Dick Dale(1937-2019), American guitarist.

Spotify, teknologi digital pada sebuah laman bisa menghimpun koleksi jutaan lagu dan instrumen musik dari seluruh dunia dan memudahkan siapapun bisa “to recall all memories.”

Ketika berlangganan untuk mengakses semua genre musik maupun lagu, Spotify begitu lawas dan leluasa mengantar anda menikmati semua jenis irama lagu dan musik dari produksi kapanpun.

Jika mengutip mendiang gitaris Dick Dale, tiap lagu yang disukai akan mirip ketika sebuah lukisan terpapar di hadapan kita. Imajinasinya tak terpermanai. Langsung menyerbu di kedalaman jiwa. The seat of the soul, kata Gary Zukav(82), seorang master spiritual.

Lagu adalah suatu komposisi irama yang unik dan nikmat(dulce) didengar. Seringkali lagu akan mengingatkan siapapun akan masa lalunya begitu rupa.

Tentu, masa lalu yang bisa menaikkan adrenalin jiwa dari senyawa dopamine yang menumbuhkan sensasi tubuh dan perasaan.

Demikian pula bagi seorang komposer. Apapun lagu yang diciptakan itu akan seperti lukisan. Mengaktifkan imajinasi yang mengubyah-uyah pikiran dan pendengar.

Keajaiban musik atau sebuah lagu terletak justru di pendengaran. Dengan pendengaran, spektrum seluruh alam kejiwaan kita akan membentuk algoritme perasaan(sense).

Karenanya, pendengaran(sama’i) faali tubuh yang dimintai tanggung jawab.

Akan hal dorongan itu, novelis Inggris, Jane Austin(1775-1817) pernah menulis skandal asmara anak-anak gadis keluarga Dashwood dalam “Sense and Sensibility”(1811).

Bahkan lewat novel dan drama-drama tragedi seperti Romeo Juliet(1597) Shakespear — ketika difilmkan Franco Zeffirelli(1923-2019) dengan bintang remaja cantik 16, Olivia Hussey(1951-2024) — soundtrack-nya dibikin komposer Henry Mancini dan Nino Rota, ikut melejitkan tema lagu(theme song) “A Time for Us.”

Demikian pula, lagu “Endless Love”(Diana Ross and Lionel Richie), “Dont Cry Me For Argentina”(Madona) dan “My Way”(Frank Sinatra). Atau, “Beauty and the Beast”(Ariana Grande dan John Legend).

Di Indonesia mutakhir, bisa diingat soundtrack Cinta Pertama, Romy-July(Idris Sardi), Badai Pasti Berlalu(Eros Djarot), Ada Apa Dengan Cinta(Melly Goeslaw) hingga Ayat-Ayat Cinta(Rossa) dan Layangan Putus(Sahabat Dulu, Prinsa Mandagie).

Akhirnya, favorit versi cover saya, “Gone Are the Songs of Yesterday”(Rollies) populer 1970 dari vokal mendiang Delly Rollies, justru merupakan lagu versi cover dari https://youtu.be/PxbJlUvHeAo(Love Affair,1969).

Ketika lagu ini melantun dari “home band” asal Bandung di sebuah klub malam Singapura, konon, seorang “escort” tergila-gila pada vokal Delly yang unik dengan lengkingan tinggi itu. Maka, “lenyap sudah bersama lagu-lagu lampau.”

Gone are the songs of yesterday

coverlagu #coversong #oldies #recicling #song #memory #rollies #band #lobbylounge #town

Previous Post

🚩SELAMAT PAGI MERAH PUTIH

Next Post

Ketika Brain Rot Menggerus Kreatifitas Anak Muda

Next Post
PERIHAL SEBUAH LAGU - b6213624 baed 46e8 bedb 0bb494ec6f65 | Musik | Potret Online

Ketika Brain Rot Menggerus Kreatifitas Anak Muda

POTRET Online POTRETOnline
Kontributor Tentang Kami Redaksi 1000 Sepeda

© 2026 POTRET Online. Seluruh hak cipta dilindungi.

No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Pendidikan
  • Opini
  • Essay
  • Politik
  • PODCAST
  • Penulis
  • Kirim Naskah