• Latest

Sultan Hamid  II dan Soeharto Sama-sama Belum Diakui Pahlawan Nasional

November 2, 2025
8a775060-2ffc-40bc-a7c8-7d5eeda6427a

Mengenal Ayu Zhafira, Finalis Miss Norway Berdarah Sumatera Barat

Maret 30, 2026
IMG_0551

Jalan yang Kita Pilih

Maret 30, 2026

Iran: Ketahanan, Kepemimpinan Teknologi, dan Transformasi di Tengah Blokade Internasional

Maret 30, 2026
db120a04-bc3f-416f-8477-98be379296aa

Peran OSIS  Dalam Membangun Budaya Sekolah 

Maret 30, 2026
0531533e-b691-47af-a72c-150e25a07ee5

Di Dalam Gelap, Ada Ibu

Maret 30, 2026
20362b6b-fe28-40ff-a0c0-c08280e7bbff

Indonesia, Mundurlah dari Dewan Perdamaian Trump: 175 Siswi Tewas

Maret 30, 2026
IMG_0542

Jejak Darah di Terbangan: Kematian Letnan Satu Molenaar alias Kapitan Lhoknga dan Perlawanan Rakyat Aceh Selatan

Maret 30, 2026
IMG_0518

Mencari Akar Sejarah Nama Manggeng

Maret 29, 2026
  • Home
  • Artikel
  • POTRET Budaya
  • Literasi
  • Edukasi
  • Pendidikan
  • Puisi
  • Esai
  • Opini
  • Penulis
  • Kirim Naskah
No Result
View All Result
SAVED POSTS
AI News
  • Home
  • Artikel
  • POTRET Budaya
  • Literasi
  • Edukasi
  • Pendidikan
  • Puisi
  • Esai
  • Opini
  • Penulis
  • Kirim Naskah
No Result
View All Result
POTRET
No Result
View All Result

Sultan Hamid  II dan Soeharto Sama-sama Belum Diakui Pahlawan Nasional

Rosadi Jamaniby Rosadi Jamani
November 2, 2025
Reading Time: 3 mins read
588
SHARES
3.3k
VIEWS
Summarize with ChatGPTShare to Facebook

Oleh Rosadi Jamani

Entar lagi kita memperingati Hari Pahlawan. Kalian pasti sudah jadi pahlawan, benarkan? Pahlawan untuk keluarga pastinya. Ada dua tokoh yang sampai sekarang belum diakui negara sebagai Pahlawan Nasional. Padahal, jasanya sangat besar. Simak narasinya sambil seruput Koptagul, wak!

Dalam sejarah Indonesia, dua nama itu berdiri gagah tapi juga disorot penuh curiga. Mereka adalah Sultan Hamid II dari Pontianak dan Soeharto dari Kemusuk, Yogyakarta. Dua-duanya sama-sama punya jasa besar, sama-sama punya dosa besar (menurut sebagian orang), dan sama-sama belum diberi gelar Pahlawan Nasional. Ironisnya, bendera negara berkibar di bawah lambang hasil karya satu, dan negara berdiri tegak tiga dekade di bawah komando yang lain. Tapi, dua-duanya malah dibiarkan nongkrong di ruang tunggu sejarah, seperti tamu kehormatan yang ditolak masuk pesta karena bajunya terlalu mencolok.

Sultan Hamid II, nama yang kadang muncul di buku pelajaran tapi cepat hilang seperti iklan vitamin, adalah otak di balik Garuda Pancasila. Ia bukan cuma “perancang lambang”, tapi pemahat identitas negara. Tahun 1949, di tengah hiruk-pikuk Republik Indonesia Serikat, Hamid duduk di meja gambar, menciptakan sosok Garuda berleher gagah dengan perisai Pancasila di dada. Bung Karno menyetujui hasilnya. Artinya, tiap kali kita hormat pada bendera, kita sebenarnya juga hormat pada karya Sultan Hamid. Tapi sejarah tak sesederhana itu. Ia terseret dalam kisah APRA, Angkatan Perang Ratu Adil, yang dipimpin Westerling. Tuduhan makar pun datang, dan sejarah resmi menulisnya dengan tinta curiga. Ia ditangkap, diadili, dipenjara. Namanya pun dibekukan dalam kabut. Garudanya tetap terbang, tapi penciptanya dijadikan catatan kaki.

Lalu datanglah Soeharto. Jenderal bersuara lembut tapi berkehendak baja. Ia naik tahta setelah 1965, membawa slogan stabilitas dan pembangunan. Selama 32 tahun, ia membangun jalan, bendungan, sawah, dan juga rasa takut. Indonesia di tangannya tumbuh bagai rumah megah di atas pondasi yang retak. Ada yang bilang, tanpa Soeharto, Indonesia takkan punya stabilitas ekonomi. Ada pula yang membalas, tanpa Soeharto, Indonesia takkan punya trauma kolektif sebesar itu. Tahun 1998, rakyat turun ke jalan, Orde Baru runtuh, dan Soeharto turun takhta dalam wajah muram sejarah. Setelah itu, tiap kali ada usul menjadikannya pahlawan, protes bermunculan seperti jamur di musim skandal.

Lucunya, dua tokoh ini kini senasib. Sama-sama berjasa, sama-sama berdebat dengan masa lalu. Sultan Hamid terjebak dalam tuduhan kolonialisme, Soeharto dalam tuduhan otoritarianisme. Satu membuat lambang negara tapi dianggap “kurang nasionalis”, satu memimpin negara tapi dianggap “terlalu nasionalis”. Kalau keduanya duduk satu meja di surga sejarah, mungkin mereka tertawa, “Kau bikin Garuda, aku pelihara Garuda, tapi dua-duanya tak dianggap pahlawan.”

Negara tampaknya bingung. Mau kasih gelar, takut diserang moral publik. Mau diam saja, takut dikira lupa jasa. Maka lahirlah formula klasik birokrasi, rapat, tim kajian, seminar, naskah akademik, rekomendasi, dan akhirnya, “Masih perlu dikaji lebih mendalam.” Itu artinya, tunggu saja, sampai semua yang protes mati duluan.

Padahal, kalau logika sejarah diterapkan secara lurus, Garuda Pancasila tak mungkin muncul tanpa Sultan Hamid. Pembangunan Indonesia tak mungkin seperti sekarang tanpa Soeharto. Tapi sejarah Indonesia memang bukan garis lurus, melainkan benang kusut yang diikat dengan tali politik. Gelar pahlawan bukan sekadar soal jasa, tapi juga soal siapa yang sedang berkuasa dan siapa yang paling rajin mengatur narasi.

Akhirnya, dua nama itu tetap terbang di udara seperti Garuda yang kehilangan sarang. Sultan Hamid II, sang arsitek lambang, masih menunggu rehabilitasi moral. Soeharto, sang pengendali negara tiga dasawarsa, masih menunggu amnesti sejarah. Mungkin suatu hari, bangsa ini akan cukup dewasa untuk memutuskan, mana yang lebih penting, menilai masa lalu dengan dendam, atau mengakui kebenaran tanpa takut dikritik.

Sampai saat itu tiba, Sultan Hamid dan Soeharto akan terus menjadi dua tokoh besar yang paradoksal. Satu menciptakan lambang negara, satu menjaga negara, dan keduanya, lucunya, belum juga dianggap cukup “nasional” untuk jadi pahlawan nasional.

Baca Juga

Iran: Ketahanan, Kepemimpinan Teknologi, dan Transformasi di Tengah Blokade Internasional

Maret 30, 2026
db120a04-bc3f-416f-8477-98be379296aa

Peran OSIS  Dalam Membangun Budaya Sekolah 

Maret 30, 2026
20362b6b-fe28-40ff-a0c0-c08280e7bbff

Indonesia, Mundurlah dari Dewan Perdamaian Trump: 175 Siswi Tewas

Maret 30, 2026

Foto Ai hanya ilustrasi

#camanewak

Rosadi Jamani

Ketua Satupena Kalbar

🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini

Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng
Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng
18 Jun 2025 • 363x dibaca (7 hari)
Batu Gajah Hilang di Bate Iliek
Batu Gajah Hilang di Bate Iliek
23 Mar 2026 • 322x dibaca (7 hari)
Aceh Hijau atau Aceh Gundul?
Aceh Hijau atau Aceh Gundul?
12 Mar 2026 • 273x dibaca (7 hari)
Membuka Tabir Sejarah Kenegerian Manggeng dan Para Raja yang  Pernah Berkuasa
Membuka Tabir Sejarah Kenegerian Manggeng dan Para Raja yang  Pernah Berkuasa
27 Mar 2026 • 270x dibaca (7 hari)
Memutus Rantai Kemiskinan, Melawan Kufur Etika
Memutus Rantai Kemiskinan, Melawan Kufur Etika
20 Mar 2026 • 204x dibaca (7 hari)
ADVERTISEMENT
📝
Tanggung Jawab Konten
Seluruh isi dan opini dalam artikel ini merupakan tanggung jawab penulis. Redaksi bertugas menyunting tulisan tanpa mengubah subtansi dan maksud yang ingin disampaikan.

Discussion about this post

Next Post

Adab Before Knowledge: A Disconnect Between Principle and Practice

POTRET Online

© 2026 potretonline.com

  • Program 1000 Sepeda dan Kursi roda
  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Al-Qur’an
  • Kirim Naskah
  • Penulis

No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Pendidikan
  • Logout
  • Opini
  • Essay
  • Politik
  • PODCAST
  • Penulis
  • Kirim Naskah

© 2026 potretonline.com