POTRET Online
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan
No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan
No Result
View All Result
POTRET Online
No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan

Spirit Nyi Eroh dan Terowongan Geureutee

Afridal DarmiOleh Afridal Darmi
October 24, 2025
🔊

Dengarkan Artikel

Oleh: Afridal Darmi

Selama empat puluh hari Nyi Eroh bergelantungan di dinding batu curam lereng Gunung Galunggung, Tasikmalaya, Jawa Barat. Mengikat tubuhnya dengan akar dan rotan. Perempuan sederhana itu menatah batu cadas dengan tangan telanjang, hanya bersenjatakan kapak beliung dan cangkul. 

Ia bukan insinyur, bukan pejabat, bukan pula orang berduit. Ia hanyalah petani kecil yang setiap hari melihat sawah di desanya kering kerontang dan kekurangan pasokan air yang mengancam pengairan sawah seluas ratusan hektar di lereng Gunung Galunggung dan desa-desa sekitarnya. Petani kesulitan mendapatkan air untuk irigasi sehingga produktivitas sawah terancam.

Empat puluh hari lamanya ia bekerja sendirian, memahat batu demi batu. Kegigihan ini membuka mata dan hati warga desa.Semula mereka heran, tidak percaya, bahkan melecehkan, berubah menjadi kekaguman dan keteladanan. 

Akhirnya mereka bergabung dengan Nyi Eroh memahat bukit batu, menggali tanah, membangun parit. Setelah hampir 6 bulan bergotong royong dengan alat seadanya lahirlah irigasi sederhana sepanjang 5 kilometer yang menyuburkan sawah di tiga desa, memberi makan ratusan keluarga, dan menghidupkan kembali semangat kampung yang hampir mati. 

Atas jasanya, Nyi Eroh, perempuan kelahiran 1934 di Kampung Pasirkadu, Desa Santanamekar, Kecamatan Cisayong, Kabupaten Tasikmalaya, Jawa Barat itu dipanggil oleh Presiden Soeharto ke Istana Negara di Jakarta dan dianugerahi Penghargaan Kalpataru 1988 sebagai Perintis Lingkungan. Ia mencapai visinya hanya dengan bekal kegigihan, rendah hati, religius, dan keras kepala dalam kebaikan.

Tiga dekade kemudian, di ujung barat Indonesia, Gubernur Aceh Muzakkir Manaf juga berbicara tentang “menembus gunung”. Rencana besar pembangunan terowongan menembus Gunung Geureutee. Gunung yang berdiri kukuh di perbatasan Aceh Besar dan Aceh Jaya, ditengarai selama ini menjadi sabab musabab terisolirnya pantai barat dan selatan Aceh dari pembangunan. 

Bedanya, bukan dengan kapak beliung dan cangkul, melainkan dengan alat bor modern, jika perlu didatangkan dari negara luar yang lebih maju dari kita. 

Gagasan ini bukan hal baru, telah muncul sejak masa awal Aceh Damai. Adalah Gubernur Zaini Abdullah dan Menteri PUPR Basuki Hadimuljono, pada Maret 2015 yang membubuhkan tanda tangan di atas gambar perencanaan yang dibawa oleh Kasatker Jalan Nasional. 

Masyarakat menyambut gembira dan percaya rencana ini akan menjadi kenyataan. Gubernur yang dipanggil dengan nama akrab Abu Doto  ini memang dikenal dengan proyek-proyek yang visioner dan membuat sesuatu yang hanya ada di negara maju bisa dibawa ke Aceh. 

Rekam jejak gubernur ini dengan perluasan masjid Raya Baiturrahman membawa payung raksasa yang semula hanya ada di Masjid Nabawi di Madinah ke Aceh tercatat dalam momori rakyat. Jembatan layang Simpang Surabaya dan Underpass Beurawe juga dibangun masa pemerintahan beliau menunjukkan visi ini. Tak heran jika rakyat juga beranggapan pembangunan Terowongan Geureutee hanyalah bentuk lain dan kelanjutan semata dari proyek visioner Abu Doto.

Kampus pun mengangguk. Kepala Laboratorium Pelayanan Terpadu Universitas Syiah Kuala DR. Ir. Taufiq Saidi, MEng menyatakan memang tepat rencana itu. Dalam hitungan para pakar ini hanya perlu dibangun terowongan sepanjang 1,8 kilometer dan sisa jalan plus jembatan sepanjang 1,2 meter. Perjalanan yang semula satu jam, berubah menjadi 1,8 menit. Fantastis….

Sayangnya Abu Doto tak terpilih dalam pemilihan berikutnya. Rencana itu lalu tenggelam bersama pergantian kekuasaan. 

Kini 10 tahun kemudian, wacana itu dihidupkan lagi pada masa Gubernur Muzakkir Manaf, sebagai simbol proyek prestisius yang diharap menjadi terowongan penghubung dua wilayah pesisir Aceh.

📚 Artikel Terkait

HCI dan 6 Ranah Pengembangan di TK

Korupsi di Sektor Kesehatan: Dari Nasionalisme STOVIA hingga Penjara KPK

Ketahanan Sistem Kesehatan dan Respons Bencana

Ketika Laut dan Buku Sama Asingnya

Namun rakyat Aceh menyambutnya dengan skeptis sebagai janji yang tak akan pernah jadi kenyataan. Bukan karena rakyat tak menginginkan kemajuan, melainkan karena terlalu sering mereka mendengar janji serupa tanpa hasil. Gunung Geureutee seakan menjadi saksi abadi dari impian yang tak pernah menembus kenyataan.

Antara Tekad dan Retorika

Jika dibandingkan dengan kisah Nyi Eroh, kontrasnya mencolok. Di Tasikmalaya, seorang perempuan miskin membelah bukit dengan tangan dan keyakinan. Di Aceh, pemerintah dengan seluruh kekuasaan, anggaran, dan teknologi modern, sudah bertahun-tahun hanya mampu membelah kata-kata di media sosial.

Nyi Eroh tak menunggu izin, tak menggelar seminar, tak menandatangani MoU, tak membentuk tim kajian lintas sektor. Ia melihat masalah nyata dan menanganinya dengan tindakan nyata. Sedangkan kita hari ini hidup di zaman di mana segalanya dimulai dengan konferensi pers dan diakhiri dengan berita di portal daring, tanpa setetes pun hasil di lapangan.

Semangat Nyi Eroh adalah semangat keikhlasan dan tanggung jawab langsung terhadap alam dan masyarakat. Ia tidak bekerja untuk proyek, tetapi untuk kehidupan. Pemerintah Aceh, dengan segala sumber daya dan mandat rakyat, justru sering terjebak dalam logika sebaliknya.

Berapa dana yang dibutuhkan Nyi Eroh dan orang sedesanya untuk membangun jalur air itu? Tak ada rekam budget maupun audit. Tapi pastilah uang untuk sekedar makan dan mungkin kopi atau teh panas, plus singkong rebus panganan rakyat bergotong royong itu tak sampai 100 juta rupiah. Berapa dana yang akan dibutuhkan untuk menembus Geureutee? 

Nova Iriansyah, mantan anggota DPR RI sekaligus mantan Gubernur Aceh pernah menyebut angka 3-4 Trilyun rupiah. 

Berapa panjang saluran air Nyi Eroh? 5 kilometer. Berapa panjang terowongan yang harus dibangun menembus Geureutee? Hanya 1,8 kilometer sahaja…

Wow? Ya…Wow…

Sangat wow malah…

Gunung yang Tak Pernah Tertembus

Gunung Geureutee memang indah dan megah, menjadi gerbang alami antara pantai barat dan Aceh Besar. Tapi gunung itu juga menjadi simbol dari sesuatu yang lebih dalam: ketidakkonsistenan visi pembangunan. Dari satu periode ke periode berikutnya, rencana berubah, nama proyek berganti, pejabat datang dan pergi. Yang bertahan hanyalah janji.

Padahal, jika semangat Nyi Eroh benar-benar dihidupkan dalam kepemimpinan publik, Gunung Geureutee sudah lama bisa ditembus, bukan hanya oleh alat berat, tetapi oleh kemauan politik dan moral yang kuat. Nyi Eroh membelah bukit dengan iman, sementara banyak pejabat hari ini terjebak pada pembenaran administratif yang justru memperlambat kerja.

Dari Nyi Eroh untuk Aceh

Esensi perjuangan Nyi Eroh adalah moral kerja keras yang berpihak pada rakyat dan lingkungan. Ia mengajarkan bahwa teknologi tak ada gunanya tanpa kejujuran, dan anggaran besar tak berarti apa-apa tanpa ketulusan. Ia bekerja bukan karena diperintah, tapi karena cinta pada tanahnya.

Aceh membutuhkan semangat yang sama: keberanian untuk memulai dari tindakan kecil, nyata, dan berkesinambungan. Terowongan Geureutee seharusnya bukan sekadar proyek kebanggaan, tetapi wujud konektivitas yang membawa manfaat ekonomi bagi rakyat pesisir. Namun semua itu baru berarti jika pemerintah benar-benar bekerja dengan semangat seperti Nyi Eroh, bukan untuk dikenang, tapi untuk menyejahterakan.

Karena sejatinya, membangun Aceh bukan soal menembus gunung, melainkan menembus kebuntuan niat dan kesungguhan. Dan di titik itulah, seorang perempuan tua dari Tasikmalaya telah lama memberi kita teladan yang tak lekang oleh waktu.

*** Bionarasi ***

Afridal Darmi, SH, LLM. Seorang advokat profesional dan penulis amatir. Mantan Direktur LBH Banda Aceh dan Ketua Komisi Kebenaran dan Rekonsiliasi (KKR) Aceh. Pernah menjejakkan kaki di berbagai sudut Bumi di negeri-negeri yang jauh di empat benua dalam menjalankan misinya sebagai Human Right Defender. Tapi selalu mendapati dirinya merindu Aceh, tempat perahu hatinya tertambat dan membuang sauh, tempat ketiga anak dan istrinya bermukim. Menyukai kopi dan bacaan. Segelas seduhan kopi Aceh dan sebuah buku, serta pojok yang tenang untuk membaca, hanya itu yang diperlukan untuk membuatnya bahagia. Afridal berkediaman di Aceh Besar. Alamat email: afridaldarmi@gmail.com)

🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini

Bencana dan Perubahan Persepsi Masyarakat Pascabencana
Bencana dan Perubahan Persepsi Masyarakat Pascabencana
12 Jan 2026 • 155x dibaca (7 hari)
Sajadah yang Tertinggal di Seberang Lautan
Sajadah yang Tertinggal di Seberang Lautan
21 Jan 2026 • 140x dibaca (7 hari)
Lomba Menulis Ulang Tahun Potret
Lomba Menulis Ulang Tahun Potret
16 Jan 2026 • 128x dibaca (7 hari)
Belajar di Saat Dunia Berguncang
Belajar di Saat Dunia Berguncang
9 Jan 2026 • 98x dibaca (7 hari)
Pengaruh Internet dan Gadgets Bagi Masyarakat Kita
Pengaruh Internet dan Gadgets Bagi Masyarakat Kita
12 Mar 2018 • 92x dibaca (7 hari)
📝
Tanggung Jawab Konten
Seluruh isi dan opini dalam artikel ini merupakan tanggung jawab penulis. Redaksi bertugas menyunting tulisan tanpa mengubah subtansi dan maksud yang ingin disampaikan.
Share5SendShareScanShare
Afridal Darmi

Afridal Darmi

Afridal Darmi, SH, LLM. Seorang advokat profesional dan penulis amatir. Pernah menjejakkan kaki di berbagai sudut Bumi di negeri-negeri yang jauh di empat benua dalam menjalankan misinya sebagai Human Right Defender. Tapi selalu mendapati dirinya merindu Aceh, tempat perahu hatinya tertambat dan membuang sauh, tempat ketiga anak dan istrinya bermukim. Menyukai kopi dan bacaan. Segelas seduhan kopi Aceh dan sebuah buku, serta pojok yang tenang untuk membaca, hanya itu yang diperlukan untuk membuatnya bahagia. Afridal Darmi berkediaman di Aceh Besar. Alamat email: afridaldarmi@gmail.com

Please login to join discussion
#Gerakan Menulis

Ulang Tahun POTRET dalam Sepi dan Senyap: 23 Tahun Menyalakan Api Literasi dari Pinggiran

Oleh Tabrani YunisJanuary 18, 2026
#Sumatera Utara

Kala Belantara Bicara

Oleh Tabrani YunisDecember 23, 2025
Puisi Bencana

Kampung- Kampung Menelan Maut

Oleh Tabrani YunisNovember 28, 2025
Artikel

Menulis Dengan Jujur

Oleh Tabrani YunisSeptember 9, 2025
#Gerakan Menulis

Tak Sempat Menulis

Oleh Tabrani YunisJuly 12, 2025

Populer

  • Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    167 shares
    Share 67 Tweet 42
  • Inilah Situs Menulis Artikel dibayar

    159 shares
    Share 64 Tweet 40
  • Peran Coaching Kepala Sekolah dalam Meningkatkan Kualitas Pendidikan

    146 shares
    Share 58 Tweet 37
  • Korupsi Sebagai Jalur Karier di Konoha?

    58 shares
    Share 23 Tweet 15
  • Lomba Menulis Agustus 2025

    52 shares
    Share 21 Tweet 13

HABA MANGAT

Haba Mangat

Lomba Menulis Ulang Tahun Potret

Oleh Redaksi
January 16, 2026
165
Haba Mangat

Tema Lomba Menulis Edisi Desember 2025

Oleh Redaksi
December 5, 2025
90
Haba Mangat

Tema Lomba Menulis November 2025

Oleh Redaksi
November 10, 2025
95
Postingan Selanjutnya

Dari Istana ke Sel: Ironi Kekuasaan dan Pelajaran dari Sarkozy

  • Kirim Tulisan
  • Program 1000 Sepeda dan Kursi roda
  • Redaksi
  • Disclaimer
  • Tentang Kami

© 2025 potretonline.com

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms bellow to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan

© 2025 potretonline.com

-
00:00
00:00

Queue

Update Required Flash plugin
-
00:00
00:00