POTRET Online
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan
No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan
No Result
View All Result
POTRET Online
No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan

Tak Ada Tuhan Dalam Pidato di PBB

RedaksiOleh Redaksi
September 25, 2025
🔊

Dengarkan Artikel

Oleh ReO Fiksiwan

Kadang, tidak menyebut Tuhan adalah cara paling halus untuk menghormati semua nama-Nya.” — Christopher Morrissey dalam Plato in Indonesia(Terjemahan 2022)

Di tengah panggung diplomasi global yang sering kali dibanjiri jargon teknokratis dan retorika steril, pidato Presiden Prabowo Subianto di Perserikatan Bangsa-Bangsa muncul sebagai anomali yang menggugah. 

Ia tidak menyebut Tuhan, tapi justru menghadirkan semangat ketuhanan dalam bentuk yang paling universal: penghormatan terhadap martabat manusia. 

Dalam konteks pembacaan semiotik terhadap pidato Presiden Prabowo yang, menurut Morrissey, mengandung spiritualitas politik tanpa harus menyebutkan simbol religius secara eksplisit.

Ia menafsirkan bahwa dalam masyarakat majemuk, keheningan teologis bisa menjadi bentuk tertinggi dari adab politik, terutama dalam forum internasional seperti PBB.

Dalam era digital yang sarat progresfobia dan pasca-kebenaran abad ke-21, pidato itu bukan sekadar pernyataan politik, melainkan sebuah semiotik peradaban yang menolak tunduk pada algoritma kebisingan.

Samuel Huntington pernah menyatakan dalam The Clash of Civilizations and the Remaking of World Order(1996) bahwa benturan peradaban akan menjadi konflik utama di dunia pasca-Perang Dingin. Tapi Prabowo, dalam pidatonya, tidak memilih benturan. Ia memilih jembatan. 

Ia tidak bicara tentang superioritas budaya, tapi tentang kesetaraan martabat. Ia tidak menyerukan perang ideologi, tapi menyuarakan perdamaian yang berakar pada adab politik. 

Di saat banyak pemimpin dunia sibuk membela kepentingan nasional dengan nada eksklusif, Prabowo justru menyisipkan kalimat yang menyentuh: “Kita semua adalah bagian dari keluarga besar umat manusia.” 

Sebuah kalimat yang sederhana, tapi mengandung resonansi humanisme yang dalam.

Yuval Noah Harari dalam 21 Lessons for the 21st Century (2018) mengingatkan bahwa tantangan terbesar umat manusia bukan lagi perang nuklir, melainkan kehilangan makna dan kebenaran dalam era informasi. 

Pidato Prabowo, dalam konteks ini, menjadi upaya untuk mengembalikan makna politik internasional sebagai ruang etis, bukan sekadar arena kalkulasi.

📚 Artikel Terkait

Imamku Kakak Angkatku

Ketika Keluarga Mewariskan Profesi Pengemis Kepada Anak

Hukum Internasional di Hadapan Penderitaan: Membaca Aceh dan Konflik Global Lainnya

Puisi Menyambut Bulan Ramadhan

Ia tidak bicara tentang Tuhan, tapi ia bicara tentang nilai yang seharusnya menjadi cerminan dari spiritualitas politik: keadilan, solidaritas, dan keberanian untuk berbeda tanpa saling meniadakan.

Steven Pinker dalam Enlightenment Now (2018) menulis bahwa kemajuan manusia bergantung pada akal, ilmu, dan humanisme. 

Tapi di era ketika politik domestik justru dirundung oleh anti-kemanusiaan yang diwarisi dari rezim sebelumnya, pidato Prabowo menjadi paradoks yang menyentuh. 

Di luar negeri, ia bicara tentang perdamaian, tapi di dalam negeri, rakyat masih bergulat dengan ketimpangan, kekerasan struktural, dan warisan oligarki yang belum dibongkar. 

Dengan demikian, pidato itu bukan hanya harus diapresiasi, tapi juga diuji: apakah semiotik humanisme itu akan diterjemahkan ke dalam kebijakan yang menyentuh kehidupan rakyat, atau hanya menjadi etalase diplomatik yang indah tapi hampa?

John Green dalam The Anthropocene Reviewed (2021) menulis tentang bagaimana manusia menilai dunia di tenhjagah kerusakan yang mereka ciptakan sendiri. 

Pidato Prabowo, dalam lanskap ini, adalah upaya untuk menilai ulang politik sebagai ruang harapan, bukan sekadar instrumen kekuasaan. Ia tidak menyebut Tuhan, tapi ia menyebut kemanusiaan. 

Dan mungkin, di zaman ketika nama Tuhan sering kali dipakai untuk membenarkan kekerasan, ketidakhadiran Tuhan dalam pidato itu justru menjadi bentuk tertinggi dari spiritualitas politik.

Di tengah dunia yang semakin terfragmentasi oleh identitas, algoritma, dan ketakutan, pidato Prabowo di PBB adalah pengingat bahwa politik internasional masih bisa menjadi ruang untuk menyuarakan adab, bukan sekadar kepentingan. Tapi adab itu harus diuji di dalam negeri.    

Karena humanisme universal tidak akan berarti jika rakyat sendiri masih diperlakukan sebagai angka, bukan manusia. 

Maka, tak ada Tuhan dalam pidato itu bukanlah kekurangan, tapi justru keberanian untuk menyuarakan nilai-nilai ketuhanan tanpa menyebut nama-Nya.  

Sebuah langkah kecil menuju politik yang lebih dewasa, lebih reflektif, dan lebih manusiawi. Jika ia konsisten. Jika…

#coversongs: „We Are the Champions” adalah lagu legendaris dari band rock asal Inggris, Queen, yang dirilis pada 7 Oktober 1977 sebagai bagian dari album News of the World. 

Lagu ini ditulis oleh vokalis utama Queen, Freddie Mercury, dan sejak saat itu menjadi anthem kemenangan yang ikonik di seluruh dunia.

“We Are the Champions” bukan sekadar lagu kemenangan. Di balik chorus yang megah dan melodi yang menggugah, lagu ini menyimpan pesan tentang ketekunan, penderitaan, dan pembuktian diri. 

Mercury menulisnya sebagai refleksi atas perjuangan panjang—baik secara pribadi maupun kolektif—untuk mencapai pengakuan dan keberhasilan.

🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini

Bencana dan Perubahan Persepsi Masyarakat Pascabencana
Bencana dan Perubahan Persepsi Masyarakat Pascabencana
12 Jan 2026 • 155x dibaca (7 hari)
Sajadah yang Tertinggal di Seberang Lautan
Sajadah yang Tertinggal di Seberang Lautan
21 Jan 2026 • 137x dibaca (7 hari)
Lomba Menulis Ulang Tahun Potret
Lomba Menulis Ulang Tahun Potret
16 Jan 2026 • 125x dibaca (7 hari)
Belajar di Saat Dunia Berguncang
Belajar di Saat Dunia Berguncang
9 Jan 2026 • 97x dibaca (7 hari)
Pengaruh Internet dan Gadgets Bagi Masyarakat Kita
Pengaruh Internet dan Gadgets Bagi Masyarakat Kita
12 Mar 2018 • 91x dibaca (7 hari)
📝
Tanggung Jawab Konten
Seluruh isi dan opini dalam artikel ini merupakan tanggung jawab penulis. Redaksi bertugas menyunting tulisan tanpa mengubah subtansi dan maksud yang ingin disampaikan.
Share6SendShareScanShare
Redaksi

Redaksi

Majalah Perempuan Aceh

Please login to join discussion
#Gerakan Menulis

Ulang Tahun POTRET dalam Sepi dan Senyap: 23 Tahun Menyalakan Api Literasi dari Pinggiran

Oleh Tabrani YunisJanuary 18, 2026
#Sumatera Utara

Kala Belantara Bicara

Oleh Tabrani YunisDecember 23, 2025
Puisi Bencana

Kampung- Kampung Menelan Maut

Oleh Tabrani YunisNovember 28, 2025
Artikel

Menulis Dengan Jujur

Oleh Tabrani YunisSeptember 9, 2025
#Gerakan Menulis

Tak Sempat Menulis

Oleh Tabrani YunisJuly 12, 2025

Populer

  • Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    167 shares
    Share 67 Tweet 42
  • Inilah Situs Menulis Artikel dibayar

    159 shares
    Share 64 Tweet 40
  • Peran Coaching Kepala Sekolah dalam Meningkatkan Kualitas Pendidikan

    146 shares
    Share 58 Tweet 37
  • Korupsi Sebagai Jalur Karier di Konoha?

    58 shares
    Share 23 Tweet 15
  • Lomba Menulis Agustus 2025

    52 shares
    Share 21 Tweet 13

HABA MANGAT

Haba Mangat

Lomba Menulis Ulang Tahun Potret

Oleh Redaksi
January 16, 2026
164
Haba Mangat

Tema Lomba Menulis Edisi Desember 2025

Oleh Redaksi
December 5, 2025
90
Haba Mangat

Tema Lomba Menulis November 2025

Oleh Redaksi
November 10, 2025
95
Postingan Selanjutnya

Menciptakan Visual Produk Hiper-Realis dengan Prompt AI

  • Kirim Tulisan
  • Program 1000 Sepeda dan Kursi roda
  • Redaksi
  • Disclaimer
  • Tentang Kami

© 2025 potretonline.com

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms bellow to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan

© 2025 potretonline.com

-
00:00
00:00

Queue

Update Required Flash plugin
-
00:00
00:00