POTRET Online
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan
No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan
No Result
View All Result
POTRET Online
No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan

Fariz RM: Nada dalam Gelap, Cahaya dari Cilacap

RedaksiOleh Redaksi
September 18, 2025
🔊

Dengarkan Artikel

Oleh Gunawan Trihantoro


Sekretaris Kreator Era AI Jawa Tengah dan Penulis Satupena

Di sebuah rumah sederhana di Cilacap, hidup seorang anak istimewa bernama Fariz Ramdhan Mayrano. Lahir pada 9 Juni 2017, Fariz datang ke dunia lebih cepat dari waktunya. Pada usia kehamilan 31 minggu, ia terpaksa dilahirkan karena sang ibu mengalami pendarahan akibat plasenta previa.

Fariz lahir dengan berat hanya 1,6 kilogram dan harus bertahan dalam inkubator selama 20 hari. Saat keluar dari rumah sakit, bobotnya bahkan turun menjadi 1,1 kilogram. Sejak awal, hidup Fariz sudah ditempa ujian yang berat. Tak hanya tubuh yang rapuh, tetapi juga matanya yang akhirnya dinyatakan tidak bisa melihat.

Orang tuanya, Fandi Mayrano yang bekerja sebagai pelaut, dan Rizcky Yuni Astuti, sempat terpukul. Pemeriksaan demi pemeriksaan menyatakan Fariz mengalami Retinopathy of Prematurity (ROP) stadium lanjut. Harapan untuk memulihkan penglihatannya pun hilang. Setelah melewati berbagai upaya terapi dan pengobatan, keluarga memilih ikhlas dan menyimpan energi untuk masa depan Fariz.

Dalam kegelapan itu, Fariz menemukan cahayanya sendiri: musik. Sejak usia tiga tahun, ia sudah menunjukkan ketertarikan pada nada. Sang ayah pernah memberinya drum mainan, sementara ibunya mengenalkan chord dasar pada keyboard peninggalan sang kakek. Sejak itu, musik menjadi dunia Fariz.

Dengan hanya mendengar, ia mampu menebak letak chord. Pendengarannya tajam, melampaui orang-orang di sekitarnya. Jika yang lain harus mencari kunci lagu lewat internet, Fariz cukup mendengarkan sekali untuk tahu pola chord yang digunakan. “Dia benar-benar belajar secara otodidak,” ujar sang ibu.

Di sekolah, kisah yang sama terulang. Bapak Lucky Febrianofa, salah satu gurunya di SLB Negeri Cilacap, mengenang pertemuan pertama dengan penuh kesan. “Fariz itu anak yang kritis, selalu punya pertanyaan dalam pembelajaran,” ungkapnya. Dari awal, Fariz menunjukkan rasa ingin tahu yang besar terhadap musik.

📚 Artikel Terkait

Kemampuan Memahami Bacaan – Ulasan

Sultan Hamid  II dan Soeharto Sama-sama Belum Diakui Pahlawan Nasional

Maksud Hati

SESUDAH LEBARAN?

Bahkan sebelum resmi bergabung dengan sekolah, Fariz langsung mencari ruang musik. Usai pelajaran, ia berkata polos, “Boleh tidak Pak, saya mencoba keyboardnya?” Saat itulah para guru sadar bahwa Fariz membawa bakat istimewa. Sejak itu, ruang musik menjadi tempat di mana ia bersinar.

Teman-teman sekelasnya merespons dengan penuh dukungan. Dalam pelajaran musik, Fariz sering mengiringi mereka bernyanyi. Kehadirannya bukan hanya memberi harmoni, tetapi juga menumbuhkan semangat kebersamaan. “Fariz istimewa di mata guru dan teman-teman karena kepekaan musiknya di atas rata-rata,” tutur gurunya.

Namun, perjalanan tidak selalu mulus. Fariz sempat mengalami panic attack sebelum tampil di depan umum. Ia batuk, bahkan muntah, karena gugup dan takut salah. Butuh kesabaran panjang dari orang tua maupun guru untuk menumbuhkan rasa percaya dirinya. Perlahan, Fariz belajar menghadapi panggung.

Kini ia sudah beberapa kali tampil di acara sekolah maupun di luar sekolah. Salah satunya saat menjadi pengisi acara “GADA BERCAHAYA” di pendopo Kabupaten Cilacap di depan Bupati. Setiap penampilannya menjadi bukti bahwa keterbatasan bukan penghalang untuk bersinar.

Di rumah, orang tua terus mendukung dengan menyediakan berbagai alat musik, dari digital piano, gitar listrik, hingga perangkat rekaman. Fariz bahkan memiliki akun media sosial pribadi untuk membagikan karyanya. Keluarga ingin dunia melihat keajaiban dari jari-jarinya.

Yang menarik, Fariz tidak pernah menyesali keterbatasannya. Ketika ditanya apakah ia sedih, ia menjawab, “Fariz gak sedih, Fariz bersyukur. Pasti ada kelebihan yang lain.” Jawaban itu justru membuat orang tuanya belajar ikhlas dan kuat. “Anak kami melihat dengan hati, bukan dengan mata,” kata ibunya.

Fariz punya cita-cita sederhana tapi besar: menjadi musisi terkenal dan masuk televisi. Harapan orang tua dan guru sejalan, agar Fariz tumbuh menjadi pribadi mandiri, rendah hati, dan selalu dekat dengan Allah. Mereka ingin ia bangga pada dirinya sendiri tanpa kehilangan arah.

Hari-hari Fariz tidak lepas dari musik. “Musik itu jiwanya Fariz,” kata ibunya. Benar saja, setiap denting yang ia mainkan terdengar bukan sekadar nada, tetapi juga doa, semangat, dan cahaya. Cahaya yang lahir dari kegelapan, namun mampu menyinari banyak orang.

Fariz Ramdhan Mayrano adalah bukti bahwa mata bisa buta, tapi hati tidak. Dari Cilacap, ia mengajarkan kita bagaimana musik bisa menjadi bahasa jiwa dan keterbatasan bisa berubah menjadi kekuatan. (*)

🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini

Bencana dan Perubahan Persepsi Masyarakat Pascabencana
Bencana dan Perubahan Persepsi Masyarakat Pascabencana
12 Jan 2026 • 155x dibaca (7 hari)
Sajadah yang Tertinggal di Seberang Lautan
Sajadah yang Tertinggal di Seberang Lautan
21 Jan 2026 • 137x dibaca (7 hari)
Lomba Menulis Ulang Tahun Potret
Lomba Menulis Ulang Tahun Potret
16 Jan 2026 • 125x dibaca (7 hari)
Belajar di Saat Dunia Berguncang
Belajar di Saat Dunia Berguncang
9 Jan 2026 • 97x dibaca (7 hari)
Pengaruh Internet dan Gadgets Bagi Masyarakat Kita
Pengaruh Internet dan Gadgets Bagi Masyarakat Kita
12 Mar 2018 • 91x dibaca (7 hari)
📝
Tanggung Jawab Konten
Seluruh isi dan opini dalam artikel ini merupakan tanggung jawab penulis. Redaksi bertugas menyunting tulisan tanpa mengubah subtansi dan maksud yang ingin disampaikan.
Share2SendShareScanShare
Redaksi

Redaksi

Majalah Perempuan Aceh

Please login to join discussion
#Gerakan Menulis

Ulang Tahun POTRET dalam Sepi dan Senyap: 23 Tahun Menyalakan Api Literasi dari Pinggiran

Oleh Tabrani YunisJanuary 18, 2026
#Sumatera Utara

Kala Belantara Bicara

Oleh Tabrani YunisDecember 23, 2025
Puisi Bencana

Kampung- Kampung Menelan Maut

Oleh Tabrani YunisNovember 28, 2025
Artikel

Menulis Dengan Jujur

Oleh Tabrani YunisSeptember 9, 2025
#Gerakan Menulis

Tak Sempat Menulis

Oleh Tabrani YunisJuly 12, 2025

Populer

  • Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    167 shares
    Share 67 Tweet 42
  • Inilah Situs Menulis Artikel dibayar

    159 shares
    Share 64 Tweet 40
  • Peran Coaching Kepala Sekolah dalam Meningkatkan Kualitas Pendidikan

    146 shares
    Share 58 Tweet 37
  • Korupsi Sebagai Jalur Karier di Konoha?

    58 shares
    Share 23 Tweet 15
  • Lomba Menulis Agustus 2025

    52 shares
    Share 21 Tweet 13

HABA MANGAT

Haba Mangat

Lomba Menulis Ulang Tahun Potret

Oleh Redaksi
January 16, 2026
164
Haba Mangat

Tema Lomba Menulis Edisi Desember 2025

Oleh Redaksi
December 5, 2025
90
Haba Mangat

Tema Lomba Menulis November 2025

Oleh Redaksi
November 10, 2025
95
Postingan Selanjutnya

151 SD Gurunya Mogok Ngajar Gara-gara TPP Dipotong

  • Kirim Tulisan
  • Program 1000 Sepeda dan Kursi roda
  • Redaksi
  • Disclaimer
  • Tentang Kami

© 2025 potretonline.com

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms bellow to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan

© 2025 potretonline.com

-
00:00
00:00

Queue

Update Required Flash plugin
-
00:00
00:00