POTRET Online
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan
No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan
No Result
View All Result
POTRET Online
No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan

Kontroversi Pilihan Sejarah: Mengapa Aceh Memilih Bergabung dengan Indonesia?

Dayan AbdurrahmanOleh Dayan Abdurrahman
August 19, 2025
Kuliah Tanpa Beban: Kritik Terhadap Klaim Kuliah yang Terlalu Mudah
🔊

Dengarkan Artikel

Oleh: Dayan Abdurrahman –


Awal Sebuah Pilihan Besar

Sejarah bangsa selalu ditandai oleh titik-titik keputusan besar. Bagi Aceh, salah satu titik paling menentukan adalah keputusan bergabung dengan Republik Indonesia pada tahun-tahun awal kemerdekaan. Langkah itu diambil ketika dunia masih bergetar oleh Perang Dunia II dan Nusantara baru saja mengumandangkan kemerdekaan pada 17 Agustus 1945. Saat itu, ancaman kolonial Belanda yang ingin kembali bercokol begitu nyata. Dalam kondisi demikian, para pemimpin Aceh melihat persatuan sebagai senjata strategis, dan Republik Indonesia yang baru lahir sebagai payung bersama.

Aceh tidak datang ke meja sejarah dengan tangan kosong. Kesultanan Aceh sebelumnya adalah entitas politik yang berdaulat, memiliki pengaruh internasional, dan membangun hubungan diplomatik dengan berbagai kerajaan Islam. Ekonominya kuat dari hasil bumi, perikanan, dan jalur perdagangan strategis di Selat Malaka. Militernya tangguh, rakyatnya terlatih bertempur, dan modal ideologisnya tertanam dalam nilai-nilai Islam yang menjadi identitas kolektif. Semua modal itu membuat Aceh sebenarnya mampu berdiri sendiri. Namun, realitas geopolitik saat itu memaksa pertimbangan ulang.


Niat Baik dan Solidaritas Kebangsaan

Keputusan bergabung dengan Indonesia tidak lahir dari paksaan langsung, tetapi dari keyakinan bahwa kemerdekaan sejati memerlukan kebersamaan. Para tokoh Aceh melihat republik sebagai wadah persatuan seluruh wilayah yang ingin bebas dari penjajahan. Solidaritas ini juga bersifat ideologis—perlawanan terhadap kolonialisme dianggap sebagai jihad fi sabilillah, di mana persatuan seluruh umat menjadi kunci kemenangan.

Janji yang ditawarkan pusat waktu itu terasa meyakinkan. Aceh akan tetap memiliki otonomi luas, berhak mengatur diri sesuai syariat Islam, dan mempertahankan adat istiadat yang sudah berurat-berakar. Banyak tokoh percaya bahwa setelah kemerdekaan benar-benar kokoh, Aceh akan menjadi daerah istimewa yang dihormati, bukan hanya secara administratif, tetapi juga secara moral dan politik.


Retaknya Janji dan Awal Kekecewaan

Sejarah mencatat bahwa harapan itu mulai memudar seiring waktu. Janji otonomi yang begitu kuat di awal nyaris tenggelam dalam arus sentralisasi kebijakan. Pemerintah pusat cenderung mengatur dari Jakarta tanpa mempertimbangkan perbedaan kultural dan historis Aceh. Bahkan, dalam beberapa kebijakan, pusat seolah memandang Aceh hanya sebagai salah satu provinsi biasa, tanpa memori kontribusi besar yang pernah diberikan.

Retaknya janji itu memunculkan rasa kecewa yang mendalam. Kepemimpinan lokal yang sebelumnya vokal di tingkat nasional mulai melemah. Figur-figur berkarisma digantikan oleh pejabat yang lebih patuh pada instruksi pusat ketimbang memperjuangkan aspirasi rakyat Aceh. Kesenjangan komunikasi semakin melebar, dan perasaan dipinggirkan semakin kuat.


Benturan Identitas

Bagi Aceh, Islam bukan sekadar agama, melainkan fondasi seluruh sistem sosial, politik, dan hukum. Tradisi adat bak po teumeureuhom, hukom bak Syiah Kuala telah menjadi panduan selama ratusan tahun—adat mengacu pada kebijaksanaan pemimpin adat, hukum mengacu pada syariat Islam. Ketika kebijakan nasional tidak selaras dengan kerangka ini, benturan identitas pun tak terelakkan.

📚 Artikel Terkait

Dua Kuntum Puisi Ahmad Noh

Dua Puisi Ace Sumanta di Hari Ibu

Pendataan Keluarga Tahun 2021 Diperpanjang Hingga 21 Juni

Amanah yang Berat

Masalahnya bukan hanya pada perbedaan nilai, tetapi pada persepsi penghormatan. Masyarakat Aceh merasa pusat kurang memahami bahwa marwah Aceh adalah marwah Islam. Mengubah, mengabaikan, atau melemahkan nilai ini dianggap sama dengan mengikis jati diri Aceh. Dari sinilah muncul resistensi yang perlahan berubah menjadi perlawanan terbuka di era berikutnya.


Pelajaran dari Kepemimpinan

Sejarah ini juga mengajarkan bahwa kepemimpinan harus memiliki pandangan jauh ke depan. Para pemimpin Aceh masa itu tulus dalam niat, tetapi mungkin kurang menyiapkan strategi untuk memastikan bahwa janji-janji awal terikat secara hukum dan politik. Mereka mengira bahwa komitmen moral dan ikatan sejarah akan cukup untuk menjaga keistimewaan Aceh dalam republik.

Namun, politik modern jarang bekerja hanya dengan moral. Tanpa perjanjian yang mengikat kuat, janji dapat tergeser oleh kepentingan baru. Di sinilah letak pelajaran penting: keputusan besar harus disertai mekanisme pengaman, agar tidak mudah dilupakan atau diingkari oleh generasi berikutnya.


Refleksi atas Pahit dan Syukur

Menggali pahitnya sejarah bukan berarti meratapi atau menyesali pilihan masa lalu. Justru, di sinilah ruang untuk bersyukur. Tanpa keputusan bergabung, mungkin Aceh akan menghadapi isolasi internasional, atau bahkan menjadi medan perebutan kekuatan asing. Dengan menjadi bagian dari republik, Aceh punya panggung nasional untuk menyuarakan aspirasinya, meski sering diabaikan.

Syukur ini harus diiringi kesadaran. Kita tidak bisa mengulang pola lama: menaruh harapan besar tanpa membangun kekuatan untuk memastikan harapan itu terwujud. Generasi sekarang harus belajar menggabungkan idealisme dengan strategi, agar cita-cita rakyat tidak lagi kandas di tengah jalan.


Belajar dari Bangsa Lain

Banyak bangsa pernah mengalami pahitnya penaklukan dan kehilangan kedaulatan, tetapi mampu bangkit karena kepemimpinan visioner. Jepang, yang hancur lebur setelah Perang Dunia II, bangkit menjadi kekuatan ekonomi dunia dalam hitungan dekade berkat kepemimpinan yang memegang teguh visi nasional. Singapura, yang awalnya terpaksa berpisah dari Malaysia, menjadikan keterpaksaan itu sebagai peluang emas untuk membangun negara kecil dengan reputasi global.

Pelajaran dari mereka jelas: kepemimpinan yang solid, visi yang konsisten, dan dedikasi tanpa kompromi pada prinsip adalah kunci. Aceh bisa belajar dari model ini, menyesuaikannya dengan nilai Islam dan kearifan lokal, untuk memastikan sejarah tidak hanya menjadi arsip, tetapi menjadi panduan pembangunan masa depan.


Jangan Terulang

Sejarah adalah guru yang keras. Ia akan mengulang pelajaran sampai kita benar-benar memahaminya. Aceh harus memastikan bahwa keputusan-keputusan besar di masa depan tidak diambil hanya karena dorongan emosi atau desakan situasi, tetapi melalui pertimbangan matang yang mengikat secara hukum, politik, dan moral.

Generasi Aceh hari ini memikul tugas untuk memperbaiki warisan yang ada: menghidupkan kembali marwah, memelihara identitas, dan memperkuat posisi tawar di panggung nasional dan internasional. Ini bukan sekadar soal politik, tetapi soal keberlanjutan peradaban.


Penutup: Menggugah Kesadaran Kolektif

Kisah bergabungnya Aceh ke Republik Indonesia adalah kisah tentang niat baik, harapan besar, dan pelajaran pahit. Ia mengajarkan kita untuk bersyukur atas langkah yang diambil, sekaligus waspada agar tidak terjebak dalam pola yang sama. Masa lalu adalah cermin—kita bisa memilih untuk hanya melihat luka, atau menjadikannya peta menuju masa depan yang lebih bermartabat.

Jika generasi ini mampu membaca pesan sejarah dengan benar, menjaga persatuan sambil mempertahankan identitas, dan memimpin dengan visi yang melampaui masa jabatan, maka pahitnya masa lalu akan menjadi energi kebangkitan. Dan ketika itu terjadi, Aceh tidak hanya akan dikenal sebagai bagian dari republik, tetapi sebagai jiwa yang menghidupkan republik itu dengan kekuatan, kearifan, dan marwahnya yang abadi.

🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini

Bencana dan Perubahan Persepsi Masyarakat Pascabencana
Bencana dan Perubahan Persepsi Masyarakat Pascabencana
12 Jan 2026 • 155x dibaca (7 hari)
Sajadah yang Tertinggal di Seberang Lautan
Sajadah yang Tertinggal di Seberang Lautan
21 Jan 2026 • 137x dibaca (7 hari)
Lomba Menulis Ulang Tahun Potret
Lomba Menulis Ulang Tahun Potret
16 Jan 2026 • 125x dibaca (7 hari)
Belajar di Saat Dunia Berguncang
Belajar di Saat Dunia Berguncang
9 Jan 2026 • 97x dibaca (7 hari)
Pengaruh Internet dan Gadgets Bagi Masyarakat Kita
Pengaruh Internet dan Gadgets Bagi Masyarakat Kita
12 Mar 2018 • 91x dibaca (7 hari)
📝
Tanggung Jawab Konten
Seluruh isi dan opini dalam artikel ini merupakan tanggung jawab penulis. Redaksi bertugas menyunting tulisan tanpa mengubah subtansi dan maksud yang ingin disampaikan.
Share9SendShareScanShare
Dayan Abdurrahman

Dayan Abdurrahman

Bio narasi Saya adalah lulusan pendidikan Bahasa Inggris dengan pengalaman sebagai pendidik, penulis akademik, dan pengembang konten literasi. Saya menyelesaikan studi magister di salah satu universitas ternama di Australia, dan aktif menulis di bidang filsafat pendidikan Islam, pengembangan SDM, serta studi sosial. Saya juga terlibat dalam riset dan penulisan terkait Skill Development Framework dari Australia. Berpengalaman sebagai dosen dan pelatih pendidik, saya memiliki keahlian dalam penulisan ilmiah, editing, serta pendampingan riset. Saat ini, saya terus mengembangkan karya dan membangun jejaring profesional lintas bidang, generasi, serta komunitas akademik global.

Please login to join discussion
#Gerakan Menulis

Ulang Tahun POTRET dalam Sepi dan Senyap: 23 Tahun Menyalakan Api Literasi dari Pinggiran

Oleh Tabrani YunisJanuary 18, 2026
#Sumatera Utara

Kala Belantara Bicara

Oleh Tabrani YunisDecember 23, 2025
Puisi Bencana

Kampung- Kampung Menelan Maut

Oleh Tabrani YunisNovember 28, 2025
Artikel

Menulis Dengan Jujur

Oleh Tabrani YunisSeptember 9, 2025
#Gerakan Menulis

Tak Sempat Menulis

Oleh Tabrani YunisJuly 12, 2025

Populer

  • Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    167 shares
    Share 67 Tweet 42
  • Inilah Situs Menulis Artikel dibayar

    159 shares
    Share 64 Tweet 40
  • Peran Coaching Kepala Sekolah dalam Meningkatkan Kualitas Pendidikan

    146 shares
    Share 58 Tweet 37
  • Korupsi Sebagai Jalur Karier di Konoha?

    58 shares
    Share 23 Tweet 15
  • Lomba Menulis Agustus 2025

    52 shares
    Share 21 Tweet 13

HABA MANGAT

Haba Mangat

Lomba Menulis Ulang Tahun Potret

Oleh Redaksi
January 16, 2026
164
Haba Mangat

Tema Lomba Menulis Edisi Desember 2025

Oleh Redaksi
December 5, 2025
90
Haba Mangat

Tema Lomba Menulis November 2025

Oleh Redaksi
November 10, 2025
95
Postingan Selanjutnya

Sampah Bisa Hidup?

  • Kirim Tulisan
  • Program 1000 Sepeda dan Kursi roda
  • Redaksi
  • Disclaimer
  • Tentang Kami

© 2025 potretonline.com

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms bellow to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan

© 2025 potretonline.com

-
00:00
00:00

Queue

Update Required Flash plugin
-
00:00
00:00