POTRET Online
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan
No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan
No Result
View All Result
POTRET Online
No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan

Mengurai Kekuasaan di Balik Hegemoni Makna

Awalin Ridha, S. PdOleh Awalin Ridha, S. Pd
August 13, 2025
🔊

Dengarkan Artikel

Oleh: Awalin Ridha, S.Pd

Di tengah derasnya arus informasi maupun cepatnya pembentukan opini publik, muncul pertanyaan penting, siapa sebenarnya yang mengendalikan cara kita berpikir? Lebih dari sekadar kekuasaan politik atau ekonomi, penguasaan atas interpretasi menjadi senjata utama bagi penguasa untuk mengarahkan persepsi masyarakat. Proses ini dikenal sebagai hegemoni makna, yakni strategi halus namun ampuh yang membuat pandangan kelompok dominan diterima sebagai kebenaran mutlak.

Istilah hegemoni makna sendiri berasal dari kata Yunani “hegemonia” yang berarti kepemimpinan atau dominasi. Sementara “makna” adalah arti atau pengertian suatu kata, simbol, dan gagasan. Jadi, secara sederhana, hegemoni makna berarti dominasi atas pengertian suatu kata. Pemahaman ini penting agar kita bisa melihat bagaimana sebuah “makna” bisa menjadi alat kekuasaan yang sangat efektif.

Dalam konteks sosial-politik, hegemoni makna bukan hanya soal kekuatan fisik atau politik, tetapi tentang kekuasaan untuk menentukan ‘kebenaran’ yang diterima luas oleh masyarakat. Ini berarti kelompok yang berkuasa mengendalikan bagaimana masyarakat menafsirkan sebuah konsep, ide, dan fakta tertentu. Sehingga, pandangan dominan menjadi norma yang sulit dipertanyakan.

Konsep ini sangat terkait dengan pemikiran Antonio Gramsci. Melalui karyanya Prison Notebooks, ia menegaskan bahwa kekuasaan tidak hanya dipertahankan dengan paksaan, tetapi juga melalui pengaruh budaya serta ideologi. Dengan cara ini, masyarakat ‘menerima’ pandangan penguasa sebagai hal yang wajar. Meski terlihat merdeka, sebenarnya pikiran masyarakat sudah dibelenggu oleh kerangka berpikir yang dikontrol oleh penguasa.

📚 Artikel Terkait

Potret Ketangguhan Kaum Perempuan

KEKERASAN KIAN MENINGKAT, P2TP2A PERKUAT SINERGISTAS LAYANAN

Cita cita Anak Negeri Merdeka

Sigupai Mambaco Menghidupkan Bahasa Singkil Lewat Baca Nyaring Istimewa

Dampak dari hegemoni makna pun sangat luas nan mendalam. Ketika interpretasi sudah dikuasai, ruang untuk alternatif pandangan menjadi sangat sempit karena masyarakat cenderung menerima narasi dominan tanpa kritik. Media dan institusi budaya pun berperan sebagai alat untuk menyebarkan makna yang diinginkan penguasa. Akhirnya, versi resmi kebenaran yang beredar bisa jadi hanya hasil penyaringan kepentingan tertentu, sedangkan fakta yang bertentangan diabaikan. Dengan membentuk cara pandang seperti ini, penguasa mampu menghindari perlawanan terbuka sebab rakyat ‘melawan’ dalam kerangka pikir yang sudah ditentukan.

Sejarah memperlihatkan banyak contoh hegemoni makna dari berbagai negara. Uni Soviet, misalnya, menggunakan propaganda untuk mengontrol narasi tentang kapitalisme dan komunisme, menggambarkan musuh sebagai penjahat agar rakyat patuh. Nazi Jerman mengendalikan media serta pendidikan untuk menyebarkan ideologi supremasi ras dan nasionalisme ekstrem. Di era Perang Dingin, Amerika Serikat memakai media untuk membentuk citra Uni Soviet sebagai ancaman utama dunia bebas. China juga mengontrol bahasa serta istilah dalam pendidikan termasuk media untuk menjaga narasi partai maupun mengeliminasi kritik. Sementara Korea Utara mengendalikan seluruh informasi sehingga rakyat hanya mendapat gambaran dunia yang difilter sesuai kepentingan rezim.

Praktik serupa, meski berbeda, juga terjadi di Indonesia, bahkan berlangsung secara sistematis juga berbahaya. Istilah seperti “radikal”, “anarkis”, “makar”, ” Intoleransi” atau “anti-Pancasila” sering dipakai secara politis untuk menstigmatisasi kelompok pengkritik yang sebenarnya sah dan perlu didengar. Label-label tersebut tidak hanya membungkam suara kritis, tetapi juga membangun ketakutan serta polarisasi yang memperlemah persatuan masyarakat. Media mainstream yang idealnya menjadi ruang informasi bebas malah kerap berubah menjadi corong kepentingan elit politik. Berita yang disajikan sering kali berat sebelah, meminggirkan suara oposisi begitu pula kelompok minoritas, kemudian masyarakat awam sulit memperoleh gambaran utuh tentang realitas, lalu mudah terjebak dalam narasi tunggal yang diarahkan oleh penguasa.

Dalam ranah budaya dan pendidikan, Kurikulum serta budaya populer membentuk cara masyarakat memahami sejarah sekaligus membiasakan mereka menerima nilai-nilai kebangsaan sesuai pandangan kelompok yang berkuasa.

Sayangnya, perspektif kritis terhadap peristiwa sejarah atau sistem yang ada, sering diabaikan bahkan dihapus. Hasilnya, generasi muda tumbuh dengan pandangan yang terbatas dan terdistorsi. Pada isu agama dan sosial, penggunaan istilah tertentu untuk melabeli kelompok dengan pandangan berbeda justru memecah belah masyarakat.

Oleh karena itu, kemampuan untuk mempertanyakan narasi dominan menjadi kunci utama dalam melawan dominasi makna yang sempit. Melalui upaya bersama, masyarakat dapat menjaga kebebasan intelektual, memperkuat demokrasi, dan menciptakan ruang bagi keberagaman gagasan yang sehat dan inklusif.

🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini

Bencana dan Perubahan Persepsi Masyarakat Pascabencana
Bencana dan Perubahan Persepsi Masyarakat Pascabencana
12 Jan 2026 • 155x dibaca (7 hari)
Sajadah yang Tertinggal di Seberang Lautan
Sajadah yang Tertinggal di Seberang Lautan
21 Jan 2026 • 137x dibaca (7 hari)
Lomba Menulis Ulang Tahun Potret
Lomba Menulis Ulang Tahun Potret
16 Jan 2026 • 125x dibaca (7 hari)
Belajar di Saat Dunia Berguncang
Belajar di Saat Dunia Berguncang
9 Jan 2026 • 97x dibaca (7 hari)
Pengaruh Internet dan Gadgets Bagi Masyarakat Kita
Pengaruh Internet dan Gadgets Bagi Masyarakat Kita
12 Mar 2018 • 91x dibaca (7 hari)
📝
Tanggung Jawab Konten
Seluruh isi dan opini dalam artikel ini merupakan tanggung jawab penulis. Redaksi bertugas menyunting tulisan tanpa mengubah subtansi dan maksud yang ingin disampaikan.
Share4SendShareScanShare
Awalin Ridha, S. Pd

Awalin Ridha, S. Pd

Awalin Ridha, S. Pd, pemerhati pendidikan, sosial dan politik. Penulis opini di media masa online.

Please login to join discussion
#Gerakan Menulis

Ulang Tahun POTRET dalam Sepi dan Senyap: 23 Tahun Menyalakan Api Literasi dari Pinggiran

Oleh Tabrani YunisJanuary 18, 2026
#Sumatera Utara

Kala Belantara Bicara

Oleh Tabrani YunisDecember 23, 2025
Puisi Bencana

Kampung- Kampung Menelan Maut

Oleh Tabrani YunisNovember 28, 2025
Artikel

Menulis Dengan Jujur

Oleh Tabrani YunisSeptember 9, 2025
#Gerakan Menulis

Tak Sempat Menulis

Oleh Tabrani YunisJuly 12, 2025

Populer

  • Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    167 shares
    Share 67 Tweet 42
  • Inilah Situs Menulis Artikel dibayar

    159 shares
    Share 64 Tweet 40
  • Peran Coaching Kepala Sekolah dalam Meningkatkan Kualitas Pendidikan

    146 shares
    Share 58 Tweet 37
  • Korupsi Sebagai Jalur Karier di Konoha?

    58 shares
    Share 23 Tweet 15
  • Lomba Menulis Agustus 2025

    52 shares
    Share 21 Tweet 13

HABA MANGAT

Haba Mangat

Lomba Menulis Ulang Tahun Potret

Oleh Redaksi
January 16, 2026
164
Haba Mangat

Tema Lomba Menulis Edisi Desember 2025

Oleh Redaksi
December 5, 2025
90
Haba Mangat

Tema Lomba Menulis November 2025

Oleh Redaksi
November 10, 2025
95
Postingan Selanjutnya

Saatnya Pemerintah Aceh Serius Mengurus Realisasi APBA

  • Kirim Tulisan
  • Program 1000 Sepeda dan Kursi roda
  • Redaksi
  • Disclaimer
  • Tentang Kami

© 2025 potretonline.com

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms bellow to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan

© 2025 potretonline.com

-
00:00
00:00

Queue

Update Required Flash plugin
-
00:00
00:00