Dengarkan Artikel
Oleh: Anies Septivirawan
Di suatu pagi, Agustus 2025, pada awal bulan kemerdekaan negeri kita, ada seorang teman sekolah mengirim puisi pendek via layanan WhatsApp. Puisinya begini: “Merdeka hanya kata. Merdeka hakiki, hanya ngopi”. Itu artinya sebuah ajakan, suatu undangan dari produsen kepada pelanggan rasa sahabat, namun ujungnya ada transaksi finansial kecil – kecilan alias membayar untuk secangkir kopi.
Aku membacanya tanpa membalas dan langsung menggeber gas motorku ke rumahnya yang kini disulap menjadi sebuah warung kopi.
Agustus 2025 selalu akrab dengan angin, dengan dingin. Negeri kita sudah merdeka selama 80 tahun. Merdeka dari penjajahan fisik: dari penjajah Belanda, dari penjajah Jepang.
Tapi belum juga merdeka dari segudang persoalan hidup kelam yang pelik, yang dialami sebagian penduduk berekonomi kelas menengah ke bawah yang ada di kota – kota kecil. Mungkin seperti di Situbondo.
Mungkin juga aku belum merdeka dari penjajah yang bernama kemiskinan, kelaparan, dan bahkan kematian. Yah… semua makhluk bernyawa ciptaan tuhan pasti tidak merdeka dari cengkeraman ketiga hal menakutkan itu.
Ketiga hal menakutkan itu adalah penjajah bagi makhluk hidup berkaki dua yang berakal dan punya rasa bernama manusia.
Untuk bisa terbebas dari cengkeraman ketiga penjajah itu, manusia selalu berjuang, bekerja untuk “melawan” /”memerangi” kemiskinan dan kelaparan dengan tingkat kekuatan fisik dan daya nalar/pikir masing -masing.
Dan ketika kemiskinan serta kelaparan musnah dari gelanggang kehidupan manusia, mereka sudah merasa aman dan merasa benar dalam mempertahankan keberlangsungan hidupnya.
Mereka sudah merasa kuat dalam hal fisik (badan), kuat dalam hal finansial. Merasa paling modern. Berkuasa atas dirinya. Berkuasa atas kelompok dan masyarakat. Namun mereka masih terjajah. Terjajah oleh rasa selalu kurang.
Dan penjajah itu bernama keserakahan.
”Penjajah keserakahan” , selalu menjajah untuk berkuasa atas diri dan orang lain. Menjajah untuk berkuasa atas bangsa dan negara.
Maka terjadilah perkelahian antar individu manusia, maka terjadilah peperangan antar suku, golongan, bahkan antar negara demi merebut dan mempertahankan siapa yang paling benar.
Maka, terjadilah perang energi negatif dan positif di dalam diri manusia yang lazim disebut konflik batin. konflik batin manusia, konflik batin negara tidak akan pernah berhenti atau berakhir selama masih ada bercokol penjajah bernama “Keserakahan”: Itu artinya tidak ada kemerdekaan yang sebenar- benarnya di atas panggung kehidupan yang penuh senda- gurau ini.
Syahdan, aku membaca lagi, kuulangi puisi pendek kiriman teman sekolah yang rumahnya dijadikan warung kopi: “Merdeka hanya kata. Merdeka hakiki, hanya ngopi”. Mari, merdekakan diri saja, dengan menghisap tembakau dan menyeruput secangkir kopi. Setiap pagi.
Situbondo, 10 Agustus 2025
🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini






