POTRET Online
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan
No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan
No Result
View All Result
POTRET Online
No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan

Sebait Puisi, Secangkir Kopi

Anies SeptivirawanOleh Anies Septivirawan
August 11, 2025
🔊

Dengarkan Artikel

Oleh: Anies Septivirawan
‎
‎
‎Di suatu pagi, Agustus 2025, pada awal bulan kemerdekaan negeri kita, ada seorang teman sekolah mengirim puisi pendek via layanan WhatsApp. Puisinya begini:  “Merdeka hanya kata. Merdeka hakiki, hanya ngopi”.  Itu artinya sebuah ajakan, suatu undangan dari produsen kepada pelanggan rasa sahabat, namun ujungnya ada transaksi finansial kecil – kecilan alias membayar untuk secangkir kopi.
‎
‎Aku membacanya tanpa membalas dan langsung menggeber gas motorku ke rumahnya yang kini disulap menjadi sebuah warung kopi.
‎
‎Agustus 2025  selalu akrab dengan angin, dengan dingin. Negeri kita sudah merdeka selama 80 tahun. Merdeka dari penjajahan fisik: dari penjajah Belanda, dari penjajah Jepang.
‎
‎Tapi belum juga merdeka dari segudang persoalan hidup kelam yang pelik, yang dialami sebagian penduduk berekonomi kelas menengah ke bawah yang ada di kota – kota kecil. Mungkin seperti di Situbondo. 
‎
‎Mungkin juga aku belum merdeka dari penjajah yang bernama kemiskinan, kelaparan, dan bahkan kematian. Yah… semua makhluk bernyawa ciptaan tuhan pasti tidak merdeka dari cengkeraman ketiga hal menakutkan itu.
‎
‎Ketiga hal menakutkan itu adalah penjajah bagi makhluk hidup berkaki dua  yang berakal dan punya rasa bernama manusia.
‎
‎Untuk bisa terbebas dari cengkeraman ketiga penjajah itu, manusia selalu berjuang, bekerja untuk “melawan” /”memerangi” kemiskinan dan kelaparan dengan tingkat kekuatan fisik dan daya nalar/pikir masing -masing.
‎
‎Dan ketika kemiskinan serta kelaparan musnah dari gelanggang kehidupan manusia, mereka sudah merasa aman dan merasa benar dalam mempertahankan keberlangsungan hidupnya.
‎
‎Mereka sudah merasa kuat dalam hal fisik (badan), kuat dalam hal finansial. Merasa paling modern. Berkuasa atas dirinya. Berkuasa atas kelompok dan masyarakat. Namun mereka masih terjajah. Terjajah oleh rasa selalu kurang.
‎Dan penjajah itu bernama keserakahan.
‎
‎”Penjajah keserakahan” , selalu menjajah untuk berkuasa atas diri dan orang lain. Menjajah untuk berkuasa atas bangsa dan negara.
‎
‎Maka terjadilah perkelahian antar individu manusia, maka terjadilah peperangan antar suku, golongan, bahkan antar negara demi merebut dan mempertahankan siapa yang paling benar. 
‎
‎Maka, terjadilah perang energi negatif dan positif di dalam diri manusia yang lazim disebut konflik batin. konflik batin manusia, konflik batin negara tidak akan pernah berhenti atau berakhir selama masih ada bercokol penjajah bernama “Keserakahan”: Itu artinya tidak ada kemerdekaan yang sebenar- benarnya di atas panggung kehidupan yang penuh senda- gurau ini.
‎
‎Syahdan, aku membaca lagi, kuulangi puisi pendek kiriman teman sekolah yang rumahnya dijadikan warung kopi: “Merdeka hanya kata. Merdeka hakiki, hanya ngopi”. Mari, merdekakan diri saja, dengan menghisap tembakau dan menyeruput secangkir kopi. Setiap pagi.
‎
‎
‎
‎Situbondo, 10 Agustus 2025
‎
‎

🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini

Bencana dan Perubahan Persepsi Masyarakat Pascabencana
Bencana dan Perubahan Persepsi Masyarakat Pascabencana
12 Jan 2026 • 155x dibaca (7 hari)
Sajadah yang Tertinggal di Seberang Lautan
Sajadah yang Tertinggal di Seberang Lautan
21 Jan 2026 • 137x dibaca (7 hari)
Lomba Menulis Ulang Tahun Potret
Lomba Menulis Ulang Tahun Potret
16 Jan 2026 • 125x dibaca (7 hari)
Belajar di Saat Dunia Berguncang
Belajar di Saat Dunia Berguncang
9 Jan 2026 • 97x dibaca (7 hari)
Pengaruh Internet dan Gadgets Bagi Masyarakat Kita
Pengaruh Internet dan Gadgets Bagi Masyarakat Kita
12 Mar 2018 • 91x dibaca (7 hari)

📚 Artikel Terkait

Dua Di Antara Kita

Monolog, “Suara Perempuan dari Lampadang”

UNTUK APA GELAR?

Jokowi dan Anies, Satu Takdir Selalu Disalahkan

📝
Tanggung Jawab Konten
Seluruh isi dan opini dalam artikel ini merupakan tanggung jawab penulis. Redaksi bertugas menyunting tulisan tanpa mengubah subtansi dan maksud yang ingin disampaikan.
Share2SendShareScanShare
Anies Septivirawan

Anies Septivirawan

Anies Septivirawan adalah penikmat tulisan seni sastra dan budaya. Ia gemar menulis puisi sejak tahun 1995 sampai saat ini. Ia bergabung dengan himpunan penulis penyair dan pengarang nusantara (HP3N) Kota Batu dan SATUPENA Jawa Timur. Anies Lahir di kelurahan Dawuhan, Situbondo, Jawa Timur. Aktivitasnya sehari-hari sebagai wartawan media online. Baginya, menulis adalah upaya mengusir ion -ion negatif di dalam tubuh agar tetap sehat dan panjang umur. Ia sudah menulis 3 buku antologi puisi tunggal dan puisi-puisinya juga menyemarakkan sejumlah buku antologi bersama. Puisinya dan tulisan lainnya juga pernah satu buku dengan Gol A Gong. Buku antologi puisi tunggalnya yang pertama berjudul "Luka dan Kota Sepi Literasi", yang kedua adalah "Menimang Rindu Senja Kala" dan buku yang ketiga berjudul "Dua Senja Menyulam Damai"

Please login to join discussion
#Gerakan Menulis

Ulang Tahun POTRET dalam Sepi dan Senyap: 23 Tahun Menyalakan Api Literasi dari Pinggiran

Oleh Tabrani YunisJanuary 18, 2026
#Sumatera Utara

Kala Belantara Bicara

Oleh Tabrani YunisDecember 23, 2025
Puisi Bencana

Kampung- Kampung Menelan Maut

Oleh Tabrani YunisNovember 28, 2025
Artikel

Menulis Dengan Jujur

Oleh Tabrani YunisSeptember 9, 2025
#Gerakan Menulis

Tak Sempat Menulis

Oleh Tabrani YunisJuly 12, 2025

Populer

  • Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    167 shares
    Share 67 Tweet 42
  • Inilah Situs Menulis Artikel dibayar

    159 shares
    Share 64 Tweet 40
  • Peran Coaching Kepala Sekolah dalam Meningkatkan Kualitas Pendidikan

    146 shares
    Share 58 Tweet 37
  • Korupsi Sebagai Jalur Karier di Konoha?

    58 shares
    Share 23 Tweet 15
  • Lomba Menulis Agustus 2025

    52 shares
    Share 21 Tweet 13

HABA MANGAT

Haba Mangat

Lomba Menulis Ulang Tahun Potret

Oleh Redaksi
January 16, 2026
164
Haba Mangat

Tema Lomba Menulis Edisi Desember 2025

Oleh Redaksi
December 5, 2025
90
Haba Mangat

Tema Lomba Menulis November 2025

Oleh Redaksi
November 10, 2025
95
Postingan Selanjutnya
Kuliah Tanpa Beban: Kritik Terhadap Klaim Kuliah yang Terlalu Mudah

Tradisi dan Inovasi: Jalan Tengah yang Terlupakan

  • Kirim Tulisan
  • Program 1000 Sepeda dan Kursi roda
  • Redaksi
  • Disclaimer
  • Tentang Kami

© 2025 potretonline.com

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms bellow to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan

© 2025 potretonline.com

-
00:00
00:00

Queue

Update Required Flash plugin
-
00:00
00:00