• Latest
Sebait Puisi, Secangkir Kopi - 2025 08 11 06 38 05 | Puisi Essay | Potret Online

Sebait Puisi, Secangkir Kopi

Agustus 11, 2025
9fdb3c1c-1879-4f8c-9aa8-02113678bceb

Warisan Musik Aceh dari Gampong Padang Manggeng

April 21, 2026
Ilustrasi siluet pasangan dengan hati retak melambangkan cemburu, konflik emosional, dan hubungan yang rapuh

Cemburu Membunuh Perempuan

April 21, 2026
Sebait Puisi, Secangkir Kopi - 1001348646_11zon | Puisi Essay | Potret Online

Kisah Perempuan – Lubna dari Córdoba

April 21, 2026
Sebait Puisi, Secangkir Kopi - 1001353319_11zon | Puisi Essay | Potret Online

Fatimah al-Fihri, Pendiri Universitas Tertua

April 21, 2026
3753a9dd-0c43-46a6-9577-711a7479d4d5

Misogini Genital (Di) Kartini Digital

April 21, 2026
IMG_0878

Perempuan di Titik Klimaks

April 21, 2026
Sebait Puisi, Secangkir Kopi - 1001361361_11zon | Puisi Essay | Potret Online

Kisah Perempuan POTRET – Zaynab bint al-Kamal

April 21, 2026
d2a5b58f-c424-41eb-91dc-d0a057017eda

Menguak Kenangan Orkes Mekar Melati Manggeng dan Para Musisi Muda

April 21, 2026
Rabu, April 22, 2026
POTRET Online
  • Home
  • Artikel
  • POTRET Budaya
  • Pendidikan
  • Puisi
  • Esai
  • Opini
  • Sastra
  • Cerpen
No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • POTRET Budaya
  • Pendidikan
  • Puisi
  • Esai
  • Opini
  • Sastra
  • Cerpen
No Result
View All Result
POTRET Online
No Result
View All Result

Sebait Puisi, Secangkir Kopi

Anies Septivirawan by Anies Septivirawan
Agustus 11, 2025
in Puisi Essay
Reading Time: 2 mins read
0
Sebait Puisi, Secangkir Kopi - 2025 08 11 06 38 05 | Puisi Essay | Potret Online
585
SHARES
3.2k
VIEWS

Oleh: Anies Septivirawan
‎
‎
‎Di suatu pagi, Agustus 2025, pada awal bulan kemerdekaan negeri kita, ada seorang teman sekolah mengirim puisi pendek via layanan WhatsApp. Puisinya begini:  “Merdeka hanya kata. Merdeka hakiki, hanya ngopi”.  Itu artinya sebuah ajakan, suatu undangan dari produsen kepada pelanggan rasa sahabat, namun ujungnya ada transaksi finansial kecil – kecilan alias membayar untuk secangkir kopi.
‎
‎Aku membacanya tanpa membalas dan langsung menggeber gas motorku ke rumahnya yang kini disulap menjadi sebuah warung kopi.
‎
‎Agustus 2025  selalu akrab dengan angin, dengan dingin. Negeri kita sudah merdeka selama 80 tahun. Merdeka dari penjajahan fisik: dari penjajah Belanda, dari penjajah Jepang.
‎
‎Tapi belum juga merdeka dari segudang persoalan hidup kelam yang pelik, yang dialami sebagian penduduk berekonomi kelas menengah ke bawah yang ada di kota – kota kecil. Mungkin seperti di Situbondo. 
‎
‎Mungkin juga aku belum merdeka dari penjajah yang bernama kemiskinan, kelaparan, dan bahkan kematian. Yah… semua makhluk bernyawa ciptaan tuhan pasti tidak merdeka dari cengkeraman ketiga hal menakutkan itu.
‎
‎Ketiga hal menakutkan itu adalah penjajah bagi makhluk hidup berkaki dua  yang berakal dan punya rasa bernama manusia.
‎
‎Untuk bisa terbebas dari cengkeraman ketiga penjajah itu, manusia selalu berjuang, bekerja untuk “melawan” /”memerangi” kemiskinan dan kelaparan dengan tingkat kekuatan fisik dan daya nalar/pikir masing -masing.
‎
‎Dan ketika kemiskinan serta kelaparan musnah dari gelanggang kehidupan manusia, mereka sudah merasa aman dan merasa benar dalam mempertahankan keberlangsungan hidupnya.
‎
‎Mereka sudah merasa kuat dalam hal fisik (badan), kuat dalam hal finansial. Merasa paling modern. Berkuasa atas dirinya. Berkuasa atas kelompok dan masyarakat. Namun mereka masih terjajah. Terjajah oleh rasa selalu kurang.
‎Dan penjajah itu bernama keserakahan.
‎
‎”Penjajah keserakahan” , selalu menjajah untuk berkuasa atas diri dan orang lain. Menjajah untuk berkuasa atas bangsa dan negara.
‎
‎Maka terjadilah perkelahian antar individu manusia, maka terjadilah peperangan antar suku, golongan, bahkan antar negara demi merebut dan mempertahankan siapa yang paling benar. 
‎
‎Maka, terjadilah perang energi negatif dan positif di dalam diri manusia yang lazim disebut konflik batin. konflik batin manusia, konflik batin negara tidak akan pernah berhenti atau berakhir selama masih ada bercokol penjajah bernama “Keserakahan”: Itu artinya tidak ada kemerdekaan yang sebenar- benarnya di atas panggung kehidupan yang penuh senda- gurau ini.
‎
‎Syahdan, aku membaca lagi, kuulangi puisi pendek kiriman teman sekolah yang rumahnya dijadikan warung kopi: “Merdeka hanya kata. Merdeka hakiki, hanya ngopi”. Mari, merdekakan diri saja, dengan menghisap tembakau dan menyeruput secangkir kopi. Setiap pagi.
‎
‎
‎
‎Situbondo, 10 Agustus 2025
‎
‎

Share234SendTweet146Share
Anies Septivirawan

Anies Septivirawan

Anies Septivirawan adalah penikmat tulisan seni sastra dan budaya. Ia gemar menulis puisi sejak tahun 1995 sampai saat ini. Ia bergabung dengan himpunan penulis penyair dan pengarang nusantara (HP3N) Kota Batu dan SATUPENA Jawa Timur. Anies Lahir di kelurahan Dawuhan, Situbondo, Jawa Timur. Aktivitasnya sehari-hari sebagai wartawan media online. Baginya, menulis adalah upaya mengusir ion -ion negatif di dalam tubuh agar tetap sehat dan panjang umur. Ia sudah menulis 3 buku antologi puisi tunggal dan puisi-puisinya juga menyemarakkan sejumlah buku antologi bersama. Puisinya dan tulisan lainnya juga pernah satu buku dengan Gol A Gong. Buku antologi puisi tunggalnya yang pertama berjudul "Luka dan Kota Sepi Literasi", yang kedua adalah "Menimang Rindu Senja Kala" dan buku yang ketiga berjudul "Dua Senja Menyulam Damai"

Next Post
Sebait Puisi, Secangkir Kopi - 99840128 d4ca 41aa a17a 4104b004adac | Puisi Essay | Potret Online

Tradisi dan Inovasi: Jalan Tengah yang Terlupakan

POTRET Online

© 2026 potretonline.com

  • Home
  • Tentang Kami
  • Kirim Naskah
  • Disclaimer
  • Kebijakan Privasi
  • ToS
  • Penulis
  • Al-Qur’an
  • Redaksi

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms below to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Pendidikan
  • Opini
  • Essay
  • Politik
  • PODCAST
  • Penulis
  • Kirim Naskah

© 2026 potretonline.com