Artikel · Potret Online

Nasionalisme yang Disalahpahami

Agustus 8, 2025
3 menit baca 409
Nasionalisme yang Disalahpahami - Image 500f493e402ee897084f8fbb0232fc11 | #Aspirasi | Potret Online
Foto / IlustrasiNasionalisme yang Disalahpahami

Studi Kasus Mirza dan Zainal, ASN Aceh dalam Bayang-Bayang Terorisme

Oleh: Dr. Al Chaidar Abdurrahman Puteh


Dosen Antropologi, Universitas Malikussaleh, Lhokseumawe, Aceh.

Dalam lanskap politik Indonesia yang kompleks, Aceh menempati posisi unik—sebagai wilayah yang pernah menjadi pusat perlawanan, sekaligus laboratorium rekonsiliasi nasional. Namun, narasi tentang Aceh sering kali dikaburkan oleh label-label yang menyederhanakan realitas sosialnya.

Penangkapan dua Aparatur Sipil Negara (ASN) oleh Densus 88 pada 5 Agustus 2025—Mirza dan Zainal—menjadi contoh nyata bagaimana nasionalisme lokal bisa disalahartikan sebagai ancaman. Berikut ini adalah hasil penelitian saya yang cukup lama tentang Mirza, Zainal, Ustadz Maimun Al Abrar dan Roesly Moehammad Saman ketika mereka masih aktif di Gardu (Gerakan Rakyat Mendukung) Prabowo di Aceh yang sekretariatnya di Batoh dan mendapat restu dari Mualem ketika itu.

Profil Dua ASN: Mirza dan Zainal
Mirza (MZ alias KS), 40 tahun, pegawai Kanwil Kemenag Aceh. Zainal (ZA alias SA), 47 tahun, pegawai Dinas Pariwisata Banda Aceh. Keduanya bukan sekadar ASN biasa. Mereka adalah aktivis politik yang Menjadi relawan fanatik Gardu Prabowo selama Pilpres 2014 dan 2019. Mereka juga Aktif dalam kampanye akar rumput, menyebarkan visi Prabowo sebagai pemimpin tegas dan nasionalis. Bersama dengan Ustadz Maimun Al Abrar, Beroperasi di bawah bimbingan Roesly Moehammad Saman, tokoh sentral Gardu Prabowo di Aceh dan fungsionaris Negara Islam Indonesia (NII) faksi MYT.


Mirza dan Zainal bukan teroris. Mereka adalah nasionalis Aceh yang kecewa terhadap janji-janji pusat yang tak kunjung ditepati. Dukungan mereka terhadap Prabowo Subianto bukan sekadar pilihan politik, melainkan ekspresi dari harapan akan pemimpin yang Tegas terhadap pusat, Berani menegakkan keadilan untuk daerah dan Tidak mengulangi pengingkaran janji seperti yang dilakukan oleh Soekarno terhadap Aceh.


Keterlibatan mereka dalam NII faksi MYT bukan dalam konteks kekerasan, melainkan sebagai bagian dari gerakan ideologis dan spiritual yang menuntut keadilan dan otonomi sejati. Di bawah kepemimpinan Roesly MS, mereka menemukan ruang untuk Menyatukan aspirasi politik dan identitas lokal. Mereka juga menemukan ruang untuk mengartikulasikan nasionalisme Aceh dalam bentuk dukungan terhadap figur nasional seperti Prabowo.

Roesly Moehammad Saman: Arsitek Nasionalisme Aceh sebagai ketua Gardu Prabowo dan fungsionaris NII faksi MYT, Roesly MS memainkan peran ganda: Mengorganisir relawan politik yang mendukung Prabowo di Aceh sekaligus membina jaringan ideologis yang mengusung semangat nasionalisme Aceh dan menjadi penghubung antara aspirasi lokal dan panggung politik nasional. Di bawah bimbingannya, Mirza dan Zainal tidak hanya menjadi aktivis politik, tetapi juga pengemban misi ideologis yang menuntut keadilan historis bagi Aceh.

Nasionalisme yang Terluka


Label “teroris” yang disematkan kepada Mirza dan Zainal mencerminkan kegagalan negara dalam memahami kekecewaan struktural yang melahirkan gerakan seperti NII faksi MYT. Mereka juga memiliki motivasi politik dan ideologis yang berakar pada sejarah pengingkaran janji terhadap Aceh. Ini adalah contoh peran aktivis lokal dalam membentuk narasi alternatif tentang nasionalisme.

Keduanya adalah contoh dari nasionalisme yang terluka—bukan anti-NKRI, tetapi kritis terhadap pusat yang dianggap tidak konsisten. Dukungan mereka terhadap Prabowo adalah bentuk harapan akan pemimpin yang bisa mengembalikan martabat Aceh dalam bingkai Indonesia.

Kesimpulan
Mirza dan Zainal bukan ancaman. Mereka adalah cerminan dari kerinduan akan keadilan dan pemimpin yang berani. Dalam konteks Aceh, nasionalisme tidak selalu berarti kesetiaan tanpa kritik. Justru, kritik terhadap pusat adalah bagian dari cinta terhadap tanah air yang ingin diperbaiki.


Negara perlu membuka ruang dialog, bukan hanya ruang penangkapan. Karena di balik setiap aktivis seperti Mirza dan Zainal, ada sejarah panjang luka, harapan, dan perjuangan yang layak didengar.[]

✦ ✦ ✦
Apakah tulisan ini bermanfaat?
Tulisan ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Redaksi tidak selalu sejalan dengan isi tulisan.
Tentang Penulis
Dr. Al Chaidar Abdurrahman Puteh, M.Si., adalah seorang akademisi dan peneliti yang memiliki keahlian di bidang antropologi, dengan fokus utama pada antropologi politik dan agama. Beliau saat ini aktif sebagai dosen di Universitas Malikussaleh, yang berlokasi di Lhokseumawe, Aceh. Selain mengajar, Dr. Al Chaidar juga aktif melakukan penelitian dan seringkali diundang sebagai narasumber atau pengamat untuk berbagai isu sosial, politik, dan keagamaan, terutama yang berkaitan dengan konteks Aceh dan Indonesia secara luas. Kontribusinya dalam pengembangan ilmu antropologi dan pemahaman isu-isu kontemporer di Indonesia sangat signifikan melalui karya-karya ilmiah dan keterlibatannya dalam diskusi publik.
Diskusi
Upload foto profil (opsional)
Memuat komentar...