Kisah Minggu Sore Tentang Pemuda Malang di Tiang Lampu Hias

Kisah Minggu Sore Tentang Pemuda Malang di Tiang Lampu Hias - 2025 07 21 21 20 15 | Artikel | Potret Online
Ilustrasi: Kisah Minggu Sore Tentang Pemuda Malang di Tiang Lampu Hias
WA FB X



Oleh Anies Septivirawan

‎Di suatu sore, Minggu yang berdebu. Angin akhir bulan Juli menggoyang dedaunan pohon Palma yang berdiri berjejer dengan sejumlah tiang lampu hias dekat traffic light di Jalan A Yani, kabupaten Situbondo, Jawa Timur.

‎Aku memacu motorku dari arah timur, lampu merah menyala, aku berhenti. Bukan hanya karena nyala lampu merah, bukan karena kehabisan BBM.

‎Tetapi di depanku ada pemandangan yang tidak lazim. Di depan mataku ada banyak kerumunan orang dan sejumlah polisi lalu lintas yang tatapan matanya pada seorang anak muda pria sedang memanjat sebuah tiang lampu hias.

‎Anak muda itu memanjat seperti akan menggapai sesuatu di puncak tiang lampu hias itu. Namun tidak ada yang dicapainya. Ia memakai sarung, di dalamnya ada celana pendek.

‎Pemandangan tak lazim itu menjadi tontonan gratis bagi para pengendara yang berlalu – lalang di jalan. Sebagian pengendara berceloteh,

‎”Kasian…masih muda sudah mau coba bunuh diri…” ujar salah satu sopir truk arah jurusan Surabaya.

‎Di antara kerumunan orang itu juga ada yang bilang bahwa anak muda itu sedang sakit ingatan. Namun kebanyakan di antara mereka menyuruh agar segera turun.

‎Mereka menggertak-gertak pemuda itu dengan suara lantang sembari menggebrak kaki dan tangannya dengan sebuah benda tumpul yang panjang.

‎Tidak tahan dengan rasa sakit di bagian kaki dan tangan, bahkan kepalanya, pemuda malang yang diketahui bernama Etto itu meloncat atau terjun bebas dari pucuk tiang lampu hias, tubuhnya yang tidak berdosa meluncur ke bawah, disambut kerasnya permukaan pedestarian yang terbuat dari paving. Aku melihat dan menyaksikan adegan sedih itu dengan mata telanjang. Tidak dengan kamera ponsel.

‎Aku sengaja tidak merekamnya karena aku punya rasa iba. Aku hanya punya satu adegan foto itu karena aku sengaja meminta pada salah satu teman.

‎”Itu percobaan bunuh diri ya?” tanya salah satu pengendara motor kepadaku.

‎”Entahlah…” jawabku seraya menggeber motor ke arah barat

ADVERTISEMENT
📝
Tanggung Jawab Konten
Seluruh isi dan opini dalam artikel ini merupakan tanggung jawab penulis. Redaksi bertugas menyunting tulisan tanpa mengubah subtansi dan maksud yang ingin disampaikan.

Baca Juga

Penulis
Anies Septivirawan
Anies Septivirawan adalah penikmat tulisan seni sastra dan budaya. Ia gemar menulis puisi sejak tahun 1995 sampai saat ini. Ia bergabung dengan himpunan penulis penyair dan pengarang nusantara (HP3N) Kota Batu dan SATUPENA Jawa Timur. Anies Lahir di kelurahan Dawuhan, Situbondo, Jawa Timur. Aktivitasnya sehari-hari sebagai wartawan media online. Baginya, menulis adalah upaya mengusir ion -ion negatif di dalam tubuh agar tetap sehat dan panjang umur. Ia sudah menulis 3 buku antologi puisi tunggal dan puisi-puisinya juga menyemarakkan sejumlah buku antologi bersama. Puisinya dan tulisan lainnya juga pernah satu buku dengan Gol A Gong. Buku antologi puisi tunggalnya yang pertama berjudul "Luka dan Kota Sepi Literasi", yang kedua adalah "Menimang Rindu Senja Kala" dan buku yang ketiga berjudul "Dua Senja Menyulam Damai"

Welcome Back!

Login to your account below

Create New Account!

Fill the forms below to register

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.