POTRET Online
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan
No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan
No Result
View All Result
POTRET Online
No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan

Empat Pulau Kembali ke Aceh: Kemenangan Marwah Daerah, Kekalahan Geng Solo

Dayan AbdurrahmanOleh Dayan Abdurrahman
June 20, 2025
Kuliah Tanpa Beban: Kritik Terhadap Klaim Kuliah yang Terlalu Mudah
🔊

Dengarkan Artikel

Oleh: Dayan Abdurrahman

Ketika empat pulau — Panjang, Lipan, Mangkir Gadang, dan Mangkir Ketek — akhirnya dipulangkan kembali ke Aceh oleh Presiden Prabowo Subianto, bukan hanya tanah dan laut yang kembali, tetapi juga marwah dan harga diri rakyat Aceh. Kita patut bersyukur, karena sejarah dan logika akhirnya menang melawan kekeliruan birokrasi dan, siapa tahu, mungkin juga melawan permainan kekuasaan yang nyaris menggusur hak Aceh secara diam-diam.

Mari kita jujur: jika tak ada gejolak dari masyarakat, tokoh adat, DPR Aceh, dan bahkan reaksi nasionalis dari mahasiswa serta pengamat hukum tata negara, barangkali keputusan ngawur yang “menyerahkan” empat pulau ke Sumut itu tetap akan berjalan mulus. Tapi Aceh, dengan segala luka sejarah dan kesadarannya hari ini, tidak lagi bisa ditidurkan.

Aceh Menang, Indonesia Menang

Ada yang menyebut ini sebagai kemenangan Aceh. Tapi sesungguhnya, ini kemenangan untuk Indonesia juga. Sebab, bila sebuah kesalahan administratif (yang entah disengaja atau tidak) bisa mengalihkan wilayah tanpa dasar sejarah dan dialog yang adil, maka yang terancam bukan hanya Aceh — tapi seluruh struktur keadilan dalam negara ini.

Maka, kita layak bersyukur. Tidak hanya karena Aceh tak kehilangan wilayah, tapi juga karena kita menyaksikan satu momen langka: pusat mengakui kesalahan dan memperbaikinya. Sebuah pemandangan yang selama ini kita impikan, tapi jarang kita dapatkan — apalagi jika melibatkan mereka yang ‘kebetulan’ dekat dengan lingkaran kuasa dari Solo.

Ya, kita tidak bisa menutup mata. Beberapa pihak yang paling semangat ‘mengklaim’ pulau-pulau itu ke Sumatera Utara adalah mereka yang—kebetulan—punya garis langsung ke pusat kekuasaan. Atau mungkin terlalu percaya bahwa apa pun yang mereka inginkan akan dikabulkan, sebab mereka bagian dari “keluarga besar istana”.

Tapi Aceh bukan ladang kosong yang bisa diambil seenaknya. Bukan juga anak tiri yang bisa dikorbankan demi kalkulasi politik.

Sumut Harus Fair

Tentu saja, kita memahami jika sebagian pihak di Sumatera Utara merasa kecewa. Tapi fairness adalah inti dari republik ini. Kalau dari awal pulau-pulau itu sudah ada dalam peta Aceh, dan bahkan diakui bersama lewat SKB 1992, maka tidak ada alasan etis maupun legal untuk memindahkannya hanya karena koordinat digital yang salah di tahun 2008.

Sumut yang besar, bersejarah, dan penuh kebanggaan tentu tidak ingin dikenal sebagai provinsi yang mengambil milik tetangga karena kelengahan dokumen. Ini saatnya menunjukkan kedewasaan politik dan sportivitas. Mari kita ingat, mempertahankan yang benar bukan berarti melawan. Dan mengalah untuk yang sah, bukan berarti kalah.

📚 Artikel Terkait

Proyek Berkelanjutan dan Mentalitas Pembangunan Kita

Dunia Terus Berubah, Kita Mau Kemana?

Pencipta Keteduhan di Sekolah Itu Sudah Ditebang Untuk Kepentingan Makhluk Sempurna yang Berakal‎

Dandim Gayo Lues Resmikan Kampung Tangguh Pancasila di Desa Ulun Tanoh, Blangkejeren

Rakyat Aceh Bersorak, Tapi Tetap Waspada

Kita, rakyat Aceh, boleh bersyukur hari ini. Tapi jangan sampai euforia ini membuat kita lalai. Sebab kalau bukan karena tekanan publik dan pengawalan media, bisa saja pergeseran wilayah ini sudah sah secara de jure dan de facto. Kita harus tetap waspada: sejarah bisa dirampas bukan hanya dengan senjata, tapi juga dengan tanda tangan dan stempel pejabat.

Kemenangan ini harus jadi bahan bakar untuk menguatkan posisi Aceh sebagai daerah dengan hak otonomi yang harus dihormati. Jangan sampai narasi ‘kita semua NKRI’ dijadikan tameng untuk mengaburkan hak-hak wilayah yang sudah diatur dalam konstitusi dan sejarah.

Kekalahan Geng Solo?

Apakah ini kekalahan bagi Geng Solo dan lingkaran kekuasaan yang selama ini merasa segala sesuatu bisa diatur dari pusat tanpa konsultasi daerah? Mungkin tidak akan pernah mereka akui. Tapi satu hal pasti: rakyat menang, hukum menang, dan Aceh tak tunduk pada logika kekuasaan yang seringkali terlalu percaya diri.

Ini pelajaran penting bagi siapa pun yang duduk di kekuasaan: bahwa kesewenang-wenangan bisa dikoreksi, bahwa suara rakyat bisa menembus istana, dan bahwa satu provinsi di ujung barat Indonesia bisa memberikan perlawanan yang elegan dan bermartabat.


Penutup: Menjaga yang Telah Kembali

Kini tugas Pemerintah Aceh adalah menjaga wilayah yang telah kembali, membangun ekonomi pesisir, memberdayakan nelayan dan warga pulau, serta menunjukkan kepada Indonesia bahwa Aceh bukan hanya bisa mempertahankan haknya, tapi juga mampu mengelola amanahnya dengan bijak.

Dan bagi Sumut — mari bersaudara seperti sediakala. Karena pulau boleh kembali ke Aceh, tapi persatuan dan harga diri sebagai sesama anak bangsa harus tetap kita jaga.

Kita menang bukan karena mengambil, tapi karena mempertahankan yang memang milik kita.


Dayan Abdurrahman adalah warga Aceh, pengamat sosial-politik, dan penulis opini tentang marwah daerah dan keadilan republik.

–

🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini

Bencana dan Perubahan Persepsi Masyarakat Pascabencana
Bencana dan Perubahan Persepsi Masyarakat Pascabencana
12 Jan 2026 • 155x dibaca (7 hari)
Sajadah yang Tertinggal di Seberang Lautan
Sajadah yang Tertinggal di Seberang Lautan
21 Jan 2026 • 140x dibaca (7 hari)
Lomba Menulis Ulang Tahun Potret
Lomba Menulis Ulang Tahun Potret
16 Jan 2026 • 128x dibaca (7 hari)
Belajar di Saat Dunia Berguncang
Belajar di Saat Dunia Berguncang
9 Jan 2026 • 98x dibaca (7 hari)
Pengaruh Internet dan Gadgets Bagi Masyarakat Kita
Pengaruh Internet dan Gadgets Bagi Masyarakat Kita
12 Mar 2018 • 92x dibaca (7 hari)
📝
Tanggung Jawab Konten
Seluruh isi dan opini dalam artikel ini merupakan tanggung jawab penulis. Redaksi bertugas menyunting tulisan tanpa mengubah subtansi dan maksud yang ingin disampaikan.
Share2SendShareScanShare
Dayan Abdurrahman

Dayan Abdurrahman

Bio narasi Saya adalah lulusan pendidikan Bahasa Inggris dengan pengalaman sebagai pendidik, penulis akademik, dan pengembang konten literasi. Saya menyelesaikan studi magister di salah satu universitas ternama di Australia, dan aktif menulis di bidang filsafat pendidikan Islam, pengembangan SDM, serta studi sosial. Saya juga terlibat dalam riset dan penulisan terkait Skill Development Framework dari Australia. Berpengalaman sebagai dosen dan pelatih pendidik, saya memiliki keahlian dalam penulisan ilmiah, editing, serta pendampingan riset. Saat ini, saya terus mengembangkan karya dan membangun jejaring profesional lintas bidang, generasi, serta komunitas akademik global.

Please login to join discussion
#Gerakan Menulis

Ulang Tahun POTRET dalam Sepi dan Senyap: 23 Tahun Menyalakan Api Literasi dari Pinggiran

Oleh Tabrani YunisJanuary 18, 2026
#Sumatera Utara

Kala Belantara Bicara

Oleh Tabrani YunisDecember 23, 2025
Puisi Bencana

Kampung- Kampung Menelan Maut

Oleh Tabrani YunisNovember 28, 2025
Artikel

Menulis Dengan Jujur

Oleh Tabrani YunisSeptember 9, 2025
#Gerakan Menulis

Tak Sempat Menulis

Oleh Tabrani YunisJuly 12, 2025

Populer

  • Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    167 shares
    Share 67 Tweet 42
  • Inilah Situs Menulis Artikel dibayar

    159 shares
    Share 64 Tweet 40
  • Peran Coaching Kepala Sekolah dalam Meningkatkan Kualitas Pendidikan

    146 shares
    Share 58 Tweet 37
  • Korupsi Sebagai Jalur Karier di Konoha?

    58 shares
    Share 23 Tweet 15
  • Lomba Menulis Agustus 2025

    52 shares
    Share 21 Tweet 13

HABA MANGAT

Haba Mangat

Lomba Menulis Ulang Tahun Potret

Oleh Redaksi
January 16, 2026
165
Haba Mangat

Tema Lomba Menulis Edisi Desember 2025

Oleh Redaksi
December 5, 2025
90
Haba Mangat

Tema Lomba Menulis November 2025

Oleh Redaksi
November 10, 2025
95
Postingan Selanjutnya
Mengenal Ayatollah Ali Khemeini Sang Keturunan Nabi

Mengenal Ayatollah Ali Khemeini Sang Keturunan Nabi

  • Kirim Tulisan
  • Program 1000 Sepeda dan Kursi roda
  • Redaksi
  • Disclaimer
  • Tentang Kami

© 2025 potretonline.com

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms bellow to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan

© 2025 potretonline.com

-
00:00
00:00

Queue

Update Required Flash plugin
-
00:00
00:00