• Latest
Mengenal Ayatollah Ali Khemeini Sang Keturunan Nabi - 2025 06 20 08 20 31 | Internasional | Potret Online

Mengenal Ayatollah Ali Khemeini Sang Keturunan Nabi

Juni 20, 2025
27f168e7-1260-4771-8478-62c43392780e

Pulo Aceh, William Toren dan Pendidikan Kami

April 23, 2026
IMG_0904

Cahaya di Balik Luka

April 23, 2026
35b66c8c-a220-4f11-8e9a-6fccf401ca7b

Arsitektur Linguistik: Menelusuri Ontologi Kata dan Logika Taqsim dalam Ilmu Nahwu.

April 23, 2026
Mengenal Ayatollah Ali Khemeini Sang Keturunan Nabi - 38a1ed71 84b6 44ab 9f7a a62e2a66e5e2 | Internasional | Potret Online

Perserikatan Bangsa-Bangsa Tanpa Kompas Arah di Tengah Gejolak Dunia Global

April 22, 2026
d1791700-9d77-4212-83e6-eb00db9a7ade

Dari Lumbung ke Etalase: Pergeseran Nalar Hidup Masyarakat Desa

April 22, 2026
2ba083ca-6b42-4301-9181-39025ceadd55

Hikayat Negeri Para Kuli dan Berhala Hijau

April 22, 2026
9155c5eb-ca3b-4638-879b-31953e632691

Antara Retorika dan Realitas: Pendidikan Kepemimpinan Perempuan Indonesia

April 22, 2026
Ilustrasi seorang berdiri di persimpangan jalan dengan simbol otak bercahaya di tengah, menggambarkan akal waras di era digital antara kebaikan dan pengaruh media sosial.

Akal Waras di Era Digital

April 22, 2026
Kamis, April 23, 2026
POTRET Online
  • Home
  • Artikel
  • POTRET Budaya
  • Pendidikan
  • Puisi
  • Esai
  • Opini
  • Sastra
  • Cerpen
No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • POTRET Budaya
  • Pendidikan
  • Puisi
  • Esai
  • Opini
  • Sastra
  • Cerpen
No Result
View All Result
POTRET Online
No Result
View All Result

Mengenal Ayatollah Ali Khemeini Sang Keturunan Nabi

Rosadi Jamani by Rosadi Jamani
Juni 20, 2025
in Internasional, Iran, Presiden, Tokoh, Tokoh Islam
Reading Time: 3 mins read
0
Mengenal Ayatollah Ali Khemeini Sang Keturunan Nabi - 2025 06 20 08 20 31 | Internasional | Potret Online
585
SHARES
3.2k
VIEWS

Oleh Rosadi Jamani

Bagi rakyat Iran, orang paling dibenci, Benyamin Netanyahu. Begitu sebaliknya, bagi rakyat Israel, orang paling dibenci, Ayatollah Ali Khemenei. Begitulah perang, wak! Hanya ada kebencian, pembunuhan, dan kekejaman. Namun, kali ini saya mau mengenalkan pemimpin tertinggi Iran yang memiliki darah keturunan langsung dari nabi. Yok, kita kenalan sambil seruput kopi tanpa gula.

Di pagi 19 April 1939, di kota Mashhad, lahir seorang bayi yang kelak tak hanya memimpin negara, tapi mengatur narasi geopolitik dengan satu alis terangkat. Namanya, Sayyid Ali Hosseini Khamenei, manusia yang bukan cuma berdarah Sayyid, tapi juga diberi bonus keturunan Imam Ali Zainal Abidin, Imam keempat Syiah, dalam satu paket DNA istimewa.

Baca Juga
  • Tatanan Global Baru dan Harapan Dunia Muslim: Refleksi dari Aceh, Indonesia
  • Kembalinya Jalur Sutera: Strategi Tersembunyi di Balik Manuver Global

Jika sejarah Islam adalah serial panjang di Netflix, maka Khamenei adalah musim ke-14 yang plot-twist-nya sulit ditebak. Ayahnya, Sayyid Javad Khamenei, seorang ulama besar, diyakini mendidik putranya dengan kombinasi tafsir Al-Qur’an, filsafat kontemporer, dan jurus menghindari intel Shah. Pendidikan Khamenei dimulai di seminari Mashhad, lalu lanjut ke Qom dan Najaf, tempat para ulama bertarung bukan dengan senjata, tapi dengan logika yang bisa membelah batu.

Sejak muda, Khamenei sudah menunjukkan bakat revolusioner. Ia bukan anak muda yang rebahan sambil men-scroll kitab kuning. Ia justru melempar pertanyaan eksistensial ke rezim Shah, “Untuk apa kekuasaan tanpa keadilan?” Pertanyaan itu membuatnya ditangkap berkali-kali, diasingkan, dan tetap muncul kembali seperti versi Syiah dari Captain America. Jika ada kurikulum “Survivor of Oppression”, dia bisa jadi pengajarnya.

Baca Juga
  • Membaca Catatan Perjalanan Bisnis Founder Owner PT BALAD GRUP, HRM Khalilur R Abdullah Sahlawiy: Membumi Di Vietnam
  • Panglima Perang Dalam Islam

Tahun 1981, ia menjabat sebagai Presiden Iran. Tapi jangan bayangkan presiden seperti kepala OSIS. Di Iran pasca-revolusi, menjadi presiden adalah seperti jadi penyeimbang di sirkus api, di mana jika salah langkah, bisa disambar fatwa atau granat geopolitik. Meski begitu, ia menjalani dua periode dengan gaya khas, kalem, bermakna, dan tidak pernah kehabisan metafora religius saat diwawancarai.

Namun puncaknya datang di tahun 1989, saat Ayatollah Ruhollah Khomeini wafat. Dunia bertanya-tanya, siapa yang cukup kuat, cukup alim, dan cukup tahan sensor untuk menggantikannya? Jawabannya adalah Khamenei, diangkat sebagai Pemimpin Tertinggi Iran, atau Supreme Leader, posisi yang secara fungsional setara dengan gabungan pemimpin agama, presiden, jenderal, dan CEO Google dalam satu tubuh berjubah.

Baca Juga
  • Ali Hasyimi Tokoh Multitalenta
  • Belajar dari Geopolitik Timur Tengah: Apa Pelajaran bagi Negara Berkembang?

Sebagai Supreme Leader, ia memegang kekuasaan atas militer, kehakiman, media, dan bahkan… keheningan. Tak ada keputusan strategis tanpa seizin beliau. Bahkan senjata nuklir pun pernah ia ‘haramkan’ lewat fatwa, membuat uranium di bawah tanah Iran ikut berkeringat. Dalam forum internasional, ia tidak pernah hadir langsung. Tapi cukup dengan satu khutbah Jumat, bursa saham bisa demam, dan para analis politik butuh ibuprofen.

Ia juga selamat dari percobaan pembunuhan tahun 1981, yang melumpuhkan lengan kanannya. Tapi jangan khawatir, karena setelah itu, banyak yang bilang lengan kirinya jadi lebih puitis dan ideologis.

Ali Khamenei bukan cuma pemimpin, ia adalah fenomena genealogis, spiritual, politik, dan kosmologis. Jika langit adalah kitab terbuka, maka namanya sudah tercetak dalam huruf emas sejak abad ke-7, hanya menunggu diaktifkan seperti cheat code dalam permainan sejarah.

Ketika dunia bertanya, “Siapa sebenarnya Ayatollah Ali Khamenei?”

Jawabannya simpel, ia adalah keturunan Nabi yang membawa remote, bukan hanya untuk Iran, tapi mungkin juga untuk realitas ini sendiri.

Kini, pada usia 86 tahun, Sayyid Ali Khamenei bukan cuma simbol revolusi. Ia adalah mahakarya sejarah, manuskrip hidup dari Syiah Dua Belas Imam, dan mungkin satu-satunya manusia yang jika tersenyum, bisa membuat perundingan damai tertunda 3 hari.

Bukan karena takut. Tapi karena semua menunggu, apakah ini senyum restu, atau pertanda kiamat diplomatik?

camanewak

Rosadi Jamani
Ketua Satupena Kalbar

Share234SendTweet146Share
Rosadi Jamani

Rosadi Jamani

Ketua Satupena Kalbar

Next Post
Mengenal Ayatollah Ali Khemeini Sang Keturunan Nabi - 2025 06 18 10 08 49 | Internasional | Potret Online

Talam Dua Muka di Padang Pasir

POTRET Online

© 2026 potretonline.com

  • Home
  • Tentang Kami
  • Kirim Naskah
  • Disclaimer
  • Kebijakan Privasi
  • ToS
  • Penulis
  • Al-Qur’an
  • Redaksi

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms below to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Pendidikan
  • Opini
  • Essay
  • Politik
  • PODCAST
  • Penulis
  • Kirim Naskah

© 2026 potretonline.com