POTRET Online
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan
No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan
No Result
View All Result
POTRET Online
No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan

Begitu Susahnya Tito Minta Maaf pada Rakyat Aceh

Rosadi JamaniOleh Rosadi Jamani
June 18, 2025
Mengenal Tito Karnavian yang Memutasi Empat Pulau ke Sumut
🔊

Dengarkan Artikel

Oleh Rosadi Jamani

Siapkan kopi tanpa gulanya agar otak selalu encer dan waras. Narasi ini mengajarkan arti penting permintaan maaf.

Tentang empat pulau kecil yang mendadak mengalami nasib seperti anak kos salah kost. Namanya Pulau Lipan, Pulau Panjang, Pulau Mangkir Gadang, dan Mangkir Ketek. Mereka lahir dan besar di Aceh, berbicara dengan logat “peugah ban le”, tapi entah kenapa, di tahun 2025 ini, statusnya tiba-tiba digeser, “Kamu sekarang warga Sumut, ya!”

Yang bikin geger, ini bukan prank TikTok. Ini SK resmi dari Kementerian Dalam Negeri Republik Indonesia, dengan tanda tangan Tito Karnavian, mantan Kapolri yang sekarang menjabat sebagai Menteri Dalam Negeri. SK itu bernomor 300.2.2-2138 Tahun 2025, bukan kode undian berhadiah, tapi keputusan administratif yang nyaris memicu kerusuhan horizontal dan potensi referendum.

Warga Aceh, yang biasanya tenang minum kopi di warung dan debat soal klub bola, langsung marah. Bendera GAM berkibar, bukan karena nostalgia masa lalu, tapi karena kepercayaan pada negara terguncang. Di media sosial, tagar #EmpatPulauUntukAceh meledak. Di jalanan, spanduk-spanduk bernada “Kami Bukan Sumut” terpajang. Di udara, suasana mencekam. Bahkan, sekelas Gubernur Aceh pun sampai harus menahan diri agar tidak ikut meradang live di podcast.

Tapi di balik hiruk pikuk itu, muncullah sang presiden. Prabowo Subianto, presiden baru dengan otot tua dan gaya prajurit, langsung bersabda, “Empat pulau itu milik Aceh. Titik.” Seperti dalam epos Mahabharata, suara presiden lebih ampuh dari ribuan SK. Dengan satu keputusan, empat pulau itu dikembalikan ke pangkuan ibu pertiwinya, Kabupaten Aceh Singkil.

Namun, publik kini bertanya-tanya, .kenapa Tito bisa bikin keputusan segenting itu tanpa restu presiden? Apakah Mendagri bermain peta tanpa GPS? Atau ini semacam aksi solo seperti selebgram yang ingin viral, tapi lupa kontennya bisa bikin negara bergetar?

📚 Artikel Terkait

HABA Si PATok

Harga Naik, Jumlah Perokok Berkurang?

SURAT DARI BLORA

Menyelamatkan Masa Depan Lewat Arsip

Pengamat politik dari berbagai perguruan tinggi seperti Jamiluddin Ritonga dari Universitas Esa Unggul, dan Shohibul Ansor Siregar dari UMSU, menyebut keputusan Tito sebagai ceroboh, provokatif, dan berpotensi mengoyak tenun kebangsaan. Bahkan mereka menyarankan agar Tito mundur, atau setidaknya minta maaf.

Tapi… tak ada kata maaf keluar dari bibir sang menteri. Yang ada hanyalah klarifikasi penuh istilah teknokratis. “Kami baru menemukan dokumen tahun 1992 yang menyatakan pulau-pulau itu memang milik Aceh, berdasarkan Kepmendagri 111/1992 dan peta topografi TNI AD tahun 1978.” Oh, betapa romantisnya sebuah kementerian menemukan peta tua justru setelah konflik meletus.

Padahal rakyat cuma minta satu kalimat pendek, “Saya minta maaf kepada rakyat Aceh.” Tapi nampaknya di lemari arsip Kemendagri, kata maaf itu tak pernah ditemukan.

Kini, semua sudah tenang. Pulau-pulau kembali ke pelukan Aceh. Tapi jejak luka administratif ini belum hilang. Nama Tito, sayangnya, tercatat sebagai menteri yang nyaris mengganti batas negara karena lupa buka map lama.

Tito kelahiran Palembang ini masih tetap Menteri. Walau sudah banyak desakan ia diminta mundur. Ia tetap berdasi, tetap berbicara tegas di podium. Tapi di lubuk hati rakyat Aceh, mungkin beliau tinggal sebagai kenangan absurd tentang empat pulau yang sempat jadi yatim piatu administratif.

Seandainya saja beliau minta maaf, mungkin sejarah akan lebih ringan menulis namanya. Tapi sudahlah. Di republik ini, minta maaf memang tak diajarkan di Diklat Kepemimpinan. Yang diajarkan adalah, tahan malu, tebal muka, dan tunggu rakyat lupa.

Begitulah, wahai bangsa yang memaafkan bahkan sebelum dimintai maaf. Sungguh, sebuah epos birokrasi Indonesia, ketika pulau bisa pindah, tapi kata maaf tak pernah sampai.

camanewak

Rosadi Jamani
Ketua Satupena Kalbar

🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini

Bencana dan Perubahan Persepsi Masyarakat Pascabencana
Bencana dan Perubahan Persepsi Masyarakat Pascabencana
12 Jan 2026 • 155x dibaca (7 hari)
Sajadah yang Tertinggal di Seberang Lautan
Sajadah yang Tertinggal di Seberang Lautan
21 Jan 2026 • 137x dibaca (7 hari)
Lomba Menulis Ulang Tahun Potret
Lomba Menulis Ulang Tahun Potret
16 Jan 2026 • 125x dibaca (7 hari)
Belajar di Saat Dunia Berguncang
Belajar di Saat Dunia Berguncang
9 Jan 2026 • 97x dibaca (7 hari)
Pengaruh Internet dan Gadgets Bagi Masyarakat Kita
Pengaruh Internet dan Gadgets Bagi Masyarakat Kita
12 Mar 2018 • 91x dibaca (7 hari)
📝
Tanggung Jawab Konten
Seluruh isi dan opini dalam artikel ini merupakan tanggung jawab penulis. Redaksi bertugas menyunting tulisan tanpa mengubah subtansi dan maksud yang ingin disampaikan.
Share11SendShareScanShare
Rosadi Jamani

Rosadi Jamani

Please login to join discussion
#Gerakan Menulis

Ulang Tahun POTRET dalam Sepi dan Senyap: 23 Tahun Menyalakan Api Literasi dari Pinggiran

Oleh Tabrani YunisJanuary 18, 2026
#Sumatera Utara

Kala Belantara Bicara

Oleh Tabrani YunisDecember 23, 2025
Puisi Bencana

Kampung- Kampung Menelan Maut

Oleh Tabrani YunisNovember 28, 2025
Artikel

Menulis Dengan Jujur

Oleh Tabrani YunisSeptember 9, 2025
#Gerakan Menulis

Tak Sempat Menulis

Oleh Tabrani YunisJuly 12, 2025

Populer

  • Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    167 shares
    Share 67 Tweet 42
  • Inilah Situs Menulis Artikel dibayar

    159 shares
    Share 64 Tweet 40
  • Peran Coaching Kepala Sekolah dalam Meningkatkan Kualitas Pendidikan

    146 shares
    Share 58 Tweet 37
  • Korupsi Sebagai Jalur Karier di Konoha?

    58 shares
    Share 23 Tweet 15
  • Lomba Menulis Agustus 2025

    52 shares
    Share 21 Tweet 13

HABA MANGAT

Haba Mangat

Lomba Menulis Ulang Tahun Potret

Oleh Redaksi
January 16, 2026
164
Haba Mangat

Tema Lomba Menulis Edisi Desember 2025

Oleh Redaksi
December 5, 2025
90
Haba Mangat

Tema Lomba Menulis November 2025

Oleh Redaksi
November 10, 2025
95
Postingan Selanjutnya

Puisi-Puisi Alkhair Aljohore@ Untuk Aceh

  • Kirim Tulisan
  • Program 1000 Sepeda dan Kursi roda
  • Redaksi
  • Disclaimer
  • Tentang Kami

© 2025 potretonline.com

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms bellow to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan

© 2025 potretonline.com

-
00:00
00:00

Queue

Update Required Flash plugin
-
00:00
00:00