Kamis, April 23, 2026

Puisi-Puisi Alkhair Aljohore@ Untuk Aceh

Juni 2025
Oleh: Redaksi

“Empat Pulau yang Menangis

Empat pulau bukan sekadar tanah,

ia nyawa dalam dada rakyat.

Dari Sabang ke Simeulue,

gema luka membelah laut.

Anak kecil menjerit diam,

ibu tua peluk bendera sobek.

Di menara masjid tua,

azan tersedu dalam debu.

Bukan merdeka yang kami pinta,

tapi adil yang lama hilang.

Air mata tidak kenal sempadan,

berderai bersama sejarah yang berulang.

———-

Pak Probowo di Acheh”

Langkah kaki sang jeneral tua,

menyapa tanah luka yang purba.

Bukit-bukit berselimut kelabu,

kenang suara senapang yang dulu.

“Maafkan aku, wahai Acheh,”

katanya di hadapan mufti.

Namun luka bukan sekadar kata,

ia berkarat dalam jiwa.

Mereka sambut dengan mata dingin,

di dada tersimpan bara tak padam.

Damai bukan dari pidato,

tapi dari kejujuran yang mendalam.

———-

“Serambi Mekkah Berdarah

Tanah ini pernah syahidkan ramai,

dalam perang, dalam diplomasi mati.

Sekali lagi badai menjengah,

dengan bendera pemisahan berkibar.

Empat pulau dijadikan tawanan,

atas nama strategi kuasa.

Padahal rakyat hanya mahu roti,

dan hidup yang tidak dicatu.

Aceh menangis dalam diam,

lautnya menyimpan dendam garam.

Jangan main dengan darah syuhada,

kelak sejarah akan menghukum semula.

Alkhair Aljohore@

Anakkampong,

Malaysia

18.6.26

Tentang Penulis
Majalah Perempuan Aceh

Diskusi

Upload foto profil kecil (opsional)
Preview avatar
Memuat komentar...

Terbaru

Puisi terbaru untuk dibaca

Populer

Puisi yang banyak dibaca

Populer Mingguan

Berdasarkan jumlah pembaca 7 hari terakhir

Welcome Back!

Login to your account below

Create New Account!

Fill the forms below to register

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Add New Playlist