laki-laki dengan topi merah di kepala, seperti senoktah nyala di hamparan pohon kelapa.
matahari; jarum api yang menghunjam hingga nadi tertahan di serat-serat kain topi.
“tergelantang, hirap warnanya. topi merah menceritakan bara yang menyiksa. mengikutiku bekerja menelusuri kanopi pohon kelapa, mengamati, menghitungnya dengan bunyi dalam hati.”
bisik lelaki itu sambil terus melangkah. jalan setapak di perkebunan adalah peta panjang berkelok-kelok. ditelusurinya sambil tak lepas membibirkan dzikir.
topi merah masih melekat di kepala. diam-diam membasah bersama peluh di rambutnya. laki-laki itu terus bekerja, mengamati pohon kelapa yang berjajar dan terus tegar. seperti dirinya.
Batang, 2014
KURNIA HIDAYATI lahir di Batang Jawa Tengah, 1 Juni. Tulisan-tulisannya pernah dimuat di media massa local dan nasional. Di antaranya Media Indonesia, Jawa Pos, Kedaulatan Rakyat, Indopos, Riau Pos, Suara Karya, Banjarmasin Pos, Pos Bali, Bandung Ekspress, Majalah Sastra Kalimas, Minggu Pagi, Joglosemar, Ogan Ilir Ekspress, Buletin Jejak, Haluan Padang, Koran Merapi, Radar Surabaya, Suara NTB, Metro Riau, Solopos, Harian Cakrawala Makassar, Harian Bhirawa, Tabloid Duta Selaparang, Radar Seni, Radar Pekalongan, Buletin Mantra, mayokoaiko.com, unsa27.net, C-Magz, kabaran.id. biem.co, nusantaranews.id, dan lain-lain. Serta tergabung dalam puluhan buku antologi bersama.Buku puisi tunggalnya berjudul “Senandika Pemantik Api” terbit tahun 2015. Pernah menjadi peserta didik di Asqa Imagination School (AIS) angkatan 23. Bisa dihubungi melalui instagramnya @katakurnia.
Diskusi