POTRET Online
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan
No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan
No Result
View All Result
POTRET Online
No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan

Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

Frida PignyOleh Frida Pigny
June 18, 2025
Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng
🔊

Dengarkan Artikel


Oleh: @Frida.Pigny

Di Banda Aceh, terdapat dua kawasan dengan sejarah yang jarang dibahas: Emperom dan Goheng. Nama-nama ini menyimpan jejak keberagaman yang dahulu menjadi bagian tak terpisahkan dari identitas Aceh.

Emperom, diduga berasal dari kata “Emporium,” mencerminkan warisan perdagangan yang pernah berkembang pesat di Aceh. Konon, kawasan ini merupakan tempat tinggal keluarga besar Sultan pada masanya. Wilayah ini memiliki hubungan erat dengan keturunan Arab yang datang ke Nusantara untuk berdagang dan menyebarkan Islam. Salah satu tokoh yang lekat dengan kawasan ini pada masanya adalah Tgk. Sayedi Hasan Al-Jamalullail. Banyak keturunan Arab di Aceh berasal dari Hadramaut, Yaman, yang dikenal sejarah sebagai pelaut dan pedagang ulung. Richard C. Ponzio (2007) mencatat bahwa keturunan Arab di Nusantara memiliki pengaruh signifikan dalam penyebaran Islam dan perdagangan, termasuk di Aceh.

Sejarah juga mencatat bahwa hubungan Aceh dengan Tiongkok bukanlah hal baru. Lonceng Cakra Donya, lambang persahabatan dan keberagaman, merupakan hadiah dari Kaisar Dinasti Ming kepada Sultan Aceh dan menjadi saksi bisu eratnya hubungan kedua wilayah. Komunitas Tionghoa telah hadir di Aceh selama berabad-abad, dengan akulturasi budaya yang terjadi secara alami. Bahkan, dalam catatan sejarah, Laksamana Cheng Ho, seorang Muslim Tionghoa dari Dinasti Ming, pernah mengirim armada ke Aceh dalam misi diplomatik dan perdagangan.

Anthony Reid (1995) mengungkap bahwa sejak abad ke-15, komunitas Tionghoa sudah berbaur dengan masyarakat setempat di Aceh. Beberapa di antaranya bahkan masuk Islam dan menikah dengan perempuan Aceh. Tidak jarang mereka menjadi bagian dari elite perdagangan dan politik di Kesultanan Aceh.

Seorang pria Tionghoa, Go Kim Pong, menikah dengan seorang perempuan peranakan Tionghoa-Melayu bernama Kim Yin. Ibunya Kim Yin: Cut Nyak Sulia, adalah adik Raja Kamil. Mereka dari keluarga kerajaan Melayu di Nagan Raya, Kerajaan Batu namanya. Namun, setelah Raja Kamil kalah dalam perang perebutan wilayah melawan Raja Ubit, ia beserta keluarganya diasingkan ke Sinabang. Sulia pernah menikah dengan keturunan raja dan memiliki dua orang anak sebelum akhirnya menjadi janda. Kemudian, ia menikah dengan seorang pria Tionghoa bernama Ho Lim San, yang kemudian lebih dikenal sebagai Hasan. Sebelum menjadi salah satu anggota keluarga kerajaan, Hasan merupakan seorang muadzin dan sosok yang dipercaya oleh penguasa saat itu.

Goheng, kawasan yang erat kaitannya dengan komunitas Tionghoa, pernah menjadi pusat usaha keluarga Go Kim Pong, seorang keturunan dari keluarga pengusaha sukses yang memiliki peternakan babi. Dahulu, di sekitar Jembatan Seutui di Jalan Teuku Umar kota Banda Aceh, babi berkeliaran bebas sebelum pemandangan itu hilang seiring perubahan sosial dan budaya di Aceh. Pada masa lalu, kepemilikan babi di Aceh diibaratkan memiliki “tumpukan emas berjalan”, karena babi adalah komoditas berharga yang diperdagangkan dengan kapal-kapal asing. Laporan dagang kolonial Belanda tahun 1870-an mencatat bahwa babi dari Aceh diekspor ke Singapura dan Penang untuk memenuhi permintaan daging. Namun, perubahan aturan dan nilai sosial menyebabkan peternakan babi menghilang sepenuhnya dari Aceh, sesuatu yang sulit dibayangkan oleh generasi muda saat ini.

Keberagaman etnis di Aceh bukanlah fenomena baru. Pada abad ke-19, Banda Aceh adalah rumah bagi komunitas Arab, Tionghoa, dan India yang hidup berdampingan dengan masyarakat lokal. Anthony Reid dalam ‘Southeast Asia in the Age of Commerce, 1450–1680’ (1988) menyebutkan bahwa Aceh merupakan pusat perdagangan internasional yang menjadi persinggahan para pedagang dari berbagai belahan dunia. Kota ini menjadi ‘melting pot’ yang memperkaya kebudayaan lokal.

📚 Artikel Terkait

Buku KOPITALISME Ramaikan Jogja Book Fair 2025

BENGKEL OPINI RAKyat

Masa Depan Aceh

Norsan dan Kekuatan Politik Tingkat Dewa

Namun, seiring berjalannya waktu, kebijakan politik, perubahan sosial, dan konflik berkepanjangan menyebabkan komunitas-komunitas ini mulai terpinggirkan. Banyak keturunan Arab yang berasimilasi dengan budaya Aceh, sementara sebagian besar komunitas Tionghoa meninggalkan Aceh setelah tragedi pengusiran etnis di tahun 1965 dan konflik di tahun-tahun berikutnya. Kini, jejak mereka lebih banyak tersimpan dalam nama keluarga dan sisa-sisa bangunan tua yang masih berdiri.

Sejarah Aceh juga diwarnai oleh masa-masa kelam, salah satunya Perang Cumbok pada tahun 1945-1946. Perang ini menjadi titik balik bagi banyak keturunan bangsawan dan elite Aceh, termasuk keturunan Tgk. Sayedi Hasan Al-Jamalullail. Pada masa itu, pemusnahan keturunan Sultan dan para elite berlangsung secara besar-besaran. Demi melindungi garis keturunannya, Tgk. Sayedi – dimana orang kampung akrab memanggilnya ‘Kuyet’- beserta sanak-saudara nya – termasuk ‘Kudi Husen’ adik kandungnya – menghapus penggunaan nama “Sayed” pada keturunannya dan hanya menyisakan satu suku kata “Di” sebagai awalan nama, sebagai ‘penanda’.

Jejak kebijakan ini masih dapat ditemukan dalam berbagai nama gampong dan bangunan di Aceh, seperti Di Pineung, Di Murthala, dan lainnya. Nama-nama ini menjadi saksi bisu bagaimana keluarga bangsawan dan keturunan Arab berusaha bertahan di tengah gejolak sejarah.

Ketika kita menelusuri sejarah Goheng dan Emperom, saya tidak sedang menuliskan cerita fiktif. Saya mengajak pembaca menelusuri jejak leluhur saya, yang merupakan bagian dari mozaik keberagaman Aceh yang kini semakin samar. Goheng dan Emperom bukan hanya nama tempat dalam sejarah, tetapi juga bagian dari identitas saya yang terjalin dalam garis keturunan yang kaya akan persilangan budaya. Saya adalah bagian dari kisah ini.

Konon katanya, nama “Aceh” sendiri adalah akronim dari Arab, Cina, Eropa, dan Hindustan. Namun, kini ada kesan bahwa menjadi Aceh berarti harus memiliki ciri khas tertentu, seakan-akan ada batasan siapa yang boleh disebut sebagai “orang Aceh asli”.

Penelitian Iskandar Zulkarnain (2020) menyebutkan bahwa identitas Aceh mengalami reduksi akibat proses homogenisasi budaya yang semakin kuat pasca-konflik. Sejumlah komunitas non-Aceh mulai merasa termarginalisasi, meskipun secara historis mereka telah menjadi bagian dari masyarakat Aceh selama berabad-abad.

Aceh bukan hanya milik satu kelompok. Aceh adalah kumparan dari banyak latar belakang, agama, dan suku. Sebuah tanah yang telah lama menjadi rumah bagi mereka yang datang dari berbagai penjuru dunia. Inilah Aceh yang seharusnya kita akui kembali.

Sejarah Aceh bukan hanya tentang kesultanan dan perjuangan Islam, tetapi juga tentang keterbukaan dan asimilasi budaya yang telah berlangsung selama berabad-abad. Kini, keberagaman seolah dipandang sebagai ancaman. Saya yang lahir, besar, dan berani bersuara demi kemajuan Aceh justru dianggap penyusup, hanya karena tampilan saya yang lebih oriental.

Kisah ini adalah pengingat bahwa Aceh tidak pernah menjadi entitas yang homogen. Dari pelabuhan-pelabuhan yang ramai hingga jalan-jalan kecil di Aceh, ada jejak Arab, Tionghoa, India, dan Melayu yang menyatu dalam simfoni sejarah. Ironis, mengingat Banda Aceh kini mengusung slogan Kota Kolaborasi, sementara pluralitas yang dulu menjadi kekuatannya justru semakin menyempit. Apakah kita akan membiarkan keberagaman ini terkubur, ataukah kita akan menggali kembali akar-akar yang telah lama terlupakan?

Tulisan ini lahir dari kisah nyata dan warisan keluarga saya yang kaya akan keberagaman. Saya mungkin bukan sejarawan, tetapi saya percaya bahwa sejarah bukan sekadar kenangan masa lalu, ia adalah cermin yang membentuk masa depan kita. Al-Fatihah untuk para nenek dan kakek buyut saya, yang namanya disebut-sebut dan kini terukir dalam jejak sejarah Aceh.(*)

Foto Koleksi Keluarga DM: Di Manyak (aka Di Ali) bin Tgk Sayedi Hasan Al-Jamalullail bersama truk pengangkutan barang dan para anak buahnya (alm: barisan kiri paling kanan)

🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini

Bencana dan Perubahan Persepsi Masyarakat Pascabencana
Bencana dan Perubahan Persepsi Masyarakat Pascabencana
12 Jan 2026 • 155x dibaca (7 hari)
Sajadah yang Tertinggal di Seberang Lautan
Sajadah yang Tertinggal di Seberang Lautan
21 Jan 2026 • 137x dibaca (7 hari)
Lomba Menulis Ulang Tahun Potret
Lomba Menulis Ulang Tahun Potret
16 Jan 2026 • 125x dibaca (7 hari)
Belajar di Saat Dunia Berguncang
Belajar di Saat Dunia Berguncang
9 Jan 2026 • 97x dibaca (7 hari)
Pengaruh Internet dan Gadgets Bagi Masyarakat Kita
Pengaruh Internet dan Gadgets Bagi Masyarakat Kita
12 Mar 2018 • 91x dibaca (7 hari)
📝
Tanggung Jawab Konten
Seluruh isi dan opini dalam artikel ini merupakan tanggung jawab penulis. Redaksi bertugas menyunting tulisan tanpa mengubah subtansi dan maksud yang ingin disampaikan.
Share67SendShareScanShare
Frida Pigny

Frida Pigny

Frida Pigny adalah seorang home educator bersertifikat, pembicara transformasional, dan pendiri SuperSchooling, sebuah platform pendidikan keluarga yang membantu orang tua merancang perjalanan belajar yang lebih bermakna, personal, dan selaras dengan nilai keberagaman. Ia menggabungkan ilmu NLP, Time Line Therapy™️, Hipnosis, Psikologi Positif, Psikologi Energi, Kinesiologi, dan Emotional Freedom Technique (EFT) dalam pendekatan pendidikan holistik yang ia bangun. Lewat Axellent Method, pendekatan khas Frida yang santai namun transformatif, ia memberi ruang bagi keluarga untuk keluar dari sistem pendidikan yang kaku dan menumbuhkan anak-anak yang lebih percaya diri, kreatif, dan penuh empati. Frida juga seorang Firewalk Trainer tersertifikasi dan anggota Aceh Australian Alumni. Misinya adalah menghidupkan pendidikan masa depan yang berpijak pada kekuatan keluarga, kemerdekaan belajar, dan keberagaman nilai abad 21. Ayo, connect dengan Frida di Instagram: @Frida.Pigny Frida Pigny is a certified home educator, energy psychology practitioner, and founder of SuperSchooling, a movement that helps families design personalized, diversity-aligned learning experiences. Combining neuroscience, EFT, NLP, kinesiology, and positive psychology, Frida empowers parents to raise confident, creative children beyond the limits of traditional schooling. Through her Superschooling platform and signature Axellent Method, a relaxed yet powerfully transformative learning approach, she guides families to break free from rigid systems and nurture emotionally resilient, empathetic, and curious young learners. Frida is also a certified Firewalk Trainer and a proud member of the Aceh Australian Alumni network. Her mission is to reimagine future education by rooting it in family strength, freedom, and cultural integrity.

Please login to join discussion
#Gerakan Menulis

Ulang Tahun POTRET dalam Sepi dan Senyap: 23 Tahun Menyalakan Api Literasi dari Pinggiran

Oleh Tabrani YunisJanuary 18, 2026
#Sumatera Utara

Kala Belantara Bicara

Oleh Tabrani YunisDecember 23, 2025
Puisi Bencana

Kampung- Kampung Menelan Maut

Oleh Tabrani YunisNovember 28, 2025
Artikel

Menulis Dengan Jujur

Oleh Tabrani YunisSeptember 9, 2025
#Gerakan Menulis

Tak Sempat Menulis

Oleh Tabrani YunisJuly 12, 2025

Populer

  • Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    167 shares
    Share 67 Tweet 42
  • Inilah Situs Menulis Artikel dibayar

    159 shares
    Share 64 Tweet 40
  • Peran Coaching Kepala Sekolah dalam Meningkatkan Kualitas Pendidikan

    146 shares
    Share 58 Tweet 37
  • Korupsi Sebagai Jalur Karier di Konoha?

    58 shares
    Share 23 Tweet 15
  • Lomba Menulis Agustus 2025

    52 shares
    Share 21 Tweet 13

HABA MANGAT

Haba Mangat

Lomba Menulis Ulang Tahun Potret

Oleh Redaksi
January 16, 2026
164
Haba Mangat

Tema Lomba Menulis Edisi Desember 2025

Oleh Redaksi
December 5, 2025
90
Haba Mangat

Tema Lomba Menulis November 2025

Oleh Redaksi
November 10, 2025
95
Postingan Selanjutnya
Sastra: Nafas Panjang Kemanusiaan

Sastra: Nafas Panjang Kemanusiaan

  • Kirim Tulisan
  • Program 1000 Sepeda dan Kursi roda
  • Redaksi
  • Disclaimer
  • Tentang Kami

© 2025 potretonline.com

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms bellow to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan

© 2025 potretonline.com

-
00:00
00:00

Queue

Update Required Flash plugin
-
00:00
00:00