• Latest
Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng - 2025 06 18 08 06 29 | #Arsip | Potret Online

Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

Juni 18, 2025
7a99e876-6eef-41d6-9907-7169c5920d83

Di Ujung Magrib

Maret 31, 2026
85645e8f-e49d-463f-8fa4-730280ce2b71

Pentingnya Sastra dalam Sistem Pendidikan Rusia sebagai Landasan Pembentukan Karakter dan Pola Pikir

Maret 31, 2026
Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng - 0e417695 171f 4238 b08b 77387e695a57 | #Arsip | Potret Online

Dari Geopolitik ke Dapur Rakyat: Krisis Global dan Rapuhnya Ekonomi Indonesia

Maret 31, 2026
ba05a86a-c490-46bf-9ae8-c75ef1da62eb

Nasrallah dan Jugendliteratur

Maret 31, 2026
cd371ba6-715d-447b-b94a-30123cf2d952

Pendidikan Hadapi Ancaman Nyata

Maret 31, 2026
Ilustrasi Ngopi Bersama Ali Shariati dan Nietsche

Aceh Meniru Jakarta

Maret 31, 2026
Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng - 09ff0262 2fb8 4c93 9f84 06e6009c9293 | #Arsip | Potret Online

Menanti Dinas Pendidikan Provinsi Aceh Bersinergi Membangun Literasi Anak Negeri

Maret 31, 2026
Ilustrasi ketidakadilan hukum terhadap rakyat kecil

Hukum yang “Sakit” Hati : Rakyat Kecil Hanya Bisa Mengeluh

Maret 31, 2026
  • Home
  • Artikel
  • POTRET Budaya
  • Literasi
  • Edukasi
  • Pendidikan
  • Puisi
  • Esai
  • Opini
  • Penulis
  • Kirim Naskah
No Result
View All Result
SAVED POSTS
AI News
  • Home
  • Artikel
  • POTRET Budaya
  • Literasi
  • Edukasi
  • Pendidikan
  • Puisi
  • Esai
  • Opini
  • Penulis
  • Kirim Naskah
No Result
View All Result
POTRET
No Result
View All Result
Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng - 2025 06 18 08 06 29 | #Arsip | Potret Online

Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

Frida Pigny by Frida Pigny
Juni 18, 2025
in #Arsip, #Suku, #Tionghoa, Aceh, Banda Aceh, Budaya, Kerajaan Aceh, Pemkot Banda Aceh, Sejarah, Walikota Banda Aceh, warga Aceh
Reading Time: 5 mins read
0
886
SHARES
4.9k
VIEWS
Summarize with ChatGPTShare to Facebook


Oleh: @Frida Pigny

Di Banda Aceh, terdapat dua kawasan dengan sejarah yang jarang dibahas: Emperom dan Goheng. Nama-nama ini menyimpan jejak keberagaman yang dahulu menjadi bagian tak terpisahkan dari identitas Aceh.

Baca Juga

cd371ba6-715d-447b-b94a-30123cf2d952

Pendidikan Hadapi Ancaman Nyata

Maret 31, 2026
Ilustrasi Ngopi Bersama Ali Shariati dan Nietsche

Aceh Meniru Jakarta

Maret 31, 2026
IMG_0542

Jejak Darah di Terbangan: Kematian Letnan Satu Molenaar alias Kapitan Lhoknga dan Perlawanan Rakyat Aceh Selatan

Maret 30, 2026

Emperom, diduga berasal dari kata “Emporium,” mencerminkan warisan perdagangan yang pernah berkembang pesat di Aceh. Konon, kawasan ini merupakan tempat tinggal keluarga besar Sultan pada masanya. Wilayah ini memiliki hubungan erat dengan keturunan Arab yang datang ke Nusantara untuk berdagang dan menyebarkan Islam. Salah satu tokoh yang lekat dengan kawasan ini pada masanya adalah Tgk. Sayedi Hasan Al-Jamalullail. Banyak keturunan Arab di Aceh berasal dari Hadramaut, Yaman, yang dikenal sejarah sebagai pelaut dan pedagang ulung. Richard C. Ponzio (2007) mencatat bahwa keturunan Arab di Nusantara memiliki pengaruh signifikan dalam penyebaran Islam dan perdagangan, termasuk di Aceh.

Sejarah juga mencatat bahwa hubungan Aceh dengan Tiongkok bukanlah hal baru. Lonceng Cakra Donya, lambang persahabatan dan keberagaman, merupakan hadiah dari Kaisar Dinasti Ming kepada Sultan Aceh dan menjadi saksi bisu eratnya hubungan kedua wilayah. Komunitas Tionghoa telah hadir di Aceh selama berabad-abad, dengan akulturasi budaya yang terjadi secara alami. Bahkan, dalam catatan sejarah, Laksamana Cheng Ho, seorang Muslim Tionghoa dari Dinasti Ming, pernah mengirim armada ke Aceh dalam misi diplomatik dan perdagangan.

Anthony Reid (1995) mengungkap bahwa sejak abad ke-15, komunitas Tionghoa sudah berbaur dengan masyarakat setempat di Aceh. Beberapa di antaranya bahkan masuk Islam dan menikah dengan perempuan Aceh. Tidak jarang mereka menjadi bagian dari elite perdagangan dan politik di Kesultanan Aceh.

Seorang pria Tionghoa, Go Kim Pong, menikah dengan seorang perempuan peranakan Tionghoa-Melayu bernama Kim Yin. Ibunya Kim Yin: Cut Nyak Sulia, adalah adik Raja Kamil. Mereka dari keluarga kerajaan Melayu di Nagan Raya, Kerajaan Batu namanya. Namun, setelah Raja Kamil kalah dalam perang perebutan wilayah melawan Raja Ubit, ia beserta keluarganya diasingkan ke Sinabang. Sulia pernah menikah dengan keturunan raja dan memiliki dua orang anak sebelum akhirnya menjadi janda. Kemudian, ia menikah dengan seorang pria Tionghoa bernama Ho Lim San, yang kemudian lebih dikenal sebagai Hasan. Sebelum menjadi salah satu anggota keluarga kerajaan, Hasan merupakan seorang muadzin dan sosok yang dipercaya oleh penguasa saat itu.

Goheng, kawasan yang erat kaitannya dengan komunitas Tionghoa, pernah menjadi pusat usaha keluarga Go Kim Pong, seorang keturunan dari keluarga pengusaha sukses yang memiliki peternakan babi. Dahulu, di sekitar Jembatan Seutui di Jalan Teuku Umar kota Banda Aceh, babi berkeliaran bebas sebelum pemandangan itu hilang seiring perubahan sosial dan budaya di Aceh. Pada masa lalu, kepemilikan babi di Aceh diibaratkan memiliki “tumpukan emas berjalan”, karena babi adalah komoditas berharga yang diperdagangkan dengan kapal-kapal asing. Laporan dagang kolonial Belanda tahun 1870-an mencatat bahwa babi dari Aceh diekspor ke Singapura dan Penang untuk memenuhi permintaan daging. Namun, perubahan aturan dan nilai sosial menyebabkan peternakan babi menghilang sepenuhnya dari Aceh, sesuatu yang sulit dibayangkan oleh generasi muda saat ini.

Keberagaman etnis di Aceh bukanlah fenomena baru. Pada abad ke-19, Banda Aceh adalah rumah bagi komunitas Arab, Tionghoa, dan India yang hidup berdampingan dengan masyarakat lokal. Anthony Reid dalam ‘Southeast Asia in the Age of Commerce, 1450–1680’ (1988) menyebutkan bahwa Aceh merupakan pusat perdagangan internasional yang menjadi persinggahan para pedagang dari berbagai belahan dunia. Kota ini menjadi ‘melting pot’ yang memperkaya kebudayaan lokal.

Namun, seiring berjalannya waktu, kebijakan politik, perubahan sosial, dan konflik berkepanjangan menyebabkan komunitas-komunitas ini mulai terpinggirkan. Banyak keturunan Arab yang berasimilasi dengan budaya Aceh, sementara sebagian besar komunitas Tionghoa meninggalkan Aceh setelah tragedi pengusiran etnis di tahun 1965 dan konflik di tahun-tahun berikutnya. Kini, jejak mereka lebih banyak tersimpan dalam nama keluarga dan sisa-sisa bangunan tua yang masih berdiri.

Sejarah Aceh juga diwarnai oleh masa-masa kelam, salah satunya Perang Cumbok pada tahun 1945-1946. Perang ini menjadi titik balik bagi banyak keturunan bangsawan dan elite Aceh, termasuk keturunan Tgk. Sayedi Hasan Al-Jamalullail. Pada masa itu, pemusnahan keturunan Sultan dan para elite berlangsung secara besar-besaran. Demi melindungi garis keturunannya, Tgk. Sayedi – dimana orang kampung akrab memanggilnya ‘Kuyet’- beserta sanak-saudara nya – termasuk ‘Kudi Husen’ adik kandungnya – menghapus penggunaan nama “Sayed” pada keturunannya dan hanya menyisakan satu suku kata “Di” sebagai awalan nama, sebagai ‘penanda’.

Jejak kebijakan ini masih dapat ditemukan dalam berbagai nama gampong dan bangunan di Aceh, seperti Di Pineung, Di Murthala, dan lainnya. Nama-nama ini menjadi saksi bisu bagaimana keluarga bangsawan dan keturunan Arab berusaha bertahan di tengah gejolak sejarah.

Ketika kita menelusuri sejarah Goheng dan Emperom, saya tidak sedang menuliskan cerita fiktif. Saya mengajak pembaca menelusuri jejak leluhur saya, yang merupakan bagian dari mozaik keberagaman Aceh yang kini semakin samar. Goheng dan Emperom bukan hanya nama tempat dalam sejarah, tetapi juga bagian dari identitas saya yang terjalin dalam garis keturunan yang kaya akan persilangan budaya. Saya adalah bagian dari kisah ini.

Konon katanya, nama “Aceh” sendiri adalah akronim dari Arab, Cina, Eropa, dan Hindustan. Namun, kini ada kesan bahwa menjadi Aceh berarti harus memiliki ciri khas tertentu, seakan-akan ada batasan siapa yang boleh disebut sebagai “orang Aceh asli”.

Penelitian Iskandar Zulkarnain (2020) menyebutkan bahwa identitas Aceh mengalami reduksi akibat proses homogenisasi budaya yang semakin kuat pasca-konflik. Sejumlah komunitas non-Aceh mulai merasa termarginalisasi, meskipun secara historis mereka telah menjadi bagian dari masyarakat Aceh selama berabad-abad.

Aceh bukan hanya milik satu kelompok. Aceh adalah kumparan dari banyak latar belakang, agama, dan suku. Sebuah tanah yang telah lama menjadi rumah bagi mereka yang datang dari berbagai penjuru dunia. Inilah Aceh yang seharusnya kita akui kembali.

Sejarah Aceh bukan hanya tentang kesultanan dan perjuangan Islam, tetapi juga tentang keterbukaan dan asimilasi budaya yang telah berlangsung selama berabad-abad. Kini, keberagaman seolah dipandang sebagai ancaman. Saya yang lahir, besar, dan berani bersuara demi kemajuan Aceh justru dianggap penyusup, hanya karena tampilan saya yang lebih oriental.

Kisah ini adalah pengingat bahwa Aceh tidak pernah menjadi entitas yang homogen. Dari pelabuhan-pelabuhan yang ramai hingga jalan-jalan kecil di Aceh, ada jejak Arab, Tionghoa, India, dan Melayu yang menyatu dalam simfoni sejarah. Ironis, mengingat Banda Aceh kini mengusung slogan Kota Kolaborasi, sementara pluralitas yang dulu menjadi kekuatannya justru semakin menyempit. Apakah kita akan membiarkan keberagaman ini terkubur, ataukah kita akan menggali kembali akar-akar yang telah lama terlupakan?

ADVERTISEMENT

Tulisan ini lahir dari kisah nyata dan warisan keluarga saya yang kaya akan keberagaman. Saya mungkin bukan sejarawan, tetapi saya percaya bahwa sejarah bukan sekadar kenangan masa lalu, ia adalah cermin yang membentuk masa depan kita. Al-Fatihah untuk para nenek dan kakek buyut saya, yang namanya disebut-sebut dan kini terukir dalam jejak sejarah Aceh.(*)

Foto Koleksi Keluarga DM: Di Manyak (aka Di Ali) bin Tgk Sayedi Hasan Al-Jamalullail bersama truk pengangkutan barang dan para anak buahnya (alm: barisan kiri paling kanan)

🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini

Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng
Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng
18 Jun 2025 • 331x dibaca (7 hari)
Membuka Tabir Sejarah Kenegerian Manggeng dan Para Raja yang  Pernah Berkuasa
Membuka Tabir Sejarah Kenegerian Manggeng dan Para Raja yang  Pernah Berkuasa
27 Mar 2026 • 327x dibaca (7 hari)
Batu Gajah Hilang di Bate Iliek
Batu Gajah Hilang di Bate Iliek
23 Mar 2026 • 304x dibaca (7 hari)
Aceh Hijau atau Aceh Gundul?
Aceh Hijau atau Aceh Gundul?
12 Mar 2026 • 255x dibaca (7 hari)
Memutus Rantai Kemiskinan, Melawan Kufur Etika
Memutus Rantai Kemiskinan, Melawan Kufur Etika
20 Mar 2026 • 195x dibaca (7 hari)
📝
Tanggung Jawab Konten
Seluruh isi dan opini dalam artikel ini merupakan tanggung jawab penulis. Redaksi bertugas menyunting tulisan tanpa mengubah subtansi dan maksud yang ingin disampaikan.
SummarizeShare354Tweet222
Frida Pigny

Frida Pigny

Frida Pigny adalah seorang home educator bersertifikat, pembicara transformasional, dan pendiri SuperSchooling, sebuah platform pendidikan keluarga yang membantu orang tua merancang perjalanan belajar yang lebih bermakna, personal, dan selaras dengan nilai keberagaman. Ia menggabungkan ilmu NLP, Time Line Therapy™️, Hipnosis, Psikologi Positif, Psikologi Energi, Kinesiologi, dan Emotional Freedom Technique (EFT) dalam pendekatan pendidikan holistik yang ia bangun. Lewat Axellent Method, pendekatan khas Frida yang santai namun transformatif, ia memberi ruang bagi keluarga untuk keluar dari sistem pendidikan yang kaku dan menumbuhkan anak-anak yang lebih percaya diri, kreatif, dan penuh empati. Frida juga seorang Firewalk Trainer tersertifikasi dan anggota Aceh Australian Alumni. Misinya adalah menghidupkan pendidikan masa depan yang berpijak pada kekuatan keluarga, kemerdekaan belajar, dan keberagaman nilai abad 21. Ayo, connect dengan Frida di Instagram: @Frida.Pigny Frida Pigny is a certified home educator, energy psychology practitioner, and founder of SuperSchooling, a movement that helps families design personalized, diversity-aligned learning experiences. Combining neuroscience, EFT, NLP, kinesiology, and positive psychology, Frida empowers parents to raise confident, creative children beyond the limits of traditional schooling. Through her Superschooling platform and signature Axellent Method, a relaxed yet powerfully transformative learning approach, she guides families to break free from rigid systems and nurture emotionally resilient, empathetic, and curious young learners. Frida is also a certified Firewalk Trainer and a proud member of the Aceh Australian Alumni network. Her mission is to reimagine future education by rooting it in family strength, freedom, and cultural integrity.

Baca Juga

7a99e876-6eef-41d6-9907-7169c5920d83
#Cerpen

Di Ujung Magrib

Maret 31, 2026
85645e8f-e49d-463f-8fa4-730280ce2b71
Artikel

Pentingnya Sastra dalam Sistem Pendidikan Rusia sebagai Landasan Pembentukan Karakter dan Pola Pikir

Maret 31, 2026
Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng - 0e417695 171f 4238 b08b 77387e695a57 | #Arsip | Potret Online
Artikel

Dari Geopolitik ke Dapur Rakyat: Krisis Global dan Rapuhnya Ekonomi Indonesia

Maret 31, 2026
ba05a86a-c490-46bf-9ae8-c75ef1da62eb
Artikel

Nasrallah dan Jugendliteratur

Maret 31, 2026
Next Post
Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng - 2025 06 18 08 29 27 | #Arsip | Potret Online

Sastra: Nafas Panjang Kemanusiaan

POTRET Online

© 2026 potretonline.com

  • Home
  • Tentang Kami
  • Kirim Naskah
  • Disclaimer
  • Privacy Policy (Kebijakan Privasi)
  • Terms of Service (Syarat dan Ketentuan)
  • Penulis
  • Al-Qur’an

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms below to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Pendidikan
  • Logout
  • Opini
  • Essay
  • Politik
  • PODCAST
  • Penulis
  • Kirim Naskah

© 2026 potretonline.com