Dengarkan Artikel
Oleh: @Frida.Pigny
Di Banda Aceh, terdapat dua kawasan dengan sejarah yang jarang dibahas: Emperom dan Goheng. Nama-nama ini menyimpan jejak keberagaman yang dahulu menjadi bagian tak terpisahkan dari identitas Aceh.
Emperom, diduga berasal dari kata “Emporium,” mencerminkan warisan perdagangan yang pernah berkembang pesat di Aceh. Konon, kawasan ini merupakan tempat tinggal keluarga besar Sultan pada masanya. Wilayah ini memiliki hubungan erat dengan keturunan Arab yang datang ke Nusantara untuk berdagang dan menyebarkan Islam. Salah satu tokoh yang lekat dengan kawasan ini pada masanya adalah Tgk. Sayedi Hasan Al-Jamalullail. Banyak keturunan Arab di Aceh berasal dari Hadramaut, Yaman, yang dikenal sejarah sebagai pelaut dan pedagang ulung. Richard C. Ponzio (2007) mencatat bahwa keturunan Arab di Nusantara memiliki pengaruh signifikan dalam penyebaran Islam dan perdagangan, termasuk di Aceh.
Sejarah juga mencatat bahwa hubungan Aceh dengan Tiongkok bukanlah hal baru. Lonceng Cakra Donya, lambang persahabatan dan keberagaman, merupakan hadiah dari Kaisar Dinasti Ming kepada Sultan Aceh dan menjadi saksi bisu eratnya hubungan kedua wilayah. Komunitas Tionghoa telah hadir di Aceh selama berabad-abad, dengan akulturasi budaya yang terjadi secara alami. Bahkan, dalam catatan sejarah, Laksamana Cheng Ho, seorang Muslim Tionghoa dari Dinasti Ming, pernah mengirim armada ke Aceh dalam misi diplomatik dan perdagangan.
Anthony Reid (1995) mengungkap bahwa sejak abad ke-15, komunitas Tionghoa sudah berbaur dengan masyarakat setempat di Aceh. Beberapa di antaranya bahkan masuk Islam dan menikah dengan perempuan Aceh. Tidak jarang mereka menjadi bagian dari elite perdagangan dan politik di Kesultanan Aceh.
Seorang pria Tionghoa, Go Kim Pong, menikah dengan seorang perempuan peranakan Tionghoa-Melayu bernama Kim Yin. Ibunya Kim Yin: Cut Nyak Sulia, adalah adik Raja Kamil. Mereka dari keluarga kerajaan Melayu di Nagan Raya, Kerajaan Batu namanya. Namun, setelah Raja Kamil kalah dalam perang perebutan wilayah melawan Raja Ubit, ia beserta keluarganya diasingkan ke Sinabang. Sulia pernah menikah dengan keturunan raja dan memiliki dua orang anak sebelum akhirnya menjadi janda. Kemudian, ia menikah dengan seorang pria Tionghoa bernama Ho Lim San, yang kemudian lebih dikenal sebagai Hasan. Sebelum menjadi salah satu anggota keluarga kerajaan, Hasan merupakan seorang muadzin dan sosok yang dipercaya oleh penguasa saat itu.
Goheng, kawasan yang erat kaitannya dengan komunitas Tionghoa, pernah menjadi pusat usaha keluarga Go Kim Pong, seorang keturunan dari keluarga pengusaha sukses yang memiliki peternakan babi. Dahulu, di sekitar Jembatan Seutui di Jalan Teuku Umar kota Banda Aceh, babi berkeliaran bebas sebelum pemandangan itu hilang seiring perubahan sosial dan budaya di Aceh. Pada masa lalu, kepemilikan babi di Aceh diibaratkan memiliki “tumpukan emas berjalan”, karena babi adalah komoditas berharga yang diperdagangkan dengan kapal-kapal asing. Laporan dagang kolonial Belanda tahun 1870-an mencatat bahwa babi dari Aceh diekspor ke Singapura dan Penang untuk memenuhi permintaan daging. Namun, perubahan aturan dan nilai sosial menyebabkan peternakan babi menghilang sepenuhnya dari Aceh, sesuatu yang sulit dibayangkan oleh generasi muda saat ini.
Keberagaman etnis di Aceh bukanlah fenomena baru. Pada abad ke-19, Banda Aceh adalah rumah bagi komunitas Arab, Tionghoa, dan India yang hidup berdampingan dengan masyarakat lokal. Anthony Reid dalam ‘Southeast Asia in the Age of Commerce, 1450–1680’ (1988) menyebutkan bahwa Aceh merupakan pusat perdagangan internasional yang menjadi persinggahan para pedagang dari berbagai belahan dunia. Kota ini menjadi ‘melting pot’ yang memperkaya kebudayaan lokal.
📚 Artikel Terkait
Namun, seiring berjalannya waktu, kebijakan politik, perubahan sosial, dan konflik berkepanjangan menyebabkan komunitas-komunitas ini mulai terpinggirkan. Banyak keturunan Arab yang berasimilasi dengan budaya Aceh, sementara sebagian besar komunitas Tionghoa meninggalkan Aceh setelah tragedi pengusiran etnis di tahun 1965 dan konflik di tahun-tahun berikutnya. Kini, jejak mereka lebih banyak tersimpan dalam nama keluarga dan sisa-sisa bangunan tua yang masih berdiri.
Sejarah Aceh juga diwarnai oleh masa-masa kelam, salah satunya Perang Cumbok pada tahun 1945-1946. Perang ini menjadi titik balik bagi banyak keturunan bangsawan dan elite Aceh, termasuk keturunan Tgk. Sayedi Hasan Al-Jamalullail. Pada masa itu, pemusnahan keturunan Sultan dan para elite berlangsung secara besar-besaran. Demi melindungi garis keturunannya, Tgk. Sayedi – dimana orang kampung akrab memanggilnya ‘Kuyet’- beserta sanak-saudara nya – termasuk ‘Kudi Husen’ adik kandungnya – menghapus penggunaan nama “Sayed” pada keturunannya dan hanya menyisakan satu suku kata “Di” sebagai awalan nama, sebagai ‘penanda’.
Jejak kebijakan ini masih dapat ditemukan dalam berbagai nama gampong dan bangunan di Aceh, seperti Di Pineung, Di Murthala, dan lainnya. Nama-nama ini menjadi saksi bisu bagaimana keluarga bangsawan dan keturunan Arab berusaha bertahan di tengah gejolak sejarah.
Ketika kita menelusuri sejarah Goheng dan Emperom, saya tidak sedang menuliskan cerita fiktif. Saya mengajak pembaca menelusuri jejak leluhur saya, yang merupakan bagian dari mozaik keberagaman Aceh yang kini semakin samar. Goheng dan Emperom bukan hanya nama tempat dalam sejarah, tetapi juga bagian dari identitas saya yang terjalin dalam garis keturunan yang kaya akan persilangan budaya. Saya adalah bagian dari kisah ini.
Konon katanya, nama “Aceh” sendiri adalah akronim dari Arab, Cina, Eropa, dan Hindustan. Namun, kini ada kesan bahwa menjadi Aceh berarti harus memiliki ciri khas tertentu, seakan-akan ada batasan siapa yang boleh disebut sebagai “orang Aceh asli”.
Penelitian Iskandar Zulkarnain (2020) menyebutkan bahwa identitas Aceh mengalami reduksi akibat proses homogenisasi budaya yang semakin kuat pasca-konflik. Sejumlah komunitas non-Aceh mulai merasa termarginalisasi, meskipun secara historis mereka telah menjadi bagian dari masyarakat Aceh selama berabad-abad.
Aceh bukan hanya milik satu kelompok. Aceh adalah kumparan dari banyak latar belakang, agama, dan suku. Sebuah tanah yang telah lama menjadi rumah bagi mereka yang datang dari berbagai penjuru dunia. Inilah Aceh yang seharusnya kita akui kembali.
Sejarah Aceh bukan hanya tentang kesultanan dan perjuangan Islam, tetapi juga tentang keterbukaan dan asimilasi budaya yang telah berlangsung selama berabad-abad. Kini, keberagaman seolah dipandang sebagai ancaman. Saya yang lahir, besar, dan berani bersuara demi kemajuan Aceh justru dianggap penyusup, hanya karena tampilan saya yang lebih oriental.
Kisah ini adalah pengingat bahwa Aceh tidak pernah menjadi entitas yang homogen. Dari pelabuhan-pelabuhan yang ramai hingga jalan-jalan kecil di Aceh, ada jejak Arab, Tionghoa, India, dan Melayu yang menyatu dalam simfoni sejarah. Ironis, mengingat Banda Aceh kini mengusung slogan Kota Kolaborasi, sementara pluralitas yang dulu menjadi kekuatannya justru semakin menyempit. Apakah kita akan membiarkan keberagaman ini terkubur, ataukah kita akan menggali kembali akar-akar yang telah lama terlupakan?
Tulisan ini lahir dari kisah nyata dan warisan keluarga saya yang kaya akan keberagaman. Saya mungkin bukan sejarawan, tetapi saya percaya bahwa sejarah bukan sekadar kenangan masa lalu, ia adalah cermin yang membentuk masa depan kita. Al-Fatihah untuk para nenek dan kakek buyut saya, yang namanya disebut-sebut dan kini terukir dalam jejak sejarah Aceh.(*)
Foto Koleksi Keluarga DM: Di Manyak (aka Di Ali) bin Tgk Sayedi Hasan Al-Jamalullail bersama truk pengangkutan barang dan para anak buahnya (alm: barisan kiri paling kanan)
🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini






