• Latest
Sastra: Nafas Panjang Kemanusiaan - 2025 06 18 08 29 27 | Apresiasi Sastra | Potret Online

Sastra: Nafas Panjang Kemanusiaan

Juni 18, 2025
9fdb3c1c-1879-4f8c-9aa8-02113678bceb

Warisan Musik Aceh dari Gampong Padang Manggeng

April 21, 2026
Ilustrasi siluet pasangan dengan hati retak melambangkan cemburu, konflik emosional, dan hubungan yang rapuh

Cemburu Membunuh Perempuan

April 21, 2026
Sastra: Nafas Panjang Kemanusiaan - 1001348646_11zon | Apresiasi Sastra | Potret Online

Kisah Perempuan – Lubna dari Córdoba

April 21, 2026
Sastra: Nafas Panjang Kemanusiaan - 1001353319_11zon | Apresiasi Sastra | Potret Online

Fatimah al-Fihri, Pendiri Universitas Tertua

April 21, 2026
3753a9dd-0c43-46a6-9577-711a7479d4d5

Misogini Genital (Di) Kartini Digital

April 21, 2026
IMG_0878

Perempuan di Titik Klimaks

April 21, 2026
Sastra: Nafas Panjang Kemanusiaan - 1001361361_11zon | Apresiasi Sastra | Potret Online

Kisah Perempuan POTRET – Zaynab bint al-Kamal

April 21, 2026
d2a5b58f-c424-41eb-91dc-d0a057017eda

Menguak Kenangan Orkes Mekar Melati Manggeng dan Para Musisi Muda

April 21, 2026
Rabu, April 22, 2026
POTRET Online
  • Home
  • Artikel
  • POTRET Budaya
  • Pendidikan
  • Puisi
  • Esai
  • Opini
  • Sastra
  • Cerpen
No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • POTRET Budaya
  • Pendidikan
  • Puisi
  • Esai
  • Opini
  • Sastra
  • Cerpen
No Result
View All Result
POTRET Online
No Result
View All Result

Sastra: Nafas Panjang Kemanusiaan

Gunawan Trihantoro by Gunawan Trihantoro
Juni 18, 2025
in Apresiasi Sastra, POTRET Budaya, Puisi Essay, Sastra
Reading Time: 3 mins read
0
Sastra: Nafas Panjang Kemanusiaan - 2025 06 18 08 29 27 | Apresiasi Sastra | Potret Online
585
SHARES
3.2k
VIEWS

Oleh Gunawan Trihantoro
Ketua Satupena Kabupaten Blora dan Sekretaris Komunitas Puisi Esai Jawa Tengah

Di tengah kecanggihan teknologi dan ledakan informasi, sastra sering dianggap usang.
Padahal, ia bukan sekadar pelipur lara, melainkan detak nurani peradaban.

Ilmu pengetahuan mengajari kita cara menciptakan dan mengubah.
Namun sastra mengajarkan kita untuk memahami dan merasa.

Baca Juga
  • Ketika Sepucuk Surat Luka Terdampar di Pantai Pasir Putih‎
  • Tuan Katakan Dusta

Jika sains bertanya bagaimana dunia bekerja, maka sastra bertanya untuk siapa dunia bekerja.
Pertanyaan ini menuntun manusia menemukan makna, bukan sekadar hasil.

Kita bisa membangun gedung pencakar langit dan menciptakan robot cerdas.
Tapi tanpa sastra, siapa yang akan mengingat perasaan dalam sunyi dan cinta yang tertinggal?

Baca Juga
  • Pulang Yang Sama
  • Merayakan Kemerdekaan Daripada yang Mana Daripada Siapa Nyang Merdeka

Sastra bukan hanya catatan kata, tapi percikan batin manusia yang paling jujur.
Dalam setiap cerita, ia menyimpan luka sejarah dan harapan masa depan.

Puisi Sapardi mengajarkan keheningan yang bermakna.
Cerpen Pramoedya menampar kesadaran bangsa yang terlena.

Baca Juga
  • Rasuna Said: Singa Podium yang Mengguncang Zaman
  • Puisi-Puisi Riami

Ahmad Tohari dengan Lasi-nya menyuarakan hati kaum terpinggirkan.
Sastra bukan hanya refleksi sosial, tapi juga protes halus yang elegan.

Orang sering menganggap sastra tak sepraktis matematika atau biologi.
Namun sastra menawarkan yang tak dimiliki ilmu eksakta, yakni empati.

Ilmuwan mungkin menemukan vaksin, tapi sastrawan menciptakan kesadaran moral.
Ketika data berhenti menjelaskan, sastra datang memeluk dan merangkul.

Di saat tragedi melanda, sastra menjadi nyala lilin di kegelapan.
Ia menyimpan cerita, mengabadikan rasa, dan menumbuhkan harapan.

Sastra adalah jembatan antar zaman dan antar jiwa.
Ia menyatukan masa lalu, kini, dan masa depan dalam satu narasi.

Kita tahu cinta abadi dari puisi Rumi dan perjuangan dari syair Chairil Anwar.
Sastra menyimpan hikmah yang terus hidup, meski zaman silih berganti.

Dalam dunia pendidikan, sastra bukan sekadar pelajaran Bahasa Indonesia.
Ia adalah pelajaran hidup, tentang toleransi, keadilan, dan kasih sayang.

Sastra mengajarkan kita mendengar sebelum menilai, memahami sebelum memutuskan.
Dalam narasi tokoh, kita belajar menyelami batin yang berbeda.

Pemimpin besar tak jarang adalah pembaca sastra yang tekun.
Karena dari situlah mereka belajar bijak, berempati, dan berimajinasi.

Bung Karno gemar mengutip puisi dalam pidatonya yang menggugah.
Ia tahu bahwa logika butuh disandingkan dengan rasa.

Di era digital, sastra tetap relevan dan bahkan semakin penting.
Cerita menyentuh hati jauh lebih dalam dibanding angka dan grafik.

Sastra dan ilmu pengetahuan tidak perlu dipertentangkan.
Keduanya harus bersinergi demi kemajuan yang berkeadaban.

Teknologi mempercepat langkah, sastra memperdalam jejak.
Sains menembus luar angkasa, sastra menembus hati manusia.

Dunia masa depan butuh lebih dari sekadar kecerdasan buatan.
Ia butuh manusia yang tetap utuh, rasional sekaligus emosional.

Sastra menjaga kita agar tidak kehilangan arah dan nurani.
Ia mengingatkan bahwa hidup bukan sekadar pencapaian, tapi juga penghayatan.

Dalam lanskap sastra modern Indonesia, hadir Denny JA dengan terobosannya.
Ia melahirkan Puisi Esai, genre baru yang memadukan fakta dan rasa.

Puisi Esai kini telah menjelajah ke manca negara.
Sebuah bukti bahwa sastra Indonesia tak hanya hidup, tapi mendunia.

Melalui puisi esai, Denny JA mengajak kita berpikir reflektif sekaligus faktual.
Sastra pun menjadi alat perjuangan dan perubahan yang transformatif.

Membaca puisi, mendengar cerita, dan menulis esai bukan kemunduran.
Itu adalah bentuk perlawanan halus terhadap dunia yang semakin kaku.

Mari, kita rangkul kembali sastra di tengah riuh kehidupan modern.
Agar dunia tak hanya berkembang, tapi juga menjadi lebih berperasaan.

Sastra adalah nafas panjang kemanusiaan yang tak boleh terputus.
Dalam sunyi kata, kita menemukan gema jiwa dan arah hidup. (*)

Share234SendTweet146Share
Gunawan Trihantoro

Gunawan Trihantoro

Gunawan Trihantoro adalah seorang penulis kelahiran Purwodadi tahun 1974. Ia merupakan alumni Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) yang mulai aktif menulis sejak masa kuliahnya. Karya-karyanya telah terbit di berbagai media cetak dan online. Gunawan aktif dalam berbagai komunitas kepenulisan, termasuk Satupena, Kreator Era AI, dan Komunitas Puisi Esai Jawa Tengah. Selain itu, ia juga berkontribusi sebagai penulis buku-buku naskah umum keagamaan dan moderasi beragama di Kementerian Agama RI selama periode 2022–2024. Hingga kini, Gunawan telah menghasilkan puluhan buku, baik sebagai penulis tunggal maupun penulis bersama, yang memperkuat reputasinya sebagai salah satu penulis produktif di bidangnya.

Next Post
Sastra: Nafas Panjang Kemanusiaan - 2025 06 14 06 06 40 | Apresiasi Sastra | Potret Online

Begitu Susahnya Tito Minta Maaf pada Rakyat Aceh

POTRET Online

© 2026 potretonline.com

  • Home
  • Tentang Kami
  • Kirim Naskah
  • Disclaimer
  • Kebijakan Privasi
  • ToS
  • Penulis
  • Al-Qur’an
  • Redaksi

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms below to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Pendidikan
  • Opini
  • Essay
  • Politik
  • PODCAST
  • Penulis
  • Kirim Naskah

© 2026 potretonline.com