POTRET Online POTRET
  • Home
  • Artikel
  • Potret Budaya ⌄
    • Puisi
    • Cerpen
    • Esai
  • Pendidikan
  • Video
  • Esai
  • Opini
  • Aceh
  • Home
  • Artikel
  • Pendidikan
  • Puisi
  • Esai
  • Opini
  • Cerpen
  • Perempuan
  • Podcast
  • ✍ Kirim Tulisan
Home Apresiasi Sastra

Sastra: Nafas Panjang Kemanusiaan

Gunawan Trihantoro by Gunawan Trihantoro
Juni 18, 2025
in Apresiasi Sastra, POTRET Budaya, Puisi Essay, Sastra
0
Sastra: Nafas Panjang Kemanusiaan - 2025 06 18 08 29 27 | Apresiasi Sastra | Potret Online

Oleh Gunawan Trihantoro
Ketua Satupena Kabupaten Blora dan Sekretaris Komunitas Puisi Esai Jawa Tengah

Di tengah kecanggihan teknologi dan ledakan informasi, sastra sering dianggap usang.
Padahal, ia bukan sekadar pelipur lara, melainkan detak nurani peradaban.

Ilmu pengetahuan mengajari kita cara menciptakan dan mengubah.
Namun sastra mengajarkan kita untuk memahami dan merasa.

Baca Juga
  • Sastra: Nafas Panjang Kemanusiaan - 54ab9f87 5807 4019 a22e 608d07f04c92 | Apresiasi Sastra | Potret Online
    Aceh
    Legenda Alue Naga
    31 Mei 2024
  • 02
    POTRET Budaya
    Zulia
    17 Jul 2023

Jika sains bertanya bagaimana dunia bekerja, maka sastra bertanya untuk siapa dunia bekerja.
Pertanyaan ini menuntun manusia menemukan makna, bukan sekadar hasil.

Kita bisa membangun gedung pencakar langit dan menciptakan robot cerdas.
Tapi tanpa sastra, siapa yang akan mengingat perasaan dalam sunyi dan cinta yang tertinggal?

Baca Juga
  • Sastra: Nafas Panjang Kemanusiaan - 64e6d699 c5eb 4f4c 8d46 7d83b5d3ab0c | Apresiasi Sastra | Potret Online
    POTRET Budaya
    Senerai Puisi Ahmad Noh
    06 Okt 2024
  • 02
    POTRET Budaya
    Usah Rasa Sok Suci
    14 Des 2023

Sastra bukan hanya catatan kata, tapi percikan batin manusia yang paling jujur.
Dalam setiap cerita, ia menyimpan luka sejarah dan harapan masa depan.

Puisi Sapardi mengajarkan keheningan yang bermakna.
Cerpen Pramoedya menampar kesadaran bangsa yang terlena.

Baca Juga
  • Sastra: Nafas Panjang Kemanusiaan - IMG_0361 | Apresiasi Sastra | Potret Online
    Payakumbuh
    Denny JA: Keliru mencampuradukkan Puisi Esai dengan Satupena
    18 Jul 2024
  • Sastra: Nafas Panjang Kemanusiaan - 05CF49A6 D0B0 4430 90B6 7CE2D48CE8AE | Apresiasi Sastra | Potret Online
    POTRET Budaya
    Berbuat Baiklah
    19 Jan 2023

Ahmad Tohari dengan Lasi-nya menyuarakan hati kaum terpinggirkan.
Sastra bukan hanya refleksi sosial, tapi juga protes halus yang elegan.

Orang sering menganggap sastra tak sepraktis matematika atau biologi.
Namun sastra menawarkan yang tak dimiliki ilmu eksakta, yakni empati.

Ilmuwan mungkin menemukan vaksin, tapi sastrawan menciptakan kesadaran moral.
Ketika data berhenti menjelaskan, sastra datang memeluk dan merangkul.

Di saat tragedi melanda, sastra menjadi nyala lilin di kegelapan.
Ia menyimpan cerita, mengabadikan rasa, dan menumbuhkan harapan.

Sastra adalah jembatan antar zaman dan antar jiwa.
Ia menyatukan masa lalu, kini, dan masa depan dalam satu narasi.

Kita tahu cinta abadi dari puisi Rumi dan perjuangan dari syair Chairil Anwar.
Sastra menyimpan hikmah yang terus hidup, meski zaman silih berganti.

Dalam dunia pendidikan, sastra bukan sekadar pelajaran Bahasa Indonesia.
Ia adalah pelajaran hidup, tentang toleransi, keadilan, dan kasih sayang.

Sastra mengajarkan kita mendengar sebelum menilai, memahami sebelum memutuskan.
Dalam narasi tokoh, kita belajar menyelami batin yang berbeda.

Pemimpin besar tak jarang adalah pembaca sastra yang tekun.
Karena dari situlah mereka belajar bijak, berempati, dan berimajinasi.

Bung Karno gemar mengutip puisi dalam pidatonya yang menggugah.
Ia tahu bahwa logika butuh disandingkan dengan rasa.

Di era digital, sastra tetap relevan dan bahkan semakin penting.
Cerita menyentuh hati jauh lebih dalam dibanding angka dan grafik.

Sastra dan ilmu pengetahuan tidak perlu dipertentangkan.
Keduanya harus bersinergi demi kemajuan yang berkeadaban.

Teknologi mempercepat langkah, sastra memperdalam jejak.
Sains menembus luar angkasa, sastra menembus hati manusia.

Dunia masa depan butuh lebih dari sekadar kecerdasan buatan.
Ia butuh manusia yang tetap utuh, rasional sekaligus emosional.

Sastra menjaga kita agar tidak kehilangan arah dan nurani.
Ia mengingatkan bahwa hidup bukan sekadar pencapaian, tapi juga penghayatan.

Dalam lanskap sastra modern Indonesia, hadir Denny JA dengan terobosannya.
Ia melahirkan Puisi Esai, genre baru yang memadukan fakta dan rasa.

Puisi Esai kini telah menjelajah ke manca negara.
Sebuah bukti bahwa sastra Indonesia tak hanya hidup, tapi mendunia.

Melalui puisi esai, Denny JA mengajak kita berpikir reflektif sekaligus faktual.
Sastra pun menjadi alat perjuangan dan perubahan yang transformatif.

Membaca puisi, mendengar cerita, dan menulis esai bukan kemunduran.
Itu adalah bentuk perlawanan halus terhadap dunia yang semakin kaku.

Mari, kita rangkul kembali sastra di tengah riuh kehidupan modern.
Agar dunia tak hanya berkembang, tapi juga menjadi lebih berperasaan.

Sastra adalah nafas panjang kemanusiaan yang tak boleh terputus.
Dalam sunyi kata, kita menemukan gema jiwa dan arah hidup. (*)

Previous Post

Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

Next Post

Begitu Susahnya Tito Minta Maaf pada Rakyat Aceh

Next Post
Sastra: Nafas Panjang Kemanusiaan - 2025 06 14 06 06 40 | Apresiasi Sastra | Potret Online

Begitu Susahnya Tito Minta Maaf pada Rakyat Aceh

POTRET Online POTRETOnline
Kontributor Tentang Kami Redaksi 1000 Sepeda

© 2026 POTRET Online. Seluruh hak cipta dilindungi.

No Result
View All Result
  • Artikel
  • Pendidikan
  • Opini
  • Essay
  • Politik
  • PODCAST
  • Penulis
  • Kirim Naskah