• Latest
Legenda Alue Naga

Legenda Alue Naga

May 31, 2024

Tadarus – Surah Yunus Ayat 57

March 13, 2026
Pendidikan Hukum Pemilu dan Penataan Ulang Demokrasi Menuju Pemilu 2029

Antara Sajadah dan Layar: Menjaga Makna Ramadan di Era Digital

March 13, 2026
Tersisa Roy Suryo dan dr Tifa, Apakah akan Ikut Rismon Juga?

Tersisa Roy Suryo dan dr Tifa, Apakah akan Ikut Rismon Juga?

March 13, 2026
Pelukan Bangga Seorang Ibu

Pelukan Bangga Seorang Ibu

March 13, 2026

Apa Kata Dunia?

March 13, 2026
Antara Gold, Glory, dan Suara Rakyat: Merenungkan Keadaban Dunia dari Pengalaman Sehari-hari

Antara Gold, Glory, dan Suara Rakyat: Merenungkan Keadaban Dunia dari Pengalaman Sehari-hari

March 13, 2026

Kisah Perempuan – Lubna dari Córdoba

March 13, 2026
Lomba Menulis Cerita Anak Cerdas 2026

Lomba Menulis Cerita Anak Cerdas 2026

March 13, 2026
  • Home
  • Artikel
  • POTRET Budaya
  • Literasi
  • Edukasi
  • Pendidikan
  • Puisi
  • Esai
  • Opini
No Result
View All Result
SAVED POSTS
AI News
  • Home
  • Artikel
  • POTRET Budaya
  • Literasi
  • Edukasi
  • Pendidikan
  • Puisi
  • Esai
  • Opini
No Result
View All Result
POTRET
No Result
View All Result

Legenda Alue Naga

Redaksi by Redaksi
May 31, 2024
in Aceh, Alue Naga, Cerita Rakyat, POTRET Budaya
0
Legenda Alue Naga
589
SHARES
3.3k
VIEWS
Summarize with ChatGPTShare to Facebook
🔊

Dengarkan Artikel

 

Oleh  Heni Ekawati, S. Pd., M. Pd

Baca Juga

Menjadi Insan Bertasawuf

Menjadi Insan Bertasawuf

March 12, 2026
Aceh Hijau atau Aceh Gundul?

Aceh Hijau atau Aceh Gundul?

March 12, 2026
Aceh Bangkit atau Tertinggal: Saatnya Menata Ulang Arah Pendidikan

Aceh Bangkit atau Tertinggal: Saatnya Menata Ulang Arah Pendidikan

March 12, 2026

Kepala Sekolah SLB Yayasan Pendidikan  Disabilitas Insani (YAPDI) Banda Aceh

 

Di ujung barat Pulau Sumatera, terletak sebuah kota yang kaya akan sejarah dan kekayaan budaya, yang dikenal sebagai Kota Banda Aceh. Kota ini dikelilingi oleh pegunungan hijau dan lautan yang luas, dan di tengah-tengah  mengalir sungai yang menyediakan sumber kehidupan bagi penduduknya. Kota ini memiliki 9 Kecamatan. Satu di antaranya adalah  kecamatan Syiah Kuala.

Di Kecamatan Syiah Kuala ini ada satu gampong yang memiliki kisah cerita, menjadi legenda cerita rakyat Aceh, yakni  Gampong Alue Naga. Lokasinya berhadapan langsung dengan Pulau Weh dan berbatasan dengan Desa Kajhu yang sudah masuk dalam territorial Aceh Besar.

Secara geografis, desa Alue Naga jadi pertemuan Samudera Hindia dengan aliran sungai Krueng Aceh yang jadi denyut jantung Kota Banda Aceh sejak dulu. Desa ini pun punya cerita yang sangat melegenda.

Di zaman dahulu kala, hiduplah seorang Sultan bernama Sultan Meurah. Sultan tersebut terkenal baik dan bijak. Dia kerap berkunjung ke pedesaan untuk mendengar keluh kesah rakyatnya yang jauh dari jangkauannya.

Suatu hari Sultan Meurah mendapat kabar tentang keresahan rakyatnya di suatu tempat, lalu beliau mengunjungi tempat tersebut di pinggiran Kuta Raja untuk mengetahui lebih lanjut keluhan rakyatnya.

“Tuanku banyak ternak kami raib saat berada di bukit Lamyong,” Kemarin juga 2 kambing tetangga saya hilang entah kemana”.keluh seorang peternak.

“Terkadang bukit itu menyebabkan gempa bumi,  sehingga sering terjadi longsor  dan membahayakan orang yang kebetulan lewat di bawahnya,” tambah yang lainnya.

“Sejak kapan kejadian itu?” Tanya Sultan Meurah. “Sudah lama Tuanku, menjelang Ayahanda Tuanku mangkat,” jelas yang lain.

Sesampai di istana, Sultan memanggil sahabatnya Renggali. Renggali sendiri adalah anak Sultan Alam adik dari Raja Linge Mude. Sultan pun akhirnya memerintahkan sahabatnya yaitu Renggali untuk mencari tahu  keluhan masyarakat tersebut.

“Dari dulu aku heran dengan bukit di Lamnyong itu,” kata Sultan Meurah. “Mengapa ada bukit memanjang di sana. Padahal di sekitarnya rawa-rawa yang selalu beratı,” sambung Sultan Meurah. “Menurut cerita orang tua, bukit itu tiba-tiba muncul pada suatu malam,” jelas Renggali.  “Ayah hamba, Raja Linge Mude, curiga akan bukit itu  saat pertama sekali ke Kuta Raja, seolah-olah bukit itu memanggilnya,” tambahnya. “Cobalah engkau cari tahu ada apa sebenarnya dengan bukit itu!” Perintah Sultan.

Mendengar dirinya mendapat perintah, Renggali segera bergegas menuju puncak bukit. Sesampainya di sana, ia melihat Ada genangan air yang sangat luas. Dia menelusuri setiap jengkal dan sisi bukit tersebut, mulai dari pinggir laut di utara sampai ke kesisi selatan. “Bukit yang aneh, “bisik Renggali dalam hati. Kemudian dia mendaki bagian yang lebih tinggi dan berdiri di atasnya. Tiba-tiba dari bagian di bawah kakinya mengalir air yang hangat. Renggali kaget dan melompat ke bawah sambil berguling. Kemudian suara menggelegar yang meminta maaf terdengar memekakkan telinga.

“Ku mohon, maafkan aku!”

Bersamaan dengan suara itu, gempa terjadi. Renggali tentu mencari sumber suara itu. Ternyata, ia melihat seekor naga besar  yang tertutup semak belukar. Renggali tentu terkejut.

“ Maafkan hamba  putra Raja Linge!” Tiba-tiba bukit yang tadi dipijaknya bersuara. Renggali kaget dan segera bersiap-siap, “siapa Engkau?” Teriaknya. Air yang mengalir semakin banyak dari bukit itu membasahi kakinya, “hamba naga sahabat ayahmu,” terdengar jawaban dari bukit itu, dikuti suara gemuruh.

Renggali sangat kaget dan diperhatikan dengan saksama bukit itu yang berbentuk kepala ular raksasa walaupun di penuhi semak belukar dan pepohonan. “Engkaukah itu? Lalu di mana ayahku? Tanya Renggali. Air yang mengalir semakin banyak dan menggenangi kaki Renggali.

“Panggilah Sultan Alam, hamba akan buat pengakuan!” Isak bukit tersebut. Maka buru-buru Renggali pergi dari tempat aneh tersebut. Sampai di istana hari sudah gelap, Renggali menceritakan kejadian aneh tersebut kepada Sultan.

Itukah Naga Hijau yang menghilang bersama ayahmu?” Tanya Sultan Meurah penasaran. “Mengapa dia ingin menemui ayahku, apakah dia belum tahu Sultan sudah meninggal?” tambah Sultan Meurah. Maka berangkatlah mereka berdua ke bukit itu. Sesampai di sana, tiba-tiba bukit itu bergemuruh. “Mengapa Sultan Alam tidak datang?” Suara dari bukit. “Beliau sudah lama meninggal, sudah lama sekali, mengapa keadaanmu seperti ini Naga Hijau? Kami mengira engkau telah kembali ke negerimu, lalu di mana Raja Linge?” Tanya Sultan Meurah.

Bukit itu begemuruh keras sehingga membuat ketakutan orang-orang tinggal dekat bukit itu.

“Hukumlah hamba Sultan Meurah,” pinta bukit itu. “Hamba sudah berkhianat, hamba pantas dihukum,” lanjutnya. “Hamba sudah mencuri dan menghabiskan kerbau putih hadiah dari Tuan Tapa untuk Sultan Alam yang diamanahkan kepada kami dan hamba sudah membunuh Raja Linge,” jelasnya.

Tubuh Renggali bergetar mendengar penjelasan Naga Hijau, “bagaimana bisa kamu membunuh sahabatmu sendiri?” Tanya Renggali.

“Awalnya hamba diperintah oleh Sultan Alam untuk mengantar hadiah berupa pedang kepada sahabat-sahabatnya, semua sudah sampai hingga tinggal 2 bilah pedang untuk Raja Linge dan Tuan Tapa, maka hamba mengunjungi Raja Linge terlebih dahulu, beliau juga berniat ke tempat Tuan Tapa untuk mengambil obat istrinya, sesampai di sana Tuan Tapa menitipkan 6 ekor kerbau putih untuk Sultan Alam. Kerbaunya besar dan gemuk.

Karena ada amanah dari Tuan Tapa, maka Raja Linge memutuskan ikut mengantarkan ke Kuta Raja, karena itu kami kembali ke Linge untuk mengantar obat istrinya.

Namun di sepanjang jalan hamba tergiur ingin menyantap daging kerbau putih tersebut,  maka hamba mencuri 2 ekor kerbau tersebut dan hamba menyantapnya. Raja Linge panik dan mencari pencurinyalalu hamba memfitnah Kule si raja harimau sebagai pencurinya, lalu Raja Linge membunuhnya.

Dalam perjalanan dari Linge ke Kuta Raja kami beristirahatdi tepi sungai Peusangan dan terbit lagi selera hamba untuk melahap kerbau yang lezat itu, lalu hamba mencuri 2 ekor lagi. Raja Linge marah besar, lalu hamba memfitnah Buya siraja buaya sebagai pencurinya, maka dibunuhlah buaya itu. Saat akan masuk Kuta Raja, Raja Linge membersihkan diri dan bersalin pakaian di tepi sungai, lalu hamba mencuri 2 ekor kerbau dan menyantapnya, tetapi kali ini Raja Linge mengetahuinya. Lalu kami bertengkar dan berkelahi. Raja Linge memiliki kesempatan membunuh hamba, tetapi dia tidak melakukannya, sehingga hamba lah yang membunuhnya,” ceritanaga sambil berurai air mata.

“Maafkanlah hamba, hukumlah hamba!” terdengar isak tangis sang naga. Mengapa engkau terjebak di sini?” Tanya Sultan Meurah. “Raja Linge menusukkan pedangnya ke bagian tubuh hamba, sehingga lumpuhlah tubuh hamba. Kemudian terjatuh dan menindihnya. Sebuah pukulan Raja Linge ke tanah membuat tanah terbelah dan hamba tertimbun di sini bersamanya,” jelas sang naga.

“Hamba menerima keadaan ini. Biarlah hamba mati dan terkubur bersama sahabat hamba,” pinta Naga Hijau.

“Berilah dia hukuman Renggali. Engkau dan abangmu lebih berhak menghukumnya,” kata Sultan Meurah. “Ayah hamba tidak ingin membunuhnya, apalagi hamba. Hamba akan membebaskannya,” jawab Renggali. “Tidak! Hamba ingin di hukum sesuai dengan perbuatan hamba,” pinta Naga Hijau. “Kalau begitu bebaskanlah dia!” Perintah Sultan Meurah.

Maka berjalanlah mereka berdua mengelilingi tubuh naga untuk mencari pedang milik Raja Linge. Setelah menemukannya, Renggali menarik dengan kuat dan terlepaslah pedang tersebut. Namun Naga Hijau tetap tidak mau bergerak. “Hukumlah hamba Sultan Meurah!” Pinta Naga Hijau.

“Sudahcukup hukuman yang kamu terima dari Raja Linge. Putranya sudah membebaskanmu. Pergilah ke negerimu!” Perintah Sultan Meurah.

Mendengar pengakuan tersebut, Sultan Meurah dan Renggali mencabut pedang yang selama ini membuat naga lumpuh. Setelah pedang tersebut lepas, sang naga diminta untuk kembali ke tempatnya berasal yaitu di laut.

Sambil menangis naga tersebut menggeser tubuhnya dan perlahan menuju laut. Maka terbentuklah sebuah alur atau sungai kecil akibat pergerakan naga tersebut. Maka di kemudian hari, daerah di pinggiran Kuta Raja itu disebut Alue Naga. Di sana terdapat  sebuah sungai kecil yang di sekitarnya dipenuhi rawa-rawa yang selalu tergenang dari air mata penyesalan seekor naga yang telah mengkhianati sahabatnya.

Dari sana terbentuk sebuah tempat yang dipenuhi rawa dan sungai kecil, dikelilingi oleh air mata penyesalan dari seekor naga yang telah mengkhianati temannya, dan pada akhirnya sungai kecil tersebut dinamakan sebagai Sungai Alue Naga.

🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini

Aceh Hijau atau Aceh Gundul?
Aceh Hijau atau Aceh Gundul?
12 Mar 2026 • 150x dibaca (7 hari)
Genosida Palestina: Membongkar Kolonialisme Modern Israel
Genosida Palestina: Membongkar Kolonialisme Modern Israel
12 Mar 2026 • 134x dibaca (7 hari)
Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng
Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng
18 Jun 2025 • 106x dibaca (7 hari)
Bahasa Indonesia yang Bergema di Australia
Bahasa Indonesia yang Bergema di Australia
23 Feb 2026 • 90x dibaca (7 hari)
Tema Lomba Menulis Edisi Februari 2026
Tema Lomba Menulis Edisi Februari 2026
17 Feb 2026 • 89x dibaca (7 hari)
📝
Tanggung Jawab Konten
Seluruh isi dan opini dalam artikel ini merupakan tanggung jawab penulis. Redaksi bertugas menyunting tulisan tanpa mengubah subtansi dan maksud yang ingin disampaikan.
SummarizeShare236
Redaksi

Redaksi

Majalah Perempuan Aceh

Baca Juga

Islam

Tadarus – Surah Yunus Ayat 57

March 13, 2026
Pendidikan Hukum Pemilu dan Penataan Ulang Demokrasi Menuju Pemilu 2029
#Doa di Bulan Ramadan

Antara Sajadah dan Layar: Menjaga Makna Ramadan di Era Digital

March 13, 2026
Tersisa Roy Suryo dan dr Tifa, Apakah akan Ikut Rismon Juga?
#Ijazah

Tersisa Roy Suryo dan dr Tifa, Apakah akan Ikut Rismon Juga?

March 13, 2026
Pelukan Bangga Seorang Ibu
Esai

Pelukan Bangga Seorang Ibu

March 13, 2026
Next Post

SEANDAINYA AKU TAK MENJADI GURU

POTRET Online

© 2026 potretonline.com

  • Kirim Tulisan
  • Program 1000 Sepeda dan Kursi roda
  • Disclaimer
  • Al-Qur’an
  • Tentang Kami
  • Redaksi

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms below to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Home
  • Kirim Tulisan
  • Artikel
  • Pendidikan
  • Opini
  • Essay
  • Politik
  • PODCAST

© 2026 potretonline.com