POTRET Online POTRET
  • Home
  • Artikel
  • Potret Budaya ⌄
    • Puisi
    • Cerpen
    • Esai
  • Pendidikan
  • Video
  • Esai
  • Opini
  • Aceh
  • Home
  • Artikel
  • Pendidikan
  • Puisi
  • Esai
  • Opini
  • Cerpen
  • Perempuan
  • Podcast
  • ✍ Kirim Tulisan
Home Aceh Selatan

SEANDAINYA AKU TAK MENJADI GURU

Bagian 18

Redaksi by Redaksi
Mei 31, 2024
in Aceh Selatan, Bingkai Utama, Biografi, Guru, Kisah Nyata
0

Oleh Bussairi D. Nyak Diwa

 

​Seperti tak terasa waktu berjalan. Tiba-tiba aku merasa menjadi warga kota yang seakan-akan sudah melupakan kehidupan orang kampung. Setiap hari aku sibuk dengan pekerjaan di rumah dan sekolah. Hampir tak ada waktu santai sedikit pun, kecuali hari Minggu. Itu pun kalau tidak pergi ke kebun. Biasanya sore Sabtu Abang Ipar mengajakku ke kebun di Lamtamot Aceh Besar. Kebun yang jaraknya lebih enampuluh kilometer itu kami tempuh dua jam lebih. Dengan mengendarai mobil Jeeb Taf Daihatsu tahun 78 itu, perjalanan tidak mengalami hambatan apapun meskipun kadang-kadang dimusim hujan jalan becek bukan main. Maklum, waktu itu jalan menuju ke kebun di wilayah Panca, Lamtamot, Kecamatan Seulimumbelum beraspal. Malam Minggu kami menginap di pondok kebun, di kaki gunung Seulawah yang dingin dan asri. Pagi-pagi sehabis subuh kami mulai berkerja di kebun. Kakakku mendapat tugas memasak, sedangkan aku dan abang Ipar membersih-bersihkan rumput, mengcangkul, menanam bermacam tanaman, dan lain sebagainya. Sore Minggu sehabis Asar kami kembali ke rumah. Biasanya kami sampai di rumah bertepatan dengan azan magrib berkumandang di masjid.

Baca Juga
  • SEANDAINYA AKU TAK MENJADI GURU - 2025 07 04 14 14 05 | Aceh Selatan | Potret Online
    #Kisah Inspiratif. #Guru inspiratif
    Catatan Seorang Guru Bakti untuk Mas Menteri
    05 Jul 2025
  • SEANDAINYA AKU TAK MENJADI GURU - IMG 20250201 WA0009 | Aceh Selatan | Potret Online
    #Pendidikan
    Jangan Menjadi Guru HanaPah Lawan
    17 Apr 2025

​Kecuali ke kebun, hari Minggu Abang Ipar dan aku sering juga memanfaatkan waktu libur memancing ke laut. Biasanya kami berangkat sehabis salat subuh. Untuk persiapan memancing, Sore Sabtu kami ke neuheun (kolam) di Ulee Lheu membeli udang yang masih hidup langsung dari pemilik neuheun. Udang itu disimpan sepanjang malam dalam timba khusus agar tidak mati. Saat kami memancing esok paginya dipastikan udang itu masih hidup dan segar. Abang sering mengajak satu atau dua orang teman sekantornya memancing. Kami sering memancing ke Lhokseudu atau ke Krueng Raya. Sekali-kali kami juga memancing ke Ulee Lheu atau Lambadamenggunakan bot pancing yang disewa dari nelayan.

​Ikan yang sering kami dapat adalah ikan Rambeu, Kerapu, Merah Mata, atau ikan-ikan karang lainnya. Ini tergantung lokasi tempat kami memancing. Jika kami pergi jauh ke tengah laut maka ikan yang kami dapat biasanya ikan-ikan besar, tapi jika tidak jauh dari pantai ikannya kecil-kecil. Kalau lagi tak beruntung, sering juga kami tak mendapatkan apa-apa, pulang dengan tangan kosong. Tapi jika kami tak mendapatkan ikan pancingan, Abang mengajak aku ke Pasar Peunayong terlebih dahulu sebulum pulang. Di pasar ikan Peunayong Abang membeli ikan-ikan segar untuk dibawa pulang. Hal ini kami lakukan agar tidak ada ‘protes’ dari Kakak sesampai di rumah. Sebab, jika tidak membawa pulang ikan biasanya Kakak ‘ngomel-ngomel’ sama abang dan aku.

Baca Juga
  • 01
    Edukasi
    Guru Beruntung
    05 Nov 2021
  • SEANDAINYA AKU TAK MENJADI GURU - 2AB8F6E0 BD6D 479B 9E5F 5287D90512A0 | Aceh Selatan | Potret Online
    Aceh Selatan
    Bangun Rumah Dinas Guru di Sarah Baru, Kadisdikbud Aceh Selatan Arungi Sungai Kluet 3 Jam
    25 Sep 2022

​Di samping hobi memancing, Abang juga hobi menjala udang. Hampir tiap sore sehabis salat asar kami sering ke neuheun di Ulee Lheu, Lampaseh, atau di Lampriet (sekitar kantor gubenrnur sekarang). Dulu neuheun-neuheun di sekitar Banda Aceh kebanyakan belum ada yang punya. Jadi masyarakat bebas mencari udang di sana dengan menjala. Malam hari, di sepanjang neuheun kelihatan kelap-kelip ‘culot’ atau pelita yang dibuat khusus dari botol limun atau botol strop cap patung. Kami sengaja datang sebelum magrib dan memasang culot di sana agar tempat menjala itu tidak ditempati oleh orang lain. Sementara untuk salat magrib kami membawa peralatan salat seperti sajadah dan kain sarung dari rumah. Pulang kadang-kadang sudah pukul sepuluh malam, bahkan bisa lebih larut lagi. Yang pasti kami akan pulang jika hasilnya sudah lumayan banyak. Udang yang didapat adalah udang galah, yang bentuknya agak memanjang dan besar-besar. Karena Abang memiliki hobi menjala tak kecandrungan, aku hampir tak dapat jatah untuk menjala, tugasku hanya dapat pekerjaan memungut udang dari jaring-jaring jala. Hanya kadang-kadang aku dapat bagian melempar jala, itu pun kalau Abang lagi istirahat dan melepas lelah. Terkadang udang yang kami dapat kami manfaatkan untuk persiapan mancing di hari Minggu. Itu jika kami pergi menjala di sore Sabtu.

​Begitulah keseharian yang kujalani hidup menumpang bersama Kakak sekaligus Abang sepupuku itu. Seingatku, sejak saat aku menjadi anggota keluarga di Jalan Krueng Peusangan Nomor dua Geucue Komplek itu, aku tak pernah bangun pagi setelah azan subuh, kecuali jika dalam keadaan badan kurang sehat. Saat suara pengajian dari menara meunasah di sudut jalan kompleks taman siswa itu bergema, aku sudah bangun dari pembaringan dan bergegas ke meunasah. Jika sudah sampai waktu, tiba di meunasah aku langsung mengumandangkan azan. Lalu salat subuh bersama-sama dengan warga jamaah subuh yang rata-rata sudah berkepala lima. Hanya beberapa orang anak muda saja yang sering salat subuh di musalla ini. Salah satu di antaranya adalah aku.

Baca Juga
  • file_000000002df47208a071c131700501d7
    Pendidikan
    Negeri yang Melupakan Guru
    05 Apr 2026
  • SEANDAINYA AKU TAK MENJADI GURU - 9bc0dd56 ba97 4ba2 8e4d bb93c644506e | Aceh Selatan | Potret Online
    Aceh
    Masyarakat Sarah Baru Kluet Tengah Butuh Pelabuhan
    04 Des 2023

(bersambung)  

​  

Previous Post

Legenda Alue Naga

Next Post

Ayah

Next Post
SEANDAINYA AKU TAK MENJADI GURU - 4e3fd338 bc5b 40c8 924c 6255d2240524 | Aceh Selatan | Potret Online

Ayah

POTRET Online POTRETOnline
Kontributor Tentang Kami Redaksi 1000 Sepeda

© 2026 POTRET Online. Seluruh hak cipta dilindungi.

No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Pendidikan
  • Opini
  • Essay
  • Politik
  • PODCAST
  • Penulis
  • Kirim Naskah