• Latest

Merayakan Hari Lahir Pancasila di Era Artificial Intelligence

Juni 1, 2025
8a775060-2ffc-40bc-a7c8-7d5eeda6427a

Mengenal Ayu Zhafira, Finalis Miss Norway Berdarah Sumatera Barat

Maret 30, 2026
IMG_0551

Jalan yang Kita Pilih

Maret 30, 2026

Iran: Ketahanan, Kepemimpinan Teknologi, dan Transformasi di Tengah Blokade Internasional

Maret 30, 2026
db120a04-bc3f-416f-8477-98be379296aa

Peran OSIS  Dalam Membangun Budaya Sekolah 

Maret 30, 2026
0531533e-b691-47af-a72c-150e25a07ee5

Di Dalam Gelap, Ada Ibu

Maret 30, 2026
20362b6b-fe28-40ff-a0c0-c08280e7bbff

Indonesia, Mundurlah dari Dewan Perdamaian Trump: 175 Siswi Tewas

Maret 30, 2026
IMG_0542

Jejak Darah di Terbangan: Kematian Letnan Satu Molenaar alias Kapitan Lhoknga dan Perlawanan Rakyat Aceh Selatan

Maret 30, 2026
IMG_0518

Mencari Akar Sejarah Nama Manggeng

Maret 29, 2026
  • Home
  • Artikel
  • POTRET Budaya
  • Literasi
  • Edukasi
  • Pendidikan
  • Puisi
  • Esai
  • Opini
  • Penulis
  • Kirim Naskah
No Result
View All Result
SAVED POSTS
AI News
  • Home
  • Artikel
  • POTRET Budaya
  • Literasi
  • Edukasi
  • Pendidikan
  • Puisi
  • Esai
  • Opini
  • Penulis
  • Kirim Naskah
No Result
View All Result
POTRET
No Result
View All Result

Merayakan Hari Lahir Pancasila di Era Artificial Intelligence

Redaksiby Redaksi
Juni 1, 2025
Reading Time: 3 mins read
586
SHARES
3.3k
VIEWS
Summarize with ChatGPTShare to Facebook

Oleh Gunawan Trihantoro


Ketua Satupena Kabupaten Blora dan Sekretaris Kreator Era AI Jawa Tengah

Setiap tanggal 1 Juni, bangsa Indonesia memperingati Hari Lahir Pancasila, sebuah momentum historis yang meneguhkan dasar ideologis kehidupan berbangsa. Tahun 2025 ini, peringatan tersebut mengusung tem Memperkokoh Ideologi Pancasila Menuju Indonesia Raya, sebuah ajakan reflektif yang relevan di tengah arus deras kemajuan teknologi, khususnya artificial intelligence (AI).

Pancasila bukan sekadar warisan sejarah, tetapi landasan nilai yang tak lekang oleh zaman. Di era digital yang bergerak cepat, kita tidak hanya dituntut untuk adaptif secara teknologi, tetapi juga kokoh secara ideologis. Tantangan abad ini bukan hanya soal kemampuan memproduksi dan mengelola data, melainkan bagaimana kita tetap menjaga jati diri kebangsaan di tengah kecanggihan teknologi.

Baca Juga

Iran: Ketahanan, Kepemimpinan Teknologi, dan Transformasi di Tengah Blokade Internasional

Maret 30, 2026
db120a04-bc3f-416f-8477-98be379296aa

Peran OSIS  Dalam Membangun Budaya Sekolah 

Maret 30, 2026
20362b6b-fe28-40ff-a0c0-c08280e7bbff

Indonesia, Mundurlah dari Dewan Perdamaian Trump: 175 Siswi Tewas

Maret 30, 2026

Sila pertama, Ketuhanan Yang Maha Esa, menjadi fondasi spiritual yang sangat relevan dalam dunia yang makin mekanistik. Ketika algoritma dan robot mulai menggantikan banyak fungsi manusia, kita diingatkan bahwa teknologi sejatinya harus berpijak pada nilai-nilai ketuhanan. Kecerdasan buatan boleh canggih, tetapi nurani manusia tetap harus menjadi pusat dari setiap proses pengambilan keputusan.

Sila kedua, Kemanusiaan yang adil dan beradab, mengajak kita untuk tidak kehilangan sisi kemanusiaan di tengah revolusi digital. Kemanusiaan tidak boleh digantikan oleh kalkulasi dingin algoritma. Kita membutuhkan kecerdasan yang berpihak, bukan hanya pada efisiensi dan kecepatan, tetapi juga pada keadilan, empati, dan nilai-nilai luhur kemanusiaan.

Sementara sila ketiga, Persatuan Indonesia, menghadirkan tantangan tersendiri dalam era media sosial dan disrupsi informasi. Polarisasi dan perpecahan sering kali lahir dari ruang digital. Maka, membumikan semangat persatuan melalui literasi digital, dialog antarwarga, serta etika bermedia menjadi bagian dari upaya memperkokoh pilar bangsa di ruang virtual.

Sila keempat, Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan/perwakilan, mengingatkan kita bahwa demokrasi tidak bisa didelegasikan kepada sistem otomatis. Kecanggihan AI memang mampu mengolah data, tetapi keputusan yang bijak tetap harus dilandaskan pada hikmah, musyawarah, dan kesadaran kolektif sebagai bangsa.

Dan sila kelima, Keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia, menjadi parameter utama agar kemajuan teknologi tidak memperlebar ketimpangan. Pemerataan akses digital, pendidikan teknologi untuk semua, serta perlindungan terhadap kelompok rentan adalah bentuk nyata dari implementasi sila kelima di era AI. Keadilan tidak hanya berarti akses, tetapi juga kemampuan untuk memanfaatkan teknologi secara bermartabat.

Merayakan Hari Lahir Pancasila di era artificial intelligence bukan sekadar ritual kenegaraan, melainkan ajakan untuk memperkuat jati diri bangsa dalam menghadapi masa depan. Pancasila adalah kompas moral kita, dan kecanggihan teknologi seharusnya tunduk pada nilai-nilai yang telah terbukti menyatukan negeri ini dalam keberagaman.

Generasi muda, sebagai aktor utama dunia digital, harus menjadi penjaga dan penggerak nilai-nilai Pancasila. Bukan hanya sebagai hafalan di buku, tetapi sebagai panduan hidup di dunia nyata dan maya. Mereka adalah wajah Indonesia masa depan, dan tugas kita bersama memastikan mereka tumbuh sebagai pribadi yang berkarakter, kreatif, dan berkeadaban.

Indonesia Raya yang kita cita-citakan tidak semata tentang revolusi teknologi, melainkan tentang bangsa yang unggul secara nilai dan berdaya secara spiritual. Di tengah dunia yang makin dikuasai mesin, Pancasila mengingatkan kita untuk tetap menjadi manusia yang beriman, berakal, dan berperikemanusiaan.

Selamat Hari Lahir Pancasila. Mari terus memperkokoh ideologi bangsa dalam setiap tarikan napas digital yang kita embuskan. Indonesia Maju, Indonesia Beradab, Indonesia yang Pancasilais di era apa pun, termasuk di era artificial intelligence. (*)

🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini

Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng
Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng
18 Jun 2025 • 360x dibaca (7 hari)
Batu Gajah Hilang di Bate Iliek
Batu Gajah Hilang di Bate Iliek
23 Mar 2026 • 318x dibaca (7 hari)
Aceh Hijau atau Aceh Gundul?
Aceh Hijau atau Aceh Gundul?
12 Mar 2026 • 270x dibaca (7 hari)
Membuka Tabir Sejarah Kenegerian Manggeng dan Para Raja yang  Pernah Berkuasa
Membuka Tabir Sejarah Kenegerian Manggeng dan Para Raja yang  Pernah Berkuasa
27 Mar 2026 • 263x dibaca (7 hari)
Memutus Rantai Kemiskinan, Melawan Kufur Etika
Memutus Rantai Kemiskinan, Melawan Kufur Etika
20 Mar 2026 • 200x dibaca (7 hari)
ADVERTISEMENT
📝
Tanggung Jawab Konten
Seluruh isi dan opini dalam artikel ini merupakan tanggung jawab penulis. Redaksi bertugas menyunting tulisan tanpa mengubah subtansi dan maksud yang ingin disampaikan.

Discussion about this post

Next Post
Sudah 115 Jemaah Haji yang Wafat

Sudah 115 Jemaah Haji yang Wafat

POTRET Online

© 2026 potretonline.com

  • Program 1000 Sepeda dan Kursi roda
  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Al-Qur’an
  • Kirim Naskah
  • Penulis

No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Pendidikan
  • Logout
  • Opini
  • Essay
  • Politik
  • PODCAST
  • Penulis
  • Kirim Naskah

© 2026 potretonline.com